
Dafa masih setia berdiri di sudut jalan depan rumah Zhafira. Dia masih enggan meninggalkan tempat itu, karena melihat lampu kamar Zhafira yang masih menyala. Dia tahu, saat ini gadis itu sedang sendiri di dalam kamarnya sambil menunggu ibunya yang belum pulang kerja.
Tanpa dia sadari, Zhafira melihat dirinya dari balik jendela. Hampir setiap hari Dafa melakukan hal yang sama. Dan setiap hari pula Zhafira hanya bisa melihatnya dari balik jendela.
Zhafira mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubunginya, tapi niatnya itu dia urungkan. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Dafa terluka.
Suara mobil yang perlahan masuk di halaman rumah Zhafira membuat Dafa akhirnya pergi. Zhafira melihat kembali dari balik jendela dan memang benar, Dafa telah pergi.
Dafa kembali ke rumahnya dengan perasaan kecewa. Dia kecewa, karena cintanya yang diam-diam pada Zhafira ternyata telah menyakiti hatinya. Dia kecewa, karena ternyata Zhafira lebih memilih Kevan yang sama sekali tidak peduli padanya. Dan dia kecewa, karena melihat kedekatan Zhafira dengan seseorang yang membuat hatinya semakin terluka. "Kenapa rasa ini harus muncul di hatiku? Kenapa aku tidak mampu saat melihat dia dekat dengan pria lain?" batinnya.
Kedekatan Zhafira dan Ardi ternyata membuat dirinya cemburu. Dia tidak menyangka, Zhafira akan secepat itu melupakannya.
Di dalam kamarnya, Dafa membuka kembali album foto saat mereka masih kecil dulu. Dalam kesedihannya, dia masih bisa tertawa saat melihat foto-foto itu. "Apakah aku salah jika aku mencintaimu? Apakah aku salah jika aku berharap untuk mendapatkan sedikit saja cintamu?" Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganggunya. Begitu membuat dia tersiksa, hingga dia lupa kalau mereka itu adalah sahabat dan tak mudah merubah persahabatan menjadi cinta.
Dafa menarik nafas panjang. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan. Dia harus bisa menerima kenyataan kalau sahabatnya tetaplah sahabat dan itu tidak mungkin bisa berubah.
*****
Zhafira masih duduk di kursi penonton saat pertandingan semi final antara tim sekolahnya melawan tim dari sekolah lainnya. Dia sengaja datang untuk menyaksikan pertandingan itu. Setidaknya, dia ingin memberikan semangat pada teman-temannya walau mungkin kehadirannya tidak diharapkan oleh mereka.
"Aku pikir, kamu sudah tidak peduli lagi pada tim sekolahmu sendiri?" tanya Kheyla saat bertemu dengannya.
"Mana mungkin aku tidak peduli pada mereka. Bagaimanapun juga, mereka adalah teman-temanku," jawab Zhafira.
"Lalu, bagaimana kamu bisa sedekat itu dengan Ardi. Dia itukan pemain yang sangat ditakuti dan kamu tahu kalau tim mereka adalah musuh dari tim kita, tapi kenapa kamu bisa berteman dengan dia?"
Zhafira terdiam. Dia paham maksud pembicaraan Kheyla. Mereka kecewa, karena Zhafira dekat dengan Ardi, tapi mereka lupa kalau mereka sendiri yang telah menjaga jarak darinya.
Suara tepukan tangan bergemuruh saat Dafa berhasil mencetak angka. Begitupun dengan Zhafira, dia tersenyum saat melihat keberhasilan sahabatnya itu. Dari dalam lapangan, Dafa bisa melihat Zhafira yang sedang memperhatikannya. Pandangan mereka bertemu dan Zhafira melayangkan senyum padanya, tapi Dafa hanya menatapnya dengan wajah yang terlihat datar.
Walau kecewa, Zhafira tetap tersenyum. Hingga pertandingan berakhir dengan kemenangan dari tim sekolahnya yang berhasil mendapatkan tiket menuju final.
