
Melihat Dafa yang kesakitan membuat Zhafira enggan meninggalkannya. Dengan sabar, Zhafira menemani sahabatnya itu hingga tim medis datang dan mengobatinya. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhafira saat tim medis sudah selesai mengobati kaki sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja," jawab Dafa sambil tersenyum.
"Jangan terlalu merasa bersalah karena tidak memenangkan pertandingan. Ini hanya perlombaan dan setiap perlombaan pasti ada yang kalah dan juga ada yang menang dan sekarang tim kita yang mengalami kekalahan, tapi bukan berarti kita harus kecewa melainkan harus bersemangat agar kedepannya kita bisa berusaha lebih baik lagi," ucap Zhafira yang membuat Dafa tersenyum karena ucapan Zhafira yang baginya terdengar sangat bijaksana.
"Kenapa tersenyum?" tanya Zhafira saat melihat Dafa tersenyum padanya.
"Ingin saja karena sahabatku ini rupanya sudah mulai dewasa," jawab Dafa yang membuat Zhafira mengernyitkan keningnya.
"Jadi maksudmu, selama ini aku kekanak-kanakkan, begitu?"
"Tidak juga, tapi aku senang karena kali ini sahabatku bisa membuat hatiku tenang dengan kata-katanya yang bijaksana. Ngomong-ngomong, kata-kata itu kamu dapat dari mana?" tanya Dafa yang membuat Zhafira memukul kakinya hingga membuatnya tertawa sambil menahan sakit.
Sementara itu, di lapangan kedua tim sudah berkumpul untuk menerima piala. Dafa tidak bisa hadir karena kakinya yang belum benar-benar pulih.
Tepukan tangan dan sorak sorai menggema saat Ardi menerima piala itu. Wajahnya terlihat tersenyum walau sebenarnya pikirannya sedang mengarah ke tempat lain. Dia sedang memikirkan Zhafira yang belum juga menemuinya. Setidaknya, dia mengharapkan gadis itu untuk datang dan mengucapkan selamat padanya.
Hingga acara selesai, Zhafira belum juga menemuinya. Sekilas, dia merasa kecewa dan memutuskan untuk bergabung bersama teman-temannya yang sudah menunggunya dari tadi. Sementara Zhafira belum menyadari kalau Ardi sedang menunggunya, hingga dia mendengar beberapa orang gadis yang lewat di depannya dan menyebut nama pemuda itu.
"Tunggu aku di sini, aku ingin menemui seseorang," ucap Zhafira pada Dafa sambil berlari pelan dan meninggalkannya.
Zhafira kemudian berlari menuju ruangan yang biasa dipakai oleh Tim Ardi untuk berkumpul. Baru saja dia ingin mengetuk pintu ruangan itu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka. "Maaf, kamu mencari siapa?" tanya seorang pria muda yang baru saja keluar.
"Aku ingin bertemu dengan Ardi," jawab Zhafira.
"Oh, sepertinya dia baru saja pergi dengan teman-temannya," jelas pria itu yang kemudian pergi meninggalkannya.
Mendengar jawaban pria itu membuat Zhafira merasa bersalah. Dia benar-benar lupa kalau dia harus bertemu dengan Ardi. "Maafkan aku," ucap Zhafira pelan sambil melangkah pergi dan menemui Dafa yang tengah menunggunya.
Melihat Zhafira yang terlihat murung membuat Dafa paham. Dia tahu kalau orang yang ingin ditemui Zhafira adalah Ardi.
"Apa kalian sudah mau pulang?" tanya Revan yang muncul bersama Vino dan Kevan.
"Sebaiknya kita pulang sama-sama saja, lagipula kamu tidak bisa sendirian membawa pulang Dafa dengan kondisi seperti itu," ucap Kevan sambil membawa tas ransel milik Dafa yang ada di atas bangku. Sementara Revan dan Vino mulai memapah Dafa menuju halaman parkir.
Mobil Avanza berwarna metalik yang terparkir di halaman parkir menjadi tujuan mereka. Mobil itu milik Kevan yang sengaja dibawanya. "Naiklah, aku akan mengantarkan kalian pulang," ucap Kevan sambil membuka pintu mobil.
Zhafira tidak bisa menolak, walau begitu dia berusaha untuk menjaga pandangannya agar tidak melihat pemuda itu. Kevan mulai menyadari kalau Zhafira berusaha untuk menjaga jarak dengannya dan dia paham akan hal itu.
"Minggu depan kita sudah masuk sekolah lagi, aku masih tidak percaya kalau sekarang kita sudah kelas tiga," ucap Vino sambil tersenyum.
"Tidak terasa kalau persahabatan kita sudah hampir tiga tahun dan selama ini pula kita bertiga masih menjomlo," ucap Revan yang terlihat sedih.
Mendengar penuturan Revan membuat Zhafira tertawa pelan sambil menutup bibirnya dengan tangannya. Kevan yang duduk di jok depan dengan jelas bisa melihat senyuman Zhafira dari kaca depan.
