
Di atas tempat tidur, Zhafira memeluk baju pengantin yang diberikan Kevan untuknya. Baju pengantin yang menjadi bukti akan ketulusan Kevan dan saksi kalau Kevan akan segera kembali padanya.
Zhafira memeluk baju pengantin itu dengan tangisan yang tak mampu dia tahan. Isakkan tangisnya begitu menyayat hati hingga membuat siapa saja akan iba padanya. Rasa sedih karena kehilangan orang tuanya, membuatnya merindukan pelukan kekasihnya. Pelukan yang selalu membuatnya merasa nyaman.
Zhafira menatap kembali foto-foto mereka di layar ponselnya. Foto-foto yang membuatnya semakin merindukan kekasihnya. Zhafira menatap wajah Kevan di foto itu, wajah yang selalu tersenyum padanya. "Aku merindukan senyumanmu itu. Kevan, kamu di mana, aku mohon datanglah padaku," ucapnya sambil menghapus air matanya yang jatuh.
"Zha, apa Kakak boleh masuk?" tanya Ardi sambil mengetuk pintu.
Zhafira menghapus air matanya. Dia bangkit perlahan dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya. Melihat Ardi berdiri di depan pintu membuat Zhafira segera memeluknya dan menangis dalam pelukan kakaknya itu. "Apa Kevan belum juga menghubungi Kakak? Apa Kakak sudah mendengar kabar tentang Kevan?"
Melihat adiknya yang selalu menanyakan tentang Kevan membuat Ardi tertekan. Dia tidak sanggup melihat kerinduan Zhafira pada Kevan yang membuat adiknya itu tersiksa.
"Zha, maafkan Kakak karena sudah merahasiakan ini darimu. Kakak takut memberitahumu karena kondisimu yang sedang tertekan karena kematian orang tua kita. Karena itu, Kakak tidak ingin membuatmu semakin tertekan dengan berita tentang Kevan," ucap Ardi yang membuat Zhafira melepaskan pelukannya.
"Apa maksud Kakak? Berita apa yang Kakak sembunyikan dariku. Apa yang coba Kakak sembunyikan dariku?" tanya Zhafira yang mulai menitikkan air mata.
Mendengar suara Zhafira yang setengah berteriak, membuat teman-temannya naik ke kamarnya dan mendapati Zhafira yang sedang menangis.
"Kalian sembunyikan apa dariku? Apa yang terjadi pada Kevan?" tanya Zhafira yang tidak mampu lagi menahan emosinya. Melihat Zhafira menangis membuat Dafena segera memeluk sahabatnya itu.
"Tenanglah, percaya padaku. Aku akan memberitahukannya padamu, tapi kamu harus tenang dulu," bujuk Dafena yang mencoba menenangkannya.
Dafena menuntun Zhafira untuk duduk. Dengan lembut, Dafena meraih tangan sahabatnya itu dan menggenggamnya dengan erat. "Maafkan kami karena merahasiakan tentang Kevan. Bukan maksud kami untuk menyembunyikannya darimu, tapi kami takut kamu akan semakin sedih." Dafena menghentikan kata-katanya, rasanya begitu berat baginya untuk memberitahukan tentang kondisi Kevan pada sahabatnya itu.
"Zha, saat ini Kevan sedang dirawat di rumah sakit di Batam karena dia mengalami kecelakaan," ucap Dafena yang membuat Zhafira terdiam dan terpaku. Tubuhnya melemas dengan air mata yang perlahan jatuh. Dafena lantas memeluk sahabatnya itu yang masih duduk terdiam dengan tatapan hampa.
Mereka tak kuasa menahan tangis saat melihat ekspresi Zhafira yang hanya diam dan membisu. "Aku harus pergi melihatnya. Aku harus berada di sisisnya. Kevan pasti sangat membutuhkanku. Kak Ardi, tolong antar aku ke rumah Kevan," ucap Zhafira tiba-tiba yang sontak membuat teman-temannya menjadi heran.
"Zha, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ardi yang tidak percaya dengan perubahan sikap adiknya itu.
"Aku sudah kehilangan papa dan mama karena kecelakaan dan aku tidak ingin kehilangan lagi. Karena itu, bantu aku menemui ibunya. Aku ingin meminta izinnya untuk menemui Kevan di Batam," ucap Zhafira.
"Tapi Zha, bagaimana kalau ayahnya tidak ingin bertemu denganmu? Kamu tahu kan kalau ayahnya itu ingin menjodohkan Kevan dengan wanita lain?"
"Aku tidak akan peduli, kalau perlu aku akan memohon padanya untuk bertemu dengan Kevan." Entah kekuatan dari mana yang sudah membuat sikap Zhafira berubah. Rasa rindu yang selama ini sudah merasuki hatinya membuatnya ingin segera bertemu dengan kekasihnya itu.
Itulah Zhafira. Walau sedih karena kehilangan orang tuanya, tapi tidak membuatnya larut dalam kesedihan. Dia ingin bahagia, seperti apa yang diinginkan orang tuanya dan Rani. Karena itu, dia ingin meraih kebahagaiaan bersama Kevan karena baginya lelaki itu adalah sumber kebahagiaannya.
