Zhafira

Zhafira
Part 19



Zhafira masih menangis di pelukan Om Wira. Entah mengapa dia enggan untuk melepaskan pelukannya itu. Melihat wajah Om Wira, membuat Zhafira merasa nyaman.


"Zha, kamu tidak apa-apa kan, Nak?" tanya ibunya saat Zhafira duduk di depannya.


Zhafira mengangguk sambil menghapus air matanya yang tak kunjung berhenti. "Terima kasih, Om. Terima kasih," ucap Zhafira sedih.


"Rani sangat baik padaku, dia yang selalu menemaniku saat di rumah sakit, tapi aku tidak menyangka kalau mata ini adalah pemberiannya," ucap Zhafira yang kembali menangis.


"Setelah selesai operasi aku sempat mencarinya, tapi tidak ada pasien yang bernama Rani dan aku sangat kecewa karena orang pertama yang ingin aku lihat adalah dia. Dia pergi tanpa mengatakan apapun padaku, tapi aku tidak menyangka kalau selama ini dia ada bersamaku."


"Om minta maaf, tapi Om juga berterima kasih karena di sisa hidupnya dia sangat bahagia karena sudah bertemu denganmu. Kamu tahu, awalnya dia sangat tertekan hingga tidak ingin bertemu dengan Om dan juga kakaknya, tapi hari itu saat dia kembali dari kamarmu, dia terlihat selalu tersenyum dan bahagia," ucap Om Wira dengan mata berkaca-kaca.


"Om, apa aku boleh melihat fotonya?"


Pria itu lantas mengeluarkan selembar foto dari saku dompetnya dan menyerahkannya kepada Zhafira. Dengan tangan gemetar, Zhafira menerima foto itu dan menatap seraut wajah seorang gadis yang terlihat sangat cantik.


"Dia sangat cantik," puji Zhafira hingga membuat air matanya mengalir.


"Boleh aku menyimpan foto ini?" pinta Zhafira. Om Wira tersenyum dan mengangguk.


Foto itu kemudian diselipkan di lembaran kertas tadi dan disimpannya di dalam tasnya. Zhafira kemudian menghapus air matanya dan memandang ke arah ibunya. "Aku mengizinkan Mama untuk menikah dengan Om Wira. Aku senang karena Om Wira akan menjadi ayahku," ucapnya sambil tersenyum hingga membuat ibunya segera memeluknya.


"Terima kasih, Nak, terima kasih."


"Apa kamu tidak keberatan kalau Om mengajakmu ke rumah untuk menemui kakaknya Rani? Dia pasti sangat ingin bertemu denganmu karena Om sudah menceritakan semua padanya. Dia pasti akan senang melihatmu," ucap Om Wira yang disambut baik oleh Zhafira. "Boleh, Om," jawab Zhafira.


Mereka kemudian meninggalkan kafe itu dan segera menuju rumah Om Wira dengan mobil miliknya. Sepanjang perjalanan, Zhafira terus melihat foto Rani yang sedari tadi dipegangnya. Wajahnya yang cantik dengan rambut sepunggung membuat Rani terlihat sangat anggun.


Di depan sebuah rumah bertingkat dua yang terlihat sangat mewah, mobil itu berjalan perlahan dan menunggu satpam untuk membuka pintu gerbangnya. Zhafira takjub dengan kemewahan rumah itu.


Mobil itu masuk perlahan dan berhenti di halaman parkir yang cukup luas. Di salah satu sisi parkiran, terparkir sebuah sepeda motor yang rasanya tak asing bagi Zhafira. "Motor itu seperti motor Ardi? Ah, tidak mungkin kalau Ardi anaknya Om Wira," batin Zhafira saat melihat motor itu.


Zhafira melihat bangunan rumah itu yang baginya terlalu mewah dan megah. Sambil merangkul lengan ibunya, Zhafira berjalan dan memasuki pintu utama.


Ruangan di rumah itu terlihat sangat mewah. Aneka guci cantik seukuran manusia berdiri berjejer seakan menyambut tamu yang datang.


Rumah yang sangat besar itu terlihat sangat sunyi. Hanya beberapa asisten rumah tangga yang terlihat dan menyambut kedatangan mereka dengan aneka hidangan yang sudah disiapkan di atas meja makan. Zhafira dan ibunya dipersilakan untuk duduk di ruang tamu.


"Bi, mana Ardi?" tanya Om Wira pada seorang asisten rumah tangganya yang sudah berumur.


"Di kamarnya, Tuan."


"Tolong Bibi panggilkan dia, katakan kalau tamunya sudah datang."


"Baik, Tuan."


Asisten rumah tangga yang sudah berkerja bersama mereka hampir setengah usianya itu sangat setia. Mereka sudah menganggapnya seperti keluarga. Bahkan, anak laki-lakinya pun bekerja dan tinggal di rumah itu.


