
Zhafira memeluk ayahnya saat mereka pamit untuk pulang. "Papa senang karena akhirnya kamu menemukan jodoh yang baik dan sayang sama kamu. Papa juga bersyukur karena kamu mau memaafkan Papa," ucap Fauzy sambil memeluk anaknya itu.
"Iya, Pa. Nanti Zhafira akan sering-sering datang menengok Papa. Dan terima kasih karena Papa masih sehat dan sudah memberikan aku adik yang sangat lucu," ucap Zhafira sambil memandangi adiknya dan Kevan yang tampak mulai akrab.
"Aku pinjam Zhafira sebentar. Nanti aku akan membawanya kembali, boleh kan, Pa?"
"Boleh, dia itukan adikmu. Lagipula dia sudah mulai terbiasa dengan kalian, lihat saja tingkahnya bersama Kevan," tunjuk ayahnya saat melihat anaknya itu dengan manja meminta gendong kepada calon menantunya yang membuat Zhafira tersenyum. Mereka kemudian pamit dan menuju ke rumah Zhafira di mana teman-temannya sudah berkumpul.
Setibanya di sana, teman-temannya terkejut saat melihat Zhafira datang bersama seorang gadis kecil yang cantik dan imut.
"Kalian sudah menculik anak siapa? Tapi rasanya wajah anak ini sepertinya mirip dengan seseorang?" tanya Vino sambil mencoba mengingat.
Dafena mendekati anak itu yang masih memegang tangan Kevan. "Kamu sangat cantik, kalau boleh tahu, namamu siapa?" tanya Dafena lembut sambil meraih tangan gadis kecil itu.
"Namaku Zhafira, Tante," ucapnya yang membuat mereka menatap Zhafira dan kembali menatap gadis kecil itu karena heran.
Dafa mendekati Zhafira seakan ingin bertanya. "Jangan-jangan, dia itu adik kamu?" Zhafira mengangguk.
"Jadi, kamu sudah memaafkan ayahmu?" tanya Dafa lagi yang membuat Zhafira kembali mengangguk.
Dafa lantas memeluknya karena dia bangga dengan sahabatnya itu. "Aku tahu kamu pasti bisa memaafkan ayahmu itu. Aku turut senang akhirnya kamu dan ayahmu bisa bersama lagi," ucap Dafa yang membuat mereka semua menatap ke arahnya.
"Kamu tahu tidak kalau wajah adikmu ini sama persis dengan wajahmu saat masih kecil dulu?" tanya Dafa sambil mendekati gadis kecil itu.
"Apa kamu masih ingat? Aku juga sempat berpikir seperti itu, sih," ucap Zhafira sambil menatap wajah adiknya itu.
Kehadiran adik Zhafira ternyata membuat suasana menjadi ramai. Mereka berebut untuk menggendongnya, tapi adiknya itu lebih menyukai Ardi yang selalu membuatnya tertawa.
"Sepertinya, kamu bakal punya saingan," ucap Kevan pada Zhafira sambil melihat ke arah Ardi yang tidak bisa lepas dari adiknya itu.
"Aku jadi lega kalau adikku bisa sedekat itu dengan Kak Ardi. Setidaknya, jika kita menikah nanti, Kak Ardi tidak akan kesepian," ucap Zhafira sambil memandangi mereka.
Kehadiran Zhafira kecil ternyata membuat Zhafira dan Kevan menjadi lupa dengan tujuan mereka berkumpul dirumahnya. Hingga dia teringat saat melihat cincin di tangannya.
"Teman-teman, ada yang ingin kami berdua sampaikan," ucap Kevan sambil menggenggam tangan Zhafira.
"Kami sudah memutuskan untuk menikah minggu depan, jadi kami ingin meminta bantuan kalian untuk membantu persiapan pernikahan kami," jelas Kevan yang membuat mereka semua terdiam.
"Kalian kenapa diam? Kalian tidak mau membantu kami?" tanya Kevan heran dengan sikap teman-temannya itu. Tiba-tiba, mereka semua bangkit dan memeluk pasangan itu sambil menangis karena momen inilah yang sudah lama mereka nantikan.
"Akhirnya aku bisa mendengar kabar bahagia ini," ucap Ardi sambil memeluk Zhafira dan Kevan. Begitupun dengan Dafa yang memeluk keduanya karena kini, sahabatnya akan bahagia bersama seseorang yang pantas untuknya.