Dengan mengendarai sepeda motor, Zhafira dan Ardi pergi ke rumah Kevan. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk mengetahui kondisi Kevan.
Di depan pintu, wanita itu menatap Zhafira dan menangis dalam pelukannya. Wanita paruh baya itu tak kuasa menahan tangis saat melihat gadis yang sangat dicintai anaknya itu. "Maafkan Tante, karena tidak berterus terang padamu. Sebenarnya, Tante ingin menghubungimu dan memintamu untuk menemani Tante ke Batam untuk menemui Kevan, tapi Tante tidak tega karena kamu baru saja kehilangan orang tuamu," jelas wanita itu.
"Aku akan menemani Tante, karena itu memang tujuanku. Aku ingin bertemu dengan Kevan karena saat ini dia pasti sangat membutuhkanku," ucap Zhafira yang membuat wanita itu mengangguk.
"Kak Ardi, izinkan aku untuk menemui Kevan, aku mohon," pintanya pada kakaknya itu.
"Pergilah, temuilah Kevan dan sampaikan salam kami untuknya," ucap Ardi sambil membelai lembut rambut adiknya itu.
Hari itu juga, Zhafira dan ibunda Kevan berangkat ke Batam dengan penerbangan pertama. Di dalam pesawat, Zhafira menatap kembali foto Kevan dari ponselnya. Wajah lelaki itu tampak tersenyum, terlintas sebuah senyuman terukir di bibir Zhafira. Untuk sesaat, dia bisa melupakan kesedihannya karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasih hatinya.
Setibanya di Batam, mereka langsung menuju ke rumah sakit di mana Kevan dirawat. Dengan langkah yang dipercepat, kedua wanita itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan berhenti di depan pintu salah satu kamar.
Zhafira masih berdiri di depan pintu itu dengan perasaan campur aduk, tapi tidak dengan ibunda Kevan yang langsung masuk karena rasa cemas dan kerinduan seorang ibu pada anaknya.
Zhafira masuk perlahan mengikuti pria itu yang menuntunnya masuk ke dalam ruangan itu. Jantungnya berdetak cepat, tangannya gemetar karena membayangkan pertemuannya dengan kekasihnya itu hingga dia terperanjat kaget saat melihat tubuh kekasihnya terbaring tak berdaya dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
Zhafira tercekat. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kekasihnya hanya terbujur tanpa suara, tanpa bisa melihatnya karena ternyata Kevan sudah dinyatakan koma karena cedera di kepalanya.
Zhafira tak kuat menahan air matanya hingga membuatnya menangis, tapi kesedihannya itu coba dia tahan. Dia tidak ingin menangis di depan Kevan karena dia tidak ingin kekasihnya itu bersedih.
Zhafira berjalan mendekati ibunda Kevan yang tengah menangis di sisi tempat tidur dan segera memeluk wanita itu. "Kevan akan baik-baik saja, Tante. Kita harus kuat, jangan menangis di depannya karena dia pasti akan bersedih," ucap Zhafira yang membuat wanita itu segera menghapus air matanya.
"Kamu mau kan membantu Om dan Tante merawat Kevan?"
"Tanpa Om dan Tante mintapun, aku tetap akan merawat Kevan. Aku tidak mungkin meninggalkan Kevan seperti ini, aku akan menjaga dan merawatnya," ucap Zhafira sungguh-sungguh.
Suami istri itu tersenyum saat mendengar ucapan Zhafira. Melihat kesungguhan Zhafira membuat mereka merasa bersalah pada gadis itu. Mereka tidak menyangka kalau Zhafira ternyata memiliki hati yang lembut.
Melihat Zhafira yang selalu memandangi Kevan membuat suami istri itu keluar dari ruangan itu. Mereka tahu, saat ini Zhafira pasti ingin berdua dengan Kevan.
"Bicaralah padanya, biar dia tahu kalau kamu sudah ada di sini. Kamu tahu, saat Om menyebutkan namamu, dia selalu menitikkan air mata. Melihatnya seperti itu, membuat Om jadi tahu kalau dia sangat mencintaimu dan Om menyesal karena sudah menentang hubungan kalian," ucapnya dengan suara bergetar karena menahan tangis.
"Sudahlah, Om. Semuanya sudah berlalu, sekarang kita fokus saja dengan penyembuhan Kevan, semoga dia bisa segera sadar." Pria itu mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
Zhafira kembali menatap wajah kekasihnya itu yang terbaring tak berdaya. Zhafira kemudian duduk di salah satu bangku dan memandangi Kevan yang sudah di depannya.
Zhafira perlahan meraih tangan kekasihnya itu dan mengecupnya dengan mesra.."Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Apakah kamu juga merindukanku?" tanya Zhafira lembut sambil berbisik di telinga Kevan, tapi Kevan sama sekali tidak meresponnya. Melihat Kevan yang hanya diam membuat Zhafira ingin menangis karena kata-kata itu yang sering diucapkan Kevan untuknya.
