
Kevan masih terdiam saat Vino datang dan ingin menjelaskan semuanya. Vino dan Kevan adalah teman satu kelas. Mereka berdua sangat akrab, hingga tiba-tiba Kevan berubah menjadi pendiam saat pemilik bangku itu memutuskan untuk berhenti sekolah.
"Kevan, aku tahu kamu tidak suka orang lain duduk di bangku itu, tapi sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini terus?" Vino terlihat kecewa pada sahabatnya itu.
"Ini bukan yang pertama kalinya kamu bersikap seperti itu, tapi kali ini kamu sudah keterlaluan pada Zhafira. Dia itu tidak tahu apa-apa," lanjutnya.
Mereka yang ada di kelas itu merasa heran dengan penuturan Vino. "Maksud kamu apa? Jangan buat kami bingung," ucap Dafa penasaran.
Vino menarik nafas panjang dan mulai menceritakan penyebab kemarahan Kevan.
Pemilik bangku itu adalah seorang siswi yang bernama Khairunnisa Maharani. Gadis cantik yang telah membuat Kevan jatuh hati padanya. Diam-diam, Kevan menyukai gadis itu yang terlihat polos dan sederhana. Kevan menyukai sikapnya yang selalu baik pada siapa saja. Dan rasa itu muncul sejak pertama kali Kevan bertemu dengannya, saat mereka masih duduk di kelas sepuluh.
Sudah lama Kevan menyimpan perasaannya pada gadis itu, hingga mereka dipertemukan saat di kelas sebelas. Mereka berdua berada di kelas yang sama. Hingga beberapa bulan yang lalu, Kevan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu dan dia menerimanya. Kedekatan mereka ternyata telah menarik perhatian anak-anak di dalam kelas, hingga membuat gadis itu tidak disukai. Hingga suatu hari, gadis itu tiba-tiba menghilang dan tidak pernah kembali ke sekolah. Gadis itu pergi tanpa berita hingga membuat Kevan sangat terpukul.
Gadis itu pergi tanpa mengatakan apa-apa. Dia bagaikan hilang ditelan bumi. Kevan sudah mendatangi rumahnya, tapi rumah itu sudah kosong. Kevan sudah menanyakan ke pihak sekolah tentang alasan kepindahannya, tapi percuma. Kehilangan gadis itu telah membuat dunia Kevan berubah. Dia tidak lagi seperti dulu. Wajahnya yang selalu tersenyum kini terlihat dingin.
Mereka terdiam mendengar penjelasan Vino. Mereka tidak menyangka, Kevan yang selalu terlihat dingin ternyata menyimpan rasa kecewa yang teramat dalam.
"Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Tidak sepatutnya aku marah padamu. Maafkan aku," ucap Kevan sambil menunduk.
Entah mengapa, Zhafira meneteskan air mata saat Vino menceritakan itu semua. Zhafira menatap Kevan yang duduk di bangku itu. Perlahan, dia mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya. "Maafkan aku. Aku tidak sengaja duduk di bangku itu, tapi sungguh itu bukan mauku. Aku sendiri bingung kenapa aku memilih masuk ke kelas ini dan duduk di bangku itu," ucapnya sambil menatap lurus ke arah Kevan.
Sesaat, Kevan menatap mata Zhafira. Tatapan itu, tatapan yang rasanya tidak asing baginya. Tatapan yang sering dilihatnya dari seseorang.
Kevan menundukkan pandangannya. Wajahnya yang selalu datar dan tidak pernah tersenyum, kini terlihat sedih. Setidaknya, kini mereka paham. Penyebab Kevan tidak pernah tersenyum di depan gadis manapun itu karena hatinya terlanjur sakit karena kepergian kekasihnya tanpa ucapan apapun.
Zhafira meminta kepada teman-temannya untuk meninggalkan dirinya dan Kevan. Entah mengapa, dia ingin berbicara berdua saja dengan pemuda itu. "Aku tahu dia sangat berarti bagimu, tapi jangan siksa dirimu seperti itu. Mungkin dia punya alasan yang membuatnya takut untuk berterus terang padamu," ucap Zhafira lembut hingga membuat Kevan menatapnya heran.
"Tahu apa kamu soal perasaanku. Orang sepertimu, apa masih mempunyai hati? Jangan menceramahiku dengan persoalan yang kamu sendiri tidak paham," jawab Kevan yang terlihat ketus.
Zhafira tersenyum kecut. Dalam hatinya, dia mengutuki dirinya sendiri yang ikut campur dengan urusan pemuda itu. Entah kenapa dia merasa harus ikut campur walau sebenarnya dia tidak ingin.
"Pulanglah. Dafa pasti sudah menunggumu dan aku minta maaf, atas kekasaranku tadi," ucap Kevan yang kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Tapi ... "
"Sudahlah. Lupakan kejadian tadi dan aku mohon, jangan ganggu aku lagi dengan sikap ingin tahumu itu karena aku tidak akan suka," lanjutnya yang kemudian pergi.
