Zhafira

Zhafira
Part 44



Arya Permana, sosok pemuda tampan dan gagah yang jatuh cinta pada Zhafira sejak pandangan pertama. Kecantikan dan kebaikan Zhafira telah mengusik hatinya hingga membuatnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu.


Namun, apa yang dia harapkan ternyata harus kandas saat dia tahu kalau Zhafira tidaklah sendiri. Sebelum dia mengungkapkan perasaannya pada Zhafira, Arya memutuskan untuk bertemu dengan Vino dan dari Vino lah dia akhirnya tahu kalau Zhafira ternyata mempunyai kisah cinta yang memilukan.


"Jadi maksudmu, kekasih Zhafira mengalami amnesia dan melupakan dia?" tanya Arya.


"Begitulah, hubungan mereka yang terjalin lebih dari enam tahun harus kandas dalam semalam karena kecelakaan yang dialami Kevan dan membuat mereka harus mengalami kisah tragis ini. Sejak saat itu, mereka berdua bagaikan orang asing. Zhafira yang berusaha untuk masuk dalam ingatan Kevan malah harus terluka karena Kevan  tidak menginginkannya lagi. Karena itu, sebagai sahabat kami sangat sedih dengan kisah cinta mereka, tapi kami tahu kalau di dalam hatinya, Zhafira masih mencintai Kevan," jelas Vino.


Arya yang belum sempat mengutarakan maksudnya pada Vino, terpaksa harus mengurungkan niatnya itu. Rasa cinta yang ingin dia ungkapkan pada Zhafira hanya bisa terpendam di dalam hatinya dan menjadi mimpi yang tidak bisa jadi kenyataan karena mimpi Zhafira ternyata bersama orang lain.


Sejak saat itu, Arya mencoba menempatkan dirinya sebagai teman, bukan sebagai seseorang yang mempunyai perasaan lebih karena memang dia tidak bisa mengetuk pintu hati Zhafira karena ruang di hati Zhafira takkan bisa dimasuki oleh orang lain karena sudah ada seseorang yang menempati ruang hati itu.


Rasa yang sudah terlanjur dia rasakan hanya bisa dia pendam tanpa seorang pun yang tahu. Walau sulit, tapi dia harus bisa menerima karena cinta memang tidak bisa dipaksakan. Karena itu, dia sudah memutuskan untuk menjadikan Zhafira sebagai sahabatnya.


Kedatangannya ke sekolah Zhafira bukan tanpa alasan. Dia ingin menemui Zhafira untuk mengajaknya makan siang, sekaligus untuk berpamitan karena dia akan segera ditugaskan ke daerah lain dan Zhafira memintanya untuk datang dan menjemputnya di sekolahnya itu.


Dan kini, tiba-tiba saja Zhafira menangis dalam pelukannya. Tangisan Zhafira perlahan menggoyahkan hatinya dan mengiyakan permintaan gadis itu untuk membawanya pergi dari tempat itu.


Dengan motornya, Arya membawa Zhafira ke suatu tempat yang membuatnya bisa melepaskan rasa sedihnya. Tangisan dan air mata Zhafira ternyata mampu menggoyahkan hatinya dan membuatnya enggan untuk meninggalkan Zhafira.


Di tempat itu, Zhafira berdiri dan memandangi deburan ombak yang memukul tebing tinggi. Dari atas tempatnya berdiri, Zhafira bisa menatap lautan luas dan burung-burung camar yang berterbangan di atas air laut sekadar untuk mencari ikan untuk mengganjal perutnya.


Zhafira memejamkan matanya dan menghirup aroma laut dengan semilir angin yang meniup wajahnya. Rambutnya yang terurai dibiarkan saja olehnya seakan itu adalah sentuhan lembut dari orang yang saat ini dirindukannya.


Perlahan, air matanya jatuh dan lagi-lagi air mata itu membuat seseorang tak kuasa untuk meninggalkannya dan terpaksa memalingkan wajahnya agar dia tidak lagi melihat air mata itu, tapi apa dayanya dia tidak mampu hingga tangannya tiba-tiba menghapus air mata itu.


Zhafira tersentak dan membuka matanya. Di depannya, Arya menatapnya dengan tatapan penuh cinta. "Maafkan aku kalau aku lancang, tapi sungguh aku tidak sanggup melihatmu menangis. Aku lebih suka melihatmu mengomeliku seperti waktu pertama kita bertemu daripada aku harus melihatmu menangis seperti ini," ucapnya dengan wajah tertunduk.


