Zhafira

Zhafira
Part 49



Zhafira perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya tengah terbaring di dalam satu ruangan dengan jarum infus yang tertancap di lengan kirinya.


Kepalanya yang terasa pusing memaksanya untuk segera menutup matanya kembali. Namun, dia segera membuka matanya saat kejadian semalam melintas di ingatannya. Sontak, Zhafira bangkit dari tempat tidurnya dan hendak mencabut jarum infus yang menancap di lengannya itu.


"Jangan lakukan itu," ucap Ardi yang tiba-tiba masuk dan segera memeluk Zhafira.


"Maafkan Kakak karena tidak bisa menjagamu. Maafkan Kakak, Kakak janji tidak akan meninggalkannmu sendirian lagi," ucap Ardi menyesal.


"Jangan salahkan diri Kakak, aku baik-baik saja, tapi Kak, tolong bawa aku temui Kevan. Aku sangat mengkhawatirkannya," ucap Zhafira memohon.


"Kevan sekarang sudah di tangani oleh dokter, jadi kamu jangan khawatir lagi," jelas Ardi.


"Tidak bisa, Kak. Kevan sekarang pasti sangat membutuhkan kehadiranku, jadi aku mohon Kak, bawa aku menemui Kevan." Zhafira terus memohon dan menangis hingga membuat Ardi menjadi luluh.


"Baiklah, Kakak akan membawamu menemui Kevan."


Rasa cemas akan kekasihnya membuat Zhafira tidak peduli dengan keadaan dirinya sendiri. Walau tampak pucat, tapi Zhafira tidak peduli, asalkan dia bisa melihat Kevan, barulah hatinya bisa tenang.


Di koridor, mereka bertemu dengan teman-temannya yang baru datang. "Zha, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafena sambil memeluk sahabatnya itu.


"Aku baik-baik saja, tapi Kevan..." Zhafira menangis lagi mengingat kekasihnya itu.


"Aku yakin Kevan pasti baik-baik saja. Jangan khawatir, Kevan itu kuat, dia tidak akan mungkin meninggalkanmu lagi. Kamu percaya kan sama aku?" Zhafira mengangguk dan menghapus air matanya.


Dafa yang melihat Zhafira menangis, perlahan mendekati gadis itu dan memeluknya. Zhafira menangis dalam pelukan sahabatnya itu. Untuk kedua kalinya, Dafa memberikan kehidupan untuknya. "Terima kasih karena kamu sudah datang menemuiku, kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan. Aku bisa saja kehilangan Kevan," ucap Zhafira dengan tangisan yang semakin pilu.


"Aku akan selalu ada untukmu. Kita adalah sahabat dan sahabat harus saling menjaga." Dafena tersenyum melihat dua sahabat itu berpelukan dan menangis. Dia menyadari, kalau dia tidak pantas untuk cemburu karena cinta di antara kedua sahabat itu tulus karena persahabatan. Dafena mendekati mereka dan memeluk keduanya hingga membuat semua teman-temannya ikut memeluk mereka.


"Zhafira." Mereka semua memandang ke arah suara itu.


"Kevan," ucap Zhafira yang kemudian berlari dan memeluk Kevan yang sedang menatapnya dengan tatapan mesra.


Dalam pelukan Kevan, Zhafira menangis meluapkan rasa takut dan khawatir yang sudah menggaggunya. Kevan yang mendengar isakan tangis Zhafira kemudian merangkul dan memeluk tubuh gadis itu dengan penuh cinta. "Maafkan aku karena sudah membuatmu cemas," bisik Kevan yang kini menitikkan air mata.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhafira sambil meletakkan tangannya di pipi kekasihnya itu seakan dia ingin memastikan kalau kekasihnya itu baik-baik saja. Melihat perban di kepala Kevan membuat Zhafira kembali menangis. "Kepala kamu tidak apa-apa, kan? Kamu tidak lupa lagi sama aku, kan?" tanya Zhafira dengan air mata yang jatuh.