Setelah menyampaikan pesan majikannya itu, dia kemudian turun diikuti seorang pemuda di belakangnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Kamu pasti senang ya karena akan bertemu dengan calon adikmu?" ucap asisten rumah tangga itu sambil mencubit pipi pemuda itu.


"Dia bukan calon adikku, Bi, tapi adikku Rani karena mata Rani ada bersama dia," jelas pemuda itu dengan tersenyum sambil berjalan menuju ruang tamu.


Setibanya di sana, dia melihat seorang gadis yang membelakanginya karena sedang melihat sebuah foto yang tergantung di dinding ruang tamu. Foto sepasang anak kembar yang sangat manis.


"Ardi, ini Zhafira," ucap ayahnya yang sontak saja membuat Zhafira berbalik dan mendapati seorang pemuda yang tidak asing baginya.


"Ardi?"


"Zhafira?"


Mereka berdua terkejut bukan kepalang. Wajah Zhafira langsung tersenyum walau rasa terkejutnya tidak bisa dia sembunyikan, tapi berbeda dengan Ardi yang tampak syok dan tidak bisa berkata apa-apa.


"Kamu kenapa? Apa kalian berdua saling mengenal?" tanya Om Wira pada Ardi yang masih berdiri dan diam terpaku.


"Ardi ini sahabatku, dia sekelas denganku," jelas Zhafira sambil berjalan mendekati Ardi.


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau Rani itu adalah adikmu," ucap Zhafira sambil menggenggam tangannya.


Seketika, perasaannya hancur menjadi abu. Dia tidak menyangka, gadis yang selama ini ingin dijumpainya dan menganggapnya sebagai adik ternyata adalah seorang gadis yang sudah membuat dia jatuh cinta. Ya, hatinya remuk redam mengingat rasa cinta yang sudah lama dia pendam untuk Zhafira.


Harapannya untuk bisa menaklukan hati Zhafira dan mendapatkan cintanya tiba-tiba gugur dan layu kemudian jatuh ke tanah. Itulah perasaannya saat ini. Hancur dan terluka tanpa berdarah.


"Ardi, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhafira yang melihat perubahan pada wajah pemuda itu.


"Aku hanya terkejut, aku tidak menyangka gadis itu adalah kamu," jawab Ardi yang mencoba menutupi kegelisahannya.


Mendengar suara Zhafira, hatinya teriris. Sungguh, rasa cinta yang ingin diungkapkannya kepada Zhafira tiba-tiba lenyap. Dengan menahan tangis, dia tersenyum dan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa Zhafira bukanlah takdir cintanya walau itu terasa sangat berat.


Kenyataannya, persiapan yang sudah dia lakukan untuk mengungkapkan perasaannya pada Zhafira harus dia urungkan. Sebuket bunga mawar merah dan sekotak coklat kesukaan Zhafira sudah dia siapkan, tapi semua akhirnya gagal tanpa dia sempat mengungkapkan perasaannya itu.


"Ardi, aku tahu kamu terkejut dan aku juga sama terkejutnya denganmu, tapi kita harus bisa menerima kenyataan ini. Aku tahu, tidak mudah bagimu untuk menerimaku sebagai adikmu, tapi demi kebahagiaan orang tua kita, kita harus bisa menerima takdir ini," ucap Zhafira yang terlihat lebih sabar.


"Andai kamu tahu, berat bagiku untuk menerima takdir ini karena rasa cintaku padamu terlanjur hadir di hatiku dan sukar bagiku untuk melepaskan cintaku itu," batin Ardi.


"Apa kamu bahagia?" tanya Ardi.


"Aku bahagia karena akhirnya aku tahu kalau Rani yang sudah mendonorkan matanya untukku dan itu telah mempertemukan orang tua kita dan juga kita berdua, tapi aku juga sedih karena belum sempat mengucapkan selamat tinggal padanya," jawab Zhafira yang terlihat sedih.


"Apa kamu senang menganggapku sebagai kakak?"


Zhafira mengangguk dan tersenyum. "Aku sangat senang karena kamu akan menjadi kakakku dan ayahmu akan menjadi ayahku. Kamu tahu, sejak awal kita bertemu aku sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri, makanya kenapa aku merasa kita sangat akrab walau baru pertama kali bertemu," jawab Zhafira dengan senyum khasnya.


"Jadi, selama ini kamu menganggapku sebagai teman atau kakak?"


"Keduanya. Di mataku, kamu adalah sahabat dan kakakku. Aku selalu merasa nyaman saat bersamamu, tapi ada juga yang berpikir kalau kita ini pacaran," bisik Zhafira sambil tersenyum.


"Kalau aku bilang selama ini aku suka dan mencintaimu, apa kamu percaya?"


Zhafira tersenyum. "Kalaupun itu benar, aku akan hargai itu, tapi aku tidak boleh egois karena kita ditakdirkan bukan untuk menjadi sepasang kekasih melainkan saudara," jawab Zhafira.


