Zhafira

Zhafira
Part 21



Mendengar penjelasan Ardi membuat Kevan terkejut dan terduduk lesu. Gadis yang sudah meninggalkannya tanpa berita, gadis yang sudah membuat dirinya kecewa dan tidak bisa menerima gadis manapun, ternyata telah pergi untuk selamanya. "Kamu bohong, kan? Dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku. Kamu bohong, kan?" tanya Kevan seakan tidak percaya dengan penjelasan Ardi.


"Apa kamu pikir aku akan berbohong tentang adikku sendiri? Aku tahu kamu sedih, tapi itu kenyataannya. Rani tidak ingin meninggalkanmu dengan cara seperti ini, tapi itu terpaksa dia lakukan agar kamu bisa melupakannya," jelas Ardi yang mulai menitikkan air mata.


"Adikku sakit dan dokter telah memvonis  umurnya tidak akan lama lagi. Jangankan untuk bertemu denganmu, untuk bertemu denganku saja dia tidak mau karena dia tidak ingin orang yang dia sayangi terluka karena melihat perubahan wajahnya. Dia ingin dikenang sebagai Rani yang selalu terlihat cantik dan selalu tersenyum bukan Rani yang terlihat pucat dan berpenyakitan," jelas Ardi yang tak kuasa menahan air matanya.


"Dan kamu tahu apa hubungannya dengan Zhafira? Zhafira adalah sahabat terakhir Rani. Orang terakhir yang selalu bersama dengan Rani. Orang yang sudah mengembalikan senyum dan tawa Rani. Selama di rumah sakit, mereka berdua telah bersahabat walau hanya beberapa saat, tapi itu sangat berarti bagi Rani yang membuatnya rela untuk mendonorkan matanya untuk Zhafira." Zhafira terisak mendengar penjelasan Ardi.


Dafa yang mendengar penjelasan Ardi terkejut. Rani, gadis yang Zhafira cari setelah selesai operasi. Gadis yang kata dokter hanya teman khayalan Zhafira ternyata memang ada. Dafa menatap Zhafira yang tengah menangis. Ingin rasanya dia mendekati sahabatnya itu dan memeluknya, tapi dia tidak bisa melakukannya.


"Itu sebabnya, Zhafira selalu melihat ke arahmu. Itu bukan keinginannya, tapi karena Rani yang tidak bisa melupakanmu dari pandangannya hingga membuat Zhafira bisa ikut merasakan apa yang Rani rasakan." Ardi terdiam. Melihat Zhafira menangis membuat Ardi segera memeluk adiknya itu.


"Tenanglah, jangan khawatir lagi, aku sudah menjelaskan semuanya pada Kevan. Kamu dan Rani adalah adik yang paling aku sayangi, apapun yang terjadi, aku akan selalu menjagamu," ucap Ardi yang membuat teman-temannya ikut menitikkan air mata.


Penjelasan Ardi membuat Kevan merasa terpukul. Dia merasa bersalah karena selama ini sudah salah paham pada Zhafira. Bukan hanya itu, Kevan juga merasa kalau dia bukanlah seorang kekasih yang baik untuk Nisa karena tidak bisa membuat Nisa percaya padanya. "Maafkan aku karena selama ini sudah berburuk sangka padamu. Andai saja aku tahu, aku tidak akan semarah itu padamu," ucap Kevan yang terlihat tulus.


"Aku sudah memaafkanmu, aku tidak pernah marah padamu. Aku tahu, Rani sangat berarti bagimu dan kamu pasti sangat bersedih setelah mengetahui semua ini, tapi aku mohon jangan lagi kamu bersedih karena Rani pasti tidak akan suka itu. Bisa, kan?"


Kevan mengangguk. Walau dia merasa berat untuk menerima kenyataan tentang Rani, tapi dia harus bisa untuk menerimanya. Walau mereka tidak bisa bertemu lagi, tapi dia masih bisa melihat Rani dari sosok Zhafira.


Sementara Dafa, merasa terusik dengan sikap Zhafira yang mulai berubah padanya. Dia tahu, Zhafira melakukan semua itu karena tidak ingin membuat Dafena terluka, tapi bagi Dafa perubahan sikap Zhafira baginya terlalu berlebihan.


"Zha, kenapa kamu tidak menceritakan semuanya padaku? Aku tahu kamu pasti sedih setelah mengetahui tentang Rani, tapi kenapa kamu tidak membagi sedihmu itu padaku? Apa kamu sudah lupa dengan janji kita?" tanya Dafa yang terlihat kecewa dengan sikap Zhafira padanya.


"Aku minta maaf, bukan maksudku seperti itu. Saat itu, aku ingin menceritakan semuanya padamu, tapi melihat Dafena di rumahmu, aku mengurungkan niatku itu. Aku tidak ingin dia salah paham padaku. Aku harap kamu bisa mengerti," ucap Zhafira dengan wajah yang menunduk.


"Zha, kita ini sahabat dari kecil. Apa karena aku sudah mempunyai kekasih, lantas kamu tidak ingin lagi menjadi sahabatku? Dewasalah, Dafena pasti akan mengerti."


