
Di dalam kamarnya, Kevan menatap gaun pengantin dan cincin yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Perlahan, dia kembali mengingat semua ucapan Zhafira untuknya. Ucapan yang membuat dia merasa seperti kehilangan sesuatu, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang hilang darinya.
Dari balik jendela kamarnya, Kevan menatap ke luar di mana Zhafira biasa bercanda dengan ibunya sambil melihat bunga-bunga di halaman belakang rumah mereka. Terlintas, senyuman Zhafira bermain dalam ingtannya, senyuman yang tiba-tiba membuat hatinya menjadi gelisah.
"Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Di saat melihatnya di depanku aku seakan tak peduli padanya, tapi saat melihat dia menangis di depanku kenapa hatiku ini ikut sedih?" ucap Kevan sambil mengelus dadanya.
Kevan masih berdiri di menatap taman kecil itu hingga pandangannya tertuju pada seorang gadis yang berjalan bersama ibunya dan duduk di bangku taman itu. "Zhafira?" ucap Kevan saat melihat gadis itu.
Zhafira baru saja datang dan ingin menjelaskan tentang hubungannya saat ini dengan Kevan. "Tante, maaf, kalau beberapa hari ini aku tidak sempat menemui Tante. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan buat Tante." Zhafira berusaha tegar di depan wanita itu.
"Katakanlah, Nak. Apa yang ingin kamu sampaikan," ucap wanita itu sambil menggenggam tangan Zhafira.
"Tante, aku minta maaf, karena aku sudah memutuskan untuk melepaskan Kevan." Sontak saja wajah wanita itu berubah. Ekspresi wajahnya tiba-tiba terlihat sedih. "Maksud kamu apa, Nak? Jangan bilang kalau kamu sudah tidak lagi mencintai Kevan," ucap wanita itu yang perlahan mulai menangis.
"Aku masih mencintai Kevan, Tante, bahkan sangat mencintainya, tapi aku tidak bisa lagi mempertahankan dia karena Kevan memang tidak menginginkanku ada di dekatnya," jelas Zhafira yang mulai menunduk dan menangis. Kevan yang sementara masih menatapnya mulai merasa sesuatu yang aneh saat melihat tangisan Zhafira.
"Tidak bisakah kamu bertahan sedikit lagi, Nak. Bagaimana kalau dia kembali mengingatmu dan ternyata kamu sudah tidak ada lagi bersamanya? Apa yang akan Tante jelaskan untuknya?" Tiba-tiba saja wanita itu menangis dan memeluk Zhafira. Rasanya dia tidak sanggup menerima keputusan Zhafira untuk meninggalkan anaknya. Dia sangat tahu kalau Kevan sangat mencintai Zhafira. Dia sangat tahu kalau Kevan tidak akan bisa hidup tanpa Zhafira dan kini dia harus merelakan Zhafira pergi meninggalkan anaknya.
"Maafkan aku, Tante. Aku terpaksa melakukan semua ini, karena itu jalan yang terbaik bagi kami. Aku berterima kasih pada Om dan Tante karena sudah bersedia menerimaku dan aku sangat bersyukur bisa mengenal Om dan Tante yang sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri. Aku menyayangi Om dan Tante yang begitu baik padaku dan aku harap Om dan Tante tidak membenciku karena keputusanku ini," ucap Zhafira dengan air mata yang menggenangi pelupuk matanya.
"Maafkan kami, Nak, karena kembali membuatmu terluka."
Zhafira menggeleng dan segera memeluk wanita itu dan mulai menangis. "Tidak, Tante. Aku bahagia karena Kevan pernah hadir dalam kehidupanku dan aku bahagia karena menemukan kasih sayang orang tua dari Om dan Tante. Maafkan aku, Tante, aku harus pergi," ucap Zhafira yang perlahan bangkit dan pergi meninggalkan wanita itu yang masih menangis.
Zhafira tidak sanggup melihat wanita itu menangis di depannya. Dia tidak kuasa melihat air mata wanita itu karena dia tidak ingin hatinya berubah.
Kevan yang melihat Zhafira pergi kemudian berlari turun dari kamarnya dan mengejar gadis itu, tapi sesampainya di bawah dia tidak mendapati gadis itu lagi. Kevan kemudian pergi menemui ibunya yang masih menangis. "Apa yang sudah Zhafira katakan pada Mama? Dia bilang apa sampai Mama menangis seperti ini? Jawab aku, Ma??!!" Kevan menatap ibunya yang masih menangis sesenggukan.
Wanita itu masih menangis hingga ayahnya datang dan mendekati mereka. "Semua ini karena salah Papa. Seharusnya, dulu Papa bisa menerima Zhafira, tapi karena keegoisan Papa hingga membuat kalian harus berakhir seperti ini," ucap pria paruh baya itu sambil memeluk istrinya.
"Sudahlah, Pa. Jangan dilanjutkan lagi."
"Tidak, Ma. Kevan harus tahu semuanya. Dia harus tahu kalau Papa yang sudah membuat dia mengalami kecelakaan itu karena keegoisan Papa," jawab pria itu yang kembali membuat istrinya menangis.
