Zhafira

Zhafira
Part 34



Hari itu, Zhafira tampak bahagia saat melihat ibunya yang sudah terlihat cantik, karena hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka dan mereka ingin merayakannya dengan makan malam bersama.


"Kalian berdua kenapa tidak mau ikut makan malam sama Papa dan Mama? Ayolah, temani Papa dan Mama, masa kalian hanya di rumah saja?" keluh Riska yang akan pergi makan malam bersama suaminya yang juga sudah berdiri di sampingnya.


"Kami berdua di rumah saja. Kami tidak ingin mengganggu keromantisan Mama dan Papa. Kalau ada Kevan, aku pasti akan ikut dan mengajaknya, tapi maaf, Ma, aku ingin di rumah saja karena sebentar lagi Kevan akan meneleponku," ucap Zhafira manja sambil memeluk ibunya dari belakang.


"Terus, apa kamu juga tidak mau ikut Mama dan Papa?" tanya Wira pada Ardi yang sementara duduk sambil menunggu chat dari Riana.


"Kalau Ardi pergi, nanti Zhafira akan sendiri. Lagipula, masa Ardi mau jadi obat nyamuk terus," ucap Ardi yang tiba-tiba tersenyum karena mendapat chat dari Riana.


"Ya sudah, Mama dan Papa pergi dulu. Ardi, jaga adik kamu," ucap Wira sambil membuka pintu mobil untuk istrinya.


"Iya, Pa," jawab Ardi sedikit cuek.


"Zha, Mama dan Papa pergi dulu. Sepertinya mau turun hujan, kalau Mama belum pulang dan kamu takut sendirian di kamar, kamu panggil Kak Ardi saja biar Kak Ardi menemani kamu," jelas wanita itu yang membuat Zhafira mengangguk.


"Papa dan Mama hati-hati di jalan. Aku akan menunggu Mama dan Papa pulang," ucap Zhafira sambil memeluk ibunya itu.


Zhafira melambaikan tangan saat mobil itu pergi. Zhafira menatap langit yang tak berbintang karena tertutup awan mendung yang diiringi kilatan putih yang tidak bersuara. Zhafira kemudian masuk saat beberapa tetes air hujan perlahan mulai jatuh.


Di dalam kamarnya, Zhafira masih menunggu telepon dari Kevan, tapi sampai satu jam kemudian, Kevan masih belum menghubunginya.


Akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi pemuda itu, tapi nomornya sudah tidak aktif. "Kenapa dia tidak menghubungiku dan kenapa ponselnya tidak aktif? Apa sesuatu terjadi padanya? Ah, aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak. Semoga dia baik-baik saja," batin Zhafira yang kemudian lari dan masuk ke kamar Ardi karena tiba-tiba saja gemuruh suara petir menggelegar seiring suara hujan yang tiba-tiba turun dengan deras..


"Kenapa ke sini? Sana, ke kamarmu?"


"Aku di sini ya, sama Kakak."


"Kenapa? Sudah sebesar ini kamu masih takut sama hujan?" tanya Ardi yang membuat Zhafira segera berlari ke arahnya karena tiba-tiba saja petir menyambar yang terdengar seperti suara bom.


Melihat ketakutan di wajah adiknya itu membuat Ardi segera memeluknya. Zhafira tampak gemetar saat mendengar suara petir yang bergemuruh yang di selingi dengan derasnya air hujan yang jatuh membasahi bumi.


"Zha, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ardi yang tiba-tiba panik karena melihat Zhafira yang gemetar dengan keringat yang membasahi bajunya. "Kak Ardi, aku ingin bertemu Mama. Aku ingin Mama segera pulang," ucap Zhafira yang mulai menangis.


"Iya, Kak Ardi akan segera menelepon Mama. Kamu tunggu, ya."


Ardi kemudian mengambil ponselnya dan menelepon mama dan papanya, tapi kedua nomor itu tidak aktif.


"Kenapa ponsel mama dan papa tidak aktif? Aku harus bagaimana?" Ardi menjadi panik saat tiba-tiba Zhafira mulai mengigau dalam tidurnya.


Zhafira yang terlihat menangis mulai memanggil-manggil mama dan papanya. Dia berteriak histeris saat dia terbangun dengan keringat yang membasahi bajunya.


"Zha, kamu kenapa?"


Zhafira langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamar dan menuju di depan pintu rumah mereka. Sambil menangis, Zhafira berjalan mondar-mandir di tempat itu seakan sedang menunggu sesuatu. Ardi yang melihat tingkah Zhafira lantas segera memeluknya. "Kamu kenapa?"


