Zhafira

Zhafira
Part 43



Kebersamaan Zhafira dan Arya membuat Kevan menjadi tidak tenang. Dia begitu gelisah hingga membuatnya tidak bisa tidur. Malam itu, dia masih terjaga dan masih membayangkan kejadian tadi siang.


Di depan matanya, Zhafira datang bersama pemuda itu dan memperkenalkan diri kepada semua teman-temannya, bahkan kepada dirinya. Pemuda itu terlihat tampan dan gagah dengan seragam tentara yang membuatnya terlihat berwibawa.


Tak hanya itu, sifat pemuda itu yang ramah dan bersahabat membuat dia dengan mudahnya diterima oleh teman-temannya. Apalagi, pemuda itu juga berteman baik dengan Vino hingga membuat pemuda itu mudah di terima oleh mereka.


Semua kejadian tadi siang begitu mengusik hatinya. Melihat Zhafira yang selalu tersenyum pada pemuda itu membuat Kevan menjadi bingung dengan perasaannya. Semenjak dia tersadar dari koma, dia tidak pernah menganggap Zhafira orang yang berarti baginya. Di matanya, Zhafira hanya gadis biasa yang sama sekali tidak menarik hatinya. Walau dia tahu, sebelum kecelakaan, mereka berdua adalah pasangan kekasih. Rasa sayang dan cinta untuk gadis itu yang dia jaga selama enam tahun, akhirnya hancur tak berbekas dalam waktu semalam.


Kevan mengusap wajahnya dan bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah kotak yang ada di dalam lemari itu. Kotak kayu berukir itu dia letakkan di atas tempat tidurnya dan mulai membukanya. Gaun pengantin berwarna putih dia angkat dari dalam kotak itu dan memandanginya. Gaun itu terlihat indah dan mewah. Sejenak, dia membayangkan jika gaun pengantin itu dikenakan oleh Zhafira. "Kamu pasti sangat cantik jika memakai gaun pengantin ini," ucap Kevan dengan senyum.


Melihat gaun pengantin itu membuat Kevan mengingat foto-foto yang sempat dia lihat di ponsel Zhafira. Foto-foto mereka berdua saat memakai gaun pengantin itu. Foto yang sudah dia hapus hingga membuat Zhafira menangis. "Aku harus bisa mendapatkan foto-foto itu kembali."


Kevan lantas memeriksa gaun pengantin itu dan menemukan sebuah label nama butik yang menjual gaun pengantin itu.


Keesokan paginya, Kevan pergi ke butik itu. Setibanya di sana, dia disambut oleh pelayan toko yang waktu itu melayani mereka. "Maaf, bukannya Anda yang waktu itu datang bersama calon istri Anda untuk membeli gaun pengantin di sini?" tanya pelayan itu yang ternyata masih mengenali Kevan.


"Apa yang bisa saya bantu, dan di mana calon istri Anda yang cantik itu?" tanya pelayan itu lagi.


"Maaf, saya hanya datang sendiri. Saya ingin minta tolong, apa saya bisa meminta foto-foto kami waktu itu? Saya ingin memintanya lagi karena fofo-foto itu ada di ponsel saya yang sudah hilang. Saya hanya tidak ingin kehilangan foto-foto itu," jelas Kevan yang membuat pelayan itu tersenyum.


"Jangan khawatir, foto-foto itu masih tersimpan dengan baik, bahkan foto-foto itu sengaja kami pajang di butik kami karena melihat Anda dan calon istri yang serasi dan sangat mesra. Maaf, jika kami memajangnya tanpa minta persetujuan dari Anda dan calon istri Anda, tapi jangan khawatir karena kami akan memberikan kompensasi buat Anda," jelas pelayan itu panjang lebar.


Penjelasan pelayan itu ternyata tidak didengar oleh Kevan karena pandangannya sedang tertuju pada sebuah foto yang terpampang di dinding butik itu. Kevan memandangi foto itu tanpa berkedip. Dia begitu terpesona dengan kecantikan Zhafira yang terlihat anggun di foto itu.


"Semua yang melihat foto Anda sangat menyukai dan mengagumi Anda dan calon istri Anda. Mereka mengatakan kalau kalian adalah pasangan yang paling serasi. Walau hanya dari foto, tapi mereka bisa tahu kalau Anda berdua saling mencintai," jelas pelayan itu.


