Zhafira

Zhafira
Part 17



Dengan tergesa-gesa, Ardi mulai memasuki sebuah kafe di mana ayahnya sudah menunggunya. Walau dia merasa berat meninggalkan Zhafira pulang bersama Kevan, tapi dia terpaksa melakukannya karena tidak mungkin dia membatalkan janjinya bersama sang ayah yang sudah dari tadi menunggunya.


"Maaf, Pa, Ardi datang terlambat," ucapnya saat sudah berdiri di depan ayahnya.


"Tidak apa-apa, ayo duduk," ucap Ayahnya sambil mempersilakan dia untuk duduk.


Walau terlihat bingung, Ardi berusaha untuk terlihat santai. Bukan sekali ini saja ayahnya memintanya untuk bertemu di luar. Dulu, saat adiknya masih hidup ayahnya sering mengajak mereka makan siang di luar.


Rupanya, mereka sedang menunggu seseorang. Ayahnya memintanya datang karena ingin memperkenalkannya pada orang itu.


"Papa harap kamu bisa bersabar sedikit, Papa ingin memperkenalkanmu pada seseorang."


Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita yang berusia sekitar empat puluhan berjalan mendekati meja mereka. Wanita itu terlihat cantik dengan balutan baju kantor yang menunjukan kalau wanita itu adalah wanita kantoran. "Maaf, saya datang terlambat," ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa, ayo silahkan duduk," ucap ayahnya mempersilakan wanita itu untuk duduk.


Ardi menatap wanita itu heran. Seakan paham, ayahnya mulai memperkenalkan wanita itu padanya. "Ini Tante Riska, teman kerja Papa," ucap ayahnya yang membuat Ardi segera bersalaman dengan wanita itu.


"Kamu ternyata sangat tampan. Papa kamu beruntung punya anak setampan kamu," puji wanita itu sambil tersenyum.


"Biasa saja kok, Tante. Terima kasih atas pujian Tante," ujar Ardi sesopan mungkin. Walau tidak tahu maksud dari pertemuan itu, tapi Ardi mulai merasa curiga dengan tingkah ayahnya yang selalu terlihat tersenyum saat menatap wanita itu.


Sejak kematian adiknya, Ayahnya selalu termenung. Wajahnya selalu murung dan jarang tersenyum. Namun kini, dia melihat kebahagiaan di wajah ayahnya itu. Bersama dengan wanita yang katanya teman kantornya, ayahnya terlihat sangat bahagia dan dia tidak bisa melarang jika memang wanita itu bisa membuat ayahnya tersenyum bahagia. Dia tidak akan melarang ayahnya untuk bahagia, karena kebahagiaan ayahnya adalah kebahagiaannya juga.


Makan siang berjalan dengan lancar. Tanpa kendala berarti, Ardi mulai membuka diri. Dia tidak ingin menjadi anak yang egois. Jika ayahnya akhirnya memilih bersama wanita itu, dia akan menerima, dia tidak akan melarang.


"Terima kasih, Nak, kamu sudah bersedia untuk menemani Papa makan siang," ucap ayahnya saat mereka sudah selesai makan siang dan akan kembali ke kantor.


"Tante juga ingin ucapkan terima kasih karena kamu mau menerima Tante. Kalau saja anak Tante bisa ikut bersama, Tante akan sangat senang," ucap wanita itu.


"Lain kali saja, Tante, baru aku kenalan sama dia," ucap Ardi yang terlihat mulai merasa akrab dengan wanita itu.


"Baiklah, Tante janji kapan-kapan akan ajak dia makan bersama," ucap wanita itu yang terlihat sangat bahagia.


Setelah berpamitan, mereka akhirnya pergi dengan mobil sedan berwarna hitam milik ayahnya. Wanita itu sempat melambaikan tangan padanya yang membuat Ardi membalas dengan senyum dan lambaian tangannya.


Sementara Zhafira, masih terisak menahan tangis saat Kevan membawanya ke bibir pantai. Suara ombak yang memukul bebatuan tak membuat tangisan Zhafira mereda.


Kevan yang sedari tadi hanya terdiam, perlahan mulai mendekatinya dan membawakan sebotol air mineral dan selembar sapu tangan untuknya. "Minumlah," ucap Kevan sambil menyodorkan botol mineral itu pada Zhafira.


"Terima kasih. Aku minta maaf, karena sudah menyita waktumu," ucap Zhafira tanpa menoleh padanya.


"Tidak masalah, hapus air matamu itu dan jangan menangis lagi," ucap Kevan sambil menyodorkan sapu tangan padanya.


Zhafira mengambil sapu tangan itu dan mulai menghapus air matanya. Sejenak, dia merasa tenang. Melihat deburan ombak, mencium aroma laut membuat hatinya merasa nyaman. Entah sejak kapan dia mulai menyukai laut.


Melihat Zhafira yang mulai bisa mengontrol diri, membuat Kevan memberanikan diri untuk bertanya. "Lelaki itu ayahmu?" Zhafira mengangguk tanpa suara.


"Apa kamu masih belum bisa memaafkannya?" tanya Kevan yang sontak saja membuat Zhafira melihat ke arahnya.


