
Suasana di rumah Zhafira mulai terlihat sepi. Satu persatu tamu undangan mulai pamit undur diri. Begitupun dengan teman-temannya yang tengah bersiap-siap untuk pulang. "Kami pamit, ya," ucap teman-temannya kompak sambil melambaikan tangan padanya. Setelah kepergian teman-temannya, Zhafira terduduk lesu sembari merebahkan punggungnya di kursi sofa.
"Kamu pasti lelah," ucap Ardi yang langsung duduk di sampingnya dan memberikan secangkir teh hangat untuknya.
Zhafira mengangguk dan mulai menyeruput teh hangat yang tadi dibawa oleh Ardi. "Biar lelah, tapi aku sangat bahagia," ucap Zhafira sambil tersenyum.
"Aku juga lelah," keluh Ardi sambil bersandar di kursi sofa.
"Nih, minum tehnya. Mumpung masih hangat."
"Tidak perlu, kamu habiskan saja. Kakakmu ini masih punya banyak tenaga," ucap Ardi sambil bersandar dan memejamkan matanya.
"Apa, papa dan mama jadi ke Singapura?" tanya Zhafira yang membuat Ardi membuka matanya.
"Kenapa? Kamu mau ikut?"
Zhafira menggeleng dan bersandar di pundak pemuda itu. "Mereka pergi tidak lama, kan?" tanya Zhafira dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kenapa? Kamu tidak ingin mereka pergi?" Zhafira tidak menyahut. Kedua orang tuanya akan pergi berbulan madu ke Singapura dan itu membuatnya sedih. Selama ini, dia tidak pernah berpisah dengan ibunya. Dan itu yang kini sedang mengganggu hatinya.
Melihat kesedihan di wajah Zhafira membuat Ardi paham. Dia tahu kegelisahan adiknya itu yang tidak ingin ditinggal pergi oleh ibunya.
"Jangan khawatir, Papa dan Mama tidak jadi pergi bulan madu ke Singapura. Kami berdua sudah memutuskan untuk di rumah saja dan menemani kalian," ucap Riska yang sontak saja membuat Zhafira mengangkat kepalanya.
"Benar, Ma? Papa dan Mama tidak akan pergi, kan?" tanya Zhafira dengan sorot mata berbinar-binar.
"Iya, Papa dan Mama tidak akan kemana-mana. Daripada harus ke Singapura, lebih baik kami menemani kalian di rumah," ucap Wira membenarkan ucapan istrinya itu.
Dengan senyum bahagia, Zhafira memeluk kedua orang tuanya itu. Dia bahagia karena mereka tidak jadi pergi ke Singapura. Bukannya dia egois, tapi berpisah dengan ibunya akan membuatnya tidak bisa tidur dan merasa tak nyaman.
Zhafira yang kadang terlihat dewasa, ternyata tak lebih dari seorang anak kecil di depan ibunya. Terkadang saat dia sedang sedih, dia akan tidur bersama ibunya. Atau, saat hujan deras dengan petir yang bergemuruh, maka dia dengan nyaman sudah tertidur di balik selimut ibunya.
Kini, saat-saat seperti itu akan dia rindukan. Dia tidak bisa lagi mengganggu ibunya dengan segala rengekkan manjanya itu, tak terkecuali malam ini di mana hujan turun sangat deras dengan suara gemuruh petir yang menyambar.
Di dalam kamarnya, Zhafira bersembunyi di balik selimut sambil menutup telinganya. Suara petir seakan menyambar di atas kepalanya yang terkadang membuat dia terkejut dan tidak bisa melakukan apa-apa.
Jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi matanya tidak bisa terpejam. Di saat seperti ini, dia pasti sudah berlari ke kamar ibunya dan tidur dalam pelukan hangat wanita itu. Namun kini, dia tidak bisa melakukannya.
Hujan deras selepas isya hingga tengah malam itu belum juga reda. Begitupun dengan matanya yang masih terjaga hingga membuat dia memutuskan untuk menghubungi Ardi yang sementara tidur di kamar sebelah. "Ayo diangkat," ucap Zhafira kesal karena sudah berulang kali menelepon pemuda itu, tapi tidak diangkat olehnya.
Zhafira masih menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia mencoba untuk menahan rasa takutnya dan berharap hujan segera reda, tapi nyatanya hujan turun semakin deras dengan suara petir yang menyambar-nyambar.
Rasa takutnya kian menjadi. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Hingga terdengar pintu kamarnya diketuk.
"Zha, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ardi yang terdengar cemas.
Mendengar suara Ardi, Zhafira lantas segera bangkit dan membuka pintu kamarnya. Sambil menangis, Zhafira kemudian memeluk kakaknya itu.
"Maaf, tadi aku tidak mendengar suara ponsel karena ada di kamar mandi," ucap Ardi merasa bersalah.
"Sudah, jangan menangis lagi nanti papa sama mama bisa terbangun. Ayo, tidur lagi," bujuk Ardi sambil mengantar Zhafira kembali ke tempat tidurnya.
