
Walau berat, Ardi harus bisa melupakan perasaannya pada Zhafira. Dia akan tetap menyayangi Zhafira, tetapi sebagai seorang kakak pada adiknya, tak lebih. Walau semua akan terasa sulit, tapi dia harus mencoba agar hatinya tidak tertekan dan dia bisa lepas dari perasaan itu.
Sebuket bunga mawar dan sekotak coklat yang sudah dipersiapkan untuk mengungkapakan rasa cintanya pada Zhafira, tetap akan dia berikan, tetapi dengan niat yang berbeda.
"Aku harap kamu akan bahagia dengan keluarga baru kita nanti," ucap Ardi sambil memberikan buket bunga dan sekotak coklat itu untuk Zhafira. Dengan tersenyum, Zhafira menerima pemberiannya itu.
"Apa boleh aku memelukmu?" tanya Ardi.
Zhafira lantas menghampiri dan langsung memeluknya. Bagi Zhafira, ini adalah pelukan dari seorang adik untuk kakaknya, tapi bagi Ardi ini adalah pelukan terakhir dari seorang lelaki untuk wanita yang dicintainya. Pelukan yang akan menghapuskan semua rasa cintanya dan berganti menjadi pelukan sebagai seorang kakak pada adiknya.
"Aku akan menjagamu dan menyayangimu seperti aku menjaga dan menyayangi Rani. Aku akan menjadi kakak yang bisa kamu andalkan, apapun masalah yang kamu hadapi, tolong ceritakan padaku agar aku bisa membantumu," ucap Ardi yang membuat Zhafira tersenyum dan mengangguk.
"Apa boleh aku memakan coklat ini?" tanya Zhafira yang sudah tidak sabar untuk menyantap coklat kesukaannya itu.
"Makanlah."
Zhafira lantas membuka bungkusan coklat itu dan mengambil sepotong coklat. "Ini buat Kak Ardi, aku harap keluarga kita akan selalu bahagia. Ayah dan ibu kita akan selalu saling mencintai dan bahagia selamanya," ucap Zhafira sambil menyodorkan potongan coklat itu ke mulut Ardi. Ardi mengangguk dan menerima potongan coklat itu dari suapan tangan Zhafira.
Kedua kakak beradik itu kemudian tertawa bersama. Mereka begitu menikmati kebersamaan sebagai suatu keluarga. Ayah dan ibu mereka sangat bahagia saat melihat anak-anak mereka sangat akrab dan saling menyayangi.
*****
Begitu banyak cerita yang ingin Zhafira sampaikan kepada Dafa. Dia tidak sabar untuk membagi cerita bahagia kepada sahabatnya itu. Setibanya di rumah, Zhafira lantas meminta izin untuk pergi ke rumah Dafa.
Dengan tersenyum, Zhafira mengetuk pintu rumah Dafa dan langsung masuk ke dalam rumah itu. Hal itu sudah biasa dia lakukan. Rumah Dafa seperti rumahnya sendiri, dia bebas keluar masuk karena semua penghuni rumah itu sudah menganggapnya seperti keluarga.
Melihat Dafa yang sedang berdiri membelakanginya membuat Zhafira berjalan perlahan dan langsung menutup kedua mata Dafa dengan tangannya. "Jangan bercanda, itu kamu kan, Zha," ucap Dafa yang membuat Zhafira tersenyum. Dengan mudah, Dafa bisa menebak, karena dia tahu orang yang selalu melakukan hal itu padanya hanyalah Zhafira.
"Zhafira," ucap Dafa sambil membalikkan badan dan mendapati Zhafira yang langsung memeluknya.
Entah mengapa, di pelukan Dafa dia merasa nyaman hingga membuatnya tidak sadar kalau Dafena dan Tante Maya, Ibunda Dafa sedang melihat ke arah mereka.
Spontan, Zhafira lantas melepaskan pelukannya dan segera berlari menuju Tante Maya dan mengambil nampan yang sedang dibawa oleh wanita itu.
"Kamu terlihat sangat bahagia, memangnya ada hal apa yang membuatmu sebahagia itu?" tanya Maya yang mencoba mencairkan suasana. Dia tahu, Dafena pasti salah paham karena melihat Zhafera yang memeluk Dafa, padahal itu sudah biasa mereka lakukan kalau salah satu di antara mereka sedang bahagia.
Dafena yang sempat merasa cemburu, berusaha menutupi rasa cemburunya itu dengan tersenyum. Zhafira mengerti itu dan berusaha agar Dafena tidak lagi salah paham padanya.
"Aku tidak tahu kalau kamu ada di sini. Aku minta maaf, kalau sikapku tadi pada Dafa terlalu berlebihan," ucap Zhafira tulus.
"Sudahlah, aku mengerti, kok," jawab Dafena yang berusaha tersenyum.
"Apa kalian biasa sedekat itu?"
"Persahabatan kami sedari kecil sudah membuat kami seperti kakak adik. Bagiku, Dafa seperti kakakku sendiri dan orang tua kami juga sudah berteman sejak mereka masih muda dulu," jelas Zhafira.
