
Wajah Zhafira yang cantik dan selalu tersenyum rupanya telah menarik seorang pemuda yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya. Sedari tadi, pemuda itu selalu mencuri pandang padanya dan sesekali tersenyum saat melihat Zhafira sedang tersenyum.
Pemuda itu tampak gagah dengan baju TNI lengkap dengan baret hijau yang melekat di kepalanya. Wajahnya cukup tampan hingga membuat dia dilirik gadis-gadis yang melintas di depannya.
Pemuda itu tidak sendiri. Dia duduk bersama beberapa orang temannya yang juga memakai baju yang sama dengannya. Mereka adalah teman-teman seangkatan Vino.
Pandangan pemuda itu selalu tertuju ke arah Zhafira. Wajah tampannya sesekali tersenyum saat melihat Zhafira hingga membuat salah seorang temannya menaruh curiga padanya. "Arya, apa gadis itu yang sudah menarik perhatianmu dari tadi?" tanya temannya sambil melihat ke arah Zhafira.
Mendengar pertanyaan temannya itu, pemuda yang bernama Arya Permana itu lantas memalingkan wajahnya dan menatap ke arah pengantin yang sedang bersalaman dengan tamu undangan.
"Gadis itu memang cantik, tapi apa kamu tidak berpikir kalau kekasihnya mungkin salah satu dari pria-pria itu?" lanjut temannya.
"Awas saja kalau kamu ketahuan melirik kekasih orang, walau kita berteman aku tidak akan membelamu," ucap temannya itu sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulutnya.
Ucapan temannya itu cukup membuat pemuda itu menjadi ragu. Bagaimana jika memang gadis yang kini begitu menarik perhatiannya ternyata kekasih orang? Apa dia salah jika mengagumi gadis itu? Pemuda itu kembali menatap ke arah Zhafira dan lagi-lagi dia enggan untuk berpaling. "Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku tidak bisa berhenti memandanginya?" batin pemuda itu.
Zhafira yang sedari tadi duduk kemudian berdiri dan berjalan menuju pelaminan di mana kedua sahabatnya tengah berbahagia. Dengan senyum, Zhafira memeluk Kheyla dan menitipkan sebait doa agar kedua sahabatnya itu selalu bahagia selamanya. "Selamat atas pernikahan kalian, aku doakan agar kalian selalu bahagia dan secepatnya memberikan kami keponakan yang lucu," ucap Zhafira dengan senyum.
"Zha, kami berharap kamu bisa kembali bahagia bersama Kevan. Kalian berdua adalah sahabat kami dan kami ingin kita bisa kumpul seperti dulu lagi," ucap Kheyla sambil memeluk Zhafira dan menangis.
"Jangan menangis. Hari ini hari bahagia kalian, jadi jangan menangis," ucap Zhafira sambil menghapus air mata di pipi sahabatnya itu.
"Kamu harus menjaga Kheyla, kalau sampai aku mendengar dia menangis gara-gara kamu, lihat saja aku akan datang dan memukulmu," ucap Zhafira sambil memukul pelan dada sahabatnya itu.
"Tenang saja, aku akan menjaga Kheyla. Kalaupun dia menangis, paling itu tangisan bahagia karena suaminya ini sangat mencintai dia," jawab Vino yang membuat Kheyla tersenyum malu.
"Zha, kamu adalah sahabatku begitupun dengan Kevan. Jadi, cobalah untuk bertahan, aku yakin kalian pasti bisa bersama lagi," ucap Vino.
"Tidak usah dibahas. Aku tidak ingin membicarakan tentang dia. Sekarang, aku akan mencoba untuk bisa bahagia tanpa dia. Sudah, ah, aku tidak ingin mengingatnya lagi." Zhafira berusaha untuk mengalihkan pembicaraan walau dia tahu kalau sahabat-sahabatnya itu masih mengharapkan dia kembali dengan Kevan.
Sahabat-sahabat itu tampak tersenyum saat juru foto mulai mengambil gambar. Mereka terlihat begitu dekat, hingga siapa saja akan iri dengan persahabatan mereka. Persahabatan yang sudah terjalin sejak lama hingga membuat mereka tidak bisa berpisah dan menjalin persaudaraan yang membuat ikatan persahabatan mereka semakin erat.
Zhafira masih duduk di tempat duduknya di saat gadis-gadis yang lain sedang berdiri berdesakan hanya untuk mendapatkan bunga yang akan dilemparkan oleh Kheyla. Bunga yang katanya bisa membuat gadis yang berhasil mendapatkannya akan segera menikah.
Zhafira tidak begitu saja percaya dengan mitos itu, tapi ternyata mitos itu telah menarik perhatian gadis-gadis lain untuk memperebutkan bunga jodoh itu.
Zhafira duduk sambil memperhatikan gadis-gadis itu yang terkadang membuatnya tersenyum. Gadis-gadis itu begitu antusias hingga membuat mereka lupa kalau jodoh itu ada di tangan Tuhan, bukan di seikat bunga.