Mendengar perkataan ayahnya membuat Kevan semakin bingung. Dia sama sekali tidak mengerti hingga ayahnya mulai menceritakan semuanya. "Maafkan Papa karena keegoisan Papa. Kamu dan Zhafira saling mencintai. Bahkan, Papa dengar kalau kamu sudah melamar dan membelikanya cincin dan gaun pengantin. Kamu juga sudah berjanji untuk menikahinya sepulang dari Batam. Namun, kamu tidak tahu kalau sebenarnya tujuanmu ke Batam untuk dijodohkan dengan anak teman Papa. Saat Papa memberitahumu untuk melepaskan Zhafira dan menerima perjodohan itu, kamu menolak bahkan ... " Pria paruh baya itu menghentikan ucapannya dan menghapus air matanya yang jatuh. Dia teringat kembali saat dia mengusir Kevan dari hotel. Dan kembali air matanya terjatuh.
"Malam itu, Papa mengusirmu dari hotel tanpa memberikanmu apa-apa, bahkan ponselmu Papa hancurkan agar kalian tidak bisa saling menghubung dan di malam itu juga orang tua Zhafira mengalami kecelakaan dan meninggal dunia."
Kevan tersentak mendengar penjelasan ayahnya. Dadanya terasa sesak dan air mata yang jatuh saat mendengar itu semua.
"Malam itu teman-temanmu berusaha untuk menghubungimu, tapi tidak bisa hingga kamu menelepon ibumu dan saat itulah kamu tahu kalau Zhafira sedang berduka. Karena khawatir dengan Zhafira, kamu kembali ke kamar hotel dan mengambil tiket pesawat yang sudah kamu beli dan ingin pulang saat itu juga, tapi di depan hotel kamu mengalami kecelakaan," jelas pria itu yang masih menitikkan air mata.
"Anakku, maafkan Papa karena sudah memisahkan kalian berdua. Papa merasa sangat berdosa karena menghancurkan cinta kalian. Di depan Papa dan Mama, kamu selalu membanggakan Zhafira dan meminta kami untuk merestui hubungan kalian, tapi keegoisan Papa telah menghancurkan semuanya." Kembali pria itu menangis tatkala mengingat saat-saat menyedihkan itu.
Kevan terdiam dan tidak bisa berkata apapun. Walau dia tidak mengingatnya, tapi dia bisa membayangkan bagaimana sedihnya Zhafira di saat itu yang harus kehilangan orang tua dan dirinya di saat yang hampir bersamaan. Sejenak, rasa bersalah mengahantui pikirannya. Dia merasa sangat berdosa pada Zhafira karena sudah memperlakukannya seperti itu. "Ma, apa yang harus Kevan lakukan sekarang? Kevan sudah terlanjur membuat Zhafira terluka. Kevan terlalu egois karena menolak kehadiran Zhafira tanpa mencoba mencari tahu tentangnya. Sekarang, apa yang harus Kevan lakukan?" ucapnya pada ibunya.
"Kami tahu, Nak, saat ini kamu pasti merasa bersalah pada Zhafira dan Mama tahu di dasar hatimu yang paling dalam, kamu masih menyimpan cinta pada Zhafira. Cobalah untuk menerima Zhafira, karena dia sudah terlalu banyak menderita. Kevan, cobalah untuk melihat Zhafira dengan mata hatimu karena Mama yakin suatu saat nanti kamu bisa mengingatnya kembali."
Kevan menundukkan wajahnya seakan ingin menutupi air mata yang jatuh tanpa sebab. Air mata yang membuat hatinya bagaikan teriris dan berdarah tanpa luka.
Kevan kemudian bergegas naik ke kamarnya dan mengambil gaun pengantin yang tergeletak di atas tempat tidurmya. Begitupun dengan cincin emas yang kini telah terpisah dengan pemiliknya yang tak lagi menginginkannya.
"Maafkan aku karena sudah menyakiti perasaanmu. Aku tidak tahu seperti apa hubungan kita di masa lalu, tapi aku akan berusaha mengingat semua itu karena akhirnya aku tahu kalau kamu ternyata orang yang sangat berarti dalam hidupku." Kevan kemudian menyimpan cincin dan gaun pengantin itu dengan harapan kalau suatu saat nanti, dia akan mengembalikannya kepada pemiliknya.
Sementara itu, Zhafira sedang menangis sesenggukan di depan makam kedua orang tuanya. Di depan gundukan tanah itu, Zhafira ingin meluapkan rasa sedihnya yang tidak mampu lagi dia tahan. "Maafkan Zhafira karena tidak mampu lagi untuk bisa bertahan. Maafkan Zhafira karena sudah membuat kalian kecewa," ucap Zhafira dengan wajah yang tertunduk.