"Apa kamu keberatan kalau aku hadir di antara kalian berdua?" tanya Dafena mencoba untuk mencari tahu perasaan sahabatnya itu.
"Untuk apa aku harus keberatan? Aku tahu kamu sayang pada Dafa dan aku senang karena sekarang ada kamu yang akan selalu menjaganya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua," jawab Zhafira yang membuat Dafena tersenyum.
"Jangan khawatir, aku janji mulai sekarang aku akan mencoba menjaga perasaanmu itu. Maafkan aku kalau sikapku tadi sudah membuatmu cemburu," ucap Zhafira mencoba untuk menjelaskan.
"Terima kasih kalau kamu mengerti, aku hargai itu."
Zhafira memilih mengurungkan niatnya untuk membagi cerita dan bahagia yang kini dia rasakan pada sahabatnya itu. Dia tidak ingin membuat Dafena terluka dan menganggapnya sebagai pengganggu hubungan mereka, karena itu dia akan berusaha bersikap biasa pada Dafa walau mungkin semua butuh proses.
*****
Zhafira sudah bersiap-siap pergi ke sekolah. Dia ingin bergegas pergi lebih awal karena tidak ingin bertemu dengan Dafa yang selalu datang menjemputnya. Dia sudah bertekad untuk pergi sekolah sendirian tanpa sahabatnya itu.
Baru saja dia ingin keluar rumah, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Zhafira kemudian bergegas membuka pintu rumahnya itu. "Ardi?" Pemuda tampan itu sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang tersenyum.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menjemput adikku sendiri?" tanya Ardi dengan sebuah senyum yang bisa membuat hati setiap wanita menjadi luluh.
Zhafira tersenyum. Setelah berpamitan pada ibunya, mereka kemudian pergi dan membuat seseorang tampak kecewa saat melihat kepergian mereka.
Setibanya di sekolah, mereka berdua menjadi pusat peehatian. Bagaimana tidak, Zhafira yang biasanya selalu ke sekolah bersama Dafa, kini datang bersama salah satu cowok yang menjadi idola semua cewek di sekolah itu. Apalagi dengan sikap Ardi yang terlihat sangat memanjakan gadis itu.
Dengan sikap seperti itu membuat orang yang melihat kedekatan mereka akan berpikir kalau mereka adalah pasangan kekasih. Ardi yang berjalan sambil merangkulkan tangannya di bahu Zhafira dan terlihat selalu tersenyum pada gadis itu, sudah cukup membuat semua mata melihat ke arah mereka.
"Kak Ardi, kenapa mereka melihat kita seperti itu?" tanya Zhafira polos.
"Jangan pedulikan mereka. Mulai sekarang, aku yang akan menjemput dan mengantarmu pulang. Dan satu hal lagi, mulai saat ini kamu tidak bisa seenaknya pacaran tanpa izin dariku, paham!!" ucap Ardi yang membuat Zhafira segera melepaskan rangkulan tangannya.
Tiba-tiba, langkah Zhafira terhenti. Di depan Kevan, Zhafira terpaku dan tidak bisa melakukan apapun selain menatap pemuda itu dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kamu kenapa?" tanya Kevan heran.
Melihat sikap Zhafira yang mulai berubah, Ardi lantas meraih tangannya dan membawanya ke dalam kelas. "Zha, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ardi sambil menggenggam tangannya.
"Kak Ardi, kenapa saat melihat dia aku selalu merasa sedih? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus jujur padanya tentang Rani?"
Ardi terdiam. Dia paham dengan perasaan Zhafira yang merasa tertekan. "Kalau itu jalan yang terbaik, aku akan membantumu untuk menjelaskannya pada Kevan. Bagaimanapun juga, dia harus tahu tentang Rani," jawab Ardi.
Kevan yang melihat kedekatan mereka sempat berpikir kalau mereka punya hubungan yang lebih dari sekedar teman. Melihat Ardi yang selalu menggenggam tangan Zhafira, bahkan tak segan untuk membelai rambut Zhafira membuat Kevan yakin kalau mereka berdua sudah berpacaran.
Sikap Ardi dan Zhafira yang tiba-tiba dekat, sontak menjadi buah bibir. Tak sedikit yang cemburu ketika tahu kalau Ardi, cowok idola mereka ternyata sudah mempunyai kekasih. Bahkan, ada yang menganggap Zhafira sebagai wanita penggoda karena sudah berhasil mendapatkan seorang Ardi.
"Apa kalian berdua ini sudah berpacaran?" tanya Kheyla saat mereka sedang berkumpul bersama.
Mendengar pertanyaan itu, Ardi lantas meraih tangan Zhafira dan menggenggamnya dengan mesra. "Apa kita harus jujur pada mereka kalau kita berdua sudah berpacaran?" tanya Ardi yang membuat Zhafira menahan tawa.
"Apa itu benar?" tanya Vino yang ikut penasaran.
