
"Temani aku makan, kamu mau, kan?" tanya Ardi dengan nafasnya yang kelelahan karena habis dikejar oleh Zhafira. Gadis itu tidak terima karena sudah ditipu. Kalau saja dia tahu isi tas itu adalah sampah, mana mungkin dia akan rela mengelilingi sekolah yang luasnya bisa membuat lututnya gemetar hanya untuk mengembalikan tas itu padanya, kalau nyatanya tas itu hanya akan berakhir di tong sampah.
Zhafira memandanginya dengan sorot mata yang tajam. Seperti hewan buas yang ingin menerkam mangsanya.
"Iya, iya. Aku minta maaf," ucap Ardi yang seakan paham kalau gadis itu masih marah padanya.
"Kamu sadar tidak?" tanya Zhafira yang terlihat serius.
"Apa?"
"Kita ini baru kenal belum sehari, tapi kenapa kamu berlagak kalau kita ini seperti sahabat karib? Jangan-jangan kamu ini..."
"Aku ini apa? Kamu pikir cowok setampan dan terkenal seperti aku ini adalah psikopat, begitu?" tanya Ardi hingga membuat Zhafira pura-pura merinding.
"Siapa tahu kamu itu psikopat yang berkedok di balik wajah tampan, biar cewek-cewek terjerat dan kamu akan membunuhnya dan kemudian ... "
"Kemudian kita berdua akan pergi makan karena aku sudah lapar," lanjut Ardi sambil meraih tangannya dan pergi dari tempat itu.
Kedekatan mereka berdua rupanya sudah menarik perhatian orang-orang di tempat itu. Ardi tidak peduli. Dia tidak peduli dengan tatapan mereka karena baginya, Zhafira adalah orang yang sudah membuat dia kembali tersenyum. Ardi bukanlah orang yang tidak tahu balas budi. Setidaknya, dia ingin dekat dengan Zhafira, orang yang sudah berhasil membuat dia kembali bahagia. Bahagia yang pernah terenggut karena kehilangan.
Sekolah itu ternyata mempunyai kantin yang cukup besar. Bahkan, menunya pun banyak, tinggal pilih sesuai selera dan isi dompet. Bukan seperti kantin di sekolahnya yang hanya sepetak dan hanya tersedia bakso dan gorengan, itupun boleh utang.
Zhafira tertegun begitu masuk ke kantin itu. Matanya langsung tertuju pada salah satu gambar menu yang bisa membuat siapa saja meneteskan air liurnya.
"Kamu mau pesan itu?" tanya Ardi sambil menunjuk ke arah gambar menu itu. Ya, itu adalah gambar ayam goreng krenyes dengan kriuk kriuknya yang berpadu dengan saus sambal yang bisa membuat lidah bergoyang.
Zhafira mengangguk. Ardi tersenyum dan segera memesannya. Kantin yang cukup besar itu ternyata mempunyai bangku yang cukup banyak dan tidak akan penuh walau dipenuhi anak-anak satu kelasnya. Sekali lagi, tidak sama dengan kantin di sekolahnya yang bila terlambat sedikit saja, maka siap-siaplah makan sambil berdiri.
Ardi kemudian memilih tempat duduk di dekat jendela. Zhafira sudah duduk di dekatnya. Dari tempat itu, mereka bisa melihat di bagian luar yang terdapat sebuah kolam kecil dan beberapa ekor ikan yang berenang lincah di dalamnya.
"Sepertinya, kamu sering duduk di sini, iya, kan?" tanya Zhafira ingin tahu.
Ardi mengangguk. Sekilas dia tersenyum dengan senyum yang agak dipaksakan.
"Apa dengan pacarmu? Apa jangan-jangan pacar kamu pernah ajak putus di tempat ini?"
Mendengar pertanyaan Zhafira langsung saja membuat Ardi tertawa. "Sok, tahu," ucap Ardi sambil berusaha menahan tawanya. Andai pelayan kantin tidak datang membawa pesanan mereka, mungkin saja Ardi sudah mencubit pipi Zhafira yang baginya terlihat sangat menggemaskan.
Melihat ayam goreng krenyes di atas meja membuat Zhafira menjadi kalap. Entah mengapa sejak kecelakaan itu dia sangat suka dengan ayam goreng krenyes yang biasanya kurang dia sukai. Namun kini, baginya ayam goreng krenyes bagaikan makanan yang terlezat di dunia.
Zhafira begitu menikmati setiap gigitan dan bunyi krenyes di dalam mulutnya yang membuat Ardi tersenyum.
"Gadis lucu," batin Ardi yang masih tersenyum hingga tiba-tiba dia melihat Dafa dan Kevan beserta rombongannya masuk ke dalam kantin.
"Bukankah, itu teman-teman kamu?" tanya Ardi sambil telunjuknya mengarah ke depan. Zhafira menoleh, dan benar saja di depannya, dia melihat semua anggota tim basket sekolahnya bersama Refa dan Kheyla yang berjalan melewatinya, tanpa kata, tanpa sapa.