Zhafira memandanginya tanpa berkata apa-apa, seakan dia paham dengan arah pembicaraan pemuda itu.


"Terima kasih karena kamu sudah mengajakku ke tempat ini. Kamu tahu, aku pernah mendengar ucapan yang sama dari seseorang, tapi ucapan itu tidak akan lagi aku dengar darinya," ucap Zhafira yang membuat Arya menatapnya.


"Apa kamu masih mencintainya hingga tidak mampu untuk melupakannya?" Pertanyaan Arya membuat Zhafira menatap ke arah pemuda itu.


"Apa kamu mampu untuk melupakan orang yang kamu cintai? Walau cinta itu tak terbalas, apa semudah itu kamu bisa melupakannya?" Pertanyaan Zhafira kembali menghujam hatinya seakan itu ditujukan untuk dirinya.


"Aku mencintainya walau dia tidak mengingatku. Aku masih mengharapkannya walau dia tak lagi menginginkanku, tapi aku belum bisa menerimanya kalau di hatinya tidak ada aku," ucap Zhafira yang kemudian menundukkan wajahnya.


"Apa itu berarti aku tidak bisa memiliki hatimu? Aku tidak ingin membohongi perasaanku, karena aku ingin kamu tahu kalau aku mencintaimu walau aku sadar aku tidak punya kesempatan untuk bisa memiliki hatimu itu," ucap Arya penuh ketulusan.


Arya menatap ke arah laut dan menahan kegelisahan hatinya. "Aku sudah mendengar semua kisah cintamu itu dan aku sempat berpikir untuk menyerah dan menyimpan perasaanku tanpa seorangpun yang tahu, tapi semua itu runtuh saat kamu menangis di pelukanku. Apa kamu sadar kalau tangisanmu itu telah membuatku tidak ingin meninggalkanmu? Apa aku salah jika ingin menghapus air matamu dan menghapus kenangan burukmu itu?" Arya menghentikan ucapannya dan memalingkan wajahnya sekadar menyembunyikan rasa sedih di raut wajahnya itu.


"Andai aku bertemu denganmu di saat kamu masih sendiri, maka aku tidak akan pernah membuatmu menangis karena aku tidak sanggup melihatmu menangis," ucap Arya yang kemudian menundukkan wajahnya.


Zhafira tersenyum mendengar semua ucapan Arya hingga membuat pemuda itu menatapnya. "Aku sangat berterima kasih dengan kejujuranmu dan aku hargai itu. Andai kita bertemu di saat aku masih sendiri, maka dengan senang hati aku akan menerimamu, tapi sekarang aku tidak sendiri karena ada seseorang yang aku tunggu. Arya, kamu lelaki yang baik dan kamu layak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Aku minta maaf, jika sudah membuatmu berharap lebih padaku, tapi aku tidak ingin menghancurkan cinta yang sudah aku bangun selama ini. Aku akan menunggunya walau butuh seribu tahun lagi karena aku sangat mencintainya," jelas Zhafira.


Arya memandangi Zhafira dan melayangkan senyum untuknya. "Pacarmu itu sangat beruntung karena mendapatkan wanita sepertimu. Ah, akhirnya aku bisa bernafas dengan lega karena bisa mengungkapkan perasaan yang sudah menyiksaku akhir-akhir ini, yah, walau akhirnya aku ditolak, tapi aku tidak menyesal dan aku sudah memutuskan untuk kita berteman saja. Boleh, kan?" tanya pemuda itu dengan senyum di wajahnya. Zhafira mengangguk dan membalas senyum pemuda itu.


"Kalau boleh aku tahu, apa yang sudah dia lakukan padamu hingga membuatmu menangis seperti itu?"


"Itu adalah tangisan bahagia," jawab Zhafira yang membuat Arya menatapnya dengan heran.


"Tangisan bahagia? Kamu menangis sesenggukkan seperti itu kamu bilang tangisan bahagia?"


"Gaun pengantin? Cincin?"


"Itu adalah gaun pengantin dan cincin yang dia berikan padaku sebelum kecelakaan itu terjadi. Karena aku kecewa padanya, aku lantas mengembalikan semuanya padanya."


"Rasanya aku ingin bertemu dengan pacarmu itu dan bilang padanya kalau dia akan menyesal jika melepaskan wanita sepertimu, tapi aku tidak bisa karena aku harus segera pergi."


"Memangnya, kamu mau pergi ke mana?"


"Aku dipindahtugaskan di daerah Kalimantan. Makanya, aku datang untuk mengajakmu makan siang dan berpamitan padamu, tapi ternyata kita berdua ada di tempat ini."