Mendengar ucapan Zhafira yang takut dilupakan lagi olehnya membuat Kevan mendekatkan wajahnya dan mengecup mesra bibir Zhafira. Zhafira hanya terdiam dan merangkulkan tangannya di leher pemuda itu dan membiarkan Kevan mengecup bibirnya.


Zhafira mengeratkan pelukannya dan tenggelam dalam pelukan Kevan yang tidak ingin dia lepaskan.


"Aku tidak akan pernah melupakanmu lagi. Terima kasih karena kamu, aku bisa tersadar dari koma, tapi aku minta maaf karena waktu itu aku tidak mengenalimu," ucap Kevan yang belum melepaskan pelukannya.


"Zha, aku mohon menikahlah denganku," bisik Kevan yang belum juga melepaskan pelukannya. Zhafira mengangguk dan menahan tangis bahagia.


"Maafkan aku karena di malam kecelakaan yang menimpa orang tuamu aku tidak ada di sisimu. Andai aku tahu kepergianku ke Batam untuk dijodohkan dengan wanita lain, aku tidak akan pernah mau pergi ke sana dan kita tidak akan terpisah dan saling melupakan." Mendengar ucapan Kevan membuat Zhafira menatap wajah Kevan yang basah dengan air mata.


"Kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Zhafira yang membuat Kevan kembali memeluknya.


"Biarkan aku memelukmu. Aku ingin menebus semua waktuku yang terbuang karena melupakanmu. Zhafira, aku mencintaimu. Andai kamu tahu, saat aku mendengar orang tuamu meninggal di malam itu, aku sangat khawatir hingga membutku hampir gila. Aku tidak bisa membayangkan betapa kamu sangat terpukul dan sedih, sementara aku ada di tempat yang jauh. Aku ingin segera pulang dan memelukmu dan ingin mengatakan kalau aku akan selalu ada di sisimu, tapi ternyata aku sendiri yang melepasmu dari sisiku." Kevan menangis mengingat semua kejadian itu. Zhafira mengeratkan pelukannya dan mengelus punggung kekasihnya itu.


"Aku tahu kalau kamu sangat mecintaiku. Entah itu Kevan yang sekarang atau Kevan yang dulu. Bagiku, kamu tetaplah Kevan yang sama. Kamu adalah orang yang sangat berarti bagiku dan aku tidak ingin lagi kehilanganmu. Yang aku minta darimu hanyalah kehadiranmu di sisiku dan tidak akan pernah lagi pergi meninggalkanku," ucap Zhafira yang membuat Kevan mengangguk.


"Aku janji, aku tidak akan pernah lagi meninggalkanmu. Aku janji." Zhafira menghapus air mata di pipi Kevan dan tersenyum padanya.


"Ayo, kita temui mereka. Mereka pasti senang karena ingatanmu sudah kembali," ucap Zhafira sambil menggenggam tangan kekasihnya itu dan berjalan menemui teman-temannya yang sedari tadi melihat tingkah mereka berdua.


"Kevan, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ardi yang langsung saja dipeluk oleh Kevan.


"Maafkan aku karena tidak mengingat kakak iparku sendiri," ucap Kevan hingga membuat Ardi melepaskan pelukannya dan menatap ke arahnya. "Maksud kamu, kamu sudah bisa mengingatku?" Kevan mengangguk. Mendengar jawaban Kevan membuat Ardi kembali memeluk pemuda itu dan menangis. "Terima kasih karena kamu masih mengingatku," ucap Ardi sedih.


"Tunggu, apa maksudmu ingatan kamu sudah kembali dan kamu sudah mengingatku?" tanya Revan seakan tak percaya.


Kevan lantas memeluk sahabatnya itu. "Maaf, karena aku tidak mengingatmu, tapi sekarang aku sudah ingat kalian semua. Masa-masa kita di sekolah dulu dan semua kenanganku bersama Zhafira, aku sudah ingat semuanya."


Mendengar ucapan Kevan membuat mereka senang dan juga terharu. Mereka terharu karena melihat senyum di wajah Zhafira yang tampak bahagia.