"Itu karena kalian yang tidak berani mengungkapkan perasaan kalian pada cewek," ucap Zhafira yang membuat Revan dan Vino menatapnya.
"Maksud kamu?" tanya kedua pemuda itu hampir bersamaan.
"Apa kalian tidak sadar kalau kalian sudah mempunyai modal yang cukup? Kalian tampan, jago main basket dan jadi idola gadis-gadis di sekolah, terus kenapa kalian tidak gunakan modal itu untuk mendapatkan pacar?" ucap Zhafira yang membuat keempat pemuda itu menatapnya heran.
"Sejak kapan kamu jadi penasehat cinta? Perasaan, kamu sendiri tidak punya pacar," ucap Vino seakan meremehkan ucapan Zhafira.
Mendengar ucapan Vino membuat Zhafira kesal dan memukul bahu pemuda itu karena jengkel. "Iya, iya. Aku tahu aku juga masih menjomlo, tapi lihat saja nanti tidak lama lagi aku pasti akan mempunyai pacar," ucap Zhafira spontan hingga membuat Dafa dan Kevan melirik ke arahnya.
Ucapan Zhafira yang asal itu telah mengganggu kedua pemuda itu. Kevan yang akhir-akhir ini mulai merasakan sesuatu yang lain saat melihat gadis itu mulai terusik, sementara Dafa yang masih berusaha meredam perasaannya juga merasakan hal yang sama.
"Kalau sampai kamu punya pacar, aku janji akan mentraktir kalian semua. Memangnya, cowok mana yang mau jadi pacarmu, hah?" ledek Revan hingga membuat wajah Zhafira cemberut.
"Kalau tidak ada cowok yang mau jadi pacarku, masih ada Dafa yang mau jadi pacarku, iya, kan?" tanya Zhafira sambil melirik ke arah Dafa dengan wajah memohon seakan meminta dukungan.
Melihat tingkah Zhafira membuat Dafa tersenyum sambil mengangguk. "Hm, iya." Dafa tersenyum.
"Tuh, Dafa saja mau jadi pacarku, jadi kenapa aku harus takut tidak punya pacar?" ucap Zhafira mengejek hingga membuat Revan dan Vino terdiam.
"Gadis ini, iya kamu menang, deh," ucap Vino yang membuat Zhafira tersenyum puas.
Tanpa sadar, semua candaan itu telah membuat Dafa merasakan kembali perasaan yang selama ini ingin dia lupakan. Perasaan yang membuatnya harus berpikir ribuan kali. Perasaan yang tidak mungkin bisa dia ungkapkan dan hanya bisa dipendam, entah sampai kapan.
"Kenapa baru datang?" tanya Zhafira saat Dafa baru saja datang dengan sepeda motornya.
"Maaf, soalnya tadi abangku pinjam motor sebentar buat beli sarapan," jawab Dafa sambil memberikan helm berwarna pink untuknya.
"Inikan hari pertama kita masuk sekolah, mestinya kita harus datang lebih awal biar dapat tempat duduk di paling depan," celoteh Zhafira kesal.
Dafa hanya tersenyum walau dimarahi oleh Zhafira. Dan tidak sedikitpun dia merasa tersinggung apalagi marah dengan gadis itu. Dia lebih suka dimarahi atau diomeli oleh Zhafira daripada harus diacuhkan oleh gadis itu.
Setibanya di gerbang sekolah, terlihat anak-anak kelas sepuluh yang berjalan dan tertawa bersama. Masa-masa ospek yang baru saja selesai membuat mereka menjadi akrab dan saling mengenal satu sama lain. Bahkan, terlihat sekelompok gadis-gadis yang berkumpul bersama sambil tertawa karena mengingat kembali masa-masa ospek yang mungkin berkesan bagi mereka.
Zhafira melihat mereka sambil tersenyum. Masa-masa itu pernah dialaminya, masa yang membuat dia merasa bahagia walau kebahagiaan itu hanya dirasakannya sebentar saja.
Baru saja Zhafira turun dari motor, Revan dan Vino sudah berdiri di belakangnya. Bukan hanya mereka berdua, tapi Kevan juga ada di tempat itu.
"Kenapa masih berdiri di sini? Ayo, masuk," ajak Zhafira sambil menarik tangan Dafa yang diikuti ketiga pemuda itu dari belakang.
Setelah melihat daftar nama di setiap pintu kelas, akhirnya Zhafira mendapati namanya di salah satu kelas yang sudah dipenuhi dengan wajah-wajah yang tidak asing baginya.
Hampir semua siswa di kelas itu adalah teman-temannya saat masih di kelas dua dulu dan itu membuat dia sedikit kecewa karena Dafa tidak sekelas dengannya melainkan Kevan.