Zhafira terdiam. Entah dengan cara apa agar dia bisa membuat Dafa paham. Dia tahu perasaan Dafena yang sempat cemburu saat melihat kedekatannya bersama Dafa dan dia tidak ingin melakukan hal itu lagi.


"Aku tahu perasaan dia, dan aku juga akan melakukan hal yang sama kalau ada di posisinya. Wanita mana yang rela jika melihat kekasihnya dekat dengan wanita lain walau wanita itu adalah sahabatnya sendiri. Dafa, kita tetap bersahabat, tapi maaf, kita tidak bisa dekat seperti dulu lagi karena kita berdua harus menjaga perasaan Dafena. Aku harap kamu bisa mengerti."


"Aku tahu kamu ingin agar Dafena tidak terluka, tapi kamu sadar tidak kalau kamu sudah membuat aku terluka."


Ucapan Dafa sontak membuat Zhafira memandangi pemuda itu dengan heran. Dia tidak menyangka, Dafa akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya bergetar. Perasaan yang pernah dulu singgah di hatinya untuk Dafa, mulai menghantui pikirannya. "Apa maksud dengan ucapanmu itu? Kamu terluka karena aku? Dafa, ingat, kita hanya sahabat, tak lebih. Aku sayang padamu, tapi hanya sebagai sahabat, kalaupun ada perasaan lain, bagiku itu hanya sepintas lalu," ucap Zhafira yang membohongi perasaannya sendiri.


"Apa sekalipun kamu tidak pernah menyukaiku sebagai seorang lelaki? Apa aku di matamu hanya sebatas sahabat? Itu yang kamu rasakan selama ini padaku?"


"Kenapa kamu seperti ini? Ada apa denganmu?" tanya Zhafira yang merasa heran dengan sikap sahabatnya itu.


"Kamu ingin tahu apa yang terjadi padaku? Baiklah, aku akan jujur padamu. Kamu tahu, hatiku sakit ketika tahu kalau aku bukan lagi orang pertama yang bisa kamu bagi cerita suka dan dukamu. Hatiku sakit saat melihat orang lain yang kini lebih dekat denganmu. Hatiku sakit saat kamu bersedih dan bukan aku yang ada di sisimu. Kenapa? Karena aku belum siap untuk melepaskanmu. Aku belum sanggup untuk melupakanmu," jelas Dafa yang membuat Zhafira menitikkan air mata.


"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua itu padaku? Apa setelah aku berusaha menghindar darimu barulah kamu merindukanku? Kenapa di saat Dafena sudah hadir di antara kita baru kamu menyadari kehadiranku?" Semua pertanyaan itu terlontar di hati Zhafira. Pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi tidak bisa dia ucapkan.


"Maafkan aku, tapi itu jalan yang terbaik buat kita. Dafena sangat mencintaimu dan aku tahu kamu juga mencintai dia, karena dia adalah cinta pertamamu. Sadarlah, perasaan yang kamu rasakan padaku hanyalah perasaan seorang sahabat yang takut kehilangan sahabatnya, dengan seiringnya waktu kamu pasti bisa mengatasinya, percayalah padaku," ucap Zhafira.


"Kalau semua karena Dafena, aku akan melepaskannya asalkan kamu jangan menghindar dariku. Aku akan memutuskannya."


"Dafa!! Apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu sangat egois? Kenapa kamu seperti ini?" ucap Zhafira yang terlihat sangat kecewa.


Karena kecewa, Zhafira lantas bergegas meninggalkannya. Melihat Zhafira yang pergi begitu saja membuat Dafa segera mengejarnya. "Aku minta maaf," ucap Dafa sambil meraih tangan Zhafira.


"Aku tidak menyangka sahabatku yang selama ini sangat bijaksana ternyata bisa seegois ini. Aku sangat kecewa padamu," ucap Zhafira sambil menghapus air matanya yang jatuh.


"Baiklah, aku akan lakukan apa yang kamu minta. Aku akan tetap bersama Dafena asalkan kamu jangan pernah berusaha untuk menghindar dariku lagi, aku mohon," ucap Dafa sambil memohon.


Zhafira menarik nafas panjang. Dia tidak menyangka hubungan persahabatan mereka akan serumit ini. "Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk menjaga persahabatan kita. Apapun yang terjadi, kita tetaplah sahabat dan aku tidak bisa merubahnya karena pasti ada orang lain yang akan terluka jika kita tetap mempertahankan perasaan kita. Bersikaplah sewajarnya, karena ada Dafena yang lebih membutuhkan perhatianmu dari pada aku. Tolong mengertilah, aku yakin kamu bisa mengatasinya," ucap Zhafira yang kemudian pergi meninggalkan Dafa yang menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa.


Zhafira menangis di depan cermin toilet. Dia tidak kuasa menahan tangis yang sedari tadi ditahannya. Hatinya begitu sakit dan terluka hingga membuat dia menangis di sudut ruangan itu tanpa siapapun yang tahu. Dia menangisi perasaan Dafa yang harus dia lepaskan. Perasaan yang dari dulu ingin dia dengar dari mulut pemuda itu, tapi semuanya terlambat.


