Zhafira

Zhafira
Part 46



Kevan membuka sebuah kotak kayu dan mengambil baju pengantin yang tersimpan di dalam kotak kayu itu. Baju pengantin yang akan dia berikan kembali kepada Zhafira saat dia sudah bisa mengingat semua tentang gadis itu.


"Aku akan berusaha untuk mengingat semua tentang kita. Aku tak peduli walau rasa sakit akan menyerang kepalaku, karena akan lebih sakit jika aku harus kehilanganmu." Kevan mengelus lembut baju pengantin itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak kayu.


Diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan bergegas menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Kevan kemudian pergi menemui sang kekasih yang kini sedang menantinya.


Di depan cermin, Zhafira merapikan kembali rambutnya. Dia ingin terlihat cantik di depan kekasihnya hingga membuatnya terus menatap ke arah cermin sekadar untuk memastikan penampilannya yang sudah sempurna.


"Kamu sudah cantik, kok. Jangan lama-lama di depan cermin, nanti cerminnya bisa iri sama kamu," canda Riana yang membuat Zhafira tersenyum.


Riana, gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu sudah berdiri di sampingnya dan mengelus lembut rambutnya. "Kamu harus bisa membantu Kevan untuk mengingat semuanya, tapi jangan terlalu memaksanya, kamu harus pelan-pelan dan sabar. Aku doakan agar kalian bisa bahagia karena Ardi akan bahagia jika kamu juga bahagia. Kamu tahu kan kalau aku sangat menyayangi kakakmu itu, jadi bagaimana aku akan bahagia kalau dia sendiri tidak bahagia."


Zhafira mengangguk dan memeluk gadis itu. Zhafira sangat bersyukur karena gadis itu sangat menyayangi kakaknya. Setidaknya, dia tidak akan khawatir untuk meninggalkan kakaknya kalau nanti dia telah menikah dengan Kevan.


"Ayo, kita turun. Sepertinya, Kevan sudah datang," ajak Riana sambil menggandeng tangan calon adik iparnya itu.


Di ruang tamu, Kevan sudah ditemani oleh Ardi. "Aku minta maaf, karena tidak ada di sisi Zhafira saat dia sedang berduka karena kehilangan orang tua kalian," ucap Kevan sambil memandangi sebuah foto keluarga di dinding ruang tamu itu.


"Tidak usah meminta maaf, itu sudah berlalu. Saat ini, aku hanya ingin meminta agar kamu selalu ada untuk Zhafira. Jangan biarkan dia menangis lagi karena kehilanganmu," ucap Ardi yang membuat Kevan menatapnya dan mengangguk.


"Aku janji padamu, aku tidak akan meninggalkan Zhafira lagi apapun alasannya, karena aku sendiri tidak ingin kehilangan dia lagi."


Kedua pemuda itu mengalihkan pandangan mereka ke arah Zhafira yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Kenapa wajah kalian berdua seperti itu? Jangan bilang kalau kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Zhafira yang kemudian berdiri di tengah-tengah kedua pemuda itu.


"Kamu itu, memangnya Kakakmu ini bisa marah sama pacarmu di depanmu?"


"Iya, iya, aku tahu, kok, Kakakku tidak akan pernah marah sama pacarku," ucap Zhafira sambil mencubit lembut pipi kakaknya itu.


"Kevan, mungkin kamu tidak ingat, tapi dulu kamu sering memanggil Kakakku ini dengan sebutan kakak ipar dan dia suka kamu memanggilnya seperti itu," bisik Zhafira yang membuat Kevan tersenyum.


"Baiklah, Kakak ipar, apa sekarang aku bisa membawa Zhafira jalan-jalan?" tanya Kevan sesopan mungkin.


Ardi yang dipanggil kakak ipar langsung tersenyum sumringah. "Pergilah, buatlah adikku bahagia. Jangan pulang terlalu malam dan kalian berdua bersenang-senanglah," ucap Ardi sambil mengantarkan pasangan kekasih itu hingga di depan pintu.


Zhafira mengecup pipi kakaknya itu danĀ  juga Riana. Sambil melambaikan tangannya, mereka kemudian pergi.


"Kamu senang ya, dipanggil kakak ipar sama Kevan?" tanya Riana saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.


"Kenapa? Apa kamu juga mau dipanggil kakak ipar?" tanya Ardi dengan senyum dan mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening gadis itu.