"Kenapa? Apa kalian ada yang cemburu karena tahu kami berdua sudah berpacaran? Ah, maaf, kalau kalian cemburu," ucap Ardi sambil merangkul Zhafira hingga membuat mereka semakin yakin kalau mereka berdua telah berpacaran.
"Sudahlah, Kak, jangan bercanda terus," ucap Zhafira yang spontan membuat teman-temannya semakin penasaran.
"Wah, sekarang panggilan sayang kamu ke Ardi itu Kak?" tanya Vino polos.
"Iya, sekarang dia adalah kakakku dan kalian jangan macam-macam padaku karena kakakku ini yang akan menjagaku," jelas Zhafira yang membuat mereka semakin bingung.
"Maksud kalian apa, sih? Sudahlah, kalian mau pacaran kek, adik kakak kek, aku sudah tidak peduli lagi," ucap Vino yang mulai kesal.
Melihat teman-teman mereka yang sukses mereka jahili membuat Ardi tertawa lepas. "Apa yang dibilang Zhafira itu memang benar. Kami berdua sekarang kakak adik karena orang tua kami sebentar lagi akan menikah," jelas Ardi.
"Apa!!" ucap mereka kompak.
"Iya, ibuku akan menikah dengan papanya Kak Ardi, jadi otomatis kan kalau kami berdua jadi kakak adik," jelas Zhafira yang membuat teman-temannya manggut-manggut.
"Kenapa tidak dijelaskan dari tadi, bikin kami salah paham saja," ucap Refa.
"Maaf," ucap Ardi dan Zhafira kompak.
Walau terlihat bahagia, tetapi Zhafira tidak bisa menyembunyikan perihal Rani dari Kevan. Setelah memantapkan hatinya, Zhafira bertekad untuk berterus terang tentang Rani pada pemuda itu.
"Boleh kita bicara sebentar?" tanya Zhafira pada Kevan saat jam istirahat.
"Boleh, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kevan.
Zhafira menatap pemuda itu dengan raut wajah yang terlihat sedih. Perlahan, Zhafira mengeluarkan selembar foto dari sakunya dan menyerahkannya kepada Kevan.
Saat melihat foto itu, tangan Kevan bergetar. Foto yang membuat Kevan mengingat kembali wajah kekasihnya itu. "Dari mana kamu mendapatkan foto ini? Apa kamu tahu di mana Nisa sekarang? Zha, tolong jawab?" Sambil mengguncangkan kedua bahu Zhafira, Kevan menghujani Zhafira dengan pertanyaan yang tentu saja membuat Zhafira menitikkan air mata.
"Kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu pada Nisa? Zhafira, aku mohon, jawab pertanyaanku," ucap Kevan yang membuat Ardi segera mendekati pemuda itu.
"Aku yang akan menjelaskannya," ucap Ardi yang membuat Kevan berpaling padanya.
"Ardi, kamu juga tahu tentang Nisa?"
"Aku tahu segalanya tentang dia, bagiku dia bukan Nisa, tetapi Rani," ucap Ardi yang membuat Ardi menjadi bingung.
"Aku tidak mengerti dengan kalian berdua. Maksud kalian apa dengan memberikan foto Nisa padaku? Dan kenapa kalian diam saat aku menanyakan tentang Nisa?" Kevan terlihat semakin sedih. Perasaan sedih karena kehilangan sosok Nisa yang pergi meninggalkannya begitu saja, yang perlahan ingin dia lupakan, kini muncul kembali dengan hadirnya selembar foto yang sudah menggoyahkan hatinya. Semua kenangan tentang Nisa yang ingin dia lupakan, perlahan mulai mengganggu hatinya.
"Kevan, aku sangat paham dengan perasaanmu. Rani atau yang biasa kamu panggil Nisa itu adalah adik kembarku. Selama ini, aku tahu kamu adalah orang yang dia sayangi, tetapi aku tidak bisa berterus terang tentang Rani padamu. Aku pikir, mungkin sebaiknya kamu tidak perlu tahu tentang dia."
Ucapan Ardi membuat Kevan terkejut. Gadis yang selama ini dia cari, ternyata mempunyai seorang kakak yang sudah menjadi sahabatnya.
"Maksud kamu, kalian berdua adalah saudara kembar? Terus, apa hubungannya dengan Zhafira? Dan sekarang, kamu bisa beritahu aku kan di mana Nisa?" Kevan terus melontarkan pertanyaan yang membuat dia semakin penasaran. Rasa ingin tahu tentang keberadaan Nisa membuat dia tidak bisa mengontrol perasaannya itu.
Dafa yang kebetulan berada bersama mereka mencoba untuk menenangkan Kevan. "Kevan, sabar. Biarkan Ardi menjelaskan semuanya," ucap Dafa yang berusaha membuat sahabatnya itu tenang.
"Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya, tetapi aku mohon agar kamu bisa menahan diri. Adikku, Rani telah meninggal," jelas Ardi yang sontak saja membuat Kevan terperanjat.