"Syukurlah kalau bagitu, tapi kepala kamu tidak terluka parah, kan?" tanya Dafa.


"Kepalaku baik-baik saja. Semalam, belakang mobilku dihantam mobil lain hingga kepalaku terbentur di kemudi mobil. Kata dokter, kondisi kepalaku baik-baik saja dan hari ini juga aku sudah bisa pulang," jelas Kevan.


"Dafa, aku sangat berterima kasih padamu. Kalau bukan karena dirimu, semalam mungkin aku sudah ... "


"Sudahlah, kalau mau berterima kasih, tuh sana ke kakak ipar kamu. Kalau bukan karena Ardi yang meneleponku, mungkin aku juga tidak akan pernah tahu kejadian semalam," jelas Dafa sambil melirik ke arah Ardi.


Mendengar penjelasan Dafa membuat Zhafira memeluk Ardi dan menangis. "Jangan menangis lagi, kalau kamu menangis aku juga akan menangis." Ardi berusaha untuk menahan tangis hingga Riana datang dan menggenggam tangannya.


"Tapi, kapan kamu akan memberikan kami keponakan? Kamu saja belum menikah," celetuk Vino seakan mengejek.


"Nanti, kalau Zhafira dan Kevan sudah menikah, baru aku dan Riana akan menikah. Iya, kan sayang?" tanya Ardi sambil menggenggam tangan Riana yang menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku tunggu undangan kalian. Dan aku juga ingin bilang sama kalian semua kalau kalian bukan mendapatkan keponakan dari Dafa dan Dafena saja, karena istriku yang cantik ini akan memberikan kalian dua keponakan sekaligus," ucap Vino sambil mengelus perut Kheyla


"Apa benar itu, Vin? Sekarang Kheyla sedang mengandung anak kembar?" tanya Revan yang masih tidak percaya dengan penuturan Vino.


"Iya, aku sudah memeriksa ke dokter dan aku sudah dinyatakan mengandung bayi kembar," ucap Kheyla yang membenarkan ucapan suaminya hingga membuat mereka memeluknya.


"Selamat, ya. Aku akan mempunyai tiga keponakan. Ah, senangnya," ucap Zhafira sambil memeluk Kheyla.


"Melihat kalian seperti ini membuat aku jadi iri. Vino ternyata hebat juga, sekali saja bisa dapat kembar, lalu aku ... " Wajah Revan terlihat sedih, tapi tak lama karena Refa sudah datang dan memeluknya.


"Kita menikah saja kalau begitu. Memangnya, kamu mau anak berapa?" tanya Refa sambil berbisik di telinganya.


Revan tersenyum saat Refa berbisik mesra di telinganya. "Aku ingin membuat satu regu basket untuk anak-anak kita, itupun kalau kamu tidak keberatan. Kalau lebih juga tidak apa-apa, aku siap," jawab Revan yang membuat Refa tersenyum kecut.


"Kamu mau lima anak? Dan kalau lebih juga tidak apa-apa?" tanya Refa spontan.


"Bukannya tadi kamu yang tanya, ya aku jawab, tapi kalau tidak mau ya ... " Refa segera mencium mesra pipi pemuda itu hingga membuatnya terdiam.


"Baiklah. Kalau itu yang kamu mau, aku bisa apa. Yang penting kamu nikahi aku dulu, setelah itu ... " Revan lantas mendaratkan ciuman ke bibir Refa hingga membuat Refa terdiam.


"Revan, jangan begitu. Aku malu dilihat sama mereka."


"Lanjutkan saja, kami akan pura-pura tidak melihatnya, asalkan kalian bahagia kami juga turut bahagia," ucap Vino yang pura-pura melihat ke tempat lain.


Mereka tertawa melihat tingkah Vino dan Revan yang selalu saling mengejek. Kebiasaan dari sekolah dulu hingga sekarang masih melekat di diri keduanya.


"Sebaiknya kita pulang, kasihan Kevan dan Zhafira masih harus istirahat," ucap Kheyla yang paham karena melihat pasangan kekasih itu yang sepertinya ingin berdua saja.


