
Zhafira masih berbaring di tempat tidur saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan malas, tangannya meraba-raba di atas meja riasnya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja riasnya itu. "Hallo," sapa Zhafira yang terlihat masih mengantuk.
"Zha, kamu masih tidur?" tanya seseorang yang langsung membuat Zhafira membuka matanya dan menatap layar ponselnya itu. "Kevan?"
"Sebaiknya kamu siap-siap, aku sekarang sedang menuju ke rumahmu."
"Kamu mau ke sini? Untuk apa?"
"Untuk menjemput calon istri aku, memangnya kamu pikir untuk apa?"
Mendengar ucapan Kevan membuat Zhafira tersenyum. "Baiklah, aku tunggu."
"Jangan lupa, dandan yang cantik."
"Iya, iya." Zhafira masih tersenyum karena tingkah kekasihnya itu. Padahal, semalam mereka baru saja bertemu dan sekarang Kevan kembali ingin bertemu dengannya.
Setelah mandi, Zhafira mulai memilih baju yang akan dipakainya dan pilihannya jatuh pada celana jeans ketat dan blues berwarna hitam.
Di depan cermin, Zhafira tersenyum dan memandangi cincin yang melingkar indah di jari manisnya. Cincin yang telah mengikat hatinya hanya untuk Kevan dan melupakan semua perasaan di masa lalunya. Bersama Kevan, dia ingin hidup bahagia dan bersama pemuda itu dia akan merajut masa depannya.
"Zha, ayo turun, Nak. Kevan sudah datang," panggil ibunya.
"Iya, Ma," jawab Zhafira yang kemudian turun menemui Kevan yang sudah menunggunya di bawah.
Melihat Zhafira, Kevan tersenyum. Rasanya dia ingin cepat-cepat memiliki Zhafira agar gadis itu selalu ada di sisinya. Rasa sayang yang terlalu besar untuk Zhafira, membuatnya bertekad untuk segera menikahi gadis itu.
"Memangnya, kamu mau mengajak aku ke mana?" tanya Zhafira saat mereka sudah di dalam mobil.
Kevan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Hanya genggaman tangannya yang sedari tadi melekat seakan tak ingin dilepaskannya.
Di depan sebuah butik yang cukup mewah, Kevan menghentikan mobilnya. "Ayo," ajak Kevan sambil menggandeng tangan kekasihnya itu. Zhafira terpaku menatap butik itu yang penuh dengan gaun-gaun pengantin yang sangat cantik.
"Mau apa kita ke sini?"
"Aku ingin memilih baju pengantin untuk kita," ucap Kevan yang membuat Zhafira terperanjat.
"Maksudmu?"
"Aku akan menikahimu setelah aku kembali dari Batam. Karena itu, hari ini aku ingin kita sama-sama memilih baju pengantin kita. Sebelum aku pergi, aku ingin melihatmu memakai baju pengantin itu agar aku semakin yakin kalau kamu akan segera menjadi milikku," ucap Kevan yang membuat Zhafira menitikkan air mata. Zhafira lantas memeluk kekasihnya itu dan menangis dalam pelukannya.
"Aku sungguh mencintaimu dan selamanya akan tetap mencintaimu," ucap Kevan sambil memeluk tubuh Zhafira dengan erat.
"Aku tahu, aku juga sangat mencintaimu," jawab Zhafira yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Ayo, bantu aku memilih gaun yang cocok buat pernikahan kita," ucap Zhafira sambil mengajak Kevan melihat-lihat baju pengantin yang berderet di butik itu, hingga pandangan mereka mengarah ke salah satu gaun pengantin yang dipakaikan di salah satu patung manekin.
Gaun pengantin berwarna putih itu tampak indah dengan untaian mutiara yang menjuntai indah. Ditambah bordiran berwarna emas yang membuat gaun itu terlihat sangat mewah.
Di dalam ruang ganti, Zhafira memakai gaun itu dan menatap dirinya di depan cermin.
"Anda terlihat sangat cantik. Gaun ini sangat indah di tubuh Anda. Saya yakin, calon suami Anda pasti akan sangat menyukainya," puji salah seorang wanita penjaga butik yang membantu memakaikan gaun itu padanya.
Dengan wajah yang terlihat malu-malu, Zhafira keluar dari ruang ganti dan mendapati Kevan yang juga sedang mencoba sebuah jas hitam yang membuatnya terlihat tampan dan gagah.
Melihat Zhafira di depannya, membuat Kevan diam tak bergerak. Dia begitu terpesona dengan kecantikan gadis itu. Sementara Zhafira, hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang masih terpaku memandanginya.
"Bagaimana, apa kamu suka?" Pertanyaan Zhafira sontak membuat Kevan mengangguk tanpa berkata apapun.
"Saya akan membeli gaun ini," ucap Kevan yang membuat penjaga butik itu tersenyum.
"Mbak, boleh saya minta tolong?" tanya Kevan pada penjaga butik itu.
