Zhafira

Zhafira
Part 45



Melihat Zhafira memeluk pemuda itu membuat Kevan menjadi gelisah. Hatinya terasa sakit saat melihat Zhafira tersenyum pada pemuda itu. Dengan langkah yang malas, Kevan berjalan memasuki koridor di mana ibunya dirawat. Pikirannya seakan ada di tempat lain hingga dia tidak sadar dan menabrak seorang suster yang baru saja keluar dari kamar ibunya. "Maaf, suster," ucapnya sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu kenapa, Nak. Kamu sedang memikirkan apa hingga seceroboh itu? Apa kepalamu sakit lagi?" tanya ayahnya sambil berjalan menghampirinya.


"Tidak, Pa. Kevan baik-baik saja." Kevan kemudian masuk dan berjalan mendekati ibunya. "Bagaimana keadaan Mama? Apa Mama sudah agak baikan?" tanya Kevan sambil berdiri di samping ibunya dan memegang tangan wanita itu.


"Jangan khawatirkan Mama karena sudah ada Zhafira yang akan menemani Mama. Melihat Zhafira, rasanya Mama sudah sembuh dan ingin segera pulang," jawab ibunya sambil tersenyum ke arah Zhafira.


"Tante tidak boleh pulang sebelum dokter mengizinkan. Tante tenang saja karena aku akan menemani Tante di sini," ucap Zhafira yang membuat wanita itu tersenyum dan mengangguk.


"Tante istirahatlah, aku akan tetap ada di sini menemani Tante," ucap Zhafira sambil menutupi tubuh wanita itu dengan selimut.


Zhafira kemudian bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Kevan yang masih berdiri di samping ibunya. Sekali lagi, Kevan merasa diacuhkan hingga membuat dia sudah tidak tahan. Kevan lantas berjalan mengikuti Zhafira dan meraih tangannya.


"Kamu mau apa?" tanya Zhafira sedikit berbisik.


Kevan sama sekali tidak menjawab. Pemuda itu kemudian menarik tangan Zhafira dan membawa gadis itu keluar dari kamar.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zhafira yang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan pemuda itu.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku? Aku tahu aku salah, tapi aku mohon jangan membuat aku tersiksa seperti ini," ucap Kevan yang tanpa sadar menitikkan air mata.


Zhafira menatap wajah pemuda itu yang menangis di depannya. Ada rasa iba yang tiba-tiba muncul di hatinya, tapi dia berusaha menepis rasa itu. Dia tidak ingin terlihat plin plan di depan Kevan.


"Apa maksudmu? Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu. Lagipula, aku datang ke sini bukan karena dirimu, tapi karena ibumu," ucap Zhafira yang berusaha terlihat tenang.


"Zhafira!! Tolong lihat aku. Apa aku sama sekali sudah tidak berarti lagi bagimu? Aku minta maaf, jika selama ini telah mengacuhkanmu dan aku akhirnya tahu bagaimana rasanya diacuhkan oleh orang yang aku sayangi dan itu rasanya sakit," ucap Kevan yang sontak membuat Zhafira menatapnya.


Semua ucapan Kevan terlontar tanpa dia sadari. Semua ucapannya telah membuat jantung Zhafira berdetak lebih cepat. "Apa kamu bilang? Kamu sayang sama aku? Kamu sadar, kan? Apa rasa sayang itu tulus datang dari hati kamu atau karena kamu iba padaku? Aku tidak butuh rasa sayang karena iba darimu." Zhafira masih berusaha menahan hatinya agar tidak luluh. Wajah Kevan yang menangis di depannya membuatnya ingin segera memeluk pemuda itu, tapi dia tidak ingin terlihat lemah.


"Zhafira, aku ingin mengingatmu walau aku harus mati, sekali saja aku ingin mengingatmu dan mengingat semua tentang kita, tapi aku tidak bisa walau sekuat apapun aku memaksa. Rasanya kepalaku ini akan pecah jika aku terus memaksa. Dan perasaan itu terus menyiksaku, perasaan yang membuat hatiku tersiksa saat melihatmu bersama orang lain. Rasanya perasaan itu akan membunuhku hingga membuatku ingin memecahkan kepalaku," ucap Kevan sambil membenturkan kepalanya di dinding koridor.


