
Zhafira duduk di bangku taman sekolah sambil memperhatikan Dafa dan Ardi yang sedang bermain basket bersama teman-temannya. Pandangannya tertuju pada kedua pemuda itu yang sesekali melirik kepadanya. Baginya, Dafa adalah sahabat dan juga cinta pertamanya. Sedangkan Ardi, baginya hanya sekedar seorang kakak, tak lebih, tapi itu berbeda bagi Ardi karena jauh di lubuk hatinya dia telah menyimpan rasa untuk Zhafira.
Sejak pertama kali jumpa dengan Zhafira, Ardi mulai merasakan sesuatu di hatinya. Senyum dan tawa Zhafira ternyata bisa mengalihkan dunianya. Rasa sayang yang entah muncul sejak kapan, telah menggoyahkan hatinya hingga dia memilih untuk pindah ke sekolah yang sama dengan Zhafira. Walau kepindahannya telah meninggalkan rasa kecewa pada teman-teman setimnya.
Zhafira masih duduk tanpa melepaskan pandangan dari mereka. Sesekali dia tersenyum ketika melihat tingkah mereka yang kadang terlihat konyol. Bahkan, Kevan yang awalnya tidak menyukainya, kini mulai mencuri pandang padanya. Sikap Zhafira yang dulu selalu kasar dan tak peduli pada siapapun, kini telah berubah dan itu yang membuat Kevan mulai menaruh hati padanya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang yang sudah berdiri di sampingnya. Zhafira menatap ke arah suara itu yang sontak saja membuat dia segera bergeser dari tempat duduknya. "Boleh, silakan," jawab Zhafira.
"Aku tidak menyangka kalau Dafa sekarang sudah sangat berubah. Apalagi, dia sekarang terlihat gagah dan jago main basket," ucap orang itu yang menatap ke arah Dafa.
Zhafira menatap orang itu hingga membuat dia sadar kalau ternyata kecantikan orang itu memang sangat sempurna. Pantas jika dia telah menjadi primadona di sekolah mereka.
Orang itu adalah Dafena. Gadis cantik yang bisa membuat semua wanita menjadi iri karena kecantikannya. Gadis yang kini telah membuat Zhafira merasa khawatir karena dia takut Dafa akan kembali mencintai gadis itu dan dia takut kalau Dafa akan kembali kecewa dan terluka seperti dulu.
"Apa dia sudah punya pacar?" tanya Dafena yang sontak saja membuat Zhafira menatapnya.
"Maksudmu? Jangan pernah berpikir untuk mendekatinya, aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya seperti dulu," ancam Zhafira dengan sorot matanya yang tajam.
Mendengar ucapan Zhafira membuat Dafena tersenyum. "Tenanglah, aku tahu kamu hanya sahabatnya. Aku juga tahu dia masih sendiri, jadi apa salahnya kalau aku mendekati dia," ucap Dafena yang membuat Zhafira langsung berdiri dengan geram.
"Kalaupun kamu bisa mendekati dia, akan aku pastikan kamu tidak akan menyakitinya. Kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menghabisimu," ancam Zhafira yang kemudian pergi dari tempat itu. Dafena hanya tersenyum melihat kepergian Zhafira. Baginya, satu masalah telah terselesaikan karena Zhafira bisa menjadi penghalang untuknya mendekati Dafa.
Di dalam kelas, Dafena berusaha untuk mendekati Dafa. Dari berpura-pura meminjam pena atau menanyakan tentang pekerjaan rumah ataupun buku catatan. Dafa yang berpikir itu adalah hal biasa tidak menyadari kalau semua itu adalah cara Dafena untuk mencari perhatiannya.
"Boleh aku pinjam buku catatan fisika? Maaf, aku tadi belum selesai mencatatnya," ucap Dafena. Dafa lantas mengambil buku catatan fisika dari dalam tasnya dan memberikannya pada gadis itu.
"Ini," ucap Dafa sambil menyerahkan buku itu.
"Terima kasih, nanti setelah selesai mencatat, bukumu ini akan aku kembalikan," ujar Dafena dengan senyum. Dafa membalas senyumnya dan bergegas keluar dari dalam kelas.
Dafa yang sedari tadi belum bertemu dengan Zhafira berniat untuk menemuinya di kelasnya. Dengan langkah yang dipercepat, Dafa masuk ke dalam kelas Zhafira dan mendapatinya sedang bercanda dengan Ardi. Melihat Zhafira yang selalu tersenyum di depan Ardi membuat Dafa paham kalau Ardi perlahan telah membuat dia menjadi cemburu. Dia cemburu karena sahabatnya itu kini telah mendapatkan seseorang yang bisa membuatnya selalu tersenyum selain dirinya.
Melihat kedatangan Dafa, Zhafira berlari dan menuju ke arah pemuda itu sambil tersenyum ringan.