Zhafira tidak berkata apapun, tapi dia hanya menangis hingga dia mengucapkan sesuatu yang membuat Ardi semakin merasa ketakutan. "Aku melihat papa dan mama berjalan bersama Rani. Mereka berjalan meninggalkanku walau aku terus memanggil mereka. Mereka hanya tersenyum dan kemudian menghilang," ucap Zhafira dengan suara bergetar dan tubuh yang gemetar.


Mendengar penjelasan Zhafira membuat Ardi memeluk adiknya itu dengan erat dan berharap apa yang dikatakan Zhafira hanyalah bunga tidurnya. Hingga tiba-tiba, dia dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering.


Ardi mengangkat ponselnya dengan tangan yang gemetar. "Hallo."


"Apa benar ini anaknya Pak Wira Wiryawan?" tanya suara yang meneleponnya hingga membuat jantung Ardi berdetak hebat. "Benar, kenapa dengan Papa?"


"Maaf, sebaiknya kamu datang saja ke Rumah Sakit Bakti Husada karena orang tuamu mengalami kecelakaan," jawab suara itu yang sontak saja membuat tubuhnya melemas.


"Kak Ardi, ada apa?" tanya Zhafira yang semakin penasaran.


"Kita harus segera ke rumah sakit, ayo," ucap Ardi yang langsung menarik tangan Zhafira. Tanpa peduli dengan hujan yang kian deras, mereka berdua menaiki sepeda motor dan pergi menuju rumah sakit.


Di depan ruangan itu, Zhafira tiba-tiba merasa pusing. Matanya tiba-tiba buram dengan tubuh yang melemah bagaikan kehilangan sendi-sendinya yang akhirnya membuatnya ambruk ke lantai.


"Zha!!" pekik Ardi sambil memeluk tubuh Zhafira yang sudah tidak sadarkan diri. Dengan dibantu salah satu perawat, Zhafira kemudian dibawa ke ruang UGD untuk segera mendapatkan pertolongan.


Karena tubuhnya yang tiba-tiba drop, Zhafira akhirnya mendapatkan suntikan infus di tangannya. Sementara Ardi yang mencoba menahan tangis dan mengumpulkan keberanian di hatinya, mulai melangkahkan kaki dan memasuki ruangan di mana orang tuanya kini berada.


Dengan menahan tangis, Ardi membuka kain yang menutupi dua jenazah yang tergeletak berdampingan. Tangannya yang gemetar perlahan mengangkat kain yang menutupi wajah salah satu jenazah. Saat melihat wajah jenazah itu, Ardi langsung terduduk dan menangis. Dia tidak kuasa melihat jenazah itu yang ternyata adalah ayahnya.


Ardi menangis sesenggukan di sisi jenazah ayahnya. Entah apa dia masih mampu untuk melihat jenazah ibunya yang kini sudah terbujur kaku di samping jenazah ayahnya.


Ardi yang sudah tidak mampu untuk bergerak tetap memaksakan diri untuk bisa melihat jenazah ibunya. Dan dia kembali terduduk lesu saat melihat wajah ibunya yang penuh dengan darah.


Melihat kondisi jenazah kedua orang tuanya membuat Ardi menangis sesenggukan. Entah apa yang akan dia katakan pada Zhafira saat dia siuman nanti. Apakah dia mampu menjaga Zhafira seperti pesan terakhir orang tuanya?


Kecelakaan yang menimpa orang tua mereka terjadi karena petir yang menghantam sebuah pohon di sisi jalan hingga pohon itu roboh tepat saat mobil orang tua mereka melintas dan jatuh mengenai mobil mereka. Dan di saat itulah, Zhafira tiba-tiba memimpikan kedua orang tuanya yang pergi bersama Rani.


Malam itu, Ardi menemani Zhafira yang masih tidak sadarkan diri. Sambil menggenggam tangan adiknya itu, Ardi menangis hingga membuat matanya merah dan membengkak.


Saat pagi tiba, Zhafira terbangun dan mendapati Ardi yang masih tertidur di sampingnya. Dilihatnya jarum infus yang menempel di lengannya dan langsung saja dia mencabutnya. Dengan kondisi yang lemah, Zhafira berjalan menuju kamar jenazah dengan ditemani salah seorang perawat.


Di depan kedua jenazah yang tergeletak berdampingan, Zhafira berdiri dan berusaha menahan tangis hingga tangisannya pecah saat melihat wajah ibunya yang penuh dengan darah.


Di depan kedua jenazah itu Zhafira menangis sesenggukkan. Dia tidak kuasa menahan rasa penyesalan karena penolakannya saat mereka memintanya untuk menemani mereka. Zhafira menangis dan tak hentinya mengucapkan kata maaf di depan jenazah kedua orang tuanya hingga Ardi datang dan segera memeluknya.


"Mama dan Papa sudah tidak ada, kita harus bagaimana?" Zhafira terus menangis menyesali diri.