"Kamu tidur saja, jangan takut Kak Ardi akan tidur di bawah," ucap Ardi sambil meletakan selimut dan bantal di lantai di dekat tempat tidur Zhafira.
Zhafira mengangguk dan menuruti ucapan kakaknya itu. Dengan ditemani Ardi, barulah Zhafira bisa tertidur. Sementara Ardi masih terjaga dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
Kejadian seperti itu bukanlah hal baru baginya. Dulu, saat Rani masih hidup, dia sering menemani adiknya itu tidur di saat hujan turun dengan deras. Rani juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami Zhafira. Dia tidak bisa tertidur karena suara hujan yang terasa mengganggu telinganya. Di saat seperti itu, Ardi pasti akan datang dan menemaninya tidur.
Kini, Ardi merasakan kembali kehadiran Rani di balik sosok Zhafira yang membuatnya bertekad untuk menjaga dan melindungi gadis itu.
Sementara Riska yang merasa khawatir dengan keadaan anaknya, berjalan perlahan mendekati kamar Zhafira. Dia tersenyum ketika mendapati Zhafira yang tengah tertidur dengan ditemani Ardi yang tertidur di lantai kamarnya.
Dengan lembut, Riska menutupi tubuh Zhafira dengan selimut. Begitupun dengan Ardi yang mulai terlihat kedinginan karena selimut yang dipakainya sudah tidak lagi menutupi tubuhnya. Riska kemudian menutupi tubuh Ardi dengan selimut yang membuat pemuda itu kembali hangat.
Riska tersenyum dan menatap kedua anaknya itu. Setelah puas, Riska kemudian menutup pintu kamar dan menemui suaminya yang tengah menunggunya.
*****
Matahari perlahan mulai menyapa. Rintik air hujan sisa semalam, masih basah di daun dan ranting pepohonan.
Zhafira belum beranjak dari tempat tidurnya. Rasa kantuk dan malas masih menggelayut di pelupuk matanya, hingga membuat dia lupa kalau dia harus pergi ke sekolah.
"Zha, bangun, Nak. Apa kamu tidak ke sekolah?" Sontak, Zhafira membuka matanya dan meraih ponsel di atas meja dan melihat jam di layar ponselnya itu.
"Kak Ardi, kenapa tidak bangunkan aku?" teriak Zhafira kesal karena pemuda itu tidak membangunkannya.
Walau terlihat marah, tapi Zhafira tidak benar-benar marah pada kakaknya itu, karena dia tahu semalam Ardi lah yang sudah menemaninya.
"Sebentar pulang sekolah langsung ke rumah, hari ini juga kita akan pindah ke sana," ucap Wira pada kedua anaknya itu.
"Barang-barang kamu sudah Mama bereskan Sebentar lagi Tante Maya akan datang membantu Mama beres-beres, sekalian Mama mau pamitan sama mereka," ucap Riska.
Zhafira mengangguk. Kedua kakak beradik itu kemudian pamit.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut," pesan Riska sambil melambaikan tangan pada anak-anaknya itu.
Di depan jalan, mereka berpapasan dengan Tante Maya yang hendak ke rumah untuk membantu ibu mereka beres-beres. "Pagi, Tante," sapa mereka pada wanita itu.
"Pagi, kalian hati-hati di jalan."
"Iya, Tante." Maya memperhatikan mereka sambil tersenyum.
"Anak-anak kita sekarang sudah besar-besar. Aku tidak menyangka kalau kita sekarang sudah tidak muda lagi, aku bahkan sebentar lagi akan punya cucu," ucap Maya saat mengepak barang-barang ke dalam kardus.
"Kamu harusnya senang karena bisa menimang cucu, setidaknya kamu sudah berhasil membesarkan anak-anakmu dengan baik," ucap Riska yang membuat Maya tersenyum kecut.
"Padahal, aku ingin suatu saat nanti kita bisa menjadi besanan, tapi apa mau di kata anakku itu telah memilih gadis lain. Aku tidak mungkin melarangnya berhubungan dengan gadis itu, karena gadis itu ternyata sangat baik. Keinginanku untuk menjadikan Zhafira sebagai menantuku akhirnya musnah," ucap Maya yang terlihat sedih.
"Kalau gagal jadi menantumu setidaknya jadikan dia putrimu. Kalau terjadi sesuatu padaku nanti, terimalah putriku itu menjadi putrimu dan gantikan aku untuk menjaganya," ucap Riska yang membuat Maya menatapnya heran.
"Kamu bicara apa, sih? Sudah ah, kamu buat aku takut saja. Kamu akan menjaga putrimu sendiri hingga nanti dia menikah dan punya anak. Kamu akan menimang cucu bahkan cicitmu, jangan lagi bicara yang aneh-aneh," ucap Maya yang tidak senang dengan ucapan Riska. Sementara Riska hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu yang terlihat ketakutan.
Sebuah truk terlihat parkir di depan pagar rumah Zhafira dan mulai mengangkut barang-barang yang sudah diletakkan di depan pintu.
