
Zhafira mengikuti kemana Ardi akan membawanya. Di belakang pemuda itu, dia berjalan mengikutinya hingga berhenti di deretan kursi yang terlihat lebih istimewa dari pada kursi penonton lainnya.
"Duduklah," ucap Ardi yang mempersilahkannya untuk duduk. Zhafira terpana. Di depannya, sudah berjejer kursi yang dipenuhi para pemain yang tak satupun dikenalnya. Mereka semua terlihat tampan dan gagah.
"Ayo duduk," ucap Ardi sambil menarik tangannya dan berjalan ke arah bangku-bangku itu. Melihat Ardi, sontak saja mereka mempersilakannya untuk duduk dan tentu saja bangku untuk Zhafira pun sudah tersedia.
Zhafira terpaku. Dari atas sana, dia bisa melihat para penonton yang hampir semuanya perempuan. Mereka rela berdesak-desakan hanya untuk melihat idola mereka berlaga. Sejurus, matanya menangkap bayangan seseorang. Bukan, tapi dua orang. Kedua orang itu tengah bersiap-siap untuk memulai pertandingan.
Sorot mata ke arah dua orang itu rupanya sudah menarik perhatian Ardi. "Yang mana pacarmu?" tanya Ardi yang membuat Zhafira kaget.
Zhafira hanya diam. Toh, pertanyaan itu tidak perlu dia jawab.
"Ternyata mereka berdua cukup tampan juga. Aku tahu, kamu pasti sedang dilema karena ditembak dua orang sekaligus dan kamu bingung mau memilih yang mana, iya, kan?"
Zhafira tersenyum. Bukan, tapi dia sedikit tertawa hingga membuat Ardi memandangnya heran. "Sok, tahu," ucap Zhafira singkat dengan senyum di sudut bibirnya.
Rupanya, senyum Zhafira sudah membuat Ardi tertegun. Senyum seorang gadis yang menurutnya sangat lucu dan polos.
"Mereka itu bukan pacarku. Mereka itu teman-temanku yang akan bertanding nanti," jelas Zhafira dengan pandangan lurus ke arah Dafa.
Melihat Zhafira yang terus memandangi mereka membuat Ardi ikut melihat ke tempat yang sama. "Kamu dari SMA 45, ya?" tanya Ardi.
"Benar. Memangnya kenapa? Aku tahu, pasti kamu berpikir kalau mereka itu lawan yang sulit, iya, kan? Jangan khawatir, kemampuan mereka itu biasa-biasa saja," ucapnya setengah berbisik.
Sekali lagi, Ardi tersenyum lepas. "Siapa namamu?" tanya Ardi.
"Zhafira, namaku Zhafira," jawabnya dengan tersenyum. Entah mengapa, setiap melihat Ardi, perasaan Zhafira selalu terasa menyenangkan. Di depan pemuda itu, dia selalu tersenyum.
"Namamu Ardi, kan?" tanya Zhafira yang membuat Ardi merasa heran.
"Dari mana kamu tahu?"
"Tuh." Telunjuk Zhafira mengarah ke belakang punggung pemuda itu hingga membuat dia tersenyum.
Zhafira masih melihat ke arah lapangan. Pandangannya masih tertuju ke arah Dafa. Dia ingin memberinya semangat walau hanya dengan meneriakan nama pemuda itu, tapi mulutnya seakan terkunci. Dia hanya bisa melihat dengan sedikit rasa tegang karena dari tadi tim mereka diserang hingga hampir saja membuat mereka kehilangan angka.
Ardi melihat Zhafira yang hanya terdiam walau sebenarnya dia tahu, gadis itu ingin memberi semangat pada teman-temannya.
"Ayo SMA 45, semangat!!" teriak Ardi sambil berdiri dan bertepuk tangan seakan ingin memberi semangat pada mereka.
Zhafira terkejut dengan sikap pemuda itu. Spontan saja semua mata langsung tertuju pada mereka, tak terkecuali Dafa dan Kevan yang langsung melihat Zhafira yang duduk di samping pemuda itu.
"Kenapa kamu teriak?" tanya Zhafira sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Tidak perlu malu. Aku akan menyemangati mereka, tapi sebagai gantinya kamu juga harus menyemangati timku, oke?"
"Sedang apa dia duduk di situ?" batin Dafa yang sempat terkejut.
Bukan hanya Dafa dan Kevan yang terkejut, Kheyla dan Refa yang ada di tempat itu juga terkejut. "Itu Zhafira, kan?" tanya Refa seakan dia tidak percaya. Kheyla mengangguk. Mereka tidak percaya kalau Zhafira kini duduk di kursi khusus untuk pemain. Dan yang lebih membuat mereka terkejut, ternyata Zhafira duduk dekat Ardi, cowok tampan yang menjadi idola hampir semua kaum hawa yang ada di tempat itu.
Sontak saja Zhafira menjadi perhatian hampir semua gadis yang ada di tempat itu. Mereka memandang iri ke arahnya karena berhasil duduk di kursi itu. Kursi yang bagi mereka adalah hal yang mustahil karena tidak mungkin kursi itu bisa diduduki selain para pemain.
