
Melihat Zhafira yang begitu terpukul membuat Dafa menjadi sedih. Bahkan, dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa karena gadis itu seakan tak peduli dengannya. Yang dia tanya hanyalah Kevan dan itu membuat Dafa terluka. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau sahabatnya yang dulu selalu mencarinya saat sedih atau bahagia, ternyata tak lagi mencarinya melainkan seseorang yang kini menjadi tambatan hatinya.
Dafa mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Kevan, tapi nomornya sudah tidak aktif.
"Vin, sejak kapan ponsel Kevan sudah tidak aktif lagi?"
"Menurut cerita Ardi, sejak tadi malam Kevan tidak menelepon Zhafira dan saat dihubungi nomornya sudah tidak aktif lagi, bahkan tadi saat aku mencoba meneleponnya, hasilnya sama saja," jelas Vino.
Dafa masih memandangi Zhafira yang duduk bersandar di bahu Dafena dan hanya memandang hampa ke arah jenazah orang tuanya.
Hati Dafa bagaikan teriris melihat kesedihan di wajah sahabatnya itu. "Aku tidak bisa hanya memandang Zhafira seperti ini. Aku harus membawa Kevan ke sini," ucapnya yang kemudian keluar dari rumah itu dan pergi dengan sepeda motornya.
Di depan sebuah rumah mewah, Dafa menghentikan laju motornya. Dengan tergesa-gesa, Dafa memasuki halaman rumah mewah itu. Satpam yang sudah mengenalinya, mempersilakan Dafa untuk masuk dan bertemu dengan empunya rumah.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan memberi salam, pintu rumah itu terbuka. Di depannya, Ibunda Kevan berdiri dan memintanya untuk masuk. "Ada apa Nak Dafa datang kemari? Apa ada yang perlu disampaikan buat Kevan?"
Dafa sempat bingung dengan ucapan wanita itu, tapi dia berusaha untuk tidak terlalu peduli. "Maaf, Tante. Kalau boleh tahu, kapan Kevan akan pulang? Aku sudah menghubunginya, tapi ponselnya sudah tidak aktif dari semalam. Apa Tante bisa membantuku untuk menghubunginya?"
Wanita itu terdiam sesaat. Tiba-tiba, wajahnya terlihat sedih seakan sedang memikirkan sesuatu. "Kalau boleh tahu, Nak Dafa ingin menyampaikan apa buat Kevan. Nanti kalau dia menghubungi Tante, Tante akan sampaikan pesan Nak Dafa padanya," ucap wanita itu.
"Maaf, Tante. Kalau Kevan menghubungi Tante, katakan padanya kalau saat ini Zhafira sangat merindukan dan membutuhkan kehadirannya karena sekarang Zhafira ... " Dafa tidak mampu melanjutkan kata-katanya dan berusaha menahan tangisnya.
"Kenapa? Ada apa dengan Zhafira? Apa sesuatu terjadi padanya?" tanya wanita itu cemas.
Dafa menghapus air mata yang belum sempat terjatuh. "Saat ini, Zhafira tengah berduka karena semalam kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Karena itu, Zhafira sangat membutuhkan kehadiran Kevan. Aku mohon Tante, tolong sampaikan padanya karena Zhafira hanya menyebut nama Kevan," ucap Dafa yang kali ini tidak mampu lagi menahan air matanya.
Begitupun dengan wanita itu yang tiba-tiba menangis sesenggukan karena sedari tadi menyimpan sesuatu dari Dafa. "Kasihan gadis itu, kenapa dia harus mengalami nasib buruk seperti ini?" ucap wanita itu yang masih menangis karena mengingat anaknya yang kini akan kehilangan gadis yang sangat di cintainya.
"Maafkan Tante karena tidak bisa menghentikan semuanya. Tante tahu, betapa Kevan sangat mencintai Zhafira. Tante tahu mereka berdua saling mencintai dan Kevan selalu membanggakan Zhafira di depan Tante. Bahkan, dia sudah menyiapkan baju pengantin untuk pernikahan mereka, tapi Tante tetap tidak bisa memberitahunya," ucap wanita itu yang terus menangis.
"Memberitahukan tentang apa, Tante? Apa ada yang Kevan dan Zhafira tidak ketahui?"
Wanita itu mengangguk dalam isakkan tangisnya. "Kepergian Kevan ke Batam bukan hanya untuk pekerjaan, tapi untuk dijodohkan dengan wanita pilihan papanya. Tante tidak bisa memberitahukannya karena papanya melarang. Tadi, papanya menelepon katanya Kevan sudah meninggalkan hotel tempat dia menginap karena diusir oleh papanya tanpa membawa sepeserpun dan hati Tante hancur mendengar itu semua. Tante merasa menjadi orang tua yang sangat kejam. Dan kini, Tante sendiri tidak tahu Kevan ada di mana. Tante berdosa karena sudah menghancurkan hidup anak Tante sendiri," ucap wanita itu yang kembali menangis sesenggukkan hingga membuat Dafa ikut menangis.
