
Zafira masih menatap Kevan dengan senyum yang terpancar dari bibirnya. Pemuda itu tampak gagah dengan balutan kemeja putih yang dipadukan dasi berwarna biru tua dengan celana hitam yang melekat di tubuhnya. Tak hanya Kevan, di tempat itu juga ada sahabat-sahabatnya yang juga sedang asyik bermain basket bersama-sama.
"Sudah berapa lama kita tidak melihat mereka main basket bersama? Aku jadi ingat masa-masa sekolah kita dulu," ucap Kheyla yang tampak cantik dengan balutan blues hitam dan celana jeans ketat yang membuatnya terlihat lebih dewasa.
"Mungkin sudah dari lima tahun yang lalu," jawab Dafena sambil memandangi Dafa dan tiba-tiba bertepuk tangan karena Dafa berhasil mencetak angka.
Melihat Dafena yang bertepuk tangan untuknya membuat Dafa melambaikan tangan kepada gadis itu. Dafena lantas membalas lambaian tangan Dafa dan melepaskan senyum untuknya.
"Aku iri pada kalian berdua, aku tidak menyangka kalau sekarang kalian sudah bertunangan," ucap Refa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dafena.
Dafena dan Dafa baru sebulan yang lalu melangsungkan acara lamaran. Setelah berpacaran lebih dari lima tahun, mereka berdua akhirnya sepakat untuk melangkah ke hubungan yang lebih serius.
Sedangkan Revan yang notabene anak orang kaya, masih harus mengambil hati kedua orang tuanya untuk bisa menerima Refa yang hanya dari kalangan biasa saja. Namun, kekuatan cinta mereka masih bisa bertahan hingga sekarang walau mereka harus dihadapkan dengan pertentangan keluarga.
"Bersabarlah, aku yakin kamu dan Revan pasti bisa bahagia," ucap Dafena yang diaminkan teman-temannya.
Lima tahun yang lalu, mereka berempat pernah duduk di bangku taman itu dan menyaksikan orang yang mereka cintai bermain basket bersama. Kebersamaan mereka lima tahun lalu kini terulang kembali di saat reuni akbar yang diadakan oleh panitia di sekolah mereka.
Kevan yang masih terlihat lincah, mulai memainkan bola basket dengan mudahnya. Begitupun dengan Dafa yang masih bisa menghindar dari serangan Ardi yang selalu berusaha merebut bola darinya. Reuni akbar itu bisa membuka kembali kenangan masa lalu mereka saat masih bersekolah di sekolah itu.
"Kenapa? Apa kalian sudah tidak setangguh dulu lagi?" tanya Ardi yang berhasil merebut bola dari Dafa dan mulai mencetak angka.
Mendengar ucapan Ardi, Kevan dan Dafa mulai melancarkan serangan untuk merebut bola dari pemuda itu, tapi ketangguhan Ardi tidak bisa di anggap remeh. Bagaimana tidak, Ardi yang dulunya adalah pemain basket berbakat, hingga kini masih tetap sama. Bahkan, dia adalah salah satu pemain yang bisa tetap eksis di dalam lapangan karena profesinya yang menuntutnya untuk tetap bergelut di dunia basket.
"Iya, kami akui kalah karena Pak pelatih kita ini ternyata semakin jago," jawab Kevan yang membuat teman-temannya mengangguk.
Setahun yang lalu, Ardi ditawarkan oleh pihak sekolah untuk menjadi pelatih tim basket di sekolah mereka. Dan berkat usahanya itu, tim sekolah mereka berhasil memenangkan beberapa pertandingan. Walau upah yang diterimanya tidak terlalu besar, tapi dia seolah menemukan kebahagiaan dengan profesinya itu. Ditambah lagi dengan kehadiran seseorang di sekolah itu yang membuatnya lebih bersemangat.
Zhafira masih menatap mereka. Entah mengapa dia tak bosan-bosannya melihat ke arah mereka. Hingga Kevan datang dan duduk di sampingnya. "Kakakmu itu ternyata semakin jago main basket. Aku jadi kelabakan menghadapi dia, tapi aku tidak bisa melawannya dengan sungguh-sungguh karena aku takut kalau dia kalah, dia akan menentangku untuk menikahimu," ucap Kevan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zhafira.