"Mereka kenapa? Kenapa kalian seperti orang yang tidak saling kenal?" tanya Ardi heran.
Zhafira tidak menjawab. Ayam yang tadi sempat terlepas dari tangannya, diambil kembali dan dimasukkan ke dalam mulutnya sambil mulai mengunyah.
"Rupanya, sifatnya sudah kembali seperti semula. Karena sudah ditolak, makanya dia cari mangsa yang baru," ucap salah seorang dari tim basket sekolahnya yang duduk tidak jauh dari mereka.
Rupanya, dia sengaja mengucapkan itu untuk menyakiti Zhafira dan dia berhasil. Dafa, yang selalu membelanya, kini tak bersuara. Teman-temannya yang selalu seiya sekata, kini diam tanpa daya.
Ardi yang melihat perubahan pada sikap Zhafira perlahan mulai paham. Walau dia tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Zhafira, tapi dia tahu kalau saat ini Zhafira tengah terluka.
Ardi kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menemui mereka. Zhafira yang menyadari itu berusaha untuk melaranganya, tapi Ardi memastikan kalau dia tidak akan membuat masalah. "Tenanglah, aku tidak akan membuat masalah di tempat ini. Aku hanya ingin menyapa teman-temanmu itu," ucapnya sambil melangkah menuju mereka.
Dengan santainya, Ardi mengambil salah satu kursi dan duduk di depan mereka. "Hai, aku tahu kalian adalah teman-teman Zhafira. Iya, kan?" tanya Ardi dengan senyum.
"Dia bukan teman kami. Lagipula, kami tidak berteman dengan seorang pengkhianat."
Ardi tersenyum mendengar jawaban itu. "Aku baru pertama kali bertemu dengannya dan aku yakin dia itu teman yang baik. Aku hanya heran pada kalian yang menganggapnya orang lain, padahal dia bilang padaku kalau kalian adalah teman-temannya. Apa mungkin seorang teman yang sudah mengenal lama bisa saling buang muka hanya karena satu masalah?" ucap Ardi yang membuat Dafa menatapnya.
"Jangan ikut campur urusan kami, pergilah," ucap Revan yang mulai kesal.
"Aku akan tetap ikut campur jika itu menyangkut Zhafira." Dafa kembali menatap ke arah Ardi yang membuat dia mengepalkan kedua tangannya.
"Ayo, kita pergi," ajak Ardi sambil meraih tangannya dan keluar dari kantin itu.
Dafa menatap kepergian Zhafira dengan perasaan hancur. Ingin rasanya dia menemui Zhafira dan menanyakan kabarnya. Dia ingin kembali dekat dengannya seperti dulu. Dia ingin saat ini, dialah yang bersama gadis itu, tapi hatinya terlanjur sakit. Dia belum bisa menerima kenyataan kalau ternyata, Zhafira tidak lagi menginginkan dia untuk berada di sisinya.
Zhafira tidak bisa menahan air matanya. Bagaimanapun juga, mereka adalah teman-temannya. Teman yang pernah bersama dalam situasi apapun. Kini, mereka bagaikan orang asing. Tak saling menyapa, tak saling bersua.
"Menangislah. Tumpahkan semua kesedihanmu itu di tempat ini dan jangan pernah kamu menangis lagi untuk mereka, karena aku tidak ingin melihatmu menangis lagi," ucap Ardi sambil mengelus lembut pundak Zhafira yang tengah duduk di sudut pojok kantin.
Walau orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu meperhatikan mereka, Ardi tidak peduli. Walau mereka mungkin berpikir yang macam-macam padanya, dia tetap tidak peduli.
Zhafira menghapus air matanya dan segera bangkit. Wajahnya memerah karena sedari tadi ditekuk.
"Sudah selesai menangisnya?" tanya Ardi yang membuat Zhafira mengangguk dan menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
"Nih." Ardi memberikannya sebuah sapu tangan sambil menghapus sisa air mata di pipinya. Zhafira mengambil sapu tangan itu dan menyeka air matanya.
"Terima kasih," ucap Zhafira dengan sorot matanya yang terihat begitu sedih. Rasanya, dia ingin menangis lagi karena masih ada seseorang yang peduli padanya.
"Kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal kita baru saja kenal. Apa kamu tidak takut kecewa karena sudah membelaku?" tanya Zhafira dengan sorot mata yang mengarah lurus ke arah pemuda itu.
Ardi tersenyum. Bahkan dia maju mendekati Zhafira dan mengelus lembut rambut gadis itu. "Aku ini adalah psikopat tampan yang akan menjeratmu dan setelah itu, aku akan membunuhmu, kemudian ... "
"Ah, sudah bercandanya, tidak lucu," rengek Zhafira hingga membuat Ardi tersenyum.