Zhafira menatap kepergian Kevan dengan perasaan campur aduk. Antara benci dan juga kasihan. Dia benci dengan sikap dingin pemuda itu dan juga kasihan karena penyebab sikap dinginnya itu karena kehilangan cintanya.
Sejenak, dia memandangi setiap sudut di kelas itu. "Kenapa kelas ini terasa tidak asing bagiku? Dan kenapa, aku merasa nyaman berada di kelas ini?" batin Zhafira yang merasa heran dengan perasaannya sendiri.
Perlahan, dia menepuk dadanya sendiri seakan ada suatu perasaan yang muncul saat dia melihat Kevan. Perasaan yang membuat dia ingin melihat pemuda itu. Perasaan yang terlampau sakit jika melihat dia bersedih.
Zhafira kembali duduk di bangku itu dan lagi-lagi, dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Apa ini? Perasaan apa ini?" Tiba-tiba dia kembali meneteskan air mata sambil menangis di atas meja. Tanpa dia sadari, Kevan masih memperhatikannya dari balik jendela.
*****
"Pergelangan tangan kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa ketika baru saja datang menjemput Zhafira untuk pergi ke sekolah.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Zhafira sambil memegang pergelangan tangannya yang sebenarnya masih sakit.
Dafa mengingat kembali kejadian itu. Betapa dia sangat marah melihat Zhafira diperlakukan seperti itu. Andai Zhafira tidak mencegahnya, mungkin saja dia sudah menghajar Kevan habis-habisan.
Di dalam kelas, Zhafira lebih banyak diam. Dia masih memikirkan Kevan. Entah mengapa, wajah datar pemuda itu telah mengganggu pikirannya.
"Kenapa aku selalu memikirkan dia? Kenapa hatiku sedih ketika melihat dia? Ada apa denganku?" batin Zhafira yang kemudian bangkit dari bangkunya dan kemudian pergi ke halaman belakang sekolah.
Entah kenapa dia pergi ke tempat itu, dia sendiri tidak tahu. Di atas sebuah kursi sofa bekas dari ruang guru, Zhafira duduk di situ. Wajahnya terlihat sedih. Lagi-lagi, hatinya terusik. Pandangannya menerawang memperhatikan di sekitar tempat itu, hingga matanya tertuju pada sebuah dinding yang membuat jantungnya bergetar hebat.
Dengan langkah yang dipercepat, Zhafira mendekati dinding itu dan mendapati sebuah tulisan. Tulisan yang membuat air matanya jatuh. Sebuah tulisan berinisial K dan N yang di lingkari gambar hati. Tangannya gemetar saat menyentuh tulisan itu.
"Sedang apa kamu di situ? Apa kamu sengaja mengikutiku?" Kevan yang sudah berdiri di belakangnya, tiba-tiba mengagetkannya. Air mata yang sempat jatuh, langsung dihapusnya.
"Aku tidak mengikutimu, aku hanya ... "
"Ah, sudahlah. Jangan ikuti aku. Apa kamu benar-benar penasaran padaku hingga mengikutiku seperti ini?" tanya Kevan dengan wajahnya yang terlihat kesal.
Kevan yang terlihat marah berjalan mendekati Zhafira hingga tubuh gadis itu tersandar ke dinding. Sorot mata Kevan yang tajam membuat Zhafira memalingkan wajahnya.
"Apa kamu suka padaku? Atau jangan-jangan, kamu jatuh cinta padaku dan ingin aku menjadi kekasihmu?" tanya Kevan dengan wajahnya yang hanya beberapa jengkal dari wajah Zhafira.
"Apa kamu pikir, aku suka padamu? Apa kamu pikir, aku sengaja ingin mencari perhatianmu?" ucap Zhafira yang mulai menitikkan air mata.
"Apa begini sikapmu pada kekasihmu itu? Apa jangan-jangan, dia pergi karena sikap kasarmu itu?" lanjut Zhafira yang terlihat emosi.
Mendengar ucapan Zhafira membuat Kevan marah. Seketika, dia meninju dinding dengan kepalan tangannya hingga membuat Zhafira terkejut.
"Jangan pancing emosiku dan jangan ganggu aku dengan sikapmu yang usil itu. Urus saja urusanmu sendiri dan jangan pernah menggangguku!!" ucap Kevan dengan mata yang merah karena menahan emosi.
Tiba-tiba saja, Dafa datang dan menarik kerah baju Kevan dan mengarahkan pukulannya ke pipi kiri pemuda itu. Dafa yang terlihat marah tidak bisa menahan emosinya ketika melihat Zhafira mulai menangis karena ucapan Kevan.
Zhafira yang melihat kejadian itu berusaha untuk melerai perkelahian mereka. "Dafa, hentikan!!" ucap Zhafira yang berlari ke arahnya dan segera memeluknya.
"Dafa, aku mohon jangan lakukan itu," lanjutnya dengan suara tangis yang coba dia tahan.
"Aku yang salah, aku yang sudah membuat dia marah."
"Kenapa kamu selalu membelanya? Sudah jelas dia menyakitimu, tapi kenapa kamu selalu saja membelanya?" Dafa terlihat emosi.
