Zhafira

Zhafira
Part 39



Sudah hampir sebulan Zhafira ada di kota itu dan hampir sebulan pula dia dan Kevan bagaikan orang asing. Perubahan sikap Kevan yang tiba-tiba sempat membuat Zhafira terguncang, tapi orang tua Kevan selalu menyemangatinya dan memintanya untuk selalu menemani mereka karena bagi mereka, Zhafira sudah seperti anak mereka sendiri.


Kondisi kesehatan Kevan hampir sembuh total, karena itu Kevan sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit, tapi dia masih harus melakukan beberapa pemeriksaan di kepalanya untuk memastikan kalau cedera di kepalanya benar-benar telah sembuh.


Amnesia yang dialami Kevan belum juga ada perubahan. Dia masih belum mengingat apapun. Bahkan, sikapnya yang sekarang beda jauh dengan sikapnya yang sebelumnya.


Kevan yang Zhafira kenal, yaitu sosok lelaki yang selalu menjaga pandangannya. Dia tidak pernah melirik wanita lain ataupun menggoda wanita lain dan dia bukan tipe cowok yang suka pamer. Namun, Kevan yang saat ini ada di depannya adalah sosok lelaki yang mata keranjang dan suka menggoda wanita dan suka memamerkan kekayaan dan juga ketampanan wajahnya.


Semua sifatnya itu bertolak belakang dengan sifatnya yang dulu, dan kini Zhafira harus merasakan kembali penolakan dan ketidakpedulian dari Kevan sama seperti yang pernah dia rasakan saat pertama kali bertemu dengan Kevan dahulu.


"Zha, kamu sudah beritahu kakakmu kalau hari ini kamu akan pulang?" tanya Mira saat Zhafira sedang membereskan pakaian-pakaiannya.


"Belum, Tante. Nanti saja, setelah tiba di bandara," jawabnya.


Sementara Zhafira sedang beres-beres, Kevan yang sementara duduk di taman rumah sakit sedang asyik menggoda perawat-perawat magang. Mereka terlihat tertawa dan bercanda dengan Kevan. Ini bukan pemandangan yang baru bagi Zhafira dan ini bukan pertama kalinya Zhafira merasa sangat terluka.


"Apa aku masih sanggup bertahan dengan semua ini? Sampai kapan aku harus melihat orang yang aku cintai menjadi orang lain di depanku dan tak peduli lagi denganku?" Zhafira menghapus air matanya.


Melihat Zhafira yang tengah memandangi Kevan membuat Mira mendekatinya. "Nak, kamu masih bisa bertahan, kan? Maafkan Tante, jika membuat kamu merasa terpaksa, tapi itu semua demi kebaikan kalian dan kamu harus bisa bersabar. Kalau kamu tidak bisa membuat dia mengingat dirimu yang dulu, maka buatlah dia jatuh cinta dengan dirimu yang sekarang. Tante yakin kalau kamu sanggup melakukan itu, maka Kevan yang dulu dan Kevan yang sekarang akan takluk padamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Tante Mira yang membuat Zhafira mengangguk.


Walaupun dia mengangguk, tapi dia tidak benar-benar yakin karena Kevan yang sekarang sama sekali tidak menganggapnya ada. Bagi Kevan, Zhafira hanya seseorang yang tidak berarti apa-apa. Seseorang yang hanya akan membuatnya sakit kepala jika melihatnya.


"Apakah aku tidak lagi seberharga itu di matamu?" batin Zhafira yang mengingat penolakan Kevan padanya.


Selama perjalanan pulang, Zhafira hanya terdiam. Rasanya, dia sudah sangat merindukan tempat tidurnya. Dia sudah merindukan pelukan kakaknya dan pelukan sahabat-sahabatnya, tapi pelukan dari orang yang sangat dicintainya hanya bagai impian yang entah kapan akan jadi kenyataan.


Kondisi Kevan yang amnesia sudah Zhafira ceritakan pada sahabat-sahabatnya. Mereka syok dan terkejut saat mendengar itu, tapi Zhafira berusaha untuk meyakinkan mereka untuk bersikap biasa saja pada Kevan dan tidak menceritakan apapun soal hubungan mereka padanya, karena dia takut Kevan akan mengalami sakit kepala seperti yang sudah-sudah.


Di ruang tunggu bandara, tampak sahabat-sahabatnya sudah menunggu mereka. Saat melihat Ardi, Zhafira segera berlari dan memeluk kakaknya itu dan menangis.


"Kamu sehat, kan?" tanya Ardi yang juga ikut menangis.


Sementara Kevan, perlahan berjalan mendekati Dafa dan Vino. "Kalian bertiga sengaja menjemputku, ya?" tanya Kevan pada Dafa, Vino dan juga Refa.


"Kenapa kalian bertiga bingung? Apa kalian lupa sama teman kalian sendiri?" tanya Kevan kembali yang membuat mereka semua semakin bingung.


