Zhafira

Zhafira
Part 31



Zhafira memandangi cincin yang sudah melingkar indah di jari manisnya. Sejenak, dia tersenyum saat mengingat kembali saat Kevan memintanya untuk menjadi istrinya. Momen yang takkan pernah hilang dari ingatannya. Momen yang akan selalu dia kenang karena momen itu telah membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. "Aku mencintaimu," ucap Zhafira sambil mencium cincin itu.


"Zha, kamu lagi tidur?" tanya Ardi sambil mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Zhafira sambil membuka pintu.


"Ayo turun, Dafa dan Dafena ingin bertemu," ucap Ardi yang membuat Zhafira penasaran.


"Apa ada yang penting hingga mereka berdua datang ke sini? Jangan-jangan, Dafa masih mengkhawatirkanku. Dasar tuh anak," batin Zhafira yang kemudian berjalan mengikuti Ardi dari belakang.


Di ruang tamu, tampak Dafa dan Dafena tengah duduk dan saling melempar senyum. Mereka terlihat begitu bahagia hingga membuat mereka tidak sadar kalau Ardi dan Zhafira sedang berdiri melihat mereka.


"Cie ciee, yang lagi jatuh cinta. Kelihatannya pasangan yang satu ini sedang berbahagia. Apa kami boleh tahu apa yang membuat kalian sebahagia ini?" tanya Ardi yang sontak saja membuat Dafena tersipu malu.


"Kak Ardi, jangan ganggu dong. Sana, ambilkan pasangan yang berbahagia ini minuman dingin biar mereka bisa segar kembali karena tampaknya wajah mereka memerah dan perlu disiram air es," ucap Zhafira yang membuat Dafena memegang pipinya karena malu.


"Sudah ah bercandanya. Kasihan kan wajah cantik Dafena memerah seperti udang rebus," ucap Ardi yang masih saja menggoda kedua pasangan itu.


"Sudah, sudah, jangan di teruskan lagi, lama-lama nanti Dafena bisa pingsan gara-gara digoda terus," ucap Zhafira yang langsung duduk di samping sahabatnya itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan dengan kami. Kalau boleh tahu, apa itu?" tanya Zhafira sambil berbisik ke arah Dafena.


"Nanti saja, kita tunggu teman-teman yang lain," ucap Dafa yang membuat Ardi dan Zhafira terheran-heran.


"Teman yang lain? Maksudmu, teman-teman kita semuanya akan datang ke sini?" tanya Zhafira penasaran.


"Iya."


"Kevan juga?"


"Iya, Kevan juga," jawab Dafa yang membuat Zhafira segera bangkit dari tempat duduknya dan ingin bergegas ke kamarnya untuk berdandan.


"Tidak perlu, tuh Kevan sudah datang," ucap Ardi sambil menahan tangan Zhafira agar tidak lagi beranjak dari tempat itu karena Kevan sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Tidak perlu berdandan, kamu sudah cantik, kok," ucap Kevan yang berjalan perlahan mendekatinya.


Zhafira yang tidak tahu menahu kalau Kevan akan datang terlihat minder dengan penampilannya yang hanya memakai kaos oblong dengan celana pendek selutut yang memamerkan keindahan kaki jenjangnya.


"Kenapa kamu harus malu padaku? Kalau kita sudah menikah, aku pasti juga akan melihatmu dengan penampilan seperti ini atau kamu ingin aku melihatamu tanpa memakai ... " Zhafira lantas mencubit lengan pemuda itu agar tidak melanjutkan kata-katanya. "Awas saja kalau berpikiran yang macam-macam," bisik Zhafira yang membuat Kevan tersenyum padanya.


Melihat Zhafira dan Kevan yang tampak bahagia membuat Dafa ikut tersenyum. Tak lama kemudian, Kheyla datang bersama Vino yang tampak gagah dengan balutan seragam TNI yang membuatnya terlihat menawan.


"Selamat datang, Bro. Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Vino yang langsung memeluk Dafa dan Ardi.


Vino yang dulu terlihat kocak dan banyak bicara, ternyata masih tetap sama. Di balik penampilannya yang gagah dan garang ternyata Vino masih tetap seperti dulu, kocak dan selalu menggoda Kheyla.


Berselang sepuluh menit kemudian, Revan dan Refa datang. Kedua pasangan ini tampak bahagia karena mereka sudah mendapat restu dari orang tua Revan.


Kebaikan dan kesabaran Refa dalam menghadapi perlakuan orang tua Revan ternyata telah membuat orang tua Revan menerimanya. Bahkan, orang tua Revan sudah meminta agar mereka segera menikah.