"Jangan bilang kalau kamu mencintaiku karena itu pasti akan sangat menyakitkan bagimu. Itu tidak benar, kan?" tanya Zhafira hingga membuat Ardi tersenyum walau terlihat sedikit dipaksakan.


"Jangan khawatir, aku memang suka dan mencintaimu, tapi hanya sebatas sebagai teman, apalagi tidak lama lagi kita akan menjadi saudara," ucap Ardi yang berusaha mengelak dari hati dan perasaannya sendiri. Bagaimanapun juga, dia ingin melupakan perasaannya itu agar tidak terus menyiksanya.


"Apa boleh aku memanggilmu Kak Ardi?" Tiba-tiba Zhafira bertanya kepada Ardi yang sedang mengambil sebuah album foto.


"Kenapa tidak boleh, kamu boleh memanggilku dengan panggilan itu, aku malah merasa senang," jawab Ardi jujur.


"Apa kamu mau lihat foto-foto masa kecil Rani?" tanya Ardi sambil menyerahkan album foto itu.


Zhafira mengangguk dan mengambil album foto itu dan mulai membukanya. Terlihat seorang wanita cantik dengan balutan busana tahun 90an tengah menggendong sepasang bayi kembar di kedua sisi tangannya sambil tersenyum. Di sisinya, berdiri seorang lelaki tampan yang tidak lain adalah Om Wira.


Dia kembali membuka lembaran lainnya dan mendapati sebuah foto yang membuat dia tersenyum. Sebuah foto ketika dua anak yang berumur sekitar enam tahunan yang memakai baju seragam Sekolah Dasar. Anak kecil perempuan tampak tersenyum, sedangkan anak lelaki tampak menangis di pangkuan ibunya.


"Waktu kecil, Kak Ardi ternyata cengeng juga," ucap Zhafira yang membuat Ardi tersenyum malu.


Tiba-tiba, senyumannya menghilang saat dia mendapati foto-foto saat Rani berada di rumah sakit. Wajah cantik dengan rambut sepunggung telah berubah menjadi wajah yang pucat dan kepala yang tertutup topi. Rambut panjangnya perlahan mulai gugur dan menyisakan kepala yang telah gundul karena penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Perlahan, Zhafira menangis. Ardi yang melihat Zhafira menangis, lantas mendekati dan kemudian memeluknya. "Jangan menangis, Rani sekarang baik-baik saja. Dia sudah tenang di sana," ucap Ardi sambil mengelus lembut kepala Zhafira.


"Jangan bersedih lagi karena Rani pasti tidak suka melihatmu menangis," bujuk Ardi sambil menghapus air mata Zhafira.


"Kamu tahu tidak kalau Rani itu sekolah di sekolahmu?"


Ucapan Ardi seketika membuat Zhafira terkejut. "Maksud, Kak Ardi?"


Ardi lantas menunjukan sebuah foto saat Rani mengenakan seragam yang sama dengan miliknya. Di foto itu, Rani tampak tersenyum bahagia karena bisa berfoto bersama teman-teman sekelasnya. Dan yang membuat Zhafira terkejut, dia mengenali kelas itu. Kelas di mana dia masuk dan duduk di salah satu bangku yang membuat Kevan marah padanya. Dan di foto itu, tampak Kevan tengah melirik ke arah Rani sambil tersenyum. Itu adalah foto terakhirnya bersama teman-teman sekelasnya dan juga seseorang yang sangat dicintainya.


Zhafira kembali menitikkan air mata. Entah sudah keberapa kalinya dia menangis di hari itu.


"Kamu kenal dengan Rani?" tanya Ardi.


Zhafira menggeleng. Dia menyesal karena dulu dia sudah menjadi gadis yang arogan. Gadis yang tidak peduli pada siapapun hingga membuat dia tidak terlalu begitu mengenal teman-teman di sekolahnya sendiri. Mungkin, Rani mengenalinya, tapi dia tidak ingin mengungkapkan jati dirinya pada Zhafira.


"Apa Kak Ardi tahu kalau Kevan itu pacar Rani?" tanya Zhafira.


"Aku tidak tahu karena Rani begitu tertutup dengan kisah cintanya. Sebenarnya, aku ingin sekolah di sekolah yang sama dengannya, tapi dia melarang dan memintaku untuk memilih sekolah yang lain. Aku dan ayah tidak bisa menolak permintaannya itu karena kami tidak ingin membuat dia kecewa," jelas Ardi.


Zhafira lantas menceritakan tentang kejadian saat dia masuk ke kelas yang ada di foto itu. Semua keanehan yang dia alami, bahkan tentang Kevan yang membuat dia selalu melihat ke arah pemuda itu hingga membuat Kevan membencinya. Semuanya tak luput dia ceritakan hingga akhirnya membuat dia sadar kalau semua itu karena Rani masih mengingat kenangan manis yang di simpan dalam penglihatannya yang membuat Zhafira pun bisa merasakannya.