"Aku bahagia karena sahabatku yang cantik ini akan segera menikah," ucap Dafa sambil memeluk Zhafira.
"Terima kasih. Kalian adalah sahabat-sahabatku yang paling aku sayangi," ucap Zhafira yang tidak kuasa menahan tangis.
"Sudah cukup acara pelukannya, sekarang kita mulai bagi tugas. Kevan, kamu harus menjaga Zhafira, jangan buat pengorbanan kami sia-sia," ucap Vino yang membuat Kevan tersenyum dan merangkul Zhafira dalam pelukannya.
"Jangan khawatir, aku akan menjaga dan menyayangi Zhafira sepanjang hidupku," ucap Kevan sambil mencium kening Zhafira di depan mereka.
"Woi...belum sah, sabar, sabar," ucap Ardi sambil menarik tangan Zhafira agar menjauh dari Kevan.
Mereka tertawa melihat candaan Ardi yang membuat Kevan menarik kembali tangan Zhafira agar tidak jauh-jauh darinya.
Sementara Zhafira kecil tampak mulai akrab dengan mereka. Tawa dan senyumnya membuat suasana semakin ceria.
*****
Persiapan yang dilakukan teman-teman dan keluarga besar mereka akhirnya rampung. Semua sudah tersusun rapi dan terencana. Undangan yang sudah disiapkan sebelumnya sudah tersebar. Para sahabat dan juga kolega ayah Kevan turut diundang.
Di malam sebelum pernikahan, rumah Zhafira tampak ramai. Kehadiran keluarga dan sahabat, membuat malam itu lebih istimewa. Tepatnya, di jam tujuh malam tampak iring-iringan keluarga besar dari pengantin laki-laki datang membawa seserahan yang diterima langsung oleh Fauzy selaku ayah pengantin wanita dan Ardi sebagai kakak lelakinya. Iring-iringan itu membawa seserahan yang lumayan banyak.
Di antara iring-iringan itu, tampak wajah Kevan yang tersenyum bahagia. Dengan di dampingi ketiga sahabatnya yang terlihat gagah, Kevan diapit dan berjalan memasuki ruang tamu rumah itu yang sudah didekorasi dengan aneka hiasan bunga yang cantik.
Sementara di dalam kamar, Zhafira tengah duduk dan bercanda bersama adiknya yang sedari tadi menemaninya di dalam kamar.
"Kakak sangat cantik," puji adiknya sambil mencium dan mengelus lembut pipi Zhafira. Tangan mungilnya menggenggam tangan Zhafira yang tampak cantik dengan hiasan hena yang sudah melekat indah di sela-sela jarinya.
"Zha, Kevan dan keluarga besarnya sudah datang," ucap Riana yang buru-buru masuk ke dalam kamar.
Kedatangan Kevan dan keluarganya memang sudah ditunggu dari tadi. Zhafira yang sudah terlihat cantik segera bergegas berdiri dan mengintip dari balik jendela untuk melihat Kevan dan keluarganya, tapi wajah pemuda itu tidak dilihatnya.
"Pengantin kita ini rupanya sudah tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya. Sabar Zha, besok juga dia bakal jadi milikmu," canda Refa yang membuat Zhafira tersipu malu.
Sementara Kevan juga mengalami hal yang sama. Dia begitu ingin bertemu dengan calon pengantinnya hingga membuat dia menjadi gelisah.
"Zhafira mana?" bisik Kevan pada Ardi.
"Kenapa? Apa kamu sudah tidak sabar bertemu dengannya?" goda Ardi.
"Ayolah, Kakak ipar, mana calon pengantinku?"
"Tuh," tunjuk Ardi pada Zhafira kecil yang berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Mana Kak Zhafira?" bisik Kevan pada gadis kecil itu.
"Di kamar. Kakakku cantik, deh," ucap gadis kecil itu dengan senyum.
"Bilang sama Kak Zhafira kalau Kak Kevan ingin bertemu," ucap Kevan lagi.
"Kakak bilang nanti besok saja baru bertemu." Mendengar jawaban gadis itu membuat semua sahabatnya tertawa.