Zhafira meninggalkan kursi penonton dan memilih untuk meninggalkan tempat itu. Dafa yang sudah tidak melihat Zhafira di tempat itu terlihat mulai gelisah. Dia merasa bersalah karena sudah mengacuhkannya. Dafa kemudian pergi dari kerumunan teman-temannya dan berusaha mengejar Zhafira, tapi percuma hingga tiba di depan pintu gerbang, dia tidak melihat lagi sahabatnya itu. "Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku bisa sekejam itu padanya?"
Zhafira masih berdiri di depan pintu pagar rumahnya. Dia masih enggan untuk masuk dan masih berdiri di situ. Hingga dia melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya berjalan perlahan dan berhenti di depannya. "Papa," batinnya.
Seorang pria yang berpenampilan necis tiba-tiba keluar dari mobil itu. "Zha, ayo kita makan? Sudah lama kita tidak makan bersama," ucap pria itu yang tidak lain adalah ayahnya.
"Kenapa Papa ke sini? Apa ada sesuatu yang ingin Papa katakan padaku?"
Zhafira tahu ada sesuatu yang diharapkan ayahnya darinya. Bukan sekali ini saja ayahnya memintanya untuk bertemu. Dan bukan sekali ini saja dia menolak.
Dari luar, Zhafira bisa melihat ada seorang wanita yang duduk di dalam mobil ayahnya dan wanita itu adalah kekasih ayahnya.
Dengan menahan air mata, Zhafira melihat ke arah wanita itu. "Kalau Papa ingin menikah, menikah saja. Kalaupun aku menolak, itu tetap tidak akan merubah keputusan Papa," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Zha, tolong mengerti Papa. Papa hanya ingin kamu dekat dengan wanita pilihan Papa."
Zhafira menghapus air matanya. "Bagaimana mungkin aku akan menerima wanita yang sudah melukai perasaan mama. Papa boleh menikah, tapi kenapa harus menikah dengannya?"
"Papa tidak bisa melepaskan dia Zha karena Papa harus bertanggung jawab padanya," jawab Ayahnya yang membuat Zhafira terperanjat.
"Maksud, Papa?" Ayahnya mengangguk. Zhafira tidak bisa lagi menahan air matanya. Darahnya berdesir dan dadanya terasa sesak mendengar pengakuan ayahnya itu.
"Aku benci sama Papa!!" teriak Zhafira yang kemudian pergi meninggalkan Ayahnya. Dia begitu terpukul hingga dia tidak menyadari kalau dia hampir saja ditabrak sepeda motor yang melintas di depannya.
"Zha!!" Tiba-tiba tangannya diraih oleh seseorang. Zhafira memandangi orang itu dengan air matanya yang tidak bisa lagi dia tahan.
"Kenapa? Apa kamu juga akan meninggalkanku? Apa aku memang tidak pantas untuk bisa bahagia?" tanya Zhafira pada orang itu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Apapun yang terjadi, mulai saat ini aku akan selalu ada untukmu. Kapanpun kamu butuh, aku akan selalu ada untukmu. Maafkan aku," ucap orang itu yang tidak lain adalah Dafa.
Rupanya, Dafa sudah sedari tadi berdiri di tempat itu. Dan dia melihat semua pertengkaran Zhafira dengan ayahnya. Tanpa sadar, dia ikut menangis ketika melihat sahabatnya itu menangis.
"Ayo, kita pergi dari sini," ucap Dafa sambil menggenggam tangan Zhafira dan menuntunnya naik ke atas sepeda motornya.
Zhafira tidak menolak. Dia tidak bisa membohongi hatinya kalau saat ini, dia butuh seseorang yang bisa dia andalkan dan di saat seperti ini, Dafa selalu ada untuknya.
Di atas motor, Zhafira masih menangis. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Karena khawatir, Dafa meraih tangan sahabatnya itu dan melingkarkannya di pinggangnya. Zhafira tidak menolak, bahkan dia mengeratkan pelukannya dan menangis di punggung sahabatnya itu.