Zhafira berjalan mendekati Dafena dan memeluknya. "Aku senang karena Dafa bisa mendapatkan wanita sepertimu. Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan untuk sahabatku itu. Jaga keponakanku baik-baik dan juga dirimu. Aku berjanji, aku juga akan bahagia bersama Kevan," bisik Zhafira sambil memeluk Dafena.


"Aku akan ingat pesanmu itu. Terima kasih juga karena sudah mempercayakan aku untuk bersama dengan Dafa. Kalau bukan karena kamu, mungkin sekarang Dafa bukan suamiku," ucap Dafena dengan senyum.


Zhafira kemudian memeluk Dafa dan juga teman-temannya. "Cepat sembuh, setelah itu menikahlah. Kami tidak ingin kalian terpisah lagi," ucap Refa yang membuat pasangan kekasih itu tersenyum.


"Kak Ardi, izinkan aku menemani Kevan di rumah sakit. Boleh, ya?" tanya Zhafira memohon.


"Iya, Kakak izinkan. Kevan, tolong jaga adikku ini. Nanti kalau kamu sudah keluar dari rumah sakit, hubungi aku biar aku datang menjemputnya."


"Tidak usah, Kak. Aku belu ... "


"Kenapa? Kamu belum mau pulang?" Zhafira tersenyum malu dan menggenggam tangan Kevan hingga membuat Kevan tersenyum.


"Nanti aku yang akan mengantarnya pulang. Tidak masalah, kan?" sela Kevan yang membuat Zhafira tersenyum.


"Ternyata kalian berdua sama saja. Ya sudah, tapi ingat kalian jangan berbuat yang macam-macam. Kalau kalian terus seperti ini, lebih baik kalian menikah saja," ucap Ardi.


"Aku akan segera menikahinya setelah aku keluar dari rumah sakit, jadi kamu tidak usah khawatir. Lagipula, aku juga tahu kalau kamu sudah ingin cepat-cepat menikah dengan Riana," ucap Kevan yang membuat Ardi menatapnya.


"Sok tahu," jawab Ardi yang berusaha menutupi senyumannya.


"Cieee..., Kak Ardi sudah minta kawin, ya?" ejek Zhafira yang membuat Ardi salah tingkah.


"Tenang saja, Kak. Riana juga sudah bilang padaku kalau dia akan menunggu Kakak."


Ardi kembali tersenyum dan memeluk Zhafira. "Kalau kamu sudah menikah dengan Kevan baru Kakakmu ini menikah. Sekarang, fokus saja pada hubunganmu dengan Kevan. Kakak akan selalu mendukung kalian." Zhafira mengangguk.


"Kakak pergi dulu, kasihan Riana menunggu di bawah," ucap Ardi sambil memeluk Kevan dan Zhafira.


Zhafira melambaikan tangan dan tersenyum pada kakaknya itu yang perlahan menghilang di tikungan koridor.


"Ayo, kita ke ruanganku," ajak Kevan sambil berjalan menggenggam tangan Zhafira.


Zhafira tersenyum mengikuti langkah Kevan dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat lebih mewah dari ruangan lainnya. "Sekarang hanya tinggal kita berdua," ucap Kevan sambil meraih tubuh Zhafira dan mendekatkan wajah cantik Zhafira ke arahnya.


"Kamu mau apa?" tanya Zhafira yang masih memandangi wajah kekasihnya itu.


"Aku belum puas memelukmu. Rasanya, aku ingin segera memilikimu," ucap Kevan sambil mendaratkan ciumannya ke kening Zhafira.


Zhafira tersenyum dan menundukkan wajahnya karena tersipu malu. Kevan mengangkat dagu Zhafira dan memandangi seraut wajah cantik yang sudah membuat dia jatuh cinta. "Aku mohon, menihkahlah denganku," ucap Kevan yang membuat Zhafira mengangguk dan memeluk tubuh kekar Kevan dan tenggelam dalam pelukan lelaki itu.