"Iya, tapi itukan panggilan jika aku sudah menikah sama kamu, tapi kita kan belum menikah. Mana boleh aku dipanggil seperti itu?"


Ardi menatap wajah gadis itu yang tertunduk seakan ingin meminta penjelasan darinya. "Aku akan menikahi kamu, tapi setelah Zhafira dan Kevan menikah karena Zhafira adalah tanggung jawabku. Aku harap, kamu mengerti dan sabar untuk menunggu hingga saat itu tiba. Setelah itu, tanpa kamu mintapun aku akan segera menikahimu dan kamu akan selamanya menemaniku di rumah ini," ucap Ardi yang terlihat serius.


Riana memeluk tubuh pemuda itu dan mengangguk. "Aku akan menunggu. Aku sudah biasa menunggumu bahkan sejak kita masih sekolah dulu. Aku akan bersabar karena aku sangat mencintaimu," ucap Riana yang kembali membuat Ardi mendaratkan kecupan mesra di bibir gadis itu.


*****


Di dalam mobil, Zhafira terus memandangi wajah Kevan hingga membuat pemuda itu tersipu malu. "Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu ingin aku menciummu?" tanya Kevan sambil menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di sisi jalan.


"Kenapa berhenti?"


Zhafira tersenyum dan mencium pipi pemuda itu. "Ayo, jalan. Aku ingin kita pergi ke suatu tempat."


Kevan hanya tersenyum karena melihat wajah Zhafira yang mulai memerah. Mobil yang dikendarai Kevan mulai memasuki area pemakaman dan berhenti di salah satu ujung jalan.


Mereka kemudian turun dan berjalan menuju salah satu area pemakaman yang terbilang cukup tertata rapi. Di depan sebuah makam, langkah mereka terhenti.


Zhafira menatap kedua makam yang saling berdekatan dan duduk di depan kedua makam itu. "Pa, Ma, Zhafira datang, tapi aku tidak sendiri karena ada Kevan yang menemaniku." Kevan lantas duduk di samping Zhafira dan menggenggam tangannya.


"Maafkan Kevan karena baru datang mengunjungi om dan tante. Om dan tante beristirahatlah dengan tenang karena mulai sekarang aku yang akan menjaga dan melindungi Zhafira," ucap Kevan sambil merangkul kekasihnya itu. Zhafira menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu.


"Maafkan aku karena di saat kamu kehilangan orang tuamu, aku tidak ada di sisimu. Sungguh, aku tidak sanggup membayangkan kesedihanmu di saat itu." Kevan membelai rambut Zhafira dan menghapus air mata di pipi gadis itu.


"Kamu tahu, saat itu aku hanya ingin bertemu denganmu dan segera memelukmu. Aku ingin menangis dalam pelukanmu, tapi kamu sama sekali tidak dapat dihubungi. Namun, saat mendengar kamu mengalami kecelakaan, aku sangat takut, aku takut jika aku akan kehilangamu karena aku tidak akan sanggup jika kamu benar-benar pergi meninggalkanku," ucap Zhafira yang membuat Kevan memeluknya.


"Aku tidak akan membuatmu menangis lagi karena takut kehilanganku. Aku akan pastikan, kita akan selalu bersama. Karena itu, bantu aku agar aku bisa mengingat semua tentangmu. Aku ingin semua ingatanku tentangmu bisa kembali agar aku bisa segera menikahimu," ucap Kevan yang membuat Zhafira mengangkat kepalanya dan menatap wajah pemuda itu.


Kevan membelai pipi Zhafira dan tersenyum. "Aku sudah berjanji akan berusaha untuk mengingat semua tentang kita dan mengembalikan gaun pengantin dan cincin itu padamu. Setelah aku bisa mengingatmu, aku mohon menikahlah denganku. Bukankah, itu yang kamu minta padaku?"


Zhafira mengangguk. "Aku akan membantumu, tapi aku minta jangan terlalu memaksakan diri karena aku tidak ingin kamu tertekan. Tanpa mengingat kenangan kita di masa lalu pun, aku tetap akan menikah denganmu."


Kevan mengangguk dan tersenyum. Jari jemari pemuda itu mengelus lembut rambut Zhafira dan menghapus sisa air mata di pipi gadis itu. "Jangan menangis lagi dan tersenyumlah," ucap Kevan sambil merangkul tubuh gadis itu.