"Sabar, Zha. Kakak akan menjagamu. Jangan menangis lagi," bujuk Ardi yang sebenarnya tidak kuasa menahan tangis.


"Zha, tenanglah. Mereka sudah bahagia bersama Rani. Sudah saatnya kita melepaskan mereka karena Rani lebih mencintai mereka. Waktu kita bersama mereka memang harus berakhir sampai di sini karena sekarang adalah waktunya bagi Rani untuk bersama mereka. Kita harus ikhlas melepaskan mereka," ucap Ardi yang membuat Zhafira perlahan menghentikan tangisannya. Dia teringat kembali dengan mimpinya saat melihat mereka bertiga pergi sambil tersenyum padanya.


"Aku akan ikhlas melepaskan mereka, aku akan ikhlas," ucap Zhafira yang kemudian bangkit dan mencium tangan kedua orang tuanya yang berlumuran darah.


"Aku sangat menyayangi Papa dan Mama, tapi Tuhan ternyata lebih menyayangi Papa dan Mama. Aku dan Kak Ardi akan baik-baik saja. Mama dan Papa jangan mengkhawatirkan kami karena kami akan saling menjaga dan menyayangi seperti pesan Papa dan Mama, iya kan, Kak?" Ardi mengangguk dengan tangis yang berusaha dia tahan.


Zhafira berusaha untuk tidak lagi menangis dan memilih untuk segera mengurusi pemakaman orang tua mereka.


"Ayo, Kak. Kita bawa pulang Papa dan Mama. Mereka pasti sangat merindukan rumah."


Semalam, Ardi sudah menghubungi teman-temannya dan orang tua Dafa. Tante Maya yang mendengar berita kematian sahabatnya itu terduduk dan menangis hingga membuatnya lemas dan tak berdaya.


Pagi itu, Revan dan Vino datang membantu di rumah sakit. Sementara Kheyla, Reva dan Riana sudah menunggu di rumah dengan Tante Maya yang juga sudah datang sedari pagi.


Sementara Dafa, sudah mengambil penerbangan pagi. Dia begitu terkejut saat mendengar berita itu yang membuatnya gelisah karena memikirkan Zhafira yang saat ini pasti sangat terpukul.


Dua mobil jenazah tiba di halaman rumah mereka. Maya yang sedari tadi duduk termenung tiba-tiba bangkit dan segera memeluk Zhafira. Dia menangis sesenggukkan sambil memeluk gadis itu. "Kamu sabar, ya, Nak. Mulai sekarang, aku adalah ibumu," ucap Maya yang kembali menangis karena mengingat ucapan Riska yang pernah memintanya untuk menjadikan Zhafira sebagai putrinya andai dia telah tiada. Siapa sangka, apa yang dikatakanya itu menjadi kenyataan. Kini, dia telah pergi meninggalkan anak dan sahabatnya. Dia pergi bersama orang yang dicintainya.


Zhafira duduk tanpa suara di depan jenazah kedua orang tuanya. Tatapannya kosong dan hanya menatap lurus ke arah jenazah kedua orang tuanya itu.


Bahkan, saat Dafa tiba dan duduk di depannya, dia seakan tak peduli. Walaupun Dafa sudah mengajaknya untuk bicara, dia tidak menanggapi hingga membuat Dafa menangis dan memeluknya. "Zha, lihat aku, Zha," ucap Dafa sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Kalian sudah pulang? Kenapa kalian pulang? Aku baik-baik saja." Tiba-tiba Zhafira menanggapi mereka dengan sebuah senyuman di bibirnya yang terlihat pucat, tapi perlahan dia menangis dan menundukkan wajahnya.


"Tolong hubungi Kevan, aku sangat merindukannya. Kenapa dia belum juga pulang? Dia bilang hari ini dia akan kembali padaku, tapi kenapa dia tidak mengabariku?" Zhafira menangis di pelukan Dafa karena rasa rindunya pada kekasihnya yang saat ini sangat dibutuhkannya.


Dia ingin menangis di pelukan Kevan. Dia ingin menumpahkan rasa sedihnya di pelukan kekasihnya itu. Kini, dia sedang bersedih dan merindukan Kevan dan di sana Kevan juga merasakan hal yang sama karena merindukan dirinya.


Malam itu, tatkala Zhafira di rundung kesedihan karena kehilangan orang tuanya, saat itu pula Kevan melepaskan jati dirinya sebagai anak konglomerat karena begitu besarnya rasa cintanya untuk Zhafira yang tidak mungkin dikhianati dengan perjodohan yang sama sekali tidak diinginkannya. "Tunggu aku, aku akan segera pulang dan kembali padamu," ucap Kevan dengan air mata yang jatuh karena mengingat akan kekasihnya itu.