"Setelah ini, kamu pasti akan menjadi bahan perbincangan mereka," ucap Ardi pelan.
"Maksud kamu, apa? Perbincangan apa?" tanya Zhafira yang masih bingung dengan ucapan pemuda itu.
Ardi hanya tersenyum melihat sikap polos Zhafira yang lagi-lagi membuat dia tersenyum lepas. "Sudah lama aku tidak tersenyum seperti ini. Apakah dia semenarik ini hingga aku bisa tersenyum hanya dengan melihatnya?" batin Ardi yang tersenyum sambil melihat ke arah Zhafira.
Pertandingan baru saja selesai. Tepuk tangan yang riuh terdengar mengiringi kemenangan tim sekolahnya yang berhasil memenangkan pertandingan. Zhafira ikut tersenyum dan bertepuk tangan. Sejurus, pandangannya bertemu dengan Dafa. Zhafira tersenyum ke arah pemuda itu dengan bibirnya yang bergerak mengucapkan selamat walau akhirnya, Dafa memalingkan wajahnya dan kemudian pergi dengan wajahnya yang terlihat datar.
Melihat sikap Dafa, Zhafira paham. Dafa belum juga memaafkannya. Zhafira hanya tersenyum dan menghapus air matanya yang hampir jatuh. Ardi yang duduk di sampingnya bisa merasakan kalau saat ini perasaan gadis itu sedang terluka.
"Selamat, ya. Tim sekolah kalian akhirnya bisa lolos ke babak selanjutnya. Sekarang, giliran timku yang akan bertanding. Ingat, kamu harus tetap duduk di sini dan memberi semangat padaku, oke?" ucap Ardi sambil memberikan tasnya kepada Zhafira.
"Sekalian, tolong jaga tasku," ucap Ardi yang kemudian pergi dengan senyumnya yang bisa membuat jantung cewek-cewek berdetak hebat.
Zhafira hanya bisa melihat kepergian Ardi dengan hatinya yang dongkol, tapi entah kenapa Zhafira merasa nyaman saat bersamanya.
Di tengah lapangan, Ardi masih sempat melambaikan tangan padanya. Dengan senyum, Ardi melihat ke arahnya hingga membuat semua mata kembali tertuju padanya.
"Apa itu cewek barunya Ardi?" tanya seorang gadis sambil memandang ke arah Zhafira.
"Tidak mungkin. Mana mungkin Ardi suka sama cewek seperti itu," jawab temannya.
Zhafira bukan gadis yang biasa saja. Wajahnya cantik dengan kulit putih dan rambut hitamnya yang panjang melewati bahunya. Hidungnya cukup mancung dan diimbangi dengan bola mata yang berwarna hitam. Bibirnya yang mungil dan merekah indah dengan warna pink alami tanpa pewarna. Alisnya tersusun rapi bak semut hitam yang sedang berbaris. Tak lupa, tubuhnya cukup berisi dengan tinggi yang cukup bagi gadis seusianya. Semua yang ada pada gadis itu sudah sempurna, tapi begitulah di mata gadis-gadis yang cemburu padanya, dia hanya gadis biasa tanpa pesona.
Dari tempat duduknya, Zhafira memandang ke arah lapangan. Ardi masih melihatnya dan lagi-lagi dengan tersenyum.
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia senyum-senyum terus padaku?" batin Zhafira sambil membalas senyum pemuda itu. Walau kesal, tapi Zhafira tidak bisa mengingkari kalau pemuda itu bisa dengan mudahnya membuat dia selalu tersenyum.
"Ayo, semangat!!" teriak Zhafira dari atas tempat duduknya. Dafa dan Kevan yang masih ada di tempat itu hanya bisa memandangi Zhafira dengan tatapan heran. Heran karena dia menyemangati musuh besar mereka.
Tim basket Ardi adalah lawan yang cukup tangguh. Setiap pertandingan, mereka selalu menang dan tim basket sekolah Zhafira selalu berada di posisi kedua.
"Zhafira kenapa ada di situ? Dan kenapa dia memberi semangat pada mereka?" tanya Revan yang bingung dengan sikap gadis itu.
"Tidak setia kawan tuh anak," ucap Vino yang juga mulai kesal.
Zhafira tidak menyadari kalau semua teman-temannya sedang menatapnya dengan perasaan kecewa. Mereka kecewa karena Zhafira lebih memilih menyemangati tim Ardi yang notabene adalah musuh bebuyutan mereka daripada menyemangati tim mereka.
Pertandingan berlangsung tanpa perlawanan yang berarti. Tim Ardi dengan mudahnya mencetak angka hingga membuat suara gemuruh dan pekikan histeris dari setiap gadis yang ada di tempat itu.
Zhafira masih menyemangati mereka dengan tepuk tangan dan teriakan yang membuat tenggorokannya menjerit. "Apa aku harus berteriak seperti ini?" ucapnya sambil mengelus lehernya dan berdehem sekedar membetulkan pita suaranya yang mulai kusut.