"Apa yang kamu lakukan?" Zhafira yang melihat Kevan melakukan hal itu segera menarik tubuh pemuda itu untuk menjauh dari dinding dan tiba-tiba saja Kevan memeluknya dan menangis dalam pelukannya.


Zhafira terdiam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia diam terpaku saat Kevan mulai memeluknya, pelukan yang sangat dia rindukan dari seseorang yang sangat dicintainya.


Zhafira ingin melepaskan pelukan Kevan, tapi pemuda itu enggan melepaskan pelukannya. "Biarkan aku memelukmu karena aku tidak tahu apa aku masih punya kesempatan untuk bisa memelukmu lagi. Zhafira, aku mencintaimu dan aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku mencintaimu tulus dan aku mohon tolong bantu aku agar bisa mengingat semua tentang kita. Aku ingin mengingat saat bahagia kita dahulu karena aku takut kalau aku akan kehilanganmu karena ketidakmampuanku mengingat tentangmu," ucap Kevan sambil menangis hingga membuat Zhafira menitikkan air mata. Tanpa sadar, Zhafira membalas pelukan Kevan dan mengeratkan kedua tangannya di punggung pemuda itu. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau Kevan akan mengucapkan kata-kata yang sudah lama ingin dia dengar. Kata-kata yang membuat hatinya luluh dan ingin kembali membuka hatinya untuk bisa menerima Kevan lagi.


"Maafkan aku jika aku telah membuatmu tersiksa, tapi itu bukan niatku. Aku hanya kecewa karena kamu tidak berusaha untuk mengingatku, tapi kini aku tidak akan memaksamu lagi. Aku sangat bahagia karena ternyata masih ada aku di hatimu. Aku tidak akan memintamu lebih, cukup hanya ada aku di hatimu, maka aku akan selamanya ada di sampingmu," ucap Zhafira sambil menangis dan memeluk pemuda itu hingga tanpa sadar telah membuat orang tua Kevan menangis.


Wajah sang ibu yang terlihat pucat, perlahan tersenyum bahagia saat melihat putranya akhirnya bisa bersama lagi dengan wanita yang sangat disayanginya. Begitupun dengan sang ayah yang menangis karena rasa penyesalannya mulai terkikis dengan bersatunya kembali dua insan yang pernah dipisahkannya.


"Semoga mereka akan bahagia. Rasanya, aku ingin mereka secepatnya menikah biar aku segera bisa menimang cucu," ucap Mira pada suaminya dengan senyum yang terpancar dari wajahnya.


Zhafira masih menangis dalam pelukan Kevan hingga membuatnya tidak ingin melepaskan pelukannya dari pemuda itu.


"Zha, kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?" tanya Kevan yang membuat Zhafira melepaskan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya itu.


"Kamu tidak akan pergi bersama Arya dan meninggalkan aku, kan?" tanya Kevan yang membuat Zhafira tersenyum.


Dengan lembut, Zhafira menghapus sisa air mata yang menempel di pipi pemuda itu dan melayangkan sebuah senyuman untuknya. "Kenapa aku harus meninggalkamu dan pergi bersama dia? Apa kamu ingin aku pergi dengannya ke Kalimantan? Apa kamu pikir aku menyukainya?" tanya Zhafira yang membuat Kevan menatapnya dengan heran.


"Apa kamu cemburu padaku? Aku memeluknya sebagai seorang sahabat karena hari ini dia akan pergi bertugas ke Kalimantan dan dia ingin berpamitan denganku, apa karena itu kamu marah?"


Kevan lantas memeluk tubuh Zhafira dan mengelus rambutnya dengan mesra. "Aku tidak akan pernah mengizinkanmu dipeluk laki-laki lain kecuali aku. Sudah cukup aku menahan rasa cemburuku karena aku pasti tidak akan sanggup jika melihatmu bersama laki-laki lain," ucap Kevan yang masih memeluk tubuh Zhafira hingga mereka dikagetkan dengan kedatangan teman-temannya.


Melihat Zhafira dan Kevan berpelukan membuat mereka segera mendekati pasangan kekasih itu. Dengan rasa penasaran, mereka mulai mengajukan pertanyaan yang membuat Kevan segera menyembunyikan Zhafira di belakangnya.


"Kevan, apa kamu sudah ingat semuanya? Sekarang, kamu ingat kan siapa aku?" tanya Revan sambil menunjuk ke arah wajahnya.