Kevan yang seharian tidak bertemu dengan Zhafira cukup membuat dia menahan rindu, hingga dia memutuskan untuk menelepon kekasihnya itu.
"Hallo."
"Zha, aku rindu," ucap Kevan dengan suaranya yang manja.
"Zhafira tidak ada, dia lagi tidur."
"Lalu, ini siapa?"
"Calon kakak iparmu." Sontak saja telepon itu dimatikan oleh Kevan hingga membuat mereka tertawa.
Kevan menutup teleponnya dan terlihat malu karena yang mengangkat teleponnya tadi adalah Riana. Tiba-tiba, ponselnya berdering dan tertulis nama Zhafira di layar. Antara ragu dan malu, Kevan masih menatap layar ponsel itu.
"Hallo," sapa Kevan sewajarnya karena takut keceplosan seperti tadi.
"Maaf, soalnya tadi ponselku diambil oleh mereka saat mereka tahu kamu meneleponku," ucap Zhafira dengan manja.
Mendengar suara Zhafira, sebuah senyuman terlukis di sudut bibirnya. "Aku cuma mau bilang kalau aku merindukanmu," ucap Kevan yang membuat Zhafira tersenyum.
"Bersabarlah, sebentar lagi aku akan turun."
"Cepatlah, aku sudah tidak sabar untuk melihat calon istriku."
"Baiklah, aku akan turun sekarang."
Zhafira menatap dirinya di depan cermin. Wajahnya tampak cantik. Dia terlihat anggun dengan balutan gaun berwarna peach.
Zhafira berjalan menuruni tangga dengan didampingi sahabat dan adik kecilnya. Kecantikkan wajah Zhafira mengundang decak kagum dari orang tua Kevan dan keluarga besarnya.
Melihat Zhafira, Mira kemudian bangkit dan memeluk calon menantunya itu dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya. Sementara Kevan, masih terpesona dengan wajah cantik Zhafira yang kini duduk di depannya.
"Menantuku ini sangat cantik," puji Mira sambil menggenggam tangan Zhafira.
Zhafira tersenyum dan memandangi Kevan yang sedari tadi menatap ke arahnya. Tatapan Kevan membuat Zhafira menundukkan wajahnya. Dia tidak sanggup menatap wajah pemuda itu yang terus-terusan menatapnya.
*****
"Ayo, siap-siaplah!!" ucap Ardi pada Riana saat melihat iring-iringan pengantin lelaki yang berjalan memasuki halaman rumahnya.
Ardi yang tampak gagah itu menerima dan mempersilakan iringan pengantin untuk masuk. Sementara Kevan yang terlihat tampan dan berkharisma, dituntun untuk duduk di depan penghulu dan wali nikah. Tidak sedikitpun terlihat raut kecemasan dan gugup di wajahnya. Kevan tampak santai tanpa merasa ada beban, karena momen inilah yang sudah di dambakannya sejak dulu.
Kevan duduk berhadapan dengan Fauzy dan bersiap melakukan ijab kabul. Sementara Zhafira duduk di dalam kamar dengan ditemani adiknya, sahabat-sahabatnya dan juga Tante Maya. Perlahan, terdengar suara riuh dan tepukkan tangan yang menandakan ijab kabul sudah selesai dilaksanakan.
Zhafira menatap sahabat-sahabatnya dengan tersenyum dan air mata yang hampir jatuh. Sejurus, Zhafira menatap ke arah Tante Maya dan segera memeluk wanita itu.
"Jangan menangis, ini hari bahagiamu. Tante tahu, saat ini kamu merindukan ibumu dan Papa Wira. Tante yakin, mereka pasti sedang bahagia karena anak mereka kini sudah hidup berbahagia," ucap Tante Maya sambil menahan tangis karena mengingat sahabatnya itu.
Melihat Zhafira menangis, adiknya kemudian menghapus air mata di pipi Zhafira dan menggenggam tangannya. Melihat adiknya itu, Zhafira tersenyum dan mengecup lembut pipi gadis kecil itu.
"Ayo, Kak. Kak Kevan sudah menunggu," ucapnya sambil meraih tangan Zhafira. Zhafira mengangguk dan berjalan bergandengan tangan dengan adiknya itu dan diikuti sahabat-sahabatnya.
Zhafira tampak anggun dan cantik dengan gaun pengantin berwarna putih hingga membuat Kevan tidak mengalihkan pandangannya dari kekasihnya yang baru saja resmi jadi istrinya itu.