Dalam hati kecilnya, Dafa sangat marah. Apa ada orang tua yang seegois itu pada anak mereka sendiri? Apa mereka begitu tega saat melihat anak mereka terluka dan menangis karena ulah mereka?
Mendengar semua penuturan wanita itu membuat Dafa lemas. Apa yang akan dikatakannya pada Zhafira nanti? Apakah dia sanggup menerima kenyataan kalau kekasihnya kini telah dijodohkan dengan wanita lain? Apa dia sanggup menerima kenyataan kalau sekarang Kevan telah diusir tanpa membawa apapun dan keberadaannya pun tidak diketahui?
Dafa melangkah keluar dari rumah itu dengan air mata yang tak sanggup dia tahan. Dia merasa bagaikan sedang memikul sebuah batu besar di punggungnya dan membuatnya tidak mampu untuk melangkah.
"Apa yang harus aku katakan pada Zhafira? Rasanya aku tidak ingin kembali. Aku tidak sanggup melihat kesedihan di wajahnya. Ya Tuhan, cobaan apa yang sudah Engkau berikan untuknya? Apa belum cukup dia kehilangan orang tuanya, dan kini Engkau juga akan merenggut kekasihnya?" Rasa sedih yang menusuk di hatinya, sesaat membuatnya menyalahkan takdir Tuhan dan membuatnya lupa kalau Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan manusia itu sendiri dan di balik awan mendung pasti tersembunyi cahaya mentari yang akan selalu menyinari.
Dafa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan beristighfar. Dia merasa berdosa karena sudah menyalahkan takdir Tuhan. "Astaghfirullah, ampunkan hambamu ini, Ya Allah. Hamba mohon, berikanlah ketabahan kepada sahabat hamba agar dia kuat dalam menghadapi cobaanmu," ucap Dafa dalam sebait doanya.
Dafa akhirnya kembali dan akan menyimpan rahasia itu sampai Zhafira tenang dan mampu menghadapi berita yang akan membuatnya kembali terluka.
Setelah kepergian Dafa, Kevan menelepon ibunya melalui ponsel salah satu security yang belum lama di kenalnya. Dengan berbekal beberapa lembar uang di sakunya untuk membeli pulsa, Kevan menghubungi ibunya.
"Nak, kamu sekarang di mana?"
"Aku di depan hotel, Ma. Semalam, Kevan tidur di ruang security," ucapnya yang terdengar sedih.
"Nak, kamu bisa pulang sekarang?"
"Kevan tidak punya apa-apa lagi, Ma. Semua ATM dan kartu kredit sudah diblokir sama papa. Kevan ingin segera pulang dan bertemu dengan Zhafira, Ma. Kevan sangat merindukannya, Ma." Kevan menitikkan air mata hingga membuat ibunya tidak bisa lagi menahan perasaannya. Hatinya hancur saat mendengar tangisan anaknya itu.
"Kamu pulang, Nak. Mama akan mengirimmu uang. Kamu harus segera pulang karena saat ini Zhafira sangat membutuhkanmu," ucap wanita itu yang membuat Kevan penasaran.
"Tadi, Dafa datang menanyakan tentangmu karena ponselmu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Semalam, orang tua Zhafira mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Maafkan Mama, Nak, karena tidak bisa membelamu di depan papamu, tapi kali ini, Mama akan berusaha untukmu, Mama janji akan menyatukan kalian berdua, Mama janji," ucap ibunya yang kembali menangis.
"Aku akan segera pulang, Zhafira saat ini pasti sangat membutuhkanku. Aku akan pulang, Ma." Kevan menutup teleponnya dan segera berlari menuju ke kamarnya.
Dengan air mata yang jatuh di sudut matanya, Kevan berlari dan tak peduli walau dia menabrak orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Zhafira. Dia tidak bisa membayangkan kalau saat ini, kekasihnya itu sedang bersedih dan terluka. Dia tidak bisa membayangkan, betapa Zhafira sangat membutuhkan kehadirannya.
"Maafkan aku, Zha. Tolong tunggu aku," ucap Kevan yang kemudian masuk ke dalam kamarnya di mana ayahnya sedang bersiap-siap untuk kembali.
"Untuk apa lagi kamu datang ke sini? Apa kamu tidak bisa hidup tanpa uang ayahmu ini?" Kevan tidak menggubris ucapan ayahnya.
Kevan membuka koper yang semalam sudah di siapkannya dan mengambil sepasang baju untuk dipakainya. Setelah mengganti pakaian, Kevan mengambil tiket pesawat yang memang sudah dibelinya sejak awal dan beberapa lembar uang.
"Kamu mau kemana dengan tiket pesawat dan uang-uang itu? Apa kamu tidak merasa malu dengan apa yang kamu katakan semalam?"