Truk yang sudah mengangkut barang yang tidak seberapa banyak itu kemudian pergi. Sementara Riska tengah berpamitan pada sahabatnya yang tampak tak kuasa menahan tangis. "Aku tidak kemana-mana, kok. Rumahku tidak jauh dari sini. Kamu bisa bawa semua anak-anakmu untuk bermalam di rumahku, aku akan dengan senang hati menerima kalian," ucap Riska sambil memeluk sahabatnya itu.
"Sering-sering datang menengokku. Aku ini sudah tua dan mulai sakit-sakitan, jangan tunggu aku sekarat baru kamu datang. Aku sekarang sudah tidak punya teman curhat lagi," ucap Maya sambil menangis.
"Iya, iya, aku akan sering-sering datang ke rumahmu biar kamu senang. Jaga dirimu baik-baik, aku akan sering-sering meneleponmu," ucap Riska sambil masuk ke dalam mobil. Setelah berpamitan, mobil itu kemudian pergi meninggalkan Maya yang tengah menangis sesenggukan.
Persahabatannya dengan Riska yang terjalin hampir setengah usianya itu, membuat Maya bersedih dengan kepergian sahabatnya. Selama ini, dia tahu perjalanan hidup sahabatnya itu.
Sejak masih muda, mereka sudah bersahabat. Hingga perjalanan kisah cinta Riska dengan Fauzy pun dia tahu. Riska yang seorang anak tunggal terpaksa diusir dari rumahnya karena mempertahankan cintanya pada Fauzy, walau akhirnya pengorbanannya itu dibalas dengan perselingkuhan oleh Fauzy.
Ayahnya marah karena Riska menolak dijodohkan dengan pilihannya dan membuat Riska diusir dari rumah. Hingga kini, hubungannya dengan sang ayah belum membaik karena ayahnya yang sudah terpengaruh dengan perkataan ibu tirinya.
Sejak saat itu, Riska mulai menghindar dari keluarganya dan hidup bersama suami dan anaknya. Hingga badai datang dan menghancurkan keluarga kecilnya. Hanya Zhafira yang membuat Riska sanggup bertahan dan melewati masa-masa sulit bersamanya. Karena itu, Zhafira sangat membenci dengan lelaki yang tidak setia. Sekali dia tersakiti, sampai matipun dia tidak akan pernah memaafkan.
*****
Zhafira tengah duduk di bangku taman sekolah sambil melihat ke arah teman-temannya yang sedang bermain basket. Dia tak sendiri, tapi ditemani tiga sahabatnya yang juga sedang memandangi pacar-pacar mereka yang sedang asyik bermain basket.
"Zha, apa kamu sama sekali tidak menyukai Kevan? Apa sekarang kamu sudah tidak lagi mencuri pandang padanya?" tanya Refa penasaran.
"Tidak."
"Apa kamu tidak tertarik pada Kevan? Dia itukan sangat tampan dan jadi rebutan cewek-cewek di sekolah ini, apalagi Aurelle yang sangat tergila-gila padanya. Apa kamu tidak menyesal kalau gadis itu mendapatkan Kevan?" Zhafira kembali menggeleng.
"Terus, apa kamu mau selamanya jomlo?"
"Kalian berdua bisa diam, tidak? Kalian berisik, tahu. Memangnya aku ini cewek apa sampai-sampai harus mendekati dia? Kalau dia suka padaku, biarkan dia mengatakannya lebih dulu, setelah itu baru aku pikir-pikir," jelas Zhafira.
"Jadi, kalau dia bilang suka sama kamu, apa kamu akan menerimanya?" tanya Kheyla penasaran.
"Kita lihat saja nanti," jawab Zhafira datar.
Bukan hanya mereka yang menyaksikan cowok-cowok itu bermain basket. Di sisi lain, tampak gadis-gadis lain juga menyaksikan mereka dengan teriakan histeris yang terkadang membuat ketiga gadis itu menjadi cemburu.
Selesai main basket, cowok-cowok itu segera mendekati pacar-pacar mereka dengan botol air mineral yang sudah ada di tangan mereka.
"Coba kalau kamu sekarang jadian sama Kevan, pasti kamu tidak akan jadi obat nyamuk kayak sekarang," sindir Vino.
"Memangnya kalau tidak punya pacar aku tidak bisa ada di sini? Toh, aku di sini buat Kak Ardi. Iya kan, Kak?" tanya Zhafira yang meminta dukungan pada kakaknya itu.
"Iya, memangnya kenapa kalau dia tidak punya pacar? Kalau begitu, siapa di antara kalian yang mau memacari adikku ini?" canda Ardi yang sudah bersiap-siap untuk lari dan benar saja, Zhafira lantas mengejarnya sambil meneriaki namanya.
"Kak Ardi, jangan lari," teriak Zhafira sambil mengejar kakaknya itu hingga dia terhenti saat di depannya sudah berdiri Kevan dan seorang gadis yang membuatnya segera berpaling.