Melihat Zhafira yang berjalan perlahan mendekatinya, membuat Kevan segera berdiri dan mengulurkan tangannya dan disambut dengan kecupan di punggung tangannya itu. Dengan senyum, Kevan membalas dengan mengecup kening Zhafira dengan diiringi sebait doa agar mereka terus bersama dan bahagia selamanya.
Fauzy yang melihat anak gadisnya tengah berbahagia, turut menitikkan air mata saat anak dan menantunya itu duduk di depannya sembari meminta doa restu. Dia tidak menyangka, dia masih punya kesempatan untuk menyaksikan pernikahan anak gadisnya itu. Isak tangis mewarnai momen yang sudah membuat mereka terharu.
Zhafira teringat akan ibunya dan Papa Wira yang sudah tiada. Dia teringat kepada Rani yang sudah mempertemukannya dengan seseorang yang kini sudah menjadi suaminya. Zhafira menitikkan air mata hingga membuat Kevan memeluknya.
Di depan orang tua Kevan, mereka turut meminta restu. Tante Mira, memeluk menantunya itu dengan tangisan. Dia begitu terharu karena mengingat perjuangan dan ujian cinta yang dialami oleh Zhafira. Begitupun dengan ayahnya Kevan yang memeluk Zhafira dan meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu.
Zhafira memandangi sahabat-sahabatnya yang selama ini sudah menemaninya. Di depan Dafa, Zhafira menangis dan memeluknya erat. Dafa, sahabat dan cinta pertamanya, selamanya takkan pernah terlupakan.
"Aku sudah menepati janjiku untuk bisa bahagia dengan pilihanku. Akhirnya, aku bisa mengangkat kepalaku dengan bangga di depanmu, karena aku tidak salah mengambil keputusan. Kita akan sama-sama bahagia dengan orang yang kita cintai. Aku berharap, selamanya kita akan tetap menjadi sahabat baik dan tidak akan saling melupakan," ucap Zhafira di dalam pelukan sahabatnya itu.
Dafa memeluk Zhafira dengan tangis yang tidak bisa dia tahan. Kini, wanita yang pernah hadir di hatinya, telah menemukan kebahagiaannya.
Zhafira memeluk Dafena yang kini tengah mengandung buah hatinya bersama Dafa. "Jaga dirimu dan keponakanku ini baik-baik. Aku menyayangimu," ucap Zhafira sambil memeluk sahabatnya itu.
Begitupun dengan Revan dan Reva. Zhafira memeluk mereka dan berharap mereka juga segera menikah. Tak lupa, Vino dan Kheyla yang sedari tadi ikut menangis.
"Jangan menangis, nanti dua keponakanku akan ikut sedih," ucap Zhafira sambil mengelus lembut perut Kheyla yang mulai membesar.
"Bro, selamat, ya. Akhirnya sahabatku ini bahagia juga," ucap Vino sambil memeluk Kevan. Walau sedih, tapi Vino masih bisa menahan air matanya, tapi tak berlangsung lama karena tiba-tiba saja dia kembali memeluk Kevan dan menangis karena mengingat masa-masa sekolah dan juga kisah perjuangan cinta sahabatmya itu.
Zhafira mengalihkan pandangannya pada Ardi yang sudah membuka kedua tangannya untuk segera memeluk adiknya itu.
Zhafira kemudian memeluk kakaknya itu dan menangis dalam pelukannya. Zhafira mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Ardi. Pertemuan yang membuat mereka menjadi saudara. Ardi, bukan hanya seorang kakak baginya, tapi sudah seperti seorang ayah yang selalu menjaga dan melindungi anaknya. Zhafira begitu dimanjakan dengan sikap Ardi yang selalu menyayanginya.
"Kakak berdoa kamu dan Kevan akan selamanya bahagia. Kakak selalu bercanda meminta Kevan segera menikahimu agar kamu bisa pergi bersama Kevan, tapi Kakak tdak sadar kalau itu ternyata menyakitkan. Kakak harus merelakanmu pergi bersama Kevan. Kakak pasti akan sangat merindukanmu." Ardi menangis hingga membuatnya hampir terjatuh hingga Kevan segera memeluknya.
