
Di kediaman Zhafira, tampak ramai dengan kehadiran sahabat dan saudara dekat. Pesta pernikahan yang di langsungkan secara sederhana, tidak mengurangi moment sakral itu.
Riska yang terlihat cantik dengan balutan kebaya putih, tampak tersenyum di dalam kamarnya. Dengan ditemani Maya, Riska selalu tersenyum karena digoda wanita itu.
"Aku tidak menyangka kalau sekarang aku akan menyaksikan pernikahan keduamu. Riska, kali ini jangan biarkan pelakor-pelakor jahat itu mendekati suamimu lagi. Sepertinya, suami kamu itu lelaki yang baik," ucap Maya yang membuat Riska mengangguk dengan senyum di bibirnya.
Pengalaman pernikahan dengan ayahnya Zhafira membuat Riska mulai lebih berhati-hati. Hubungan mereka yang awalnya hanya sebatas teman karena ikatan yang dibuat oleh Rani, ternyata telah menimbulkan rasa cinta yang membuat keduanya memutuskan untuk menikah.
Wira Wiryawan, sosok lelaki yang sangat baik dan setia, mampu membuka hati Riska yang hampir tiga tahun tertutup oleh cinta. Rasa sakit yang pernah dirasakan karena perselingkuhan suaminya dulu, perlahan mulai terobati dengan kehadiran lelaki itu.
Lelaki yang masih terlihat tampan dan berwibawa itu mampu membuat Riska terpukau dengan kasih sayang dan cinta yang dia berikan tulus untuknya dan Zhafira. Itulah mengapa, Riska dengan hati yang terbuka mau menerima lamaran lelaki itu.
Iring-iringan pengantin lelaki mulai terlihat. Dengan mobil berwarna silver yang dihiasi aneka bunga yang cantik, terlihat mulai memasuki halaman rumah yang sudah dipenuhi dengan tamu undangan dan sanak kerabat.
Di depan pintu, Zhafira berdiri menyambut calon ayah dan calon kakak yang sedari tadi dinantinya. Dengan balutan gaun berwarna putih dengan rambut yang disanggul modern, membuat Zhafira terlihat sangat cantik dan natural.
Dengan senyum, Zhafira menyambut keluarga barunya itu. Om Wira yang mengenakan setelan jas putih yang dipadukan dengan sapu tangan putih dengan bordiran benang emas di saku jasnya terlihat sangat menawan.
Sedangkan di sampingnya, terlihat seorang pemuda yang sangat tampan dengan jas putih yang hampir serupa dengan yang dikenakan sang pengantin lelaki.
Melihat pemuda itu, Zhafira tersenyum dan segera meraih tangannya dan berjalan di sisinya. Mereka berdua terlihat sangat serasi. "Adikku ini ternyata sangat cantik," puji Ardi sambil berbisik hingga membuat Zhafira tersenyum padanya.
"Terima kasih kakakku sayang, hari ini Kak Ardi juga terlihat sangat tampan," puji Zhafira balik yang membuat mereka berdua tersenyum.
Tak hanya itu, semua teman-teman mereka juga turut hadir. Kheyla dan Vino hadir dengan balutan busana couple yang membuat mereka terlihat sangat serasi. Refa dan Revan yang datang bersama menunjukkan kalau mereka berdua sedang dalam masa pendekatan, karena Revan perlahan mulai jatuh hati pada gadis itu. Sementara Kevan yang terlihat sangat tampan turut hadir walau hanya sendiri tanpa pasangan. Dan pasangan yang membuat iri setiap orang adalah Dafa dan Dafena yang terlihat selalu bersama. Mereka berdua menjadi sorotan para tamu karena ketampanan dan kecantikan yang menurut mereka sangat serasi.
Ijab kabul yang berlangsung sakral dengan sukses dilafazkan dengan sekali ucapan. Suara tepukan tangan bergemuruh seiring selesainya kata sakral itu.
Zhafira tidak bisa menahan air matanya saat melihat ibunya tersenyum bahagia. Dia sangat terharu hingga membuat dia menitikkan air matanya.