Zhafira tersenyum dan melihat ke arah Ardi yang masih semangat bermain basket. "Memangnya, kapan kamu akan menikahiku?" tanya Zhafira yang membuat Kevan mengangkat kepalanya.
"Sayang, bersabarlah. Aku hanya ingin kamu menunggu hingga aku bisa mendapatkan lampu hijau dari orang tuaku. Kamu tahu kan ayahku itu seperti apa?" Kevan tampak berusaha meyakinkan Zhafira sambil menggenggam tangan gadis itu.
Kisah percintaan mereka berdua rupanya tidak berjalan dengan mulus. Kevan belum ingin memperkenalkan Zhafira pada kedua orang tuanya karena sebuah alasan. Ayah Kevan belum menginginkan anaknya itu berhubungan dengan wanita manapun, karena ayahnya menginginkannya untuk mengurus perusahaan keluarga.
"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, aku akan tetap bersabar. Aku tidak akan memaksamu untuk menikahiku, tapi sampai kapan kita terus menyembunyikan hubungan kita dari orang tuamu? Kevan, aku hanya ingin kepastian," ucap Zhafira yang tampak sedih.
Mendengar ucapan Zhafira membuat Kevan segera memeluk kekasihnya itu. Dia sangat mengerti dengan perasaan Zhafira yang ternyata sangat mencintainya. "Aku janji, setelah aku mengurusi usaha papa di Batam, aku pasti akan mengenalkanmu pada orang tuaku dan meminta restu mereka untuk menikahimu," ucap Kevan sambil menggenggam tangan Zhafira dengan erat.
Zhafira tersenyum, walau semua itu bukan kali pertama yang dijanjikan Kevan untuknya. Sudah sering Kevan ucapkan itu dan sudah sering pula Zhafira harus percaya walau itu tidak pernah terjadi.
Zhafira sangat paham dengan keadaan Kevan yang merupakan anak tunggal. Dia begitu diharapkan oleh orang tuanya untuk bisa meneruskan perusahaan mereka. Dan Zhafira tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu kepastian dari kekasihnya itu.
"Aku minta maaf, sepertinya aku harus pergi. Papa baru saja meneleponku, kalau ada kliennya yang ingin bertemu denganku," ucap Kevan setelah menerima telepon dari ayahnya.
Zhafira hanya bisa mengangguk. Kebersamaannya dengan kekasihnya itu selalu saja terganggu dengan telepon dari orang tua Kevan. Dan dia tidak bisa menahan Kevan untuk tidak pergi meninggalkannya, melainkan mengiyakan walau sebenarnya hatinya sangat kecewa.
"Kamu tidak apa-apa kan kalau aku pergi? Aku janji, setelah urusannya selesai, aku akan segera meneleponmu," ucap Kevan sambil memakai jas hitamnya yang sedari tadi dipegang oleh Zhafira.
"Pergilah, aku tidak apa-apa, kok. Aku bisa pulang dengan Kak Ardi," jawab Zhafira sambil merapikan dasi kekasihnya itu dan tersenyum seakan dia ingin menutupi kekecewaannya itu.
Kevan tersenyum saat melihat Zhafira tersenyum padanya. Dengan mesra, Kevan kemudian mencium dahi kekasihnya itu dan membelai rambutnya. "Aku akan segera menikahimu dan memperkenalkanmu pada orang tuaku, aku janji," ucap Kevan sekali lagi seakan ingin mempertegas kalau dirinya benar-benar serius dengan hubungan mereka.
"Aku tahu itu dan aku akan menunggu," jawab Zhafira yang mencoba untuk tetap tegar walau sebenarnya hatinya sudah sangat lelah.
Andai bukan karena cintanya yang terlalu besar untuk Kevan, andai bukan karena janji yang sudah terlanjur dia ucapkan, maka dengan senang hati dia akan memutuskan hubungan mereka. Namun, dia tidak ingin seegois itu karena dia tahu perasaan Kevan yang terlampau sangat mencintainya.
"Apa dia sesibuk itu sampai-sampai harus pergi di saat reuni kita belum selesai?" tanya Ardi yang sudah berdiri di samping adiknya itu.
"Sudahlah Kak, kita harus bisa mengerti keadaannya. Jangan dibahas lagi, nanti aku bisa sedih," ucap Zhafira yang langsung menyandarkan kepalanya di lengan kakaknya itu.