"Apa kamu sudah bisa memaafkanku karena aku sudah membuatmu marah padaku?" tanya Zhafira yang mencoba mengalih pembicaraan.


Kevan menatap lurus ke arahnya. Sejenak, dia hanyut dengan tatapan mata Zhafira yang membuat dia merasa nyaman.


"Kenapa? Apa aku masih salah di matamu?" tanya Zhafira yang membuat Kevan tersenyum.


"Aku tidak pernah marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri karena aku melihat seseorang yang aku kenal dari tatapan matamu," jawab Kevan yang membuat pemuda itu menundukkan wajahnya.


"Maksudmu?"


"Aku hanya tidak ingin mengkhianati dia karena aku takut aku akan ... " Kevan menghentikan ucapannya.


"Kamu akan apa?"


Kevan menarik nafas panjang. Dia tidak ingin terlihat mengada-ada di depan Zhafira karena apa yang dirasakannya saat ini memang benar adanya.


"Kamu tahu, saat aku melihatmu aku merasa bahagia. Seolah-olah kamu adalah orang yang spesial bagiku. Kamu ingat saat aku duduk di bangku itu? Aku merasa kelas itu sangat tidak asing bagiku, bahkan aku sering melihat ke arah tempat dudukmu," jelas Zhafira.


"Aku sempat berpikir kalau mataku ini mungkin saja berhubungan dengan gadis itu, tapi sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang sudah mendonorkan mata ini untukku," lanjutnya sambil menahan air mata.


Mendengar penjelasan Zhafira membuat Kevan bersedih.


"Aku minta maaf, bukan maksudku untuk membuatmu sedih, tapi itu yang aku rasakan. Semua tentangmu, semua tentang kenangan di kelas itu, bahkan nama kalian yang ada di tembok belakang sekolah, aku mengenalinya walau aku sendiri tidak paham dengan perasaanku saat itu," jelas Zhafira.


"Walau semua terlihat jelas, tapi aku berharap kalau semua itu tidak benar. Aku berharap, jauh di luar sana dia sedang baik-baik saja dan suatu saat nanti kalian bisa bertemu lagi," ucap Zhafira sungguh-sungguh.


Zhafira sangat paham dengan perasaan Kevan saat ini. Di satu sisi, dia berharap semua dugaannya itu salah, tapi di sisi lain dia tidak bisa menyangkal kalau semua tentang Kevan seakan tersimpan mati di dalam penglihatannya dan dia tidak bisa pungkiri itu.


"Apapun yang terjadi, benar atau tidaknya, aku harap kamu bisa tabah," ucap Zhafira.


Penjelasan Zhafira sudah cukup membuat Kevan menyadari kesalahannya. Dia salah sudah membuat Zhafira terluka dengan perlakuannya. "Maafkan aku karena waktu itu telah mendorongmu, aku belum sempat meminta maaf, karena itu saat ini aku ingin minta maaf padamu."


"Sudahlah, aku sudah melupakannya. Lagipula, aku sudah memaafkanmu, kok," ucap Zhafira sambil tersenyum.


Kesalahpahaman yang dulu dialami keduanya, kini sudah berakhir. Dengan senyum, mereka ingin membuka lembaran baru di mana mereka bisa saling bertegur sapa dan bercanda seperti teman-teman mereka yang lain tanpa perlu rasa ragu.


*****


"Bagaimana keadaan Dafena, apa dia baik-baik saja?" tanya Zhafira saat baru naik di atas motor.


"Dia baik-baik saja," jawab Dafa sambil melajukan motornya.


Setibanya di sekolah, mereka sudah ditunggu oleh Kevan, Ardi dan Dafena yang berdiri di halaman parkiran.


"Kenapa kalian bertiga berdiri di sini?" tanya Dafa heran.


"Menunggu Zhafira," jawab Dafena yang langsung merangkul pergelangan Zhafira.


"Apa kalian sudah berteman?" tanya Ardi heran.


"Kita memang berteman, kok. Oh iya, kalian pasti tidak tahu kalau kami bertiga ini sebenarnya dulu sekolah di SMP yang sama," jelas Dafena yang membuat kedua pemuda itu manggut-manggut.


"Pantas saja kalian tidak seperti orang yang baru kenal," ucap Ardi.


Keakraban Dafena dan Zhafira membuat mereka akhirnya bersahabat baik. Tak hanya itu, Dafena kini juga bersahabat dengan Refa dan Kheyla. Mereka berempat selalu pergi bersama.


Tak hanya itu, Kevan kini sudah bersikap biasa pada Zhafira. Bahkan, diam-diam dia mulai menyukai Zhafira walau perasaannya itu hanya bisa dia simpan di dalam hatinya.


Keakraban mereka kadang membuat teman-teman mereka menjadi iri. Dan tidak sedikit yang merasa kecewa karena pemuda-pemuda tampan itu lebih memilih keempat gadis itu.


Siang itu, mereka telah janjian untuk makan di kafe tempat biasa mereka berkumpul. Hari itu, hari yang spesial bagi Kheyla karena hari itu adalah hari ulang tahunnya.