"Hapus air matamu itu dan katakan pada mereka kalau kamu akan bahagia. Katakan kalau Kakakmu ini akan selalu ada di sisimu dan tidak akan membiarkanmu menangis," ucap Ardi dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
Zhafira kemudian bangkit dan memeluk kakaknya itu. Dia menangis dalam pelukan Ardi dengan tangis menyayat hati.
"Menangislah, luapkan semua kekesalan dan kegundahan hatimu dan setelah itu angkatlah wajahmu dan tantanglah dunia. Kakak tahu, kamu bukan orang yang cepat menyerah, karena itu jangan pernah lagi kamu menundukan kepalamu. Apapun yang ingin kamu raih dalam hidupmu, akan Kakak dukung. Asalkan kamu bahagia, Kakak akan tetap mendukungmu," ucap Ardi yang membuat Zhafira mengeratkan pelukannya.
Kakak beradik itu larut dalam kesedihan. Di tempat itu, Zhafira telah bertekad untuk membuka kembali lembaran hidup yang baru. Dia ingin melupakan semua kesedihan yang selama ini sudah menggerogoti hatinya dan berusaha untuk tetap tersenyum. Dia ingin kembali bahagia walau sumber kebahagiaannya itu sudah tak lagi bersamanya.
*****
Zhafira membuka matanya perlahan. Matahari pagi mulai tampak dari balik kain gorden yang menutup jendelanya. Zhafira tersenyum sambil menatap foto orang tuanya yang tergeletak di atas meja riasnya.
"Aku akan memulai hari-hariku dengan bahagia. Mama dan Papa tidak perlu mengkhawatirkanku karena anak kalian ini akan selalu bahagia," ucap Zhafira dengan senyum yang terpancar dari wajahnya.
"Zha, ayo cepat. Riana sudah datang, kasihan kalau dia menunggu," panggil Ardi dari balik pintu kamarnya.
"Iya, Kak. Sebentar lagi aku keluar," jawabnya sambil mengambil tasnya dari atas mejanya.
Zhafira tampak cantik dengan kebaya berwarna pink dengan bawahan kain batik yang sangat serasi di tubuhnya. Hari ini, mereka akan pergi ke acara pernikahan Vino dan Kheyla.
"Ayo, Kak, kita berangkat," ucap Zhafira sambil menggandeng tangan Riana yang juga sudah terlihat cantik dengan kebaya yang hampir mirip dengan yang dikenakan Zhafira.
Ardi tampak tersenyum melihat kedekatan dua wanita yang kini ada di depannya. Dua wanita yang sangat berarti dalam kehidupannya.
Di depan sebuah gedung, mobil mereka berhenti. Gedung itu tampak ramai dengan kehadiran para tamu undangan yang juga mengenakan kebaya dengan warna yang hampir sama. Tak hanya itu, di depan pintu utama gedung itu telah berdiri beberapa orang tentara yang terlihat tampan dengan postur tubuh yang tegap. Mereka seakan menyambut kedatangan para undangan yang datang.
Gedung itu tampak mewah dengan hiasan aneka bunga. Warna pink begitu mendominasi ruangan itu. Tamu-tamu undangan tampak tersenyum saat melihat pasangan pengantin yang sedang duduk bersanding dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajah mereka.
"Kalian baru datang?" tanya Dafena yang segera menghampiri mereka dan meraih tangan Zhafira.
"Biasa, gadis-gadis ini harus dandan dulu," jawab Ardi sambil duduk di dekat Dafa dan Revan.
"Kevan, mana?" bisik Ardi agar tidak didengar oleh Zhafira.
"Masih dalam perjalanan."
"Memangnya, tidak masalah jika mereka berdua bertemu di sini?"
"Zhafira tidak akan marah, toh Vino dan Kheyla adalah sahabat Kevan juga."
Sahabat-sahabat itu tampak bahagia menyaksikan kedua sahabat mereka yang kini sedang duduk bersanding dan saling melempar senyum bahagia.
"Akhirnya mereka berdua menikah juga. Melihat mereka di atas pelaminan, aku jadi ingin segera menikah," ucap Revan sambil menggenggam tangan Refa.
Sementara Zhafira masih menatap kedua sahabatnya itu sambil tersenyum. Zhafira ikut bahagia, karena kini kedua sahabatnya itu telah terikat tali pernikahan yang akan membuat mereka semakin dekat dan tidak terpisahkan. Sejenak, Zhafira teringat kembali dengan cincin dan gaun pengantin yang sudah dia kembalikan kepada Kevan. Perlahan, wajahnya menunduk seakan ingin menutupi kesedihan di wajahnya.
"Maaf, aku terlambat," ucap Kevan yang baru saja datang dan duduk bergabung bersama mereka.
Mendengar suara Kevan, Zhafira mengangkat wajahnya, tapi dia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Dua orang yang pernah saling mencintai, kini bagaikan dua orang asing yang tak saling mengenal. Mereka tak saling menyapa, hanya tatapan dingin tanpa makna. Hingga hati Kevan benar-benar terusik, saat melihat tatapan seseorang kepada Zhafira yang membuat hatinya bagaikan tersayat. Apakah itu yang dinamakan cemburu?