"Kevan, ini aku kakak iparmu. Kamu ingat, kan?" tanya Ardi tidak mau kalah.


"Sudah, sudah, kalau kalian bertanya seperti itu, biarpun Kevan sudah ingat semuanya, ingatannya akan kembali hilang gara-gara ditodong dengan pertanyaan kalian itu," lerai Dafa yang membuat mereka akhirnya terdiam.


"Kalian datang ke sini untuk apa?" tanya Kevan yang masih menyembunyikan Zhafira di belakangnya.


"Mau menengok ibumu. Kenapa kamu bertanya seperti itu dan kenapa juga Zhafira harus sembunyi di belakangmu? Apa kamu pikir kami tidak bisa melihatnya?" tanya Vino sambil menunjuk ke arah belakang Kevan.


"Aku sengaja, karena aku tahu kalau kalian pasti akan memeluknya. Itu kan kebiasaan kalian."


"Oh, jadi karena itu kamu menyembunyikan Zhafira dari kami. Kenapa? Apa kamu cemburu kalau kami memeluk Zhafira? Teman-teman, ayo peluk Zhafira," teriak Vino yang langsung membuat teman-temannya mendekati Zhafira. Melihat tingkah mereka, Kevan lantas meraih Zhafira ke dalam pelukannya dan menyandarkan tubuh Zhafira ke dinding koridor hingga mereka tidak bisa memeluknya. Dalam pelukan Kevan, Zhafira bisa memandangi wajah pemuda itu yang tersenyum saat teman-temannya berusaha meraih tubuhnya.


Canda dan tawa terdengar di dalam koridor hingga mereka terdiam saat seorang perawat datang dan menegur mereka karena suara mereka yang berisik dan mengganggu pasien lainnya.


"Maaf, suster. Kami tidak akan ribut lagi," ucap mereka hampir bersamaan.


Setelah perawat itu pergi, Dafena lantas menarik tangan Zhafira dan mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Zhafira tersenyum. "Apa benar Kevan sudah bisa mengingat semuanya?" tanya Dafena penasaran.


Zhafira menggeleng dan membuat Dafena semakin penasaran.


"Zha, tolong jelaskan padaku? Apa jangan-jangan dia sudah jatuh cinta padamu, iya?"


Zhafira tersenyum dan mengangguk. Melihat Zhafira mengangguk membuat Dafena meloncat kegirangan sambil memeluk sahabatnya itu hingga Dafa segera mendekatinya. "Kamu kenapa loncat-loncat seperti itu? Aku kan sudah bilang kamu harus hati-hati," ucap Dafa sambil mendekati istrinya itu.


"Maaf, aku hanya sedang bahagia," jawab Dafena dengan manja hingga membuat Dafa meraih tangannya dan mengajaknya untuk duduk.


"Aku tahu kamu bahagia, tapi kamu harus menjaga dirimu dan tentu saja bayi kita. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu dan calon bayiku nanti," ucap Dafa sambil mengelus lembut perut Dafena. Sontak saja kelakuan Dafa yang aneh itu menarik perhatian teman-temannya.


"Apa kami tidak salah dengar? Apa maksudmu dengan calon bayi?" tanya Vino dengan polosnya.


"Ya ampun sayang, itu artinya kita akan segera punya keponakan," ucap Kheyla yang sontak saja membuat mereka segera memeluk kedua sahabat mereka itu dan lagi-lagi mereka kembali ditegur oleh salah satu perawat yang melintas di depan mereka.


Walau ditegur dan dimarahi tidak membuat mereka diam. Mereka begitu bahagia hingga tidak mempedulikan teguran perawat-perawat itu. Dalam kebersamaan mereka yang penuh kebahagiaan, Kevan menggenggam tangan Zhafira dan melayangkan senyum padanya. Seakan, dia tidak ingin kebersamaan mereka pergi begitu saja.


"Aku menyayangimu, dan selamanya akan tetap begitu," ucap Kevan sambil memeluk tubuh Zhafira. Zhafira mengangguk dan membiarkan diriya tenggelam dalam pelukan Kevan yang sudah lama dia rindukan.


"Kevan, aku mohon jangan pernah pergi meninggalkan aku. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," ucap Zhafira sambil mengeratkan pelukannya.


Kevan mengangguk dan mengecup kening Zhafira dan tersenyum pada gadis itu. "Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."