"Aku akan menjaga Zhafira. Kami akan sering-sering menginap di rumah ini, karena rumah ini adalah rumah kami juga. Kamu tidak keberatan, kan?" Ardi mengangguk dan memeluk Kevan dan Zhafira.
Isak tangis bahagia ternyata membuat orang-orang yang hadir ikut menitikkan air mata. Betapa, ikatan persahabatan dan pertemanan bisa menghadirkan ikatan persaudaraan.
Zhafira mulai menghapus air matanya dan membuat penata rias kembali bekerja ekstra. Kedua pengantin itu kemudian bersalaman dengan para tamu undangan yang datang untuk memberikan restu. Tak lupa, ada seseorang yang juga datang untuk melihat kebahagiaan di wajah wanita yang pernah membuat dia jatuh cinta.
"Arya?" tanya Zhafira terkejut dengan kehadiran pria tampan itu.
"Aku pikir, kalian tidak ingin mengundangku, tapi setelah mendapat telepon dari seseorang, maka aku buru-buru datang ke sini. Untung saja aku mendapat izin dari komandanku hingga aku bisa datang ke sini," ucap Arya yang terlihat semakin gagah dan tampan.
"Memangnya, siapa yang meneleponmu?"
"Tuh, suami kamu." Arya menunjuk ke arah Kevan.
"Iya, aku. Aku punya hutang sama Arya. Waktu itu kalau bukan karena cemburu pada Arya, mungkin selamanya aku akan terus memendam perasaanku padamu," jelas Kevan yang membuat Zhafira tersenyum.
"Kalau aku tahu kamu sempat cemburu padaku, mending aku bawa Zhafira ke Kalimantan sekalian, biar kamu juga ikut ke sana," canda Arya yang membuat mereka tertawa.
Kehadiran sahabat dan teman-temannya membuat mereka berdua bahagia. Mereka tidak menyangka, kalau perjalanan cinta mereka akan berakhir bahagia setelah diuji dengan berbagai macam halang dan rintang yang mampu mereka lewati bersama.
Acara pernikahan yang berlangsung sederhana itu tidak mengurangi kemeriahan dan kebersamaan mereka. Hingga tamu undangan satu persatu mulai undur diri dan rumah mereka kembali sepi.
"Sepertinya, kamu perlu obat yang waktu itu ditawarkan Revan pada Dafa. Aku sudah membawanya buat persiapanmu nanti malam," bisik Vino kepada Kevan saat mereka sedang duduk melepas lelah.
"Lagi bisik-bisik apa? Awas kalau kasih saran yang tidak-tidak pada suamiku," ucap Zhafira yang langsung membuat Vino terdiam dan menjauh dari Kevan. Melihat tingkah Vino membuat mereka semua tertawa.
"Sebaiknya, kalian berdua bersiap-siap. Sebentar lagi, kalian sudah harus berangkat," ucap Tante Mira.
Walau lelah, tapi mereka berdua begitu menikmati kebersamaan mereka dengan keluarga dan sahabat mereka. Dan kini, mereka harus melakukan perjalanan bulan madu ke Bali karena Kevan ingin berbulan madu ke tempat yang disukai istrinya, yaitu pantai.
Sore itu juga, mereka berangkat dan diantar oleh semua sahabat dan keluarga. Zhafira memandangi adiknya yang tampak menangis saat melihatnya pergi dan sedang dibujuk oleh Ardi.
Di dalam pesawat, Zhafira duduk dan menyandarkan kepalanya di lengan Kevan dan menggenggam tangannya. Hingga tak lama kemudian, mereka tiba di Bandara Ngurah Rai dan menuju salah satu villa sederhana yang berdiri di pesisir pantai yang terlihat sunyi dan masih asri.
Melihat pesisir pantai membuat Zhafira tersenyum dan berlari pelan di atas hamparan pasir putih. "Tempat ini sangat indah. Aku suka tempat ini," ucap Zhafira manja sambil memeluk dan melingkarkan kedua tangannya di punggung suaminya itu.
"Kamu boleh tinggal di sini, karena villa yang akan kita tempati nanti adalah milikmu," ucap Kevan yang membuat Zhafira memandanginya dengan heran.
"Milikku?"
"Aku sudah membelinya sebagai hadiah pernikahan untukmu dan aku senang karena ternyata kamu menyukainya," ucap Kevan yang membuat Zhafira segera memeluknya dan mencium pipinya.