"Boleh, apa yang bisa saya bantu?"
"Tolong foto kami berdua. Bisa, kan?"
"Tentu saja. Kebetulan, butik kami memang menyediakan jasa foto bagi pelanggan yang telah membeli gaun di butik kami. Ayo, saya antar ke ruang studio," ucap penjaga butik itu yang berjalan dan menunjukan sebuah ruangan kecil yang ada di dalam butik itu.
Kevan tampak bahagia saat melakukan sesi pemotretan itu. Dengan mesra, Kevan memeluk Zhafira dan berfoto bersama. Rasanya, dia ingin cepat-cepat menikahi gadis itu agar bisa terus memeluknya dan takkan pernah dia lepaskan.
*****
Zhafira tak menolak. Baginya, gaun pengantin itu ibarat penawar rindu yang akan menemaninya selama kekasihnya itu pergi.
Di sebuah taman di pesisir pantai, mereka berdua duduk dan menikmati deburan ombak yang memukul bebatuan dan hamparan pasir putih.
Pantai itu adalah tempat di mana Kevan melamar Zhafira waktu itu. Dan saat ini, Kevan ingin menghabiskan waktunya bersama Zhafira di tempat itu.
"Besok aku akan pergi. Karena itu, hari ini aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu. Aku akan pergi selama sepuluh hari dan selama sepuluh hari itu pula aku harus menahan rinduku padamu. Kalau bukan karena janji yang sudah aku buat dengan ayah, rasanya aku tidak ingin pergi meninggalkanmu," ucap Kevan sambil menggenggam tangan Zhafira.
"Pergilah, jangan khawatirkan aku. Aku akan menunggumu dan aku percaya kalau kita bisa melalui cobaan ini," ucap Zhafira yang berusaha menyakinkan kekasihnya itu.
"Saat aku pulang nanti, pasti Dafa dan Dafena sudah kembali dari bulan madu mereka. Dan saat itu juga, aku akan segera mengumumkan tanggal pernikahan kita pada mereka semua," ucap Kevan yang begitu antusias dengan rencananya itu.
"Semua terserah padamu, aku akan menurut apa katamu," ucap Zhafira yang membuat Kevan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya.
"Aku tak peduli walau dunia akan menentang hubungan kita, karena bagiku kamu adalah hidup dan matiku. Kalaupun ayahku akan menentang hubungan kita, aku akan melepas semuanya dan pergi kepadamu tanpa membawa sepeserpun dari ayahku. Kalau itu terjadi, apa kamu masih mau menerimaku?"
Zhafira menatap kekasihnya itu dengan tatapan penuh cinta dan melayangkan sebuah senyuman untuknya. "Aku tidak peduli dengan kekayaanmu, karena uang bisa kita cari. Yang aku butuh hanya cinta dan kasih sayang darimu, karena semua itu tidak bisa aku dapatkan dari orang lain, tapi hanya darimu. Asal kamu tahu, hanya kamu yang bisa membuat aku tersenyum bahagia karena kamu adalah anugerah terindah yang sudah diberikan Tuhan untukku melalui Rani. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah Rani titipkan untukku, yaitu dirimu," ucap Zhafira yang sekali lagi membuat Kevan mengecup mesra keningnya.
Kevan menggenggam erat tangan kekasihnya itu sambil menatap deburan ombak yang perlahan mulai surut. Dengan ditemani mentari senja yang mulai menguning, mereka menikmati suasana pantai yang terlihat begitu mempesona karena matahari yang perlahan bersembunyi dalam pelukan lautan biru.
Walau tak ingin berpisah, mereka harus saling merelakan. Sepuluh hari bukanlah waktu yang lama, tapi bagi Kevan sepuluh hari bagaikan sepuluh tahun yang membuatnya harus menahan rindu. Entah kenapa, hatinya begitu berat saat melihat Zhafira yang mengantarnya di bandara. Lambaian tangan Zhafira, rasanya bagaikan lambaian terakhir yang akan dilihatnya.
Melihat Zhafira yang tersenyum padanya membuat Kevan berlari ke arahnya dan memeluknya. "Aku mencintaimu," ucap Kevan yang kemudian pergi dan tak lagi memandangi Zhafira karena dia takut, dia akan mengurungkan kepergiannya jika dia melihat kembali wajah kekasihnya itu.
Di dalam pesawat, Kevan menatap kembali foto-foto mereka saat memakai gaun pengantin. Terlintas, tampak sebuah senyuman di wajahnya yang membuatnya kembali mengingat wajah kekasihnya itu. Wajah yang selalu membuatnya rindu setengah mati. Rindu yang selalu mengganggu hatinya untuk segera bertemu.
Di Batam, Kevan menginap di salah satu hotel yang cukup ternama di kota itu. Perusahaan ayahnya mempunyai bisnis yang lumayan besar dan menjalin kerjasama dengan beberapa klien dari luar daerah.