"Ya sudah, kita pergi makan, kebetulan aku juga belum makan siang," ajak Zhafira yang diiyakan pemuda itu, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Zhafira kemudian mengangkat ponselnya dan ternyata itu telepon dari ayahnya Kevan. "Hallo, Om."


"Zhafira, kamu bisa datang ke rumah sakit? Tante sekarang ada di rumah sakit karena penyakitnya kambuh lagi dan dia meminta Om untuk menghubungimu."


"Baiklah, Om. Sekarang juga aku akan segera ke sana." Zhafira menutup teleponnya dan terlihat panik.


"Ada apa?"


"Maaf, aku tidak bisa menemanimu makan siang, tapi apa aku bisa minta bantuanmu?"


"Katakanlah, aku akan membantumu."


"Tolong antarkan aku ke rumah sakit."


"Tidak masalah, aku akan mengantarmu sekarang juga, tapi kalau aku boleh tahu memangnya siapa yang sakit?"


"Ibunda Kevan. Penyakitnya kambuh lagi dan dia memintaku untuk datang ke sana," jelas Zhafira.


Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu dan pergi menuju rumah sakit di mana ibunda Kevan sedang dirawat.


Setibanya di sana, Mira tampak pucat dan berbaring lemah di atas tempat tidur. Wajah pucatnya tampak tersenyum saat melihat Zhafira datang.


"Tante," sapa Zhafira sambil memeluk wanita itu.


Dengan menangis, Mira memeluk Zhafira seakan Zhafira adalah putrinya yang sudah lama dia rindukan. Tak hanya itu, wajahnya yang tadi terlihat pucat dan tak bertenaga kini terlihat lebih bersemangat dan selalu tersenyum.


Arya yang juga ada di tempat itu bisa merasakan kalau Zhafira telah berhasil membuat orang tua Kevan menyayanginya dengan kebaikan hati yang dimiliki oleh gadis itu. "Lelaki itu sangat beruntung karena bisa mendapatkan wanita sepertimu. Andai kita bertemu lebih awal, aku pasti akan sangat bahagia," batin Arya yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Zhafira yang baru menyadari kalau Arya telah pergi kemudian mengejar pemuda itu. "Arya!!" Panggil Zhafira sambil berlari mendekati pemuda itu dan segera memeluknya. "Terima kasih, aku akan mendoakanmu semoga kamu mendapatkan wanita yang tulus mencintaimu," ucap Zhafira sambil memeluk pemuda itu.


"Aku juga akan mendoakanmu semoga kalian bisa bersatu dan bahagia seperti dulu lagi. Kalau kalian akan menikah, jangan lupa hubungi aku karena aku pasti akan datang karena aku ingin memastikan kalau temanku ini telah hidup berbahagia," ucap Arya yang perlahan melepaskan pelukannya.


"Pergilah, dan jangan lepaskan dia karena dia pasti sedang tersiksa dengan perasaanya saat ini." Zhafira tersenyum dan mengangguk.


"Aku pergi dulu, aku akan sering-sering menghubungimu," ucap Arya yang kemudian pergi meninggalkan Zhafira yang masih menatapnya hingga hilang di balik tikungan jalan.


Zhafira kemudian kembali ke kamar di mana ibunda Kevan dirawat tanpa dia menyadari kalau saat ini Kevan sedang menatapnya dengan air mata yang jatuh karena melihat wanita yang perlahan membuat dia jatuh cinta memeluk pria lain. "Apakah dia benar-benar akan meninggalkanku?" batin Kevan yang perlahan mulai takut kehilangan gadis itu.


Di saat yang sama, Arya meneteskan air mata dan menyembunyikan kesedihannya di balik sebuah senyuman. Air mata bahagia dan juga penyesalan. Bahagia karena akhirnya wanita yang dia cintai perlahan akan menjemput kebahagiannya walau bukan dengan dirinya dan penyesalan karena takdir tak menginginkannya bersama wanita yang sudah membuat dia jatuh cinta. 


Sekali lagi, cinta berhasil mempermainkan hati manusia, tapi cinta tidak bisa dipaksa untuk berhenti karena cinta hadir bukan karena dipaksa ataupun memaksa, tapi cinta hadir karena sebuah rasa. Sekuat apapun cinta dipaksa, maka secepat itu pula akan terluka. Dan kini, mereka akan menemukan rasa cinta tanpa paksaan dan membiarkan cinta hadir tanpa memaksa.