"Apa kamu tidak rindu untuk memelukku? Kamu pernah bilang padaku kalau kamu rindu dan ingin memelukku, sekarang aku sudah ada di sini, tapi kenapa kamu belum juga memelukku?" tanya Zhafira yang kembali tidak direspon oleh Kevan. Rasanya Zhafira sudah tidak mampu lagi untuk menahan air mata yang sedari tadi sudah menggantung di peluk matanya. Dia tidak sanggup melihat Kevan yang hanya terbaring tanpa merespon semua ucapannya.
Zhafira beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke kamar mandi dan menangis di sana. Dia tidak sanggup jika harus menangis di depan Kevan. Zhafira menangis dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tangisnya tidak terdengar. "Apa aku sanggup jika terus melihatmu seperti ini? Aku mohon sadarlah dan biarkan aku memelukmu seperti dulu," ucap Zhafira dalam isak tangisnya.
Zhafira tidak sanggup melihat kondisi Kevan yang membuatnya menangis. Kevan yang selalu tersenyum padanya kini hanya bisa diam tanpa ekspresi. Kevan yang selalu menggenggam tangannya, kini tak lagi karena tangannya kaku tanpa daya.
Zhafira menatap cermin dan menghapus air matanya. Walau kesedihan merayap di hatinya, tapi dia harus bisa bertahan. Dia harus kuat agar bisa membuat Kevan kembali sadar.
Zhafira melangkah keluar dan kembali duduk di samping Kevan. Zhafira menarik nafas panjang dan mencoba menata hatinya agar bisa sabar. Zhafira kembali meraih tangan Kevan dan menciumnya dengan mesra. "Aku tahu kamu mendengar suaraku. Aku tahu kamu ingin memelukku, tapi kamu tidak bisa melakukan itu. Jadi, aku yang akan melakukannya. Setiap hari aku akan ada di sini untuk memelukmu. Aku akan ada di sini untuk bercerita denganmu hingga kamu terbangun dan memelukku dengan tanganmu sendiri. Aku akan sabar menunggu hingga hari itu tiba dan jika hari itu tiba, aku akan memintamu untuk segera menikahiku. Tidak mengapa kan kalau wanita yang meminta menikah lebih dulu?" ucap Zhafira yang kembali tidak direspon oleh Kevan.
Walaupun semua ucapannya tidak direspon, tapi Zhafira tidak menyerah. Dengan sabar dia selalu mengajak Kevan untuk berinteraksi walau semua usahanya itu tidak ada hasil.
Malam itu, Zhafira menemani Kevan sendirian di rumah sakit karena orang tua Kevan sudah kembali ke hotel. Cuaca di malam itu tidak bersahabat karena perlahan hujan mulai turun. Ruangan Kevan yang berada di lantai tiga membuat ruangan di kamar itu terasa dingin.
Zhafira duduk di depan Kevan sambil menggenggam tangannya. Suara air hujan yang terdengar semakin deras membuat Zhafira menggenggam tangan Kevan dengan erat. Perasaan takut akan suara petir dan suara hujan yang deras membuat Zhafira mulai panik. Ingatan di malam kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya pun mulai mengganggunya hingga membuat tangannya gemetar. "Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya yang terlihat mulai panik. Suara air hujan yang diiringi petir tiba-tiba menggelegar.
Suara petir yang tiba-tiba itu membuat Zhafira melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevan dan mulai menutupi telinganya hingga membuatnya menangis. "Tolong berhenti!! Kak Ardi!! Tolong aku, Kak!!" teriak Zhafira yang terduduk di lantai kamar sambil menekuk tubuhnya dan menutupi telinganya.
Suara petir yang terus menggelegar bersahut-sahutan membuat Zhafira menangis sesenggukkan dengan tubuh yang gemetar. Rasa takut yang sudah dirasakannya sejak masih kecil itu tidak bisa dia hilangkan, apalagi sejak kematian ibunya di malam itu yang membuat rasa takutnya itu menjadi trauma yang menakutkan baginya.
Zhafira masih menangis dalam kesendirian. Tubuhnya gemetar dengan keringat dingin yang membasahi bajunya. Di saat seperti ini, Ardi akan berlari ke kamarnya dan menutupinya dengan selimut sambil memeluknya, tapi kini dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya tangis dan rasa takut yang membuatnya kembali teringat dengan kakak dan ibunya.
Di saat Zhafira ketakutan, di saat yang sama jari jemari Kevan tiba-tiba bergerak seakan ingin meraih kekasihnya itu. Di saat Zhafira tengah menangis dalam ketakutan, di saat itu pula Kevan menitikkan air mata yang jatuh di sudut matanya.
Walau dia tidak bisa bergerak, tapi alam bawah sadarnya merasakan kehadiran Zhafira. Dan kini, Kevan sedang bertarung dengan tubuhnya dan memaksa untuk bisa bergerak karena mendengar tangisan Zhafira yang samar-samar mengusik alam bawah sadarnya. Tangisan Zhafira ternyata mampu menembus batas kesadaran hingga membuat Kevan perlahan membuka matanya.