"Kamu kenapa? Apa yang sudah Ardi lakukan hingga kamu tersenyum seperti itu?" tanya Dafa penasaran.
"Itu rahasia," bisik Zhafira.
Mendengar jawaban Zhafira membuat Dafa melepas senyum, senyum yang baginya terasa hampa.
Di dalam kelas, mereka berkumpul bersama hingga membuat teman-teman mereka yang lain datang dan ikut berkumpul bersama mereka. Kevan yang dulu sempat menghindar dari Zhafira, kini mulai berusaha mengakrabkan diri dengannya. Walau Zhafira masih terlihat canggung, tapi dia tidak berusaha untuk menghindar. Karena bagaimanapun, Kevan masih menjadi orang yang membuat dia penasaran. Kevan, pemuda yang telah menarik perhatiannya sejak dia mendapatkan donor mata, seakan pemuda itu adalah orang yang tidak asing baginya.
*****
Melihat perubahan pada diri Dafa membuat Dafena mulai menyukai pemuda itu. Ketampanan dan kegagahan Dafa sudah membuat dia jatuh hati.
"Aku tidak menyangka, pemuda yang dulu aku tolak kini telah membuatku jatuh cinta," batin Dafena sambil melirik ke arah Dafa. Sementara Dafa, mulai menyadari kalau Dafena ternyata menyukainya. Rasa yang dulu sempat ada untuk gadis itu, perlahan ingin dia lupakan. Dia tidak ingin rasa itu muncul kembali walau sebenarnya jauh di lubuk hatinya rasa itu perlahan mulai mengganggunya.
"Aku minta maaf," ucap Dafena saat berdiri di depan Dafa.
"Minta maaf, untuk apa? Aku rasa, kamu tidak punya salah padaku," ucap Dafa heran.
"Aku minta maaf atas sikapku waktu itu ke kamu. Aku rasa waktu itu aku terlalu cepat mengambil keputusan," ucap Dafena yang mencoba mengungkap masa lalu.
"Sudahlah, itu sudah berlalu," ucap Dafa sambil tersenyum.
"Aku harap kita bisa memulai lagi dari awal," ucapan Dafena membuat Dafa mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah gadis itu.
"Maksudku, aku ingin kita bisa berteman," lanjut Dafena.
Dafa mengangguk dan tersenyum pada gadis itu. Anggukan Dafa membuat Dafena tersenyum bahagia. Dan dia tidak ingin kesempatan itu terbuang sia-sia.
Di depan pintu pagar sekolah, Dafa sudah menunggu untuk pulang bersama Zhafira. Sementara Zhafira masih di kelasnya karena hari ini adalah tugasnya untuk membersihkan kelas. Dia tidak sendiri, tapi bersama beberapa orang temannya dan juga Kevan dan Ardi yang juga bertugas dengannya.
Setelah selesai membersihkan kelas, mereka bertiga kemudian meninggalkan kelas dan menuju tempat parkiran. Mereka terkejut ketika melihat Dafa yang tengah bertengkar dengan beberapa orang pemuda. Melihat Dafa yang hampir terpojok, membuat Ardi dan Kevan segera berlari ke arah mereka.
"Jangan ikut campur, aku hanya ingin menjemput pacarku," jawab salah satu pemuda yang melirik ke arah Dafena.
"Aku bukan pacarmu lagi. Hubungan kita sudah berakhir!!" ucap Dafena sambil menangis. Melihat Dafena menangis membuat Zhafira segera menghampiri gadis itu dan merangkulnya.
"Dafa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ardi.
"Mereka ingin membawa Dafena secara paksa. Katanya, Dafena itu pacarnya, tapi Dafena menolak untuk ikut bersama mereka. Makanya aku coba menengahi, tapi mereka malah ingin menghajarku," ucap Dafa menjelaskan.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Dafena tidak ingin pergi bersama kalian," ucap Ardi yang membuat salah seorang pemuda menjadi geram. Dengan emosi, dia ingin berlari menuju Dafena, tapi Dafa segera menghalaunya.
"Baiklah, kami akan pergi dari sini. Dafena, aku minta maaf, aku hanya ingin menjelaskan semuanya," ucap pemuda itu dengan wajah memohon.
"Aku tidak perlu penjelasanmu. Hubungan kita sudah berakhir dan aku tidak ingin melihatmu lagi," ucap Dafena yang membuat pemuda itu menundukkan kepalanya.
"Aku tidak akan menyerah, aku pasti akan membuatmu kembali padaku," ucap pemuda itu sambil mengajak teman-temannya untuk pergi dari tempat itu.
Zhafira segera membawa Dafena ke tempat duduk sekedar untuk menenangkannya. "Siapa pemuda itu? Apa dia pacarmu?" tanya Zhafira hati-hati.
Dafena menggelang dan sesekali terisak. "Dia bukan pacarku lagi. Aku sangat membencinya karena dia telah berselingkuh dengan sahabatku sendiri," jelas Dafena.
