Zhafira

Zhafira
Part 6



Di dalam kamarnya, Zhafira masih memikirkan kejadian tadi. Kejadian aneh yang tidak pernah dia alami sebelumnya. "Kenapa kelas itu terasa tidak asing bagiku? Padahal, itu bukanlah kelasku," batin Zhafira zambil memeluk boneka kesayangannya.


Perlahan, dia kembali teringat dengan wajah pemuda itu. Wajah yang membuat matanya tidak ingin berpaling dan selalu ingin melihatnya. "Kenapa aku merasa sesuatu yang aneh saat melihat Kevan? Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?" Zhafira hanya bisa menutupi wajahnya di balik bantal gulingnya. Entah apa yang sudah mengganggu hatinya.


Seperti biasa, Zhafira kembali berkutat di sekolahnya dengan segala rutinitas yang sudah biasa baginya. Semua keanehan yang dia rasakan, perlahan dia coba untuk tidak lagi menghiraukan. Dia lebih memilih untuk melihat kenyataan dari pada di hantui dengan kilasan peristiwa yang sama sekali tidak pernah dirasakannya.


Di dalam kelasnya, Zhafira hanya duduk terdiam sambil menaruh kepalanya di atas meja. Dia tidak ingin keluar dari kelasnya, karena dia takut akan terpaku pada sesuatu yang sama sekali tidak pernah dilihat sebelumnya.


"Zha, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Kheyla sambil duduk di sampingnya.


Gadis itu hanya menggeleng tanpa mengangkat kepalanya.


"Kita ke kantin, yuk. Aku yang traktir, ayo," ajak Refa sambil menarik tangannya untuk berdiri.


"Kalian pergi saja, aku tidak lapar," ucapnya datar.


"Zha, kok, kamu begitu, sih? Apa kamu sudah menganggap kita berdua ini bukan temanmu lagi?" tanya Refa yang sontak saja membuat Zhafira mengangkat kepalanya.


"Nah, begitu dong."


Zhafira yang awalnya ingin menolak terpaksa harus mengikuti kedua temannya itu. Dia tidak ingin teman-temannya itu kecewa padanya.


Sesampainya di kantin, semua tempat duduk sudah penuh. Ketiga gadis itu hanya bisa menarik nafas panjang tanda kecewa.


"Sepertinya mereka sudah selesai makan. Ayo, kita ke tempat mereka saja," tunjuk Refa ke salah satu tempat duduk sambil berjalan menuju ke arah tempat duduk itu, tapi baru saja mereka sampai, tiba-tiba saja Aurelle dan ketiga temannya datang dari arah lain dan duduk di tempat itu.


"Hei, tempat duduk ini punya kita!!" ucap Kheyla yang langsung marah pada keempat gadis itu.


"Kami yang sudah duduk duluan. Sana, kalian cari tempat lain saja," jawab Aurelle dengan senyumnya yang terlihat mengejek.


"Sudahlah, ayo kita pergi dari sini," ucap Zhafira pelan sambil mengajak kedua temannya untuk pergi dari tempat itu.


"Tapi, Zha..."


"Sudahlah, ayo."


"Rupanya si gadis pembunuh sudah bertobat. Cakar taringnya sudah terpotong habis," ucap Aurelle sambil tertawa mengejek dan diikuti tawa teman-temannya.


Mendengar ejekan gadis-gadis itu membuat Refa naik darah. Dengan refleks, Refa kemudian kembali ke tempat duduk gadis-gadis itu dan langsung menampar wajah Aurelle. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Aurelle lantas berdiri dan ingin membalas menampar Refa, tapi tiba-tiba tangannya terhenti karena tangan Zhafira langsung memegang tangan gadis itu hingga dia tidak bisa berkutik.


"Aku akan diam walau mulut kalian mencibir dan menghinaku, tapi aku tidak akan diam kalau tangan kalian menyentuh teman-temanku," ucap Zhafira tenang hingga membuat nyali gadis-gadis itu menciut.


Melihat Zhafira dengan tatapan matanya yang tajam ke arah mereka, membuat gadis-gadis itu terdiam. Dengan kesal, mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Semua mata langsung tertuju padanya. Semua anggapan tentang Zhafira yang telah berubah, perlahan menghilang. Pandangan sebagian anak-anak yang mulai meremehkan gadis itu langsung buyar seketika. Di balik sikapnya yang terlihat tenang, ternyata masih tersimpan sebuah kekuatan.


"Kalian makanlah, aku akan kembali ke kelas," ucap Zhafira sambil melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu yang saling memandang heran.


"Zha, tunggu," panggil kedua gadis itu yang langsung berlari mengejar dan merangkulnya sembari tersenyum.


"Ternyata teman kita ini masih seperti dulu," ucap Refa sambil tersenyum puas.


"Melihat sikapmu tadi, tiba-tiba laparku jadi hilang. Aku bangga padamu," ucap Kheyla sambil mengangkat kedua jempol tangannya ke arah Zhafira. Ketiga gadis itu kemudian tertawa ketika mengingat kembali ekspresi wajah gadis-gadis itu.