"Kenapa cuma di pipi, sini juga dong." Tunjuk Kevan ke arah bibirnya. Tanpa malu, Zhafira kemudian mengecup bibir suaminya itu hingga membuat Kevan segera membopongnya dan membawanya ke dalam villa.
Matahari yang perlahan meninggalkan peraduannya menyisakan warna jingga di langit yang perlahan mulai menghitam. Dari balik jendela, Zhafira menatap ke luar dan menyaksikan pesona laut dengan segala keindahannya. Suara deburan ombak yang samar-samar terdengar membuat Zhafira memejamkan matanya, hingga dia dikejutkan dengan pelukan hangat seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Kamu bahagia, kan?" tanya Kevan sambil mengecup pipi sang istri.
Zhafira mengangguk dan masih memandang ke luar jendela. Perlahan, titik air hujan mulai turun dan membasahi jendela. Zhafira membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Kevan yang kini berdiri di depannya.
"Mulai sekarang, aku tidak takut lagi dengan hujan dan petir karena aku mulai menyukainya. Kamu tahu kenapa? Karena petir dan hujan sudah membuatmu kembali padaku dan aku ingin menikmati saat-saat itu dalam pelukanmu." Zhafira kemudian memeluk tubuh Kevan dan mencoba menikmati suara air hujan yang membuatnya kembali memejamkan matanya.
Kevan lantas meraih tubuh Zhafira dalam gendongannya dan membawanya ke tempat tidur. Dengan mesra, Kevan mengecup bibir Zhafira dan berbaring di samping tubuh istrinya itu.
"Aku sangat bahagia karena aku bisa memilikimu seutuhnya. Aku harap, kita selamanya akan selalu bahagia," ucap kevan sambil memandangi wajah Zhafira yang kini tengah tersenyum padanya. Zhafira mengangguk dan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan tubuh kekar suaminya itu.
Malam itu, suara hujan dan petir seakan menyambut kedatangan mereka. Zhafira tampak bersembunyi di balik selimut dan memeluk tubuh Kevan yang kini telah menjadi suaminya, hingga membuatnya menitikkan air mata bahagia karena dirinya kini telah menjadi wanita sepenuhnya.
Zhafira masih menyembunyikan tubuhnya dalam pelukan Kevan dengan peluh yang masih tersisa di dahinya. Dengan mesra, Kevan menghapus peluh itu dan mencium keningnya. Kevan memandangi wajah cantik Zhafira yang sudah membuatnya menjadi lelaki seutuhnya. Lelaki yang berhak dengan tubuh yang kini pasrah dalam peluknya.
"Aku mencintaimu. Aku bahagia karena memilikimu. Kamu adalah tujuan hidupku, kini dan nanti, tetaplah menjadi Zhafira yang aku cintai." Kevan mencium bibir ranum milik istrinya itu dan kembali menutup tubuh mereka dengan selimut.
T A M A T
******
Akhirnya novel ini selesai juga, padahal sempat berpikir untuk menghapus ceritanya karena tidak dilirik waktu masih aktif di si orange.
Tapi, sejak up di noveltoon, aku jadi bersemangat karena pembaca setia novel ini selalu memberi komentar yang membuatku lebih bersemangat. Jujur, aku sendiri masih tidak percaya kalau novelku ini selalu ditunggu oleh pembaca dan aku ingin berterima kasih buat kalian yang sudah membaca dari awal sampai akhir, yang selalu menunggu untuk up lagi. Berkat kalian, novelku harus aku buru agar bisa update tiap hari dan akhirnya bisa selesai. Ah...leganya 😊😊
Aku berharap, novelku sedikitnya bisa menghibur kalian. Kalau ada penulisan yang menyinggung atau typo, mohon dimaafkan. Dan jangan lupa untuk memberikan saran dan kritik yang membangun agar kedepannya bisa lebih baik lagi.
Untuk semuanya yang sudah singgah di novelku ini, aku ucapkan banyak terima kasih, dan semoga kita bisa jumpa lagi di novelku yang selanjutnya, ya walau masih bingung mau buat cerita seperti apa, tapi di tunggu aja, ya....
Salam sayang buat readersku semua 😘😘😘😘
embun_senja