"Menangislah, Zha. Menangislah," batin Dafa.
Dafa menghentikan motornya saat mereka tiba di pesisir pantai. Dafa tahu kalau sahabatnya itu sangat menyukai suasana pantai. Zhafira belum beranjak. Dia masih menyandarkan kepalanya di punggung sahabatnya itu. Dia merasa nyaman hingga dia enggan untuk mengangkat kepalanya.
Zhafira menggeleng. Dia masih terdiam tanpa suara. Dia masih betah bersandar di punggung sahabatnya itu. "Jangan katakan apapun. Biarkan aku bersandar di punggungmu. Tetaplah seperti ini dan terima kasih karena masih menganggapku sebagai sahabatmu," ucap Zhafira sambil menahan air matanya.
Dafa tersenyum. Walau mungkin perasaannya pada gadis itu tidak akan pernah tersampaikan, tapi setidaknya dia bahagia karena dia bisa membuat Zhafira nyaman dan itu sudah cukup baginya. Dia tetap akan menyimpan perasaannya, hingga semesta akan menuntunnya ke arah mana cintanya akan berlabuh.
Hampir seperempat jam mereka diam tanpa berkata apa-apa. Hingga Zhafira memutuskan untuk kembali.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dafa cemas.
"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita pulang, ayahku pasti sudah pergi," jawabnya.
Dafa tidak bisa menolak. Dia kembali menghidupkan motornya dan meninggalkan tempat itu.
Di depan pintu pagar rumahnya, motor itu berhenti. Ayahnya pun sudah tidak ada di tempat itu.
"Terima kasih. Pulang dan beristirahatlah. Kamu pasti lelah karena baru habis bertanding," ucap Zhafira saat dia sudah berdiri di depan pagar rumahnya.
"Apa kamu tidak apa-apa sendirian saja di rumah?" tanya Dafa khawatir.
Zhafira tersenyum. Dia merasa senang karena Dafa masih mencemaskannya. "Aku tidak apa-apa. Sebentar lagi, mama pasti sudah pulang," jawabnya sambil membuka pintu pagar rumahnya.
"Pergilah, aku baik-baik saja."
Walau enggan, Dafa akhirnya pergi. Melihat Dafa yang sudah pergi, Zhafira kemudian keluar dan menutup kembali pintu pagar rumahnya. Air matanya jatuh. Saat ini, dia tidak ingin sendiri. Dia takut sendiri. Di depan pagar rumahnya, dia duduk sambil menundukkan kepalanya. Dia mulai menangis lagi.
"Ayo, kita pergi ke rumahku," ajak seseorang yang sudah berdiri di depannya.
Zhafira mengangkat kepalanya dan melihat Dafa sudah berdiri di depannya.
"Kita ke rumahku saja dan beristirahatlah di sana. Nanti, aku akan menelepon ibumu dan memberitahunya kalau kamu ada di rumahku," ucapnya sambil maraih tangan Zhafira.
Untuk kesekian kali, Zhafira menangis lagi. Dia tidak menyangka kalau Dafa tidak benar-benar meninggalkannya.
"Hapus air matamu. Jangan perlihatkan wajah sedihmu di depan mamaku, nanti mama akan berpikir kalau aku yang sudah membuatmu menangis dan aku pasti akan dimarahinya," ucap Dafa yang membuat Zhafira tersenyum.
Di rumah Dafa, Zhafira disambut dengan pelukan dari Tante Maya, ibunda Dafa. "Kalau ibumu belum pulang kerja, kamu datang ke sini saja. Tante akan merasa senang karena ada seorang gadis cantik di rumah ini," bisik Tante Maya yang membuat Zhafira tersenyum.
"Ma, biarkan Zhafira istirahat dulu," ucap Dafa sambil memberikan segelas air putih untuk Zhafira.
Melihat raut wajah Zhafira yang terlihat lelah membuat ibunya paham. Walau dia tersenyum, tapi wajah sedihnya tidak bisa dia sembunyikan.