"Kenapa aku harus sekelas dengan cowok itu, sih?" batin Zhafira kesal. Dengan malas, dia masuk ke dalam kelas dan melihat tempat duduk yang masih kosong. Niatnya untuk duduk di kursi paling depan harus kandas karena sudah diambil alih anak-anak yang lain. Yang tersisa hanya kursi di bagian belakang.
Zhafira kemudian duduk di salah satu kursi di paling belakang sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Dia merasa bosan dengan situasi kelas yang baginya selalu sama, tak ada yang berubah, tak ada yang spesial, malah membuat dia semakin risih karena orang yang ingin dia hindari kini sekelas dengannya.
Lonceng tanda masuk berbunyi dan Zhafira masih enggan untuk mengangkat kepalanya. Guru wali kelas yang belum datang menjadi alasan bagi Zhafira untuk bisa bermalas-malasan sebentar. Bukan hanya itu, tapi dia juga enggan mengangkat kepalanya karena ingin menghindar dari Kevan yang ternyata duduk di meja sebelah kanannya.
"Ya Tuhan, kenapa juga Kevan duduk di situ," gerutu Zhafira yang terlihat kesal.
Melihat tingkah Zhafira yang berusaha untuk menghindar darinya membuat Kevan paham, karena itu dia berusaha untuk bersikap sewajarnya.
Ibu Ani, guru Bahasa Indonesia yang terlihat cantik dan masih muda itu, datang dan masuk ke kelas mereka. Guru yang menjadi idola karena kecantikan dan jiwa mudanya itu disambut dengan suara riuh.
"Tenang semuanya," ucap Bu Ani yang sontak saja membuat kelas menjadi hening kembali.
"Bagaimana liburannya, kalian puas?" tanya Bu Ani yang kembali membuat seisi kelas menjadi gaduh.
"Sudah, jangan ribut. Mulai sekarang, Ibu yang akan menjadi wali kelas kalian." Sontak saja kelas semakin gaduh karena salah satu guru yang diidolakan hampir seluruh siswa di sekolah itu ternyata menjadi wali kelas mereka.
Suara gaduh dan berisik anak-anak di dalam kelas tidak membuat Zhafira mengangkat kepalanya. Dia tidak peduli dengan suara gadis-gadis yang tiba-tiba bersorak kegirangan saat Pak Deny datang ke kelas mereka dengan membawa seorang siswa baru yang sudah berdiri di depan kelasnya.
"Sudah, jangan ribut. Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru. Nah, sekarang kamu boleh memperkenalkan diri," ucap Bu Ani pada murid baru itu.
"Hai, semuanya. Perkenalkan, namaku Khairun Mahardi, kalian bisa memanggilku Ardi. Aku murid pindahan dari SMA Kartika, salam kenal semuanya," ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Ardi. Mendengar nama Ardi, sontak saja Zhafira langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pemuda itu. "Ardi?" Zhafira spontan berdiri dan melihat ke arah Ardi yang membuat pemuda itu tersenyum padanya. Melihat ekspresi Zhafira, sontak saja dia menjadi perhatian teman-teman sekelasnya.
"Kamu kenal sama Ardi?" tanya Bu Ani heran.
Zhafira mengangguk pelan dan tersipu malu. Dengan wajah yang memerah, Zhafira kemudian duduk dan kembali meletakkan kepalanya di atas meja sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena menahan malu.
Ardi yang sudah dipersilakan untuk duduk berjalan menuju tempat duduk yang masih kosong. "Angkat kepalamu," ucap Ardi sambil mengetuk pelan meja Zhafira hingga membuat gadis itu melirik ke arahnya.
Ardi melayangkan senyum padanya sambil duduk di kursi sebelah kirinya. Dengan senyum yang dipaksakan, Zhafira mengangkat kepalanya dan menoleh padanya.
Ardi lantas mendekati Zhafira dan duduk di atas mejanya saat Bu Ani sudah keluar dari kelas karena harus menghadiri rapat di ruang guru.
"Kenapa, kamu pasti kaget, ya?" tanya Ardi yang membuat Zhafira jengkel.
"Bukan kaget lagi, tapi hampir jantungan. Kenapa juga kamu pindah ke sekolah ini, hah?" tanya Zhafira penasaran.
"Karena aku ingin dekat sama kamu," jawab Ardi sambil tersenyum kepadanya.
"Mulai lagi, deh. Aku serius, kenapa kamu pindah ke sekolah ini padahal kan sekolah kamu itu sangat bagus. Apa ada gadis yang kamu suka di sekolah ini?" tanya Zhafira yang terlihat penasaran.
Ardi tersenyum sambil mengucek rambut gadis itu pelan. "Masih rahasia," jawab Ardi yang membuat Zhafira cemberut.
Kedekatan mereka ternyata telah menarik perhatian teman-temannya di dalam kelas. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Zhafira sangat dekat dengan anak baru yang tampan itu.
Sementara Kevan yang duduk di sebelahnya terlihat acuh dengan mereka hingga Ardi datang dan menyapanya.