Zhafira berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. Melihat sudut bibir Kevan berdarah, membuat Zhafira menjadi panik. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhafira sambil mendekati Kevan dan hendak membersihkan darah di bibir Kevan dengan sapu tangannya, tapi pemuda itu mengelak.
"Tidak perlu, aku tidak butuh," ucap Kevan datar.
"Urus sahabatmu itu dan bilang padanya agar jangan menggangguku," ucap Kevan pada Dafa dan kemudian pergi meninggalkan mereka.
Zhafira terdiam. Dia masih berdiri dan terpaku. Air matanya perlahan jatuh. Dafa yang masih ada di tempat itu perlahan berjalan mendekatinya.
"Zha," panggil Dafa sambil mencoba meraih tangan gadis itu. Zhafira mengelak. Tangan Dafa dia hempaskan.
Dafa terhenyak. Dia tidak menyangka Zhafira tega melakukan itu padanya. Apakah seorang Kevan telah membuat gadis itu membencinya? Apakah sikapnya itu salah di mata Zhafira?
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengganggumu lagi," ucap Dafa yang kemudian pergi.
Zhafira menangis. Air matanya jatuh melihat sahabatnya itu pergi. Mulutnya terkunci. Dia tidak mampu untuk berucap hingga membuat Dafa paham, kalau sudah saatnya dia harus menghindari gadis itu karena kini, Zhafira tidak memerlukannya lagi.
Dafa berjalan meninggalkan Zhafira dengan perasaan hancur. Air matanya jatuh. "Apa ini adalah akhir dari persahabatan kita? Andai kamu tahu, aku sangat menyayangimu. Aku ingin melindungimu. Apakah kamu pernah sadar dengan perhatianku ini?" batin Dafa yang membuatnya menghantamkan tinjunya ke dinding.
Cinta dan sahabat. Dua status yang sebenarnya hampir sama. Antara perasaan cinta dan persahabatan terlihat mirip, tapi samar. Perasaan sayang seorang sahabat, bisa saja berubah menjadi cinta. Ah, apakah perasaan itu harus di salahkan? Dan itulah yang kini dirasakan oleh Dafa. Rasa sayangnya pada Zhafira telah berubah menjadi rasa cinta yang membuat dia harus terluka. Terluka karena Zhafira telah memilih Kevan dan itu melukai hatinya.
*****
Di dalam kamarnya, Zhafira menangis. Dia sedih karena malam ini, Dafa tidak menemaninya. Dafa tidak datang menemuinya sekedar untuk menanyakan kabarnya. Dia sudah mencoba menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Di dalam kamar, dia sendiri menunggu ibunya yang belum juga pulang.
Di seberang jalan rumah Zhafira, Dafa sedang berdiri. Dia tahu saat ini gadis itu sedang sendiri dan ketakutan. Dia menatap ke arah kamar Zhafira yang masih terang karena lampu kamarnya belum padam dan itu artinya, saat ini Zhafira belum tidur. Walau dia ingin ke rumah gadis itu, tapi dia belum mampu. Belum mampu untuk menerima kenyataan kalau dirinya kini tak lagi di harapkan.
"Arghh." Dafa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Walau kecewa, tapi dia tidak bisa membiarkan Zhafira sendirian di rumahnya. Rasa khawatir yang sudah mengganggunya seketika membuang rasa ego yang sedari tadi menguasai hatinya.
"Aku tidak bisa seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa sekejam itu padanya?" ucapnya sambil berjalan menuju depan pagar rumah gadis itu. Belum sampai di depan pagar, langkahnya terhenti karena mobil Riska muncul dari tikungan jalan.
Dafa kemudian berbalik arah dan berjalan kembali ke tempat semula. Dari dalam mobil, Riska melihat pemuda itu yang seakan menghindar darinya.
"Ada apa dengan Dafa? Kenapa dia buru-buru pergi saat melihat Mama?" tanya Riska pada anak gadisnya itu.
"Memangnya, Mama melihat Dafa di mana?"
"Sepertinya dia mau ke arah depan pagar rumah kita. Memangnya, kalian berdua sedang bertengkar?" tanya Riska yang seketika membuat Zhafira terlihat sedih.
"Besok temui dia dan minta maaf, kalau memang kamu yang salah. Dafa itu anak baik. Lihat saja, dia masih berdiri di sana karena dia khawatir sama kamu," ucap ibunya sambil melirik ke arah jendela kamarnya dan benar saja, Dafa masih berdiri di tempat itu.
Zhafira tersenyum dan mengangguk pelan. Dia tidak menyangka, ternyata Dafa masih mengkhawatirkannya. Perlahan, rasa bersalah menghantui hatinya. "Maafkan aku, Fa," ucapnya pelan.
Lampu kamarnya dimatikan. Dari balik jendela, Zhafira melihat Dafa yang perlahan pergi meninggalkan tempat itu.
Malam ini, Zhafira bisa tidur dengan lelap. Rasa bersalah yang semula mengganggunya, perlahan mulai menghilang. Seiring dengan rasa kantuk yang bermain di matanya. Dengan senyum, Zhafira memulai mimpi yang membuai dalam tidur lelapnya.