Kheyla yang sudah bersiap-siap dengan bunga di tangannya mulai membelakangi mereka. Hingga hitungan dari gadis itu terdengar dan di hitungan terakhir, seikat bunga berwarna pink itu terlihat melayang melewati kumpulan gadis-gadis itu dan mendarat tepat di tangan Zhafira. Sontak, gadis-gadis itu menatapnya heran. Gadis yang sedari tadi hanya duduk tanpa ikut berdesakan, dengan mudahnya mendapatkan bunga yang katanya bisa membuat gadis yang mendapatkannya akan segera menikah.
Melihat bunga di tangannya membuat Zhafira terkejut dan panik, karena semua mata langsung tertuju padanya, tak terkecuali Kevan dan Arya yang juga menatap ke arahnya.
Zhafira lantas berdiri dan memberikan bunga itu kembali kepada Kheyla dan tersenyum padanya. "Khey, lempar kembali bunganya, kasihan gadis-gadis itu pasti sangat kecewa," ucapnya sambil memberikan bunga itu dan kemudian kembali ke tempat duduknya.
Tak disangka, sikap Zhafira ternyata membuat Arya tersenyum. Zhafira ternyata mampu membuatnya semakin penasaran hingga dia bertekad untuk mendekati gadis itu.
Di saat yang sama, Kevan selalu memperhatikan Zhafira walau gadis itu berusaha untuk menghindar darinya. Zhafira bahkan menganggap kalau Kevan tidak ada di tempat itu. Zhafira yang merasa kalau Kevan selalu memperhatikannya mulai merasa tidak nyaman, hingga membuatnya bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ardi saat melihat Zhafira sudah berdiri.
"Aku mau keluar sebentar," jawabnya dan kemudian pergi. Kevan yang melihat kepergian gadis itu hanya bisa menahan rasa kecewa yang perlahan merasuk di hatinya. "Apakah seperti ini rasanya sakit karena diacuhkan?" batin Kevan sambil mengelus dadanya.
Zhafira keluar dari gedung itu. Pandangannya tertuju ke arah samping gedung, di mana terdapat sebuah taman kecil yang dikelilingi aneka bunga yang sedang bermekaran dengan beberapa bangku yang berderet di sisi taman itu.
Di tengah-tengah taman, ada sebuah labirin mini yang dipakai anak-anak untuk bersembunyi dari teman-temannya. Zhafira tampak tersenyum saat melihat anak-anak yang tengah bermain dengan lincahnya. Sejenak, ingatan masa kecilnya melintas di depannya. Ingatan akan seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Seorang sahabat yang selalu membelanya dari anak-anak yang ingin mengganggunya. Zhafira tersenyum.
Zhafira kemudian melangkah dan memilih duduk di salah satu bangku sambil memandangi anak-anak itu. Melihat keceriaan di wajah mereka membuat Zhafira tersenyum. Sejenak, dia bisa melupakan rasa sedihnya. Walau dia berusaha untuk mengacuhkan Kevan, tapi nyatanya dia masih tidak mampu untuk terus mengacuhkannya hingga membuat dia harus menghindar dari hadapan pemuda itu. Dia tidak ingin, keteguhan hatinya akan goyah saat melihat Kevan di depannya.
Zhafira menundukkan wajahnya sekadar untuk menutupi air matanya yang perlahan mulai menggantung di pelupuk matanya. "Andai saja kamu tidak sekejam ini padaku, maka aku akan selalu ada di sampingmu, tapi kenapa kamu harus memintaku untuk meninggalkanmu?" Zhafira menghapus air matanya dan membuat seseorang yang sedang menatapnya ikut merasakan kesedihannya.
Tiba-tiba, Zhafira terusik dengan suara tangis seorang anak perempuan yang tengah menangis. Zhafira memandangi anak itu yang sedang berdiri di samping seorang pria yang mencoba menenangkannya, tapi anak itu masih tetap menangis. Zhafira kemudian mendekati anak itu dan mulai membujuknya. "Kamu kenapa menangis? Sini, Kakak peluk," ucap Zhafira sambil memeluk anak itu dan menggendongnya sambil mengelus punggung anak itu.
"Maaf, Pak. Istri Bapak memangnya kemana? Kasihan kan anaknya menangis terus," ucap Zhafira pada pria itu. Pria itu tidak menjawab apa-apa, hanya sebuah senyum yang terlihat dari wajahnya.
Zhafira kemudian duduk sambil memangku anak itu dan membujuknya hingga tangisan anak itu mereda.
"Maaf."
"Lain kali kalau anak Bapak menangis lagi, lebih baik dia dipeluk dan jangan membujuknya dengan memberikan permen atau coklat karena itu bisa merusak giginya," ucap Zhafira yang masih memangku anak itu, hingga tiba-tiba anak itu turun dari pangkuannya dan berlari ke seorang pria yang berjalan menuju ke arah mereka.
"Papa," panggil anak itu sambil berlari menuju pria itu dan segera memeluknya.