Di sisi lain, Dafa melihat air mata Zhafira yang jatuh. Ingin rasanya dia mendekati dan memeluk gadis itu, tapi dia tidak mampu hingga pandangannya dia alihkan ketika melihat Kevan yang menawarkan sapu tangan untuk Zhafira. "Terima kasih," ucap Zhafira sambil menerima sapu tangan itu. Untuk kedua kalinya, pemuda itu menawarkan sapu tangan untuk Zhafira walau sebenarnya, jauh di lubuk hatinya dia ingin menawarkan pundaknya untuk Zhafira bersandar di saat gadis itu sedih ataupuan bahagia.
Rasa cinta di hatinya muncul di saat dia menyadari kebaikan dan ketulusan Zhafira. Apalagi, sejak dia tahu kalau mata kekasihnya, Nisa, ada pada Zhafira yang membuat dia semakin mencintai gadis itu.
Senyum bahagia yang terukir di wajah kedua mempelai membuat kedua anak mereka ikut merasakan hal yang sama.
"Kamu bahagia, kan?" tanya Ardi yang membuat Zhafira mengangguk.
"Setelah ini, kita akan tinggal bersama di rumahku dan rumah itu akan menjadi rumahmu juga. Kita berdua harus menjaga ayah dan ibu agar mereka selalu bersama. Aku ingin keluarga kita selalu utuh dan selamanya selalu bersama. Karena itu, bantu aku untuk menjaga mereka," ucap Ardi yang membuat Zhafira mengangguk dan memeluk kakaknya itu.
Kedua kakak beradik itu kemudian melangkah menuju kedua orang tuanya dan memeluk mereka. Dengan tangis bahagia, Zhafira menangis di pelukan ibunya hingga membuat semua orang yang ada di tempat itu ikut menitikkan air mata. "Anak mama sangat cantik, sudahlah jangan menangis," ucap ibunya sambil mengelus punggung anaknya itu.
Begitupun dengan Om Wira yang memeluknya sambil menahan air mata. Di matanya, Zhafira bukanlah anak tiri, tapi pengganti anaknya yang telah pergi untuk selamanya.
Tangis haru keluarga baru itu sungguh membuat semua tamu menjadi ikut terharu, tetapi itu tidak berlangsung lama karena senyum bahagia mulai terpancar dari wajah mereka saat satu-persatu tamu undangan mulai berjabat tangan dengan mereka.
Di salah satu ruangan, Zhafira dan semua temannya sedang duduk berkumpul sambil bercanda dan tertawa.
Melihat tingkah Revan yang mulai mendekati Refa membuat pemuda itu menjadi olok-olokkan teman-temannya.
"Jangan dengarkan tuh burung beo, dia juga dulu kayak begitu, kok. Kalau dia terlambat sedikit saja untuk menyatakan perasaannya padaku waktu itu, maka siap-siap saja say good bye. Secara, bukan dia saja yang suka sama aku, masih ada kok yang siap antri di belakang," ucap Kheyla membela sahabatnya hingga membuat mereka semua tertawa.
Semua ucapan itu hanya candaan yang membuat mereka semua tertawa karena melihat tingkah pasangan yang kocak itu.
"Kalau kalian jadian, berarti tinggal Kevan sama Zhafira yang belum punya pacar. Ya sudah, bagaimana kalau kita jodohkan saja Zhafira sama Kevan biar mereka jadian? Kalian setuju, kan?" celoteh Vino yang sontak membuat Kevan dan Zhafira melihat ke arahnya.
"Benar juga katamu, Vin. Daripada kalian berdua jadi obat nyamuk dan membuat kami merasa bersalah, mending kalian jadian saja," ucap Revan yang membenarkan ucapan Vino.
"Dasar sinting ya kalian berdua. Memangnya kami berdua ini apa sampai dijodoh-jodohkan seperti itu?" jawab Kevan dengan sedikit kesal.
"Apa kalian tidak minta pendapatku sebagai kakak Zhafira?" tanya Ardi yang membuat mereka melihat ke arahnya.
"Maaf, maaf. Kalau begitu, apa menurutmu perjodohan ini memang layak atau tidak?" tanya Vino.
"Kalau aku sih, setuju saja kalau mereka jadian. Kevan sangat tampan dan adikku ini sangat cantik. Jadi, mereka pantas untuk bersama. Menurutmu, bagaimana?" tanya Ardi pada Dafa yang seketika membuat wajahnya berubah.
"Kalian ini kenapa, sih? Sudah, ah, bercandanya kelewatan," gerutu Zhafira yang terlihat kesal.
