Zhafira

Zhafira
Part 18



Di dalam kamarnya, Zhafira duduk merenung sendiri. Sambil memeluk boneka beruang, dia masih memikirkan kejadian tadi siang, di mana Dafa telah menyatakan perasaannya pada Dafena. Entah dia harus bahagia atau terluka. Perasaannya sebagai seorang sahabat, pasti akan bahagia jika sahabatnya itu juga bahagia. Namun, sebagai seorang wanita perasaannya sempat terluka karena dia pernah merasakan cinta pada sahabatnya itu.


"Aku akan bahagia jika kalian juga bahagia. Aku akan tersenyum di depan kalian walau sebenarnya aku juga terluka," batin Zhafira hingga tanpa sadar sudah membuatnya menangis.


Dafa, sahabatnya sejak dulu. Di kala Zhafira susah, Dafa yang akan selalu menemaninya. Di saat Zhafira senang, Dafa orang pertama yang akan dihubunginya. Namun, semua itu tak akan lagi sama seperti dulu. Dia tidak bisa lagi sesuka hati bertemu dengan Dafa karena dia harus menjaga perasaan Dafena. Dia tidak ingin Dafena salah paham padanya.


"Zha, kamu sudah tidur?" tanya ibunya dari balik pintu kamarnya.


"Belum, Ma," jawabnya sambil bergegas membuka pintu kamarnya itu.


"Mama ingin bicara sama kamu, boleh?"


"Boleh, Ma," sahutnya sambil meraih tangan ibunya dan duduk di sisi tempat tidurnya.


"Memangnya, Mama ada masalah?" tanya Zhafira penasaran.


Ibunya tersenyum dan menggeleng. Terlihat, ada raut kecemasan di wajahnya.


"Katakan saja, Ma. Aku akan mendengarkan," ucap Zhafira sambil menggenggam tangan ibunya.


"Bagaimana hubunganmu sama papa?"


"Tidak usah dibahas, Ma. Aku belum bisa menerima istri baru papa itu," jawabnya terlihat acuh.


Ibunya terdiam. Dia paham dengan sifat anaknya yang sangat tidak suka dikhianati. "Jangan seperti itu, bagaimanapun juga dia itukan papamu. Kalau kamu tidak suka sama istri barunya itu setidaknya kamu jangan membenci papamu," nasehat ibunya.


Zhafira terdiam. Sakit hati dan rasa kecewa yang sudah terlanjur dirasakannya tak bisa membuat dia dengan mudah untuk menerima dan memaafkan mereka.


"Mama ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelumnya mama ingin minta maaf," ucap ibunya yang membuat Zhafira mengernyitkan keningnya.


"Katakan saja, Ma. Untuk apa Mama minta maaf padaku?"


Setelah memantapkan hatinya, Riska mulai menyampaikan hal yang sudah lama dipendamnya. "Mama minta maaf, karena selama ini sudah tidak jujur padamu. Sebenarnya, Mama tahu siapa yang sudah mendonorkan mata kepadamu," ucap ibunya yang membuat Zhafira tercengang.


"Maksud Mama?"


"Maafkan Mama, tapi semua itu Mama lakukan karena permintaan dari keluarganya. Mereka tidak ingin kamu tahu siapa orang yang sudah mendonorkan matanya kepadamu. Namun nyatanya setelah melihatmu, papanya ingin berjumpa denganmu. Selama ini, Mama dan papanya sering bertemu hingga akhirnya papanya itu telah meminta Mama untuk menjadi istrinya," ucap ibunya hati-hati.


"Maafkan Mama karena selama ini tidak jujur padamu, maafkan Mama," ucap ibunya sambil memeluknya.


"Apa dia sungguh-sungguh mencintai Mama? Apa Mama juga mencintai dia?" tanya Zhafira. Ibunya mengangguk.


"Apa Mama tidak akan menyesal?" Ibunya kembali mengangguk.


"Kalau itu sudah keputusan Mama, aku tidak akan melarang. Kalau Mama bahagia, aku juga akan bahagia. Lalu, kapan aku bisa menemuinya?"


"Sebenarnya, dia yang sudah meminta Mama untuk bertemu denganmu. Dia ingin lebih dekat denganmu, karena dia telah menganggapmu seperti anaknya sendiri. Dia ingin menikahi Mama bukan karena ingin kita balas budi, tapi karena memang dia mencintai Mama dan Mama pun mencintai dia," jelas ibunya yang berusaha untuk meyakinkan Zhafira.


"Kalau itu keputusan Mama, aku akan mendukung dan juga karena aku ingin berterima kasih dan ingin melihat anaknya yang sudah mendonorkan matanya untukku," ucap Zhafira sungguh-sungguh.


"Kalau begitu, besok sepulang sekolah Mama akan menjemputmu dan kita sama-sama menemuinya dan juga salah seorang anaknya. Mama ingin kamu mendengarkan penjelasannya langsung dari papanya," jelas ibunya dengan perasaan lega. 