Kevan tersenyum mendengar penjelasan pelayan itu, tapi senyum itu diiringi air mata yang tiba-tiba jatuh. Dia merasa bersalah pada Zhafira karena tidak mengenali gadis itu, setidaknya mencari tahu tentangnya, tapi dia tidak lakukan itu malah meminta Zhafira untuk menjauhinya.


"Tolong simpan foto-foto itu di ponsel saya. Saya berterima kasih karena foto-foto kami masih tersimpan dengan baik," ucap Kevan sambil menyerahkan ponselnya pada pelayan itu.


Kevan menunggu sambil melihat foto-foto itu. "Kamu terlihat bahagia, tapi kebahagiaan itu harus terenggut oleh takdir yang mempermainkan kita. Kenapa aku tidak bisa mengingatmu, padahal kamu adalah orang yang berarti bagiku? Kenapa aku bisa sekejam itu padamu hingga membuatmu tidak ingin lagi melihatku? Apakah aku masih bisa kembali mengingatmu? Tapi, bagaimana kalau selamanya aku tidak bisa lagi mengingatmu?"


Kevan menundukkan wajahnya dan menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Sekuat apapun dia berusaha, tapi dia tidak mampu untuk membendung air mata itu, hingga membuatnya menangis dalam diam.


"Aku tahu kamu tidak lagi mempedulikanku, tapi aku akan berusaha untuk mengingatmu. Aku tidak ingin tenggelam dalam penyesalan dan aku akan pastikan gaun pengantin dan cincin ini akan kembali padamu karena kamu adalah pemiliknya."


Kevan menatap lagi foto-foto itu di ponselnya dan tersenyum. "Foto-foto ini adalah awal bagiku untuk kembali mendapatkan dirimu. Aku akan berusaha untuk mengingat semua tentang kita walau aku harus merasakan sakit di kepalaku ini, karena mungkin aku akan mati jika ingatanku kembali dan mendapati dirimu telah menjadi milik orang lain."


Perlahan namun pasti, Kevan mulai merasakan sesuatu di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia artikan, apakah itu perasaan cinta ataukah rasa kasihan karena melihat Zhafira yang menangis di depannya. Sungguh, tangisan Zhafira mampu meluluhkan hatinya yang selama ini mencoba menolak kehadiaran gadis itu, tapi kini dia begitu mengharapkan kehadiran Zhafira hingga membuatnya tersiksa. Dan kesempatan untuk bisa melihat Zhafira, kini muncul di depan matanya.


"Ayo, kita masuk," ajak Dafa pada Kevan yang masih berdiri di depan gerbang dengan tatapan heran.


Kevan berjalan mengikuti Dafa dari belakang. Walau dia tidak mengingat lingkungan di sekolah itu lagi, tapi dia berusaha untuk terlihat santai. Dia tidak ingin terlihat aneh di depan teman-temannya yang sama sekali tidak diingatnya.


Ardi yang menjadi ketua panitia di acara reuni tahun ini dan dia yang mempunyai ide tentang pertandingan basket antara senior dan junior. Dan kini, Kevan dan teman-teman seangkatannya telah berdiri di dalam lapangan dengan mengenakan baju basket lengkap dengan nama dan tahun mereka lulus.


Kevan menatap mereka dan berusaha untuk mengingat, tapi dia tidak mampu. Dia seakan berdiri di tengah orang-orang yang tidak dikenalnya. Suara sorak sorai dan tepuk tangan membuyarkan lamunannya saat terdengar suara peluit tanda pertandingan di mulai.


Kevan terlihat bingung saat berada di tengah-tengah lapangan itu. Apalagi saat bola yang dilemparkan kepadanya tiba-tiba menghantam kepalanya. "Kevan, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa saat melihat Kevan yang mencoba menahan rasa sakit. Sementara Zhafira tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya saat melihat Kevan kesakitan di dalam lapangan. Walau begitu, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya karena tidak sanggup melihat Kevan merasa kesakitan.


"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa," jawab Kevan yang berusaha untuk bertahan. Amnesia ternyata bukan hanya merenggut ingatan tentang orang terkasih dan teman-temannya, tetapi kelihaiannya dalam bermain basket juga menghilang. Dia tidak bisa mengimbangi teman-temannya hingga dia merasa tidak berguna.