"Iya, maaf," ucap mereka kompak.
Candaan demi candaan yang menjurus ke perjodohan antara Kevan dan Zhafira membuat seseorang menjadi gelisah. Dafa yang terlihat santai, sebenarnya menyimpan kegelisahan karena perjodohan asal-asalan dari teman-temannya itu.
Walau sudah bersama Dafena, tapi dia seakan tidak rela jika sahabat terbaiknya itu meninggalkannya dan pergi dengan orang lain. Rasa egois yang mengganggu hatinya membuat dia lupa kalau dia tidak bisa selamanya bersama dengan sahabatnya itu.
"Apa kamu bahagia?" tanya Dafa pada Zhafira saat mereka sedang berdua.
Zhafira mengangguk dan melayangkan senyum padanya.
"Lalu, kapan kalian akan pergi ke rumah Ardi?"
"Mungkin dua hari lagi karena orang yang menyewa akan segera menempati rumah ini. Walaupun aku sudah tidak lagi tinggal di rumah ini, tapi kita masih bisa bertemu di sekolah. Iya, kan?"
Dafa terdiam. Melihat kebahagiaan di wajah Zhafira, membuat Dafa akhirnya sadar kalau sudah saatnya dia belajar untuk melepas sahabatnya itu. Dia tidak bisa lagi menekan perasaannya pada gadis itu yang bisa saja membuat gadis itu akan menjauh darinya.
"Kalau kamu bahagia, aku juga akan bahagia. Maafkan aku jika selama ini aku sudah mengganggumu dengan semua keluh kesahku." Dafa menghentikan ucapannya dan mulai memantapkan hatinya.
"Sesuai keinginanmu, aku akan mencoba untuk tetap bertahan dengan Dafena. Aku akan mencintai dia dan membuatnya bahagia. Dan kamu, aku juga ingin kamu selalu bahagia. Mulai sekarang, raih kebahagiaanmu itu dan aku akan selalu mendukungmu. Bagiku, selamanya kamu adalah sahabatku dan mulai sekarang kita akan membuat orang-orang yang kita cintai bahagia. Selama Dafena selalu ada untukku, maka aku akan selalu ada untuknya. Itu, kan yang kamu inginkan dariku?"
Zhafira tersenyum dan mengangguk. "Kamu tahu kan aku sangat benci pada lelaki yang tidak setia. Jadi, bagaimana mungkin aku akan membiarkan sahabatku sendiri mengkhianati orang yang mencintai dia hanya karena perasaan sesaat. Langkah kita masih panjang dan kita tidak tahu dengan siapa kita akan berjodoh. Biarkan waktu yang akan menentukan dan selama itu pula cobalah untuk membahagiakan orang yang dengan tulus mencintai kita. Dafa, Dafena sangat mencintaimu, karena itu, tolong jaga perasaannya dan jangan buat dia terluka. Aku akan selalu mendukung kalian karena aku tahu, jauh di lubuk hatimu, kamu sangat mencintai dia," ucap Zhafira yang membuat Dafa menatap ke arah Dafena.
"Aku janji, aku juga akan hidup bahagia. Aku akan menemukan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku dan aku akan menunjukan kepadamu, kalau aku bisa bahagia walau tanpa dirimu," ucap Zhafira yang perlahan menunduk dan menitikkan air matanya.
Dengan lembut, Dafa membelai rambut Zhafira hingga membuatnya ikut menitikkan air mata. "Berjanjilah padaku kalau kamu akan selalu bahagia. Suatu saat nanti, aku ingin melihatmu bahagia dengan pria yang benar-benar mencintaimu. Aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Karena itu, berjanjilah kalau kita akan bertemu di saat kita telah sama-sama bahagia dengan pasangan kita, janji?" ucap Dafa sambil mengangkat jari kelingkingnya ke arah Zhafira.
"Janji." Zhafira mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Dafa sebagai tanda perjanjian mereka.
Dengan senyum, kedua sahabat itu kemudian bergabung bersama teman-teman mereka. Dafa segera menemui Dafena sambil tersenyum dan menggenggam tangan gadis itu. Sementara Zhafira sudah memantapkan hatinya untuk bisa menerima lelaki lain yang dirasa pantas untuk bersamanya. Lelaki yang bisa membuat dia bisa mengangkat kepala dengan bangga jika suatu saat nanti bertemu dengan Dafa.