"Kalian semua sudah di sini dengan pasangan kalian masing-masing, sementara aku hanya bisa duduk di sini seperti obat nyamuk yang dicuekin. Tega kalian semua," keluh Ardi sambil memelas karena merasa di anak tirikan oleh sahabat-sahabatnya sendiri.


"Tenang saja, tunggu saja di depan pintu. Paling sebentar lagi dia akan datang," ucap Dafa yang membuat Ardi menjadi bingung.


"Siapa lagi yang akan datang? Perasaan, semuanya sudah hadir. Memangnya, kamu mengundang siapa lagi?"


"Tunggu saja, yang pasti dia akan membuatmu segera naik ke kamarmu," ucap Dafa yang membuat Ardi semakin bingung.


"Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari balik pintu.


"Waalaikumsallam," jawab Ardi yang langsung segera membuka pintu dan tiba-tiba dia terpaku menatap seorang gadis yang sudah berdiri di depannya.


"Boleh aku masuk?" tanya gadis itu yang membuat Ardi masih diam terpaku.


"Ayo, silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri, jangan sungkan," ucap Zhafira yang kemudian meraih tangan gadis itu dan mengajaknya duduk bersama mereka.


Sementara Ardi masih berdiri seperti patung dan tak berkata apapun hingga Zhafira datang dan mendekatinya. "Sana, naik ke kamar dan ganti bajumu. Kakak terlihat seperti gembel," ejek Zhafira yang membalas perlakuan Ardi padanya tadi. Mendengar ucapan Zhafira membuat Ardi segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu adalah Riana. Gadis manis yang pernah menolong Zhafira saat dia dikurung dalam toilet oleh Aurelle. Sejak kejadian itu, mereka mulai dekat walau tak sedekat sekarang ini.


Riana adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah mereka dulu. Dan Ardi juga menjadi pelatih basket di sekolah itu hingga mereka sering bertemu. Sejak saat itu, Ardi mulai menyukai Riana walau dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya itu. Hingga mereka akhirnya tahu, kalau Riana sudah menyukai Ardi sejak mereka masih sekolah dulu. Dan alasan itulah yang membuat Dafa mengundang gadis itu karena mereka berniat untuk menjodohkan mereka berdua.


"Ya elah, Kak Ardi, tampan amat. Memangnya Kak Ardi mau kemana dengan penampilan macho seperti itu?" goda Zhafira yang membuat Ardi menjadi salah tingkah.


"Kamu itu bagaimana, sih? Tadi bilang Kakak seperti gembel, sekarang Kakak sudah tampan dan macho kamu masih bertanya juga?"


"Iya, maaf, ayo Kak Ardi duduk dulu," ucap Zhafira yang mulai mengalah dan mengajak Ardi untuk duduk.


"Kak Ardi duduk di sini saja, jangan kemana-mana," ucap Zhafira sambil mendudukan Ardi di dekat Riana hingga membuat mereka semua tersenyum.


"Sekarang kita sudah tidak punya obat nyamuk lagi karena obat nyamuknya sudah menemukan pasangannya," ucap Zhafira yang membuat Riana tersenyum malu.


Ardi tidak bisa berbuat apa-apa. Di dekat gadis itu, dia seakan diam dan tak berkutik. Mulutnya yang tak pernah diam seakan terkunci.


Melihat semua temannya sudah hadir, akhirnya Dafa mulai menyampaikan alasan kenapa dia ingin mereka semua berkumpul di rumah Zhafira. "Baiklah, berhubung kita semua sudah berkumpul, maka aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Dafa sambil menatap ke arah Dafena.


"Aku dan Dafena ingin kalian meluangkan waktu seminggu ini untuk mempersiapkan pernikahan kami yang akan dilaksanakan minggu depan. Kalian bisa, kan?" jelas Dafa yang tentu saja membuat mereka terperanjat kaget dan juga bahagia.


Sontak saja gadis-gadis itu segera memeluk Dafena dan mengucapkan selamat padanya. Begitupun dengan Dafa yang dipeluk dan diberi selamat oleh teman-temannya.


"Akhirnya kalian menikah juga. Aku turut bahagia untuk kalian," ucap Vino yang hampir menangis.


"Ya elah,Vin. Badan kamu saja yang besar, tapi ternyata kamu itu sangat cengeng," ucap Revan yang membuat Kheyla segera memeluk Vino.


"Memangnya cowok tidak bisa menangis? Lagipula, ini tangisan bahagia karena sahabat kita akan segera menikah. Awas ya kalau nanti aku lihat kamu menangis, akan aku gelitik sampai kamu tertawa," ucap Kheyla yang membuat Vino tersenyum mengejek ke arah Revan.


Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Dafa dan Dafena, membuat Kevan ingin menyampaikan kabar bahagia yang belum sempat dia umumkan pada teman-temannya itu. "Sekarang giliran aku untuk menyampaikan sesuatu," ucap Kevan yang sontak saja membuat Zhafira menatap ke arahnya.


"Kevan, kamu mau apa?" tanya Zhafira yang mulai panik.


Melihat kepanikan di wajah Zhafira membuat Kevan segera meraih tubuh gadis itu dan merangkulnya dengan mesra. "Aku sudah melamar Zhafira dan dia menerimanya," jelas Kevan sambil menunjukkan cincin yang melingkar indah di jari manis kekasihnya itu.


Sontak saja mereka segera memeluk Kevan yang sementara memeluk Zhafira hingga membuat Zhafira tidak bisa bernafas di dalam pelukan Kevan. "Sudah, sudah, kalian bisa membunuh kami berdua kalau berpelukan seperti ini," ucap Kevan yang melepaskan pelukannya dari Zhafira karena melihat wajah gadis itu memerah karena tidak bisa bernafas.


Melihat kehebohan sahabat-sahabatnya membuat Ardi menjadi iri. Sahabatnya Dafa, sebentar lagi akan menikah. Adiknya sudah dilamar oleh kekasihnya, sedangkan dirinya masih diam dalam perasaan suka yang mulai mengganggu hatinya.


"Aku juga ingin menyampaikan sesuatu," ucap Ardi yang membuat semua teman-temannya langsung menatap ke arahnya dengan heran. Suasana yang tadi riuh, kini terdiam dan membisu.


"Kamu mau menyampaikan apa?" tanya Vino yang menatap lurus ke arahnya hingga membuatnya menjadi bingung harus mengatakan apa.


Sejurus, Ardi menatap ke arah teman-temannya yang menatapnya seakan ingin memakannya hidup-hidup. "Tidak jadi," ucap Ardi yang kemudian terduduk lesu di samping Riana.


"Aku hanya ingin bilang kalau aku ingin menjadikan Riana sebagai kekasihku," ucap Ardi pelan sambil bersandar di kursi sofa hingga membuat Riana menatap ke arahnya.


"Kenapa? Apa kamu mendengar apa yang tadi aku katakan?" tanya Ardi memelas.


"Iya," jawab Riana mengangguk yang sontak saja membuat Ardi segera duduk dengan tegak di depan gadis itu.


"Terus, apa kamu bersedia?" tanya Ardi harap-harap cemas.


Riana tidak berkata apapun, hanya sebuah senyuman dan anggukan perlahan yang membuat Ardi melompat kegirangan.


"Kak Ardi, setan apa yang sudah merasukimu?" tanya Zhafira yang menjiplak sebuah lirik lagu yang sedang trend saat ini.


Ardi tidak mengatakan apapun, tapi dia segera meraih tangan Riana dan menggenggamnya dengan erat seakan ingin menunjukkan kepada teman-temannya kalau dia dan Riana sudah jadian. "Oh, itu saja. Aku kira apa," ucap Zhafira yang langsung memalingkan wajahnya. Begitupun dengan teman-temannya yang seakan acuh dengan dirinya hingga membuat wajahnya terlihat kecewa.


Tiba-tiba saja, mereka semua berseru dan segera memeluk mereka berdua hingga membuat Ardi dan Riana berada di tengah-tengah mereka. Ardi yang awalnya sempat kecewa kemudian tersenyum bahagia karena teman-temannya hanya ingin mengerjainya.


"Akhirnya kakakku yang tampan ini punya pacar juga," ucap Zhafira sambil mencubit kedua pipi kakaknya itu.


"Sakit, Zha. Sakit," keluh Ardi sambil meraba pipinya yang berdenyut. Walau begitu, Ardi tetap tersenyum ketika melihat teman-temannya tertawa dan bercanda bersama.


Melihat senyum dan tawa sahabat-sahabatnya itu membuat Zhafira menggenggam erat tangan Kevan. Kini, dia takkan sendiri lagi karena ada Kevan yang akan selalu menemaninya. Dan kini, dia bisa bangga mengangkat kepalanya di depan Dafa karena dia telah menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia.


"Aku akan bahagia," batin Zhafira sambil tersenyum.


Begitupun dengan Dafa yang menatap kearahnya seakan ingin mengatakan kalau dirinya kini telah bahagia.


Terlintas, mereka berdua saling melempar senyum sambil menggenggam tangan kekasih mereka masing-masing, seakan ingin mengatakan kalau sudah waktunya untuk mereka saling melupakan perasaan yang lalu dan menatap masa depan bersama orang yang mencintai mereka.