"Bawalah dia ke kamarmu agar dia bisa beristirahat," ucap ibunya.
"Beristirahatlah di kamarku, aku akan menemani mama di bawah. Kalau perlu apa-apa, segera panggil aku." Zhafira mengangguk. Dia tersenyum.
"Terima kasih," ucap Zhafira sambil menundukkan wajahnya.
"Jangan menangis lagi. Aku tahu kamu sedih, tapi sampai kapan kamu akan seperti ini. Tersenyumlah, kapanpun kamu sedih kamu bisa datang ke sini," ucap Dafa sambil membelai lembut rambut gadis itu.
"Istirahatlah, aku ada di bawah," ucap Dafa dan kemudian menutup pintu kamarnya.
Zhafira tersenyum. Dia menghapus air matanya. Zhafira memandangi sekeliling kamar itu dan pandangannya tertuju pada sebuah pigura yang terletak di atas meja belajar.
Zhafira berjalan mendekati meja dan melihat pigura itu. Dia tersenyum. Itu adalah fotonya bersama Dafa saat mereka marayakan kelulusan SMP dulu. Foto itu masih tersimpan baik. Bukan hanya itu, sebuah album foto yang tergeletak di atas rak tak luput dari pandangannya. Dengan penasaran, dia mengambil album foto itu dan mulai membukanya. Sekali lagi, dia tersenyum. Semua kenangannya bersama Dafa, ada di album itu.
Melihat foto-foto itu membuat Zhafira melupakan sejenak kesedihannya. Dia bersyukur, di saat dia terpuruk masih ada seseorang yang peduli padanya dan orang itu adalah Dafa, sahabat sekaligus seseorang yang pernah membuat hatinya bergetar.
Saat mereka di kelas sepuluh, Zhafira pernah merasakan sesuatu yang lain di hatinya. Dia merasa, kalau dia mulai menyukai Dafa, tapi bukan sebagai seorang sahabat. Diam-diam, dia mulai mengagumi dan menyukai pemuda itu, hingga semua lenyap ketika dia tahu kalau ternyata, Dafa menyukai seseorang.
Sejak saat itu, dia mulai membuang perasaannya itu jauh-jauh. Dia tidak ingin bertanya siapa gadis itu karena dia takut akan terluka. Dia takut akan kehilangan seorang sahabat yang nyatanya telah membuat dia terpikat.
Ditambah lagi dengan perceraian kedua orang tuanya yang membuat dia semakin tertekan. Sikapnya mulai berubah. Dia mulai menjadi gadis pemarah. Dia tidak tahan melihat tingkah pria-pria yang selalu memamerkan ketampanan mereka. Walau sikapnya telah berubah, tapi sikapnya pada Dafa tetaplah sama. Baginya, Dafa tetap sahabatnya yang tidak bisa dia buang begitu saja. Hanya Dafa yang bisa membuat dia tenang hingga sikapnya itu kembali berubah setelah dia mendapatkan donor mata dari seseorang yang tidak dikenalnya.
"Zha, apa kamu sudah tidur?" tanya Dafa dari balik pintu.
Zhafira membuka pintu kamar dan mendapati Dafa yang sudah berdiri sambil membawa semangkuk sup panas.
"Makanlah. Mama yang menyuruhku untuk membawakan sup ini untukmu," ucap Dafa sambil memberikannya mangkok sup itu.
Zhafira tersenyum. "Kita makan di bawah saja, tidak enak kalau aku makan di kamarmu," ucapnya sambil menutup pintu kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan.
Sejenak, dia merasa nyaman berada di tengah keluarga Dafa. Mereka begitu senang ketika dia datang ke rumah itu. Terutama, Tante Maya yang begitu bersemangat saat melihat dia datang. Ah, kenangan itu kembali mengusik. Kenangan masa kecilnya yang sangat berharga dan sempat dia lupakan. Kenangan yang membuatnya kembali merindukan saat-saat terindah bersama sahabatnya.