Karena Kevan adalah anak satu-satunya, maka dia harus mengenali klien-kliennya dan belajar bagaimana caranya berbinis. Itulah mengapa, ayahnya memintanya untuk menemui mereka walau sebenarnya ada suatu maksud tersembunyi yang sengaja tidak diberitahukan padanya.
Sudah empat hari Kevan ada di kota itu dan selama empat hari pula mereka hanya berkomunikasi lewat video call.
"Kamu kenapa? Kamu capek?" tanya Zhafira saat melihat wajah kekasihnya itu yang tampak kelelahan.
"Aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu," keluh Kevan yang membuat Zhafira tersenyum.
"Enam hari lagi kita akan bertemu. Jika hari itu tiba, kamu boleh memelukku dan aku tidak akan mengizinkanmu pergi lagi."
Kevan tersenyum mendengar perkataan Zhafira. Rasa lelah yang merayap di tubuhnya seolah lenyap saat mendengar ucapan Zhafira yang bagaikan obat penawar untuknya.
Enam hari lagi mereka akan bertemu. Dan di saat itu, Kevan tidak akan lagi pergi meninggalkan Zhafira, apapun alasannya karena sudah terlalu berat rasa rindu yang dia rasakan hingga membuatnya tidak ingin lagi berpisah.
Kevan kembali bergelut dengan pekerjaannya. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya itu agar dia bisa cepat kembali, tapi sehari sebelum kepulangannya, dia kejutkan dengan kedatangan ayahnya di hotel tempat dia menginap.
"Papa? Kapan Papa datang? Kenapa Papa tidak beritahu aku kalau Papa akan datang? Setidaknya, aku bisa menjemput Papa di bandara," ucap Kevan sambil mendekati ayahnya.
"Papa ingin kamu menunda kepulanganmu karena masih ada urusan yang harus kamu kerjakan," ucap ayahnya yang membuat Kevan terkejut.
"Tidak bisa, Pa. Besok, aku tetap akan pulang karena Zhafira sudah menungguku," ucap Kevan yang menolak perintah ayahnya itu.
"Kenapa kamu harus peduli dengan gadis itu? Apa kamu pikir, Papa akan membiarkanmu menikah dengannya?"
Kevan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya. Pertemuan Zhafira dengan ayahnya waktu itu hanyalah sebagai penghibur baginya agar dia bisa melakukan semua perintah ayahnya. Kevan menitikkan air mata saat mengingat wajah Zhafira yang perlahan muncul dalam ingatannya. "Jadi, selama ini Papa hanya memanfaatkanku agar bisa melakukan semua keinginan Papa? Apa kekayaan Papa lebih berharga daripada kebahagiaan anak Papa sendiri, begitu? Aku tidak menyangka kalau Papa bisa sekejam itu padaku," ucap Kevan yang kemudian merapikan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Malam itu juga dia berniat meninggalkan hotel itu.
Tiba-tiba, dia mendengar suara bantingan di lantai kamar dan mendapati ponselnya yang sudah hancur berserakan di atas lantai.
"Kalau kamu mau pergi, lepaskan semua barang-barang yang kamu dapatkan dari usaha Papa. Semua ATM dan kartu kredit sudah Papa blokir. Apa kamu pikir dengan kemiskinanmu saat ini gadis itu akan menerimamu?"
Koper yang sudah disiapkannya tadi dia tinggalkan dan memandangi ponselnya yang sudah hancur berantakkan. Di ponsel itu, tersimpan semua foto-foto kebersamaannya dengan Zhafira yang kini telah hancur bersama hatinya yang juga telah hancur karena ayahnya sendiri.
"Asal kamu tahu, kamu itu tidak bisa menikah dengan wanita manapun karena kamu sudah dijodohkan dengan wanita pilihan Papa dan kamu tidak bisa menolak perjodohan itu!!"
"Apapun yang Papa ingin lakukan, aku tidak akan peduli karena aku tidak akan menuruti kemauan Papa. Kalau aku harus meninggalkan semua yang sudah Papa berikan padaku, akan aku berikan. Bahkan nyawaku sekalipun akan aku berikan, tapi jangan memintaku untuk melepaskan Zhafira karena aku tetap akan mempertahankannya. Aku tidak butuh dengan semua kekayaan Papa dan aku harap Papa tidak akan menyesal jika Papa akan kehilanganku," ucap Kevan yang kemudian pergi dengan air mata yang jatuh di sudut matanya. Dia pergi tanpa membawa apapun dan meninggalkan ayahnya yang berteriak memanggil namanya, tapi sama sekali tidak dia pedulikan.
Di saat yang sama, jauh di tempat Zhafira berada, suatu kejadian menimpanya yang membuatnya harus merelakan kepergian orang-orang yang begitu berarti dalam kehidupaannya.
Kini, takdir kembali menguji kisah cinta mereka. Apakah mereka mampu melewatinya ataukah mereka harus merasakan kehilangan?