Zhafira mengangguk. Entah baginya itu kabar bahagia atau tidak. Dia seakan berdiri di antara rasa bahagia dan kecewa. Dia bahagia karena akhirnya dia bisa tahu siapa yang telah mendonorkan mata untuknya, tapi dia juga kecewa karena ibunya begitu cepat mengambil keputusan.


Keesokan harinya, Zhafira langsung pergi ke sekolah tanpa menunggu Dafa dan memilih untuk naik angkot. Dia tidak ingin lagi pergi ke sekolah bersama Dafa karena dia tidak ingin membuat Dafena cemburu padanya.


"Kenapa tadi kamu tidak menungguku? Apa sekarang kamu ingin menghindar dariku?" tanya Dafa sedikit kecewa.


Baru saja Dafa tiba di sekolah, dia langsung bergegas menemui Zhafira untuk meminta penjelasan. Dia merasa ada sesuatu yang Zhafira sembunyikan darinya.


Zhafira terdiam. Ingin rasanya dia menceritakan semua masalah yang kini sedang dihadapinya pada sahabatnya itu, tapi bibirnya seakan terkunci.


"Zha, kamu tidak apa-apa, kan? Apa kamu sakit?" tanya Dafa sambil meletakkan tangannya di dahi gadis itu.


"Kamu tidak demam, tapi kenapa kamu terlihat pucat?" tanya Dafa yang semakin penasaran.


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap Zhafira, tapi Dafa tidak percaya begitu saja. Persahabatan mereka sedari kecil sudah membuat Dafa hafal dengan sifat dan gerak geriknya.


"Zha, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Kalau memang kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu, tolong bagi masalahmu itu padaku," ucap Dafa yang mulai melunak.


Zhafira menunduk. Tanpa sadar, air matanya terjatuh. "Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir padaku. Entah ini masalah atau bukan, tapi jujur aku tertekan," jelas Zhafira sambil menghapus air matanya.


"Di depan mama, aku mengangguk mengiyakan, tapi jujur aku belum siap melihat mama menikah lagi. Sudah cukup aku kehilangan ayahku karena aku takut jika aku juga akan kehilangan ibuku," ucap Zhafira terisak.


Dafa mendengar cerita Zhafira dengan penuh perhatian. Dengan lembut, dia membelai rambut sahabatnya itu. "Jangan lakukan itu, aku tidak ingin Dafena salah paham padaku," elak Zhafira.


Dafa paham, tapi kebiasaannya untuk membelai rambut Zhafira saat gadis itu sedang bersedih tidak bisa hilang begitu saja. Ditariknya kembali tangannya dari rambut Zhafira dan hanya bisa menatap gadis itu tanpa suara. "Zha, aku paham perasaanmu. Aku tahu kamu tidak ingin kehilangan ibumu, tapi cobalah untuk berprasangka baik. Mungkin saja, ayah gadis itu ingin dekat denganmu, karena bagaimanapun di tubuhmu ada mata anaknya. Dengan dekat denganmu, mungkin kerinduan akan anaknya itu akan sedikit terobati," ucap Dafa yang sekali lagi membuat Zhafira terhentak.


Dia mengakui kebenaran ucapan Dafa sama seperti apa yang dikatakan ibunya semalam. Setiap ucapan Dafa selalu membuat perasaannya menjadi nyaman. Setiap masalah yang dia hadapi, selalu terselesaikan jika masalahnya itu sudah dia ceritakan kepada Dafa. Dafa bagaikan malaikat penolong baginya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Temuilah ayah gadis itu dan lihat apa reaksinya padamu. Kalau dia memang mencintai ibumu tulus, maka dia pasti juga akan menyayangimu," ucap Dafa.


Sekali lagi Zhafira terdiam. Walau berat, tapi dia harus melakukan seperti apa yang disarankan Dafa padanya. Setidaknya, dia tidak ingin membuat ibunya kecewa. "Baiklah, aku akan ikuti saranmu itu, terima kasih," ucap Zhafira sambil tersenyum.


"Kalau punya masalah, jangan sungkan untuk menceritakannya padaku. Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu menanggung masalahmu sendiri dan satu hal lagi, jangan pernah mencoba untuk menghindar dariku, aku tidak suka dan aku pasti akan terluka. Bisa, kan?" ucap Dafa sambil menatap wajah Zhafira.


"Baiklah," jawab Zhafira yang kemudian tersenyum.


*****


Di depan gerbang sekolah, sebuah mobil hitam sudah terparkir di sisi jalan. Zhafira melihat ke arah mobil itu dan melihat ibunya yang melambaikan tangan padanya kemudian masuk ke dalam mobil itu kembali.


"Semoga berhasil dan ingat pesanku tadi," ucap Dafa mengingatkan. Zhafira mengangguk dan melepaskan senyum padanya.