"Iya, iya. Aku tahu bercandaku tidak lucu. Jadi, aku mohon jangan menangis lagi, karena aku tidak tahu cara menghentikan tangisan seorang gadis," ucap Ardi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Zhafira tersenyum. Dia begitu merasa terhibur dengan sikap Ardi yang perhatian padanya. Di depan Ardi yang baru dikenalnya itu, dia bisa tersenyum lepas. Bahkan, dia merasakan sesuatu yang membuat dia selalu nyaman, bagaikan seorang adik yang selalu manja dan cari perhatian pada kakaknya.
Tanpa mereka sadari, Dafa tengah memperhatikan mereka. Dafa begitu cemburu melihat Zhafira yang selalu tersenyum di depan pemuda itu. Dia tidak tahan ketika melihat tangan pemuda itu mengelus rambut Zhafira. Dia begitu cemburu, karena itu yang sering dilakukannya jika Zhafira sedang bersedih. "Apa aku benar-benar akan kehilanganmu? Apa kamu tahu kalau aku sangat sayang padamu?" batin Dafa yang membuat hatinya tertekan.
"Ayo, aku antar kamu pulang," ucap Ardi sambil menggenggam tangan Zhafira dan mengajaknya ke halaman parkir.
Zhafira tidak menolak. Bahkan, dia tersenyum pada pada pemuda itu hingga membuat Dafa semakin tidak tahan. Dia memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat gadis yang dicintainya tersenyum pada lelaki lain.
"Ardi, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Zhafira saat Ardi memberikan helm padanya.
"Tanya apa?"
"Boleh aku tahu, kenapa kamu sangat baik padaku? Aku serius, aku hanya ingin tahu alasanmu," ucap Zhafira yang terlihat serius.
Ardi kemudian mengajaknya duduk di salah satu bangku di dekat tempat itu. "Jujur, aku sangat senang bisa mengenalmu. Aku sendiri tidak paham kenapa kita bisa sedekat ini, padahal kita baru saja kenal. Rasanya, seperti kita ini pernah bertemu, tertawa dan melakukan hal konyol bersama. Apa kamu tidak merasakannya?" tanya Ardi yang membuat Zhafira tersenyum.
Zhafira mengangguk. Dia mengiyakan semua ucapan Ardi. Dia juga merasakan hal yang sama, seakan mereka pernah bertemu sebelumnya. Tanpa canggung, mereka tersenyum dan tertawa seakan itu sudah biasa bagi mereka.
"Sekarang, kamu paham kan kalau aku tidak akan mungkin menyesal karena sudah mengenalmu?"
Zhafira mengangguk. Tanpa sadar, air matanya jatuh. Orang yang baru pertama kali di kenalnya, dengan bangga mengatakan kalau dia tidak menyesal kenal dengan dirinya. Sedangkan, sahabatnya yang sejak dulu dikenalnya, kini merasa menyesal karena pernah kenal dengannya.
"Sudah, jangan bersedih lagi. Intinya, aku sekarang adalah temanmu, pacarmu, kakakmu, ayahmu, kakekmu, ah, pokoknya, aku sekarang yang akan berdiri di depan dan di belakangmu karena aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi." Zhafira tersenyum. Bukan, dia tertawa mendengar Ardi mengucapkan itu.
"Apa mungkin kita pernah saling kenal di kehidupan yang lalu, seperti reinkarnasi begitu?" tanya Zhafira yang membuat Ardi beristighfar.
"Astaghfirullah, sadar Neng. Kamu pikir, kita ini sedang main drama fantasi ala-ala Korea tentang reinkarnasi dan kehidupan masa lalu? Ingat, dalam agama kita, tidak ada hal seperti itu," jelas Ardi yang membuat Zhafira manggut-manggut.
"Apa jangan-jangan, karena kamu jatuh cinta padaku, iya?" tanya Zhafira tiba-tiba hingga membuat Ardi tertawa.
"Apanya yang lucu?" tanya Zhafira yang bingung melihat Ardi tertawa tanpa henti.
"Mana mungkin aku jatuh cinta padamu. Kamu itu tidak cantik. Lihat saja rambutmu yang diikat kuncir begini. Terus, ini bibir tidak ada warnanya, pucat. Terus, ini datar," ucap Ardi sambil telunjuknya mengarah ke dada Zhafira hingga membuat dia naik darah.
Ardi yang mulai sadar, lantas bangkit dari tempat duduknya dan segera berlari, karena Zhafira sudah mengejarnya sambil berteriak memanggil namanya. "Ardi!! Dasar psikopat, jangan lari!!" teriak Zhafira yang sudah menarik perhatian orang-orang yang ada di tempat itu.
Kini, Zhafira bisa tersenyum lagi. Ardi, pemuda tampan yang bisa membuat dia tersenyum bahagia, kini ada di sampingnya. Apa mungkin pertemuan dan kedekatan mereka hanyalah kebetulan semata? Ataukah, ada campur tangan dari semesta yang akan membuka sebuah tabir rahasia yang akan berakhir bahagia? Kita lihat saja nanti.