Sontak, Zhafira terkejut dan memandangi pria yang sedari tadi diomelinya. Pria itu tersenyum dan mengangkat kedua bahunya saat Zhafira memandanginya.
"Saya minta maaf, kalau anak saya mengganggu kalian. Tadi saya tinggalkan dia sebentar untuk membelikannya minuman," ucap pria itu.
"Bapak tahu kan bahayanya meninggalkan anak kecil sendirian tanpa pengawasan orang tua. Kalau tadi anak Bapak diculik sama orang tak dikenal, bagaimana?" tanya pria itu.
"Maaf, saya tidak akan melakukannya lagi. Terima kasih karena kalian sudah menjaga anak saya," ucap ayah anak itu yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
Pria itu kemudian menatap Zhafira yang kini menundukkan wajahnya. "Apa wajahku ini seperti seorang pria yang sudah punya anak?" tanya pria yang berseragam TNI itu dengan senyum di wajahnya karena melihat wajah Zhafira yang mulai memerah.
"Maaf, aku kira kamu itu ayahnya. Kenapa juga dari tadi kamu tidak menjelaskan kalau anak itu bukan anakmu?" tanya Zhafira yang mencoba membela diri.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan kalau kamu sendiri tidak memberikan aku waktu untuk menjelaskan, tapi aku salut karena kamu bisa menenangkan anak itu. Suami kamu pasti senang karena mempunyai istri yang sayang sama anak-anak," ucap pria itu yang membuat Zhafira kemudian mengangkat wajahnya.
"Suami? Anak? Apa wajahku ini seperti ibu-ibu? Aku ini belum menikah dan aku tidak punya anak," ucap Zhafira yang membuat pria itu tersenyum.
"Apa kamu marah? Mestinya, aku yang harus tersinggung karena dari tadi diomeli sama kamu," ucap pria itu yang langsung duduk di bangku sebelah Zhafira.
"Maaf," ucap Zhafira sekali lagi hingga membuat pria itu kembali tersenyum.
"Apa coklat ini bisa membuat gigimu rusak? Padahal, aku mau kasih coklat ini ke kamu bukan ke anak kecil itu. Aku juga tahu kok, kalau anak kecil tidak boleh makan coklat," ucap pria itu sambil menyodorkan coklat pada Zhafira.
Zhafira menatap pria itu yang tersenyum padanya. Melihat coklat kesukaannya di tangan pria itu membuat Zhafira segera mengambil coklat itu. "Terima kasih," ucap Zhafira yang langsung membuka bungkusan coklat itu dan melahapnya.
Melihat tingkah Zhafira membuat pria itu kembali tersenyum.
"Kenapa kamu duduk sendirian di sini, padahal di dalam kan ada teman-temanmu?" tanya pria itu yang membuat Zhafira memandanginya.
"Tahu dari mana kalau aku datang bersama teman-temanku? Jangan bilang kalau kamu dari tadi memperhatikanku," ucap Zhafira dengan memasang wajah curiga.
"Semua orang yang melihat kalian pasti tahu kalau kalian berteman. Apa kamu juga sedekat itu dengan Vino dan istrinya?"
"Mereka berdua itu sahabatku. Dan yang duduk bersamaku itu adalah teman-temanku," jelas Zhafira yang masih mengunyah coklat dengan lahapnya.
"Terus, mana pacarmu? Apa kamu sedang menunggunya di sini? Kalau begitu, aku pasti sudah mengganggu. Sebaiknya, aku pergi sebelum pacarmu melihatku di sini dan menghajarku karena melihat kita duduk bersama," ucap pria itu yang lansgung berdiri.
"Tidak perlu, aku tidak sedang menunggu siapa-siapa. Aku hanya bosan di dalam," ucap Zhafira yang membuat pria itu kembali duduk.
"Kamu pasti salah satu temannya Vino, iya, kan?"
"Aku dan Vino teman seangkatan. Kami bertemu saat mulai mengikuti pendidikan di TNI AD," jelas pria itu.
"Kalau aku sudah mengenal mereka sejak masih SMA dulu dan mereka itu sudah menjalin hubungan hampir enam tahun," jelas Zhafira sambil tersenyum.
"Enam tahun? Wah, aku tidak menyangka kalau Vino itu tipe cowok yang setia. Karena Vino sama-sama teman kita, jadi apa boleh kita berteman?" tanya pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Zhafira.
Dengan tersenyum, Zhafira mengangguk dan menerima uluran tangan pria itu. "Aku Zhafira."
"Ini namaku," ucap pria itu sambil menunjuk ke dada kanannya yang tertulis sebuah nama dengan bordiran berwarna hitam.
"Arya Permana," ucap Zhafira sambil membaca tulisan itu.
"Panggil aku, Arya," ucap pria itu dengan sebuah senyum di wajahnya.
Zhafira tersenyum saat melihat wajah pria itu yang melayangkan senyum padanya. Dan di saat itu juga, ada seseorang yang terlihat sedih saat memandangi mereka dari jauh. Kedekatan Zhafira dan pria itu ternyata telah mengusik hatinya.