"Ternyata kalian hebat juga," ucap Vino yang sudah berdiri di depan mereka. Bukan hanya Vino, tapi hampir seluruh anggota tim basket sudah berdiri di depan mereka.


Ketiga gadis itu kemudian menghentikan langkahnya. Refa dan Kheyla hanya tersenyum dan menatap cowok-cowok itu dengan wajah yang mulai tersipu malu. Sedangkan Zhafira, hanya memandangi mereka dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kalian pasti belum sempat makan, iya kan? Ya sudah, aku akan traktir kalian makan," ajak Revan dengan senyum simpulnya.


"Kalian saja, kami tidak lapar," jawab Zhafira datar hingga membuat kedua temannya itu memandanginya dengan perasaan kecewa.


"Zha, ayo dong. Kapan lagi kita bisa duduk makan sama mereka," bisik Refa sambil memohon.


"Ayo, jangan ditolak kalau diajak makan, pamali," ucap Vino.


"Ayo Zha, ayo," ajak Dafa yang kemudian meraih tangannya dan duduk di salah satu meja.


Zhafira hanya bisa mengikuti kemauan teman-temannya itu. Dia ingin menolak karena memang dia tidak ingin makan, tapi demi teman-temannya dia harus membuang rasa bosannya itu.


"Zha, ayo dimakan," ucap Dafa sambil menyodorkan semangkok bakso ke arahnya.


"Kalian makan saja, aku tidak lapar," ucapnya datar sambil menyodorkan mangkok bakso itu kembali.


"Kalau kamu tidak mau, buat aku saja." Vino lantas mengambil mangkok bakso itu dan kemudian melahapnya.


"Makan saja, jangan pedulikan aku," ucap Zhafira yang berusaha tersenyum karena melihat ekspresi kecewa teman-temannya itu.


Zhafira masih duduk menunggu teman-temannya selesai makan. Hanya ditemani segelas air jeruk, dia terlihat santai sambil memainkan sedotan di ujung bibirnya.


Tiba-tiba, Zhafira bangkit dari tempat duduknya dan pergi menemui ibu kantin yang saat itu sedang sibuk mengangkat mangkok-mangkok kosong. "Biar saya bantu, Bu," ucap Zhafira sambil mengangkat mangkok-mangkok kosong yang ada di meja kantin itu.


Satu persatu mangkok kosong diangkatnya dari atas meja dan membawanya ke tempat cuci piring di belakang kantin. Teman-temannya terkesima melihat kejadian itu. Bahkan, semua orang yang ada di tempat itu juga merasa heran.


"Sejak kapan gadis pembunuh itu suka membantu orang?"


"Kenapa dia harus membantu Bu Kantin? Apa dia tidak malu?"


"Terima kasih, Nak. Kamu sudah membantu Ibu," ucap Ibu Kantin sambil tersenyum padanya.


"Tidak masalah kok, Bu. Saya pamit balik ke kelas dulu," ucapnya dengan senyum sambil pamit undur diri.


Zhafira tersenyum sambil berjalan mendekati teman-temannya. Dia merasa senang seakan ada kepuasan tersendiri karena sudah membantu orang lain.."Ayo, kita kembali ke kelas," ajak Zhafira pada kedua temannya itu dengan senyum yang masih terpancar dari sudut bibirnya.


"Terima kasih karena sudah mentraktir kedua temanku ini. Kalau begitu, kami akan kembali ke kelas," lanjutnya yang kemudian pergi bersama kedua temannya itu.


"Wah, Zhafira itu gadis yang sangat unik. Dalam sedetik saja, sikapnya langsung bisa berubah-ubah begitu," ucap Revan yang terpukau sekaligus bingung dengan sikap gadis itu.


Dafa hanya bisa memandangi kepergian Zhafira dengan tersenyum.


*****


Hari-harinya di sekolah dengan segala keanehan yang dialaminya sudah menjadi hal biasa baginya. Dia tidak peduli dengan tatapan mereka yang menganggapnya aneh.


Zhafira sudah tidak pernah bolos lagi. Bahkan, dia sudah mulai rajin belajar dan selalu mengerjakan tugasnya.


"Zhafira," panggil Pak Dio saat sedang membagikan hasil ulangan pada murid-muridnya.


Dengan santai, Zhafira maju ke depan kelas dan mengambil lembaran ulangannya itu.


"Bagus," ucap Pak Dio pada gadis itu.


"Terima kasih, Pak," jawabnya dengan senyum.


"Hasil ulangan di kelas ini sangat hancur. Hanya beberapa orang saja yang mendapatkan nilai bagus," ucap Pak Dio sambil memandang ke arah Zhafira. Spontan saja semua anak memandanginya. Murid yang dulu selalu bolos dan tidak pernah mengerjakan tugas, tiba-tiba saja menjadi anak pintar.


"Kenapa dia tiba-tiba bisa jadi pintar begitu? Apa jangan-jangan, kecelakaan itu sudah membuat otaknya menjadi pintar?" Itulah bisik-bisik yang hampir setiap hari dia dengar.