"Selamat ya, Khey, moga panjang umur dan sehat selalu," ucap Zhafira sambil memeluknya dan memberikannya sekotak kado.


Satu persatu mulai memberikannya kado. Senyum sumringah penuh bahagia terpancar dari wajahnya. Kheyla yang genap merayakan seventeen-nya bersama teman-temannya merasa sangat bersyukur karena telah mendapatkan sahabat-sahabat yang sangat luar biasa baginya.


"Terima kasih, aku sayang sama kalian," ucapnya terharu. Dengan senyum, ketiga sahabatnya itu kemudian memeluknya dan tertawa bersama.


Mereka kemudian memesan makanan dan minuman. Tak lupa, kue ulang tahun yang tadi sudah disiapkan turut disantap. Di tengah canda dan tawa, Vino terlihat gugup dan tegang seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Kamu kenapa?" bisik Dafa yang seakan tahu kalau dia sedang gelisah.


"Aku gugup," jawab Vino sambil berbisik yang membuat Dafa menjadi bingung.


"Gugup kenapa?" Vino terdiam. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Zhafira melirik ke arahnya.


"Ayo," ucap Zhafira pelan.


Vino menggeleng kepalanya. Melihat sikapnya, Zhafira langsung berjalan ke arahnya dan menarik tangannya. "Bagaimana sih kamu? Katanya kamu suka sama dia, tapi kenapa sekarang kamu jadi pengecut begini?" tanya Zhafira yang akhirnya membuat Dafa paham.


"Ayo, sana," ucap Zhafira sambil mendorong tubuhnya hingga berdiri pas di depan Kheyla.


"Ada apa?" tanya Kheyla bingung.


"Hmmm, apa kamu mau menjadi pacarku?" ucap Vino sambil memberikan sekuntum bunga mawar merah ke arah Kheyla.


Mendengar pengakuan Vino di depannya membuat wajah Kheyla memerah. Dia tidak menyangka, pemuda yang sudah membuat dia jatuh cinta dalam diam, malah memintanya untuk menjadi pacarnya.


Sontak saja semua teman-temannya menjadi heboh. Sambil bertepuk tangan, mereka meminta Kheyla untuk menerima bunga mawar itu yang berarti dia juga menerima Vino menjadi kekasihnya.


Kheyla terharu dan juga bahagia karena cinta yang selama ini dia pendam tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata, selama ini Vino juga menaruh hati padanya.


Kheyla menerima bunga mawar itu yang sontak saja membuat mereka bertepuk tangan. Kehebohan mereka telah mengundang perhatian orang-orang yang ada di tempat itu.


Melihat keberanian Vino untuk mengungkapkan perasaannya, membuat Ardi lebih bersemangat. Dia ingin melakukan hal yang sama. Dia ingin segera mengungkapakan perasaannya pada Zhafira yang sudah sejak lama dipendamnya.


Selesai makan, mereka kemudian memutuskan untuk pulang. Setibanya di parkiran kafe, mereka bertemu dengan mantan pacar Dafena yang juga datang bersama pacarnya yang juga sahabat Dafena.


Melihat mereka, Dafena berusaha untuk menghindar, tapi Dafa segera meraih tangannya dan berjalan sambil menggandeng tangannya.


"Dafena," panggil mantan pacarnya itu sambil berjalan menuju ke arahnya.


"Ada apa? Aku rasa, kamu tidak pantas untuk mendekati pacarku," ucap Dafa yang membuat lelaki itu menjadi heran.


"Apa benar, dia ini pacar barumu?"


"Iya, memangnya kenapa? Lagipula, dia jauh lebih baik daripada kamu," jawab Dafena hingga membuat wajah lelaki itu memerah.


"Kamu bohong!! Aku tidak percaya kamu bisa secepat itu melupakan aku."


"Kenapa tidak? Lelaki ******** seperti kamu memang tidak pantas untuk dipertahankan," ucap Zhafira yang terlihat kesal. Mendengar ucapan Zhafira membuat lelaki itu naik darah dan ingin menamparnya, tapi semua teman-temannya kemudian berdiri di depannya seakan ingin melindungi Zhafira.


"Coba saja kalau kamu berani menyentuhnya, kamu akan habis!!" ancam Ardi sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Ayolah, kita pergi dari sini," ajak pacarnya sambil menarik tangannya.


"Hahh, berisik!!" ucapnya sambil menepis tangan gadis itu dan kemudian pergi meninggalakannnya. Gadis itu kemudian berlari dan mengejarnya.


"Apa mereka pikir akan bahagia setelah menghncurkan kebahagiaan orang lain? Jangan mimpi," ucap Zhafira puas.


"Jadi, apa benar sekarang kalian juga sudah jadian?" tanya Kevan yang sontak saja membuat wajah keduanya memerah.


Akhirnya, siang itu dua pasang sahabat mereka sudah resmi berpacaran. Vino dan Kheyla yang akhirnya bisa mengungkapkan perasaannya. Sementara Dafa dan Dafena, yang akhirnya kembali bisa bersama setelah dulu mereka gagal dipersatukan oleh takdir.