Mereka kemudian pergi meninggalkan tanah kuburan itu setelah menitipkan sebait doa untuk kedua orang tua Zhafira. Dengan tersenyum, Zhafira meninggalkan kuburan orang tuanya dan berharap akan menemukan kebahagiaan bersama orang yang sangat dicintainya.


"Aku akan mengajakmu ke tempat kamu melamarku dulu, kamu mau, kan?"


Kevan mengangguk dan tersenyum. "Baiklah."


Mobil sedan berwarna hitam itu berhenti di depan pesisir pantai. Zhafira merangkul tangan pemuda itu dan berjalan menuju salah satu gazebo yang berdiri di sisi pantai itu. Mereka kemudian duduk di gazebo itu dan menikmati semilir angin yang perlahan meniup.


"Aku sangat menyukai suasana pantai, karena itu kita berdua sering datang ke sini dan di tempat ini pula kamu melamarku," ucap Zhafira yang mencoba mengingat kenangannya bersama Kevan di tempat itu.


Zhafira memejamkan matanya, sekadar untuk mengingat kembali penggalan-penggalan kisah indahnya bersama Kevan dulu. Hingga matanya terbuka saat sebuah kecupan mesra mendarat di keningnya dan membuat Zhafira tersenyum.


Sambil bergandengan tangan, mereka memandangi hamparan laut luas. Kevan mencoba untuk mengingat kejadian di tempat itu, tapi dia tidak mampu hingga memaksanya harus menahan rasa sakit yang dia sembunyikan dari Zhafira.


Zhafira yang mulai merasakan sesuatu yang lain pada Kevan, perlahan mengeratkan genggaman tangannya. Seakan dia tahu kalau saat ini, Kevan tengah menahan rasa sakit. "Jangan lakukan itu jika mengingatku hanya membuatmu lebih menderita. Aku tidak akan memaksa, walau kenangan kita tidak lagi kamu ingat, tapi semua kenangan itu tersimpan baik di ingatanku. Mulai kini, kita akan membangun kenangan kita lagi, mulai dari awal lagi. Jadi, aku mohon jangan lagi kamu menyiksa dirimu hanya untuk mengingatku," pinta Zhafira memohon.


Walau tidak ingin, tapi Kevan terpaksa mengangguk walau di hatinya dia merasa sedih karena semua kenangannya di masa lalu bersama kekasihya itu harus lenyap dari ingatannya. Karena Zhafira, apapun akan dia lakukan, asalkan gadis itu bahagia, dia akan rela walau semua kenangannya harus hilang dan kandas tersapu gelombang takdir yang menguji cinta mereka.


"Mulai sekarang, jangan hiraukan lagi tentang kenangan itu. Aku hanya ingin kita fokus untuk masa depan kita." Zhafira menatap kekasihnya itu dan tersenyum padanya.


"Kevan, aku hanya ingin mendampingimu dan bahagia bersamamu. Aku ingin menjadi istri yang baik untukmu dan membuktikan pada ayah dan ibumu kalau aku benar-benar tulus mencintaimu."


Mendengar ucapan Zhafira membuat Kevan menatapnya dengan penuh rasa cinta. Sekali lagi, Kevan kembali jatuh cinta pada gadis yang kini duduk di depannya. Walaupun, Zhafira yang dulu tidak lagi diingatnya, tapi nyatanya Zhafira yang duduk di depannya kini telah membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Betapa tidak, Kevan begitu terpesona dengan kebaikan dan kesetiaan Zhafira untuknya. Walaupun sudah berkali-kali ditolak bahkan diacuhkan olehnya, tapi Zhafira tetap bertahan. Bisa saja saat itu Zhafira meninggalkannya dan pergi dengan lelaki lain, tapi nyatanya Zhafira tetap setia dan menolak menerima hati dari lelaki lain.


Kevan memandangi lautan luas dan menghirup aroma laut yang mulai menggelitik hidungnya. Perlahan, dia memejamkan matanya dan menggenggam tangan Zhafira dengan erat. "Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah mempertemukan aku dengan dia. Aku mohon, bahagiakanlah kami berdua dan jangan pisahkan kami lagi. Aku mohon, bantulah aku agar bisa membahagiakannya dan selalu membuatnya tersenyum karena dia adalah anugerah terindah yang telah Engkau berikan untukku," batin Kevan dengan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.


"Aku mencintaimu dan aku berjanji akan selalu ada untukmu dan selalu membahagiakanmu hingga ujung waktuku," ucap Kevan sambil mengecup kening Zhafira.