"Kamu mengenali kita?" tanya Vino yang langsung membuat Kevan tertawa.


"Ya ampun Vino, masa aku tidak mengenali cowok tengil macam kamu ini. Dafa, apa dia itu pacarmu?" tanya Kevan yang membuat mereka menahan tangis.


"Kenalkan, namaku Dafena, istrinya Dafa," ucap Dafena memperkenalkan diri.


"Boleh juga istri kamu," bisik Kevan pada Dafa.


"Refa, itu pacar kamu?" tanya Kevan sambil menunjuk ke arah Revan. Refa mengangguk dan segera menundukkan wajahnya karena menahan tangis.


"Hallo, aku Revan, calon suami Refa." Revan memperkenalkan diri walau hatinya sedih karena sahabat yang sudah dikenalnya sedari masih sekolah dulu ternyata sama sekali tidak mengingatnya.


"Cowok yang bersama Zhafira itu siapa? Apa pacarnya?" tanya Kevan sambil berbisik kepada Dafa.


"Bukan, itu kakaknya," jawab Dafa.


"Oh, begitu, ya."


"Tante, Om, Zhafira pamit dulu," ucap Zhafira yang berusaha menahan tangis.


Suami istri itu lantas memeluknya. "Kamu yang sabar, Nak. Maafkan Tante dan Om karena sudah membuatmu menderita seperti ini, tapi Tante janji, Tante tidak akan menerima wanita manapun untuk menjadi menantu kami karena bagi kami, kamu adalah menantu kami," ucap wanita itu yang mulai menangis.


"Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu dan Tante harap kamu tidak keberatan kalau kamu sering-sering datang menjenguk kami." Zhafira mengangguk. Setelah puas memeluk suami istri itu, Zhafira kemudian pergi.


"Van, istirahatlah. Nanti aku akan menghubungimu." Dafa berpamitan pada sahabatnya itu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu kalian di rumah." Kevan kemudian pergi tanpa mengucapkan apapun pada Zhafira. Sementara Zhafira, hanya bisa memandangi kepergian Kevan dengan tangisnya.


*****


Sementara sahabat-sahabatnya hanya bisa mendengar tangisnya dan tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sebaiknya aku melihatnya," ucap Ardi yang mulai panik dan berniat menemui Zhafira di kamarnya.


"Jangan, biarkan saja dia. Saat ini, biarkan dia meluapkan kesedihannya. Yakinlah, setelah dia puas menangis, dia akan kembali tegar dan menjadi Zhafira seperti yang biasa yang kita kenal," ucap Dafa yang terlihat begitu yakin.


Dafa yang sudah mengenalnya sejak kecil, sudah hafal betul dengan sifat sahabatnya itu. Sesulit apapun, serumit apapun masalah yang dihadapi Zhafira, asalkan dia sudah meluapkannya dengan menangis, maka setelah itu dia bisa mengangkat wajahnya kembali dan kembali menentang dunia. Asalkan dia tidak dikhianati, maka dia akan tetap memaafkan.


Dan benar saja, dua jam kemudian, Zhafira sudah turun menemui sahabat-sahabatnya yang masih setia menunggunya. Dafena segera berjalan mendekatinya dan memeluknya. "Kamu yang sabar, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap Dafena sambil mengelus punggung sahabatnya itu.


"Terima kasih, aku beruntung punya sahabat seperti kalian."


"Sini, duduk dekat Kakak," panggil Ardi. Zhafira lantas duduk di dekat Ardi sambil menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.


"Sekarang, kamu ceritakan pada kami tentang kondisi Kevan," ucap Dafa.


Zhafira mulai menceritakan semuanya. Bagaimana dia acuhkan oleh Kevan. Bagaimana dia harus menahan rasa sakit karena Kevan tidak ingin mengingatnya dan bagaimana dia harus kecewa karena dirinya kini tidak punya nilai apa-apa di depan Kevan. Zhafira kembali menangis saat mengingat semuanya, tapi rasa sayang dan cinta yang masih tersimpan untuk Kevan membuat dia bisa bertahan dan bertekad untuk mengembalikan ingatan Kevan.


"Aku percaya dengan semua cinta dan perhatianmu padanya, pasti akan membuat Kevan bisa mengingatmu lagi," ucap Kheyla yang mencoba menyemangati sahabatnya itu.


"Kami akan membantumu. Jangan khawatir, kami sebisanya akan berusaha membantu kalian. Sebagai sahabat, kami tidak ingin melihat kalian berdua berpisah. Kami akan menyatukan kalian lagi, bagaimanapun caranya," ucap Vino dan diaminkan sahabat-sahabatnya.


"Tapi, kalian jangan terlalu memaksanya karena dia akan merasakan sakit di kepalanya kalau terlalu memaksa untuk mengingat sesuatu. Jadi, biarkan saja semua berjalan apa adanya agar dia tidak merasa dipaksa untuk mengingat," jelas Zhafira.