Zhafira kemudian menuju mobil itu dan menemui ibunya yang sudah menunggu. Tak lama kemudian, mobil itupun melaju menuju sebuah kafe, tempat di mana mereka janji bertemu.


Di dalam mobil, Zhafira terdiam. Perasaannya campur aduk hingga membuatnya tidak bisa berkata apapun.


"Zha, kamu kenapa?"


"Tidak kok, Ma," jawab Zhafira sambil tersenyum.


Di depan sebuah kafe, mobil itu berhenti. Zhafira dan ibunya keluar dari mobil itu dan berjalan menuju kafe itu. Di salah satu meja, sudah duduk seorang pria yang terlihat tampan walau sudah tidak muda lagi. Pria itu kemudian berdiri saat melihat Zhafira dan ibunya datang.


"Maaf, Mas sudah lama menunggu?" tanya ibunya pada pria itu dengan sebutan Mas. Melihat mereka, Zhafira mulai yakin kalau mereka memang terlihat sangat dekat.


"Mas juga baru sampai," jawab pria itu yang terlihat sangat berwibawa.


"Ayo, silakan duduk," lanjut pria itu yang mempersilakan mereka untuk duduk.


Melihat Zhafira, pria itu terus memandanginya. Tatapan matanya, bagaikan tatapan seorang ayah yang baru melihat putrinya setelah sekian lama terpisah. Tatapan yang penuh dengan kerinduan. "Kamu sangat cantik," puji pria itu.


"Terima kasih, Om."


"Zha, Om ini adalah papa gadis itu. Namanya, Om Wira," ucap ibunya.


"Om minta maaf, kalau kamu merasa tidak nyaman. Mungkin ibumu sudah menceritakan tentang hubungan kami, tapi jujur Om tidak ingin kamu salah paham, karena Om benar-benar serius dengan ibumu," jelas Om Wira.


"Kedekatan kami bermula saat Om sering bertemu dengan ibumu hanya untuk menanyakan kabarmu. Terus terang, Om sudah menganggapmu seperti anak Om sendiri karena itu juga permintaan dari anak Om," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Zhafira terhentak. Dia seakan tidak percaya dengan ucapan pria itu. Hingga pria itu memberikannya secarik kertas.


Zhafira membaca tulisan di lembaran kertas itu. Tertulis sebuah nama yang membuat jantungnya berdetak hebat. Matanya langsung berkaca-kaca dan tak kuasa menahan tangis.


Gadis itu adalah Rani. Gadis yang sudah menjadi sahabatnya selama beberapa hari. Gadis yang selalu menemaninya dan mengubah hidupnya. Gadis yang membuat Zhafira mengerti akan makna kehidupan dan kasih sayang.


Zhafira menangis terisak mengingat kedekatan mereka. Walau kedekatan mereka hanya beberapa hari, tapi itu sangat berarti baginya. Walau Zhafira tidak tahu rupa wajahnya, tapi kebaikan hatinya telah tertanam di benak Zhafira.


Ternyata, Rani berhati mulia. Bukan hanya mata yang dia berikan pada Zhafira, tapi kasih sayang seorang ayah rela dia berikan untuk Zhafira. Rani tahu, ayah Zhafira telah membuat Zhafira terluka. Walau dia sadar, kasih sayang ayahnya yang dia tawarkan pada Zhafira tak sebanding dengan kasih sayang seorang ayah kandung, tapi dia ingin mencoba membuat Zhafira tersenyum dan bahagia.


Membaca setiap kalimat yang dituliskan Rani membuat Zhafira menangis sesenggukan. Dia tidak sanggup menahan rasa sedih dan juga bahagia.


Rani tidak ingin meninggalkan duka pada sahabat dan juga ayahnya. Karena itu, melalui secarik kertas itu dia meminta kepada ayahnya untuk bisa mencintai dan menyayangi Zhafira seperti menyayangi dirinya. Dan dia juga meminta kepada Zhafira agar menerima kasih sayang dan cinta dari ayahnya karena dia tidak ingin ayahnya larut dalam kesedihan karena kehilangan dirinya.


Spontan, Zhafira langsung berdiri dan segera memeluk Om Wira sambil menangis. Dia tidak sanggup menahan air mata yang terus memaksa untuk mengalir. Dia sendiri tidak paham dengan sikapnya itu, tapi melihat Om Wira yang menatapnya membuat matanya tak kuasa menahan tangis. Seakan ada ikatan batin yang membuat Zhafira ingin memeluknya dan mengatakan kalau anaknya ada di sini, ada di depannya.


Mereka terlihat bagaikan seorang anak dan ayah yang baru saja berjumpa setelah sekian lama terpisah. Mereka seakan ingin melepas rindu yang selama ini terpendam. Tanpa kata, hanya dengan pelukan dan air mata yang membuat mereka enggan untuk kembali berpisah.