"Aku akan menggantikan semua uang yang aku pakai. Saat ini, rasa malu itu aku letakkan di telapak kakiku karena aku tidak ingin rasa malu itu menghalangiku untuk menemui kekasihku. Aku harap, Papa tidak akan pernah menyesal karena telah menghancurkan hidupku," ucap Kevan yang kemudian pergi tanpa mempedulikan ayahnya.
Dengan tergesa-gesa, Kevan keluar dari hotel itu. Keberangkatan pesawat yang tinggal satu jam lagi membuatnya segera berlari menuju jalan raya yang terlihat sangat ramai. Karena mobil yang menuju bandara lewat di arah yang berlawanan, maka terpaksa Kevan harus menyebrang.
Kevan memperhatikan arus mobil di kiri kanannya, setelah di rasa aman, Kevan kemudian menyebrang, tapi tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dengan kencang dari sisi kanannya menghantam tubuhnya hingga terpental beberapa meter.
Orang-orang yang ada di tempat itu kemudian mendekatinya dan mendapati tubuhnya yang sudah penuh dengan darah.
Sesaat sebelum kecelakaan, terlintas wajah Zhafira yang memandanginya dengan air mata yang jatuh di sudut mata gadis itu. Bayangan wajah Zhafira seakan bermain dalam ingatannya hingga dia merasa tubuhnya di hantam sesuatu yang membuatnya menitikkan air mata.
Di jalan itu, tubuh Kevan terbaring dengan darah yang mengucur dari kepalanya. Terlihat, air mata yang jatuh di sudut matanya dengan bibir yang mengucap sebuah nama, Zhafira.
Sesaat, pandangannya mulai buram, tapi dia mencoba untuk tetap sadar. Mulutnya tidak henti memanggil nama Zhafira hingga membuat orang-orang di tempat itu merasa iba padanya. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir hingga dia benar-benar tak mampu lagi untuk memanggil nama Zhafira karena matanya yang perlahan mulai menutup.
Karena kecelakaan itu, arus lalu lintas menjadi macet. Orang-orang mulai mendatangi tempat kejadian dan mulai mengevakuasi korban. Security yang kebetulan mengenali Kevan sempat syok saat tahu kalau pemuda yang baru saja meminjam ponselnya itu adalah korban dari kecelakaan itu.
Dengan tangan gemetar, dia meraih ponselnya dan menghubungi nomor yang tadi dihubungi oleh Kevan. "Hallo, Nak. Kamu sudah mau pulang? Mama akan menunggu kamu dan kita sama-sama pergi ke rumah Zhafira," ucap wanita itu.
"Maaf, saya hanya ingin memberitahukan kalau anak ibu baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang sudah dibawa ke rumah sakit," ucap security itu yang membuat wanita itu terduduk lemas dengan air mata yang jatuh.
"Hallo, hallo." Wanita itu duduk dan menangis hingga membuat security itu ikut merasa sedih. Dengan berat hati, security itu menutup teleponnya dan hanya bisa duduk termenung dan mengingat kembali orang tuanya yang sudah lama tidak dikunjunginya.
"Ada apa? Kenapa di depan sangat ramai?" tanya seorang lelaki paruh baya pada security itu yang membuatnya terkejut.
"Di depan ada kecelakaan. Kasihan pemuda itu, entah dia selamat atau tidak," ucap security itu dengan wajah yang terlihat sedih.
"Bukankah, pemuda itu yang menginap di kamar 201? Kasihan pemuda itu, kamu tahu, tadi dia menyebut-nyebut nama seseorang. Sepertinya, mungkin itu nama istri atau pacarnya. Kasihan dia menyebut nama Zhafira berulang-ulang kali dengan air mata yang mengalir. Melihatnya, aku jadi kasihan," ucap seorang security yang kebetulan menyaksikan kecelakaan itu.
Sementara pria paruh baya itu masih berdiri terpaku dan tak bisa berkata-kata saat mendengar percakapan kedua security itu, hingga tiba-tiba tubuhnya melemas dan hampir terjatuh andai kedua security itu tidak segera menolongnya. "Pak, Bapak kenapa?"
"Kevan, anakku," ucap pria paruh baya itu yang membuat kedua orang itu saling menatap.
"Maksud Bapak, pemuda yang kecelakaan itu adalah anak Bapak?"
Pria itu mengangguk. Tubuhnya lemas tak bertenaga hingga harus dibantu kedua orang itu.
"Tolong, antarkan saya ke rumah sakit. Saya mohon," pintanya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya
Takdir, tak bisa disalahkan karena semua sudah menjadi lika-liku kehidupan. Ada saatnya, manusia harus merasakan kehilangan walau terkadang manusia itu tidak mampu untuk merelakan, tapi takdir tak bisa dielak. Hanya manusia-manusia dengan hati yang sabar dan tabah yang akan mampu melewati takdir itu.
Dan kini, apakah Zhafira akan mampu menerima takdirnya? Ataukah, dia akan terpuruk dan menangisi takdir buruknya itu?