"Jadi, itu sebabnya kamu biarkan saja dia seperti itu dan tidak mencoba untuk menceritakan masa lalu kalian?" Zhafira mengangguk dan menundukkan kepalanya.


"Baiklah, mulai sekarang kita akan mendekati Kevan sebagai sahabat barunya. Kita akan mengulang kembali seperti masa-masa pertemanan kita dulu. Zha, kalau dia tidak mengingatmu sebagai kekasih di masa lalunya, maka kamu harus berusaha membuat dia menjadikanmu sebagai kekasihnya di saat ini. Buatlah dia menyukaimu dan jatuh cinta padamu," ucap Vino dengan semangat.


"Tumben kali ini kamu punya ide yang cemerlang. Aku setuju ide dari bapak TNI kita yang satu ini. Rupanya, sejak di gembleng merangkak di dalam lumpur, otak kamu jadi encer kayak lumpur," ucap Revan yang sengaja mencairkan suasana yang dari tadi tegang.


Walau sedih, tapi kehadiran teman-temannya cukup menjadi penyemangat tersendiri baginya. Zhafira merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Sahabat yang selalu ada untuknya.


*****


Sudah sebulan lebih Zhafira tidak merasakan kehangatan kasurnya, hingga membuat dia tertidur lelap saat terbaring di atas tempat tidurnya itu. Walau matahari sudah meninggi, Zhafira masih enggan untuk bangkit, hingga matanya tiba-tiba terbuka saat dia mulai mengingat sesuatu. "Ya ampun, aku lupa," ucapnya sambil bangkit dari tempat tidurnya. Dengan segera dia masuk ke kamar mandi. Tak lama, dia sudah keluar dengan rambut yang sudah basah sambil berjalan menuju lemari pakaian.


Semalam, Tante Mira meneleponnya dan memintanya untuk datang ke rumahnya besok pagi dan Zhafira mengiyakan, tapi karena kenyamanan tempat tidur yang hampir sebulan tidak dirasakannya membuat dia terbuai mimpi dalam pelukan selimut hangat hingga membuatnya lupa kalau pagi-pagi dia harus ke rumah Kevan.


"Kak, aku pamit," ucap Zhafira sambil memeluk kakaknya itu.


"Kakak antar, ya."


"Tidak usah, Kakak kan harus ke sekolah, aku naik taxi saja. Nanti aku telepon, ya."


"Hati-hati dan tetap semangat. Adikku yang cantik ini harus bisa bahagia, oke."


"Oke!!"


Ardi menatap kepergian adiknya itu dengan tersenyum walau sebenarnya di dalam hatinya dia merasa sedih. "Kakak doakan semoga kamu selalu bahagia. Kakak akan lakukan apapun agar kamu bisa bahagia, biar Kakakmu ini bisa membuat orang tua kita dan Rani bangga kepada Kakak." Perlahan Ardi menghapus air matanya.


Di halaman rumah yang terlihat mewah, Zhafira berlari pelan. Dengan langkah yang dipercepat, akhirnya dia sudah berdiri di depan pintu rumah itu. Baru saja dia ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka. "Kamu? Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Kevan yang sudah berdiri di depannya. Wajah tampannya tersenyum sinis dan memandang Zhafira dengan tatapan mata yang tajam.


Zhafira menatap wajah pemuda itu. Tatapan Kevan membuat jantung Zhafira berdetak takaruan. Ingin rasanya dia menghempaskan tubuhnya dalam pelukan pemuda itu dan menangis dalam pelukannya.


"Minggir, bukan urusanmu," jawab Zhafira yang berusaha untuk masuk.


"Bukan urusanku? Ada wanita yang tidak aku kenal masuk ke rumahku dan kamu bilang itu bukan urusanku?" tanya Kevan yang masih menghalangi Zhafira untuk masuk.


Zhafira masih berdiri di depan pemuda itu. Mendengar dirinya disebut wanita tidak di kenal membuat Zhafira naik darah. "Sekarang kamu bilang tidak mengenaliku, tapi apa kamu tahu kalau kamu sudah mengenaliku sejak enam tahun yang lalu??!!" ucap Zhafira tegas dan mencoba menahan air mata.


"Aku ke sini bukan untukmu, jadi jangan pedulikan keberadaanku, tapi karena kamu melarangku masuk, maka aku akan pergi," ucap Zhafira sambil berbalik untuk pergi, namun Tante Mira datang dan menahannya.


"Zhafira." Langkah Zhafira terhenti. Wanita itu lantas mendekati dan memeluknya. "Tante mohon maaf, tapi bersabarlah. Dia pasti akan sembuh karena perlahan dia sudah mulai mengingat Om dan Tante. Bersabarlah, karena dia pasti akan mengingatmu," ucap Mira yang sontak membuat Zhafira memandanginya.