Mendengar jawaban Dafena membuat Zhafira menjadi geram. Dia sangat tidak suka dengan lelaki yang tidak setia. Dia sangat membenci lelaki yang bermain gila di belakang kekasihnya. "Kalau lelaki seperti itu, memang pantas untuk kamu tinggalkan," ucap Zhafira tegas hingga membuat ketiga pemuda itu menatapnya.
"Jangan kamu tangisi lelaki seperti itu. Dia tidak pantas untuk kamu tangisi," lanjut Zhafira.
Dafena menghapus air matanya dan mulai menceritakan perihal kenapa dia memutuskan untuk pindah sekolah. Itu semua karena dia tidak ingin melihat pacarnya bersama sahabatnya yang juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Dengan berat hati, dia memilih untuk pindah sekolah dan berusaha menghindar dari mereka, tapi pacarnya itu tidak ingin begitu saja melepaskannya dan berusaha untuk membujuknya kembali padanya, tapi dia menolak.
Mendengar penjelasan Dafena membuat Zhafira merasa kasihan padanya. Dia paham dengan situasi yang kini dihadapi Dafena karena dia pernah merasa tersakiti dengan perselingkuhan ayahnya. Dia pernah merasakan rasa kecewa dan sakit hati karena perselingkuhan ayahnya itu.
"Kalau dia masih mengganggumu lagi, jangan sungkan untuk minta bantuan pada kami. Kami akan dengan senang hati membantumu," ucap Zhafira sambil memeluk dan mengelus punggung gadis itu. Dafena mengangguk dan tersenyum padanya.
"Dafa, kamu bisa kan mengantar Dafena pulang?" tanya Zhafira.
Melihat Dafa yang masih bingung, Zhafira seolah paham. "Jangan khawatir, aku akan pulang bersama Ardi. Iya, kan Ardi?" Ardi mengangguk pelan.
"Dafa akan mengantarmu pulang. Jangan pikirkan lagi masalah ini, aku yakin dia tidak akan mengganggumu lagi."
"Terima kasih, kamu sangat baik padaku."
"Sudahlah, kita kan berteman dan aku tidak akan membiarkan temanku menghadapi masalah sendiri," ucap Zhafira yang membuat Kevan semakin kagum padanya.
"Sekarang, pulanglah. Dafa akan menjagamu. Hati-hati di jalan," ucapnya saat sepeda motor yang dikendarai Dafa mulai melaju perlahan meninggalkan mereka.
"Aku minta maaf." Tiba-tiba Ardi meminta maaf pada Zhafira.
"Bukannya aku tidak ingin mengantarmu, tapi aku ada janji untuk bertemu dengan ayahku. Kamu bisa kan pulang bersama Kevan?" tanya Ardi yang membuat Kevan menatapnya heran.
"Van, aku titip Zhafira, ya," ucap Ardi yang kemudian berlari terburu-buru menuju sepeda motornya.
Kevan masih berdiri diam dan membisu. Entah apa yang harus dia lakukan. "Kalau kamu tidak ingin aku antar pulang, aku bisa memesan taxi untukmu," ucap Kevan sambil meraih ponsel di saku tasnya.
"Tidak perlu. Kamu bisa mengantarku pulang. Aku janji tidak akan melihat ke arahmu," ucap Zhafira sambil berjalan menuju sepeda motor yang sementara terparkir.
Zhafira kemudian naik ke atas motor setelah Kevan menghidupkan sepeda motornya. Selama perjalanan, wajah Zhafira selalu menunduk. Dia tidak ingin melihat ke arah wajah pemuda itu walau hanya dari balik kaca spion. Mereka terdiam. Tidak sepatah katapun terucap dari bibir mereka. Hingga tiba di depan pintu gerbang rumahnya, Zhafira kemudian turun.
"Terima kasih," ucap Zhafira.
Belum sempat Kevan pergi dari tempat itu, dia melihat Zhafira yang sementara menghindar dari seseorang.
"Aku kan sudah bilang sama Papa, jangan menemuiku lagi. Aku mohon, jangan ganggu aku lagi, Pa," ucap Zhafira sambil menangis dan berusaha menghindar dari ayahnya itu.
Ternyata, Zhafira belum bisa untuk bertemu dengan ayahnya. Dia belum ingin bertemu walau sebenarnya dia sangat merindukan ayahnya, tapi rasa kecewa yang sudah terlanjur dirasakannya seolah menjadi penghalang yang memaksanya untuk tidak memaafkan ayahnya itu.
Melihat Kevan yang belum pergi dari tempat itu membuat Zhafira berlari ke arahnya dan segera naik ke atas motornya. "Aku mohon, bawa aku pergi dari sini," ucap Zhafira sambil menyandarkan kepalanya di punggung pemuda itu dengan isakkan yang membuat Kevan menuruti permintaannya.