Sementara Dafa, masih duduk terpaku mengingat sikapnya tadi pada Zhafira. Entah kekuatan dari mana yang membuat dia seberani itu untuk mengungkapkan semua perasaannya pada Zhafira. Perasaan yang terlambat untuk dia ungkapkan.


"Dafa," suara seorang gadis terdengar memanggil namaya.


"Kenapa kamu di sini? Ayo, kita ke kelas," ajak Dafena yang sudah berdiri di sampingnya. Dengan tersenyum, gadis itu meraih tangannya dan mengajakanya masuk ke dalam kelas tanpa dia bisa menolak.


Zhafira menghapus air matanya. Setelah mencuci muka, Zhafira bergegas meniggalkan tempat itu.


*****


Persiapan untuk pernikahan ibunya sudah dilakukan. Setelah acara lamaran yang sederhana, kini tiba saatnya untuk mempersiapkan pernikahan yang rencananya akan dilangsungkan secara sederhana dan hanya dihadiri saudara dekat dan para sahabat, karena itu, Riska datang sendiri ke rumah Maya untuk menyampaikan undangan pada sahabatnya itu.


"Aku senang akhirnya kamu bisa menemukan seseorang yang bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Maya.


"Terima kasih, Kak. Aku berharap pernikahan ini adalah pernikahan yang terakhir bagiku," ucap Riska yang diamini oleh Maya.


"Setelah kalian menikah, lantas kalian akan tinggal di mana? Apa kamu dan Zhafira akan ikut bersamanya atau akan tinggal di rumahmu?"


"Mas Wira meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Karena itu, aku berencana untuk menyewakan rumahku itu dari pada harus dibiarkan kosong," ucap Riska.


"Ya sudah, biar aku yang akan mencari penyewa untuk rumahmu itu. Jangan pikirkan itu, pikirkan saja tentang pernikahan kalian."


Mendengar Zhafira akan pindah bersama ibunya membuat Dafa menjadi gelisah. Sahabat yang kini mulai menjaga jarak dengannya, benar-benar akan sulit untuk ditemuinya.


Mendengar hal itu membuat Dafa segera bergegas menuju rumah Zhafira. Di depan pintu rumah Zhafira, langkahnya terhenti ketika melihat sebuah sepeda motor terparkir. Walau sempat ragu, Dafa melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam rumah itu.


Di dalam rumah, tampak Ardi sedang bercanda dengan Zhafira. Tingkah Ardi yang kadang terlihat konyol, membuat Zhafira tertawa lepas.


"Kamu ada di sini?" tanya Dafa pada Ardi yang membuat Ardi menjadi heran.


"Kamu juga kenapa bisa ada di sini?" tanya Ardi balik.


"Rumah Dafa dekat kok dari sini. Mama lagi ke rumahnya untuk mengundang mama dan papanya Dafa untuk pernikahanya nanti," jelas Zhafira yang membuat Ardi manggut-manggut.


"Apa benar setelah ibumu menikah nanti kalian akan tinggal di rumah Ardi?" tanya Dafa pada Zhafira dan gadis itu mengangguk mengiyakan.


"Memangnya kenapa? Wajar kan jika seorang istri harus tinggal di mana suaminya tinggal," ucap Ardi.


Dafa kemudian menarik tangan Zhafira dan meninggalkan Ardi yang masih duduk sambil menatap mereka.


"Kamu kenapa?" tanya Zhafira yang merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu..


"Benar kamu akan tinggal dengan Ardi?" Zhafira mengangguk dan membuat Dafa terduduk lesu.


"Aku tidak kemana-mana, kok. Rumah Ardi juga tidak jauh dari sini. Kapan saja kamu bisa datang mengunjungiku," ucap Zhafira yang mulai paham dengan sikap sahabatnya itu.


"Dafa, walau kita mungkin tidak sedekat dulu lagi, tapi kamu tetap akan menjadi sahabat terbaikku. Di manapun aku berada, aku akan selalu mengingat persahabatan kita karena kamu satu-satunya sahabat yang akan selalu ada di hatiku," ucap Zhafira yang membuat Dafa memeluk sahabatnya itu.


Persahabatan yang terjalin sejak kecil telah menimbulkan rasa yang lain di hati mereka berdua, tapi rasa itu datang terlambat di saat hati mereka telah dimiliki orang lain.


Cinta dan persahabatan, dua jalinan yang terlihat sangat berbeda, tapi siapa yang menyangka kalau awal dari persahabatan bisa berubah menjadi cinta.


Cinta, terkadang begitu kejam. Tidak peduli dengan cara apa dia datang. Seseorang bisa meninggalkan cinta yang lama setelah mendapatkan cinta yang baru. Seseorang bisa memberikan cinta pada yang lain tanpa peduli pada perasaan orang lain. Cinta, seegois itukah dirimu?