Pertandingan yang tak seimbang itu berakhir dengan kemenangan untuk tim Ardi. Suara sorak sorai tak kalah meriah dari sebelumnya. Bahkan, gadis-gadis itu kemudian berlari dan mendekati Ardi yang baru saja keluar dari lapangan.
"Kak, Kak Ardi. Minta fotonya, Kak," teriak beberapa gadis yang berebutan sekedar untuk berfoto dengannya.
Suara gadis-gadis yang mengelu-elukannya cukup membuat dia kerepotan. Walau begitu, dia masih tetap tersenyum dan melayani mereka untuk berfoto. Hingga mereka dibubarkan paksa oleh panitia karena sudah dirasa mengganggu kenyamanan para pemain lainnya.
Zhafira hanya bisa melihat tingkah gadis-gadis itu dari atas tempat duduknya. "Kenapa kalian bersikap seperti itu? Bikin malu kaum wanita saja," ucapnya pelan sambil berjalan menuruni anak tangga.
Dengan membawa tas yang dititipkan Ardi padanya, Zhafira berjalan mencari keberadaan pemuda itu. "Pergi kemana tuh anak," ucap Zhafira yang mulai lelah karena dari tadi mencari pemuda itu.
Sekolah yang baginya sangat besar itu bagaikan labirin yang susah dia lewati. Penuh liku dan tentu saja sangat asing. Karena lelah, dia memutuskan untuk duduk di bangku taman yang ada di depan salah satu kelas. Dia melihat lagi tas hitam yang ada di tangannya. Dia menarik nafas panjang. Entah sudah keberapa kalinya dia melakukan hal itu.
"Kamu anak dari sekolah mana?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Bukan hanya satu, tapi ada tiga gadis yang juga berdiri di belakang gadis itu.
"Maaf, aku dari SMA 45," jawab Zhafira.
"Terus, kenapa kamu masih duduk di sini? Bukannya teman-teman kamu sudah pulang semua?" tanya seorang gadis berambut pendek dengan tubuhnya yang sedikit gempal.
"Oh, aku sedang menunggu seseorang," lanjut Zhafira dengan wajahnya yang mencoba untuk tersenyum.
"Siapa? Ardi?" tanya gadis yang terlihat cantik itu. Mungkin dia adalah pemimpin mereka karena dialah yang paling cantik di antara semua gadis-gadis itu.
Zhafira tersenyum dan mengangguk.
Sontak saja ekspresi wajah gadis-gadis itu mulai berubah. Mereka seakan kompak melihat ke arah gadis cantik yang berdiri di depannya.
"Kamu pacar barunya Ardi?" tanya gadis-gadis itu hampir serempak.
"Iya, dia pacar baruku. Memangnya kenapa?" Tiba-tiba Ardi muncul dan berjalan ke arah Zhafira dan langsung melingkarkan tangan kanannya di leher gadis itu.
"Maksud kamu, apa?" tanya Zhafira heran dengan tingkah pemuda itu. Ardi hanya tersenyum dan mencubit pipi kiri Zhafira hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
Melihat tingkah Ardi pada Zhafira membuat gadis-gadis itu kesal. Terlebih lagi dengan gadis cantik yang berdiri di depan mereka. Wajahnya memerah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Kamu jahat," ucap gadis itu pada Ardi dan kemudian pergi dengan isakan tangis yang tak bisa dia tahan. Melihat gadis itu pergi membuat teman-temannya mengikutinya.
"Maksud kamu apa bilang pada mereka kalau aku ini pacar barumu, hah?" tanya Zhafira sambil memberikan tas hitam pada pemuda itu.
Ardi tersenyum dan mengambil tas itu. Dengan santainya, tas hitam itu dibuangnya ke dalam tong sampah yang menganga di dekat tembok.
"Kenapa tasnya dibuang?" tanya Zhafira kesal.
"Ya, harus dibuang. Itukan sampah," jawab Ardi santai tanpa dosa.
"Sampah? Jadi, dari tadi yang aku pegang itu sampah?" tanya Zhafira dengan wajah yang mulai kesal.
Ardi berdehem dan mengangguk pelan. Sontak saja Zhafira marah. Rupanya, tas itu berisi bungkusan snack dan botol sisa air mineral yang sudah dihabiskan olehnya.
Zhafira yang merasa ditipu kemudian mengejar pemuda itu sambil berteriak histeris. "Ardi!! Jangan lari!!" teriak Zhafira sambil berlari mengejar pemuda itu.
"Maaf, maaf," jawab Ardi dengan senyum yang terpancar dari wajahnya. Sesaat, dia begitu bahagia melihat tingkah Zhafira yang menurutnya sangat lucu. Entah kapan momen seperti itu terakhir kali dialaminya. Momen yang pernah dia rasakan bersama seseorang yang sangat disayanginya. Seseorang yang tidak bisa hilang dari hati dan ingatannya.