Belum lagi tentang isu yang mengatakan kalau dia sengaja mendekati anak-anak tim basket karena dia suka dengan Kevan dan masih banyak lagi cerita-cerita aneh tentang dirinya yang selalu menjadi topik pembicaraan mereka.


"Zha, apa benar kamu suka sama Kevan?" tanya Refa yang membuat Zhafira menatapnya heran.


"Apa aku memang terlihat suka sama dia? Kalian pikir, aku suka sama dia?" tanya Zhafira balik.


"Bukan begitu, sih. Cuma yang aku dengar dari anak-anak kalau kamu sering memandangi dia, apa itu benar?"


"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Aku tidak peduli dengan omongan orang tentangku karena memang aku tidak suka dengan dia," ucap Zhafira yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


"Zha, kami minta maaf, kamu mau kemana?" panggil Kheyla sambil mengikutinya.


"Aku mau ke perpustakaan," jawabnya singkat.


"Kamu juga, sih. Kenapa tanya soal Kevan padanya?"


"Aku minta maaf, aku hanya penasaran dan ingin Zhafira bicara terus terang kalau memang dia suka sama Kevan, itu saja."


"Sebenarnya aku ini kenapa? Akhir-akhir ini aku sering melakukan sesuatu di luar keinginanku dan aku tidak masalah dengan itu, tapi kenapa mereka melihatku seperti aku ini adalah orang aneh?" batin Zhafira.


Rumor tentang Zhafira yang menyukai Kevan berembus ketika mereka tidak sengaja melihat Zhafira sering memandang ke arah Kevan. Dan itu bukan sekali, karena sudah beberapa kali mereka memergoki Zhafira sedang melihat ke arah cowok itu.


Zhafira yang masih terlihat kesal tiba-tiba menghentikan langkahnya. Seperti tersihir, dia kemudian berjalan menuju salah satu bangku taman dan memilih duduk di bangku itu.


Dari tempat duduknya, dia bisa melihat Kevan dan teman-temannya sedang bermain basket. Dan benar saja, pandangannya hanya tertuju ke arah pemuda itu.


"Ternyata benar apa yang dibicarakan anak-anak kalau kamu itu suka dengan Kevan, iya kan?" Tiba-tiba saja Aurelle sudah berdiri di sampingnya. Zhafira yang terkejut lantas memalingkan wajahnya ke arah gadis itu.


"Apa maksudmu?" tanya Zhafira bingung.


"Ya ampun, Zhafira. Sampai kapan kamu akan mengelak. Sudah jelas-jelas aku melihatmu memandangi Kevan, apa itu tidak cukup?"


Melihat kedua gadis itu bertengkar membuat Dafa berlari dari tengah lapangan dan menghampiri mereka.."Ada apa ini? Kenapa kalian berdua bertengkar?"


"Tidak ada apa-apa, sebaiknya aku pergi."


"Kenapa? Apa kamu malu? Tuh, ada Kevan. Kenapa kamu tidak katakan sejujurnya kalau kamu suka sama dia?"


"Itu bukan urusanmu dan aku tidak perlu untuk menjelaskan apapun. Selama ini aku tidak lagi mengganggumu, tapi kenapa kamu selalu mengusikku?" ucap Zhafira yang mencoba mengelak dari sangkaan gadis itu.


"Memangnya kenapa kalau dia suka padaku, itu adalah haknya. Dan aku rasa, itu bukan urusanmu. Atau jangan-jangan, kamu juga suka padaku?" Kevan tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.


Mendengar ucapan Kevan sontak saja membuat Aurelle menjadi gugup. Dia sengaja ingin membuat Zhafira malu karena dia yakin, Kevan pasti tidak akan pernah menyukai gadis itu.


"Kenapa diam? Apa jangan-jangan yang aku katakan itu memang benar?" lanjut Kevan.


Aurelle yang merasa terpojok tidak bisa berkata apa-apa. Dengan wajah yang terlihat kesal, dia akhirnya pergi meninggalkan mereka.


"Jangan dengarkan ucapan gadis itu, dia hanya ingin menyakitimu," ucap Dafa yang mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Zhafira dengan air mata yang perlahan jatuh.


"Sebaiknya kamu menjaga pandanganmu itu. Aku tidak ingin terlibat dengan rumor yang sekarang beredar. Dan jangan berpikir kalau aku sengaja membantumu. Aku hanya tidak ingin latihan kami terganggu dengan pertengkaran kalian hanya karena hal yang sepele," ucap Kevan datar dan pergi meninggalkan mereka.


Zhafira menatap Kevan dengan perasaan heran. Dia tidak menyangka kalau Kevan akan mengatakan sesuatu yang membuat dia terluka. "Aku juga tidak butuh bantuanmu dan aku juga tidak akan memandangimu. Kamu pikir, aku suka melihatmu? Aku benci sama kamu!!" teriak Zhafira ke arah Kevan yang sontak saja membuat cowok itu memandanginya.