Di babak pertama, tim mereka harus mengalami kekalahan. Skor mereka tertinggal cukup jauh. Tim yang mereka lawan adalah adik-adik mereka yang masih aktif atau bisa dibilang mereka adalah didikkan Ardi yang notabene tahu semua taktik mereka. Ibaratnya, mereka kini sedang bertanding dengan diri mereka sendiri karena memang taktik yang mereka pakai adalah sama.


Mereka kembali ke lapangan. Kevan perlahan mulai mengerti dan memahami permainan itu, hingga tiba-tiba dia mencetak angka dengan melempar bola dan masuk ke dalam keranjang. Suara tepukan tangan bergemuruh dari teman-teman seangkatannya. Melihat dirinya yang berhasil mencetak angka membuat dia semakin bersemangat hingga dia kembali mencetak angka. Perlahan namun pasti, Kevan mulai menikmati pertandingan itu hingga membuatnya tertawa dan tersenyum seperti dulu. Dia begitu menikmati pertandingan itu hingga membuat Zhafira memandanginya, sejenak gadis itu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan lapangan.


Zhafira berjalan menuju salah satu kelas yang menjadi awal kisah cintanya dengan Kevan. Kelas yang membuat dia terus memandangi Kevan hingga pemuda itu kesal dengannya. Zhafira tersenyum saat melintas di kelas itu dan duduk di salah satu bangku yang ada di belakang kelas itu.


Ruangan kelas itu masih terlihat sama, hanya cat tembok yang sudah berubah. Di bangku itu, Zhafira duduk dan meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya. Dia ingin mengingat kembali semua kisahnya bersama orang yang hingga saat ini masih ada di hatinya.


Perlahan, air matanya jatuh dan membasahi sudut matanya. Dia begitu sedih hingga dia menangis di atas meja itu dengan kepala yang masih menunduk. Tangisan Zhafira, kembali mengusik seseorang yang melihatnya dari balik jendela. Seseorang yang merasa kehilangan ketika tiba-tiba melihat Zhafira tidak lagi ada di depan matanya.


Kevan yang melihat Zhafira tba-tiba pergi perlahan mulai terusik dan dia memilih keluar dari lapangan dan mengikuti Zhafira secara diam-diam. Walau semua tentang Zhafira belum diingatnya, tapi rasa ingin tahu tentang gadis itu mulai mengusiknya. Dia ingin mencari tahu tentang Zhafira tanpa harus bertanya kepada siapapun karena dia ingin mengingat Zhafira dari hati bukan dari cerita orang lain.


Melihat Zhafira menangis membuat Kevan ikut merasakan kesedihan gadis itu dan memaksakan kakinya untuk melangkah masuk menemui gadis yang sudah membuat hatinya tersiksa. "Aku tahu aku sudah melukaimu, tapi aku mohon berikan waktu untukku untuk bisa mengingatmu," ucap Kevan yang sudah berdiri di depannya.


Zhafira mengangkat kepalanya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Di depannya, dia bisa melihat lelaki yang begitu di sayanginya berdiri tepat di depannya.


Tanpa mempedulikan Kevan, Zhafira bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari dalam kelas, tapi langkahnya terhenti saat Kevan tiba-tiba meraih tangannya.


"Maafkan aku, aku tahu aku salah. Walau kamu membenciku, tapi aku tidak akan membencimu karena aku akan kembali mendapatkan ingatanku tentang kita. Aku akan mengembalikan gaun pengantin dan cincin itu lagi kepadamu karena cincin dan gaun pengantin itu adalah milikmu," ucap Kevan yang membuat Zhafira tidak kuasa menahan tangis. Zhafira kemudian melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Kevan yang masih berdiri dan terpaku.


Perlahan, Kevan menghapus air mata yang jatuh di pelupuk matanya. Air mata yang sekali lagi jatuh karena hatinya yang tiba-tiba merasakan kehilangan.


Sedangkan Zhafira pergi dengan air mata yang tak kuasa dia tahan, hingga tiba-tiba seseorang datang dan mendekatinya. Melihat orang itu, Zhafira kemudian berlari kearahnya dan memeluknya. Dalam pelukan orang itu Zhafira menangis dan meluapkan rasa sedihnya. "Tolong, bawa aku pergi dari sini," pintanya pada orang itu.


"Baiklah, kita akan pergi dari sini," jawabnya sambil menggenggam tangan Zhafira dan meninggalkan seseorang yang memandangi kepergian mereka dengan perasaan hancur dan terluka.