"Baiklah, Kakak tidak akan membahasnya lagi. Ayo, kita pergi, teman-teman pasti sudah menunggu kita."
Walau kecewa dengan sikap Kevan, tapi kehadiran teman-temannya sedikit bisa membuat Zhafira melupakan kesedihannya itu. Tawa dan canda teman-temannya bisa membuatnya mengingat kembali masa-masa indah bersama mereka saat masih sekolah dulu. Walau tersenyum, tapi seseorang bisa menerka hatinya yang kini tengah gundah.
"Zha, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa yang tahu betul kalau saat ini sahabatnya itu sedang bersedih.
"Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Zhafira yang berusaha menghindar dari pertanyaan Dafa.
"Apakah Kevan telah menyakitimu lagi?" tanya Dafa yang membuat Zhafira memandanginya dengan heran.
"Maksudmu apa? Kevan tidak pernah menyakitiku. Kamu dapat berita itu dari mana?" tanya Zhafira yang berusaha tersenyum.
"Zha, aku tahu saat ini kamu sedang bersedih. Senyummu itu tidak bisa membohongiku."
Zhafira tersentak. Dia tidak menyangka, senyum yang selalu dipaksakan di depan teman-temannya ternyata diketahui oleh sahabatnya itu.
"Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkanku. Kalau kamu seperti ini terus, apa kamu tidak takut kalau aku akan kembali jatuh cinta padamu?" tanya Zhafira yang mencoba menggoda sahabatnya itu.
"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius. Aku baik-baik saja dan sebaiknya kamu temui Dafena, sepertinya ada beberapa cowok yang ingin mendekatinya," ucap Zhafira yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Zha, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu dan aku tidak suka kalau sahabatku diperlakukan seperti itu. Kalau memang kamu tidak ingin menjelaskannya padaku, maka aku sendiri yang akan bertanya pada Kevan."
Mendengar ucapan Dafa membuat Zhafira terhentak. Dia tidak menyangka, kalau sahabatnya itu akan melontarkan kata yang akan membuatnya kecewa. "Aku bisa mengurus masalahku sendiri. Aku tidak perlu bantuanmu karena aku memang tidak butuh. Tolong, jangan mencampuri urusanku karena aku tidak suka," ucap Zhafira yang kemudian pergi meninggalkan Dafa yang masih terpaku menatap kepergiannya.
Melihat sikap Zhafira yang berusaha menghindar darinya membuat Dafa menjadi paham kalau sahabatnya itu memang sedang bersedih.
"Kamu kenapa?" tanya Dafena saat melihat Dafa yang sedari tadi murung.
"Apa aku bisa minta bantuanmu?"
"Bantuan apa?"
"Aku ingin kamu menemui Zhafira dan bertanya padanya. Sepertinya, dia punya masalah dengan Kevan."
Dafena memandangi wajah kekasihnya itu yang terlihat begitu khawatir dengan Zhafira. Walau sedikit kecewa, tapi dia berusaha untuk menutupinya dengan sebuah senyuman. "Memangnya dia kenapa? Apa dia bertengkar dengan Kevan?"
"Entahlah, dia tidak ingin menceritakannya padaku. Sayang, maafkan aku karena aku meminta hal ini padamu, hanya saja aku tidak bisa jika melihat sahabatku bersedih seperti itu," ucap Dafa sambil menggenggam erat tangan Dafena.
"Baiklah, aku nanti akan bertanya padanya, tapi belum sekarang karena dia pasti tidak akan berterus terang. Jadi, sekarang kamu jangan bersedih lagi, kalau kamu seperti ini nanti aku bisa cemburu, loh," ucap Dafena yang membuat Dafa segera memeluknya.
"Kamu tidak perlu cemburu karena Zhafira hanya sahabatku. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu," ucap Dafa sambil mengelus lembut kepala Dafena.
Dafena tersenyum dan mengangguk pelan. Semua ucapan Dafa baginya bagaikan air penyejuk yang menghilangkan rasa dahaganya. Dia begitu mencintai Dafa hingga membuatnya rela menahan rasa cemburu. Dia begitu menyayangi Dafa hingga membuatnya rela melakukan apa saja agar kekasihnya itu bisa tersenyum bahagia.
"Terima kasih karena kamu sudah mencintaiku dan terima kasih karena sudah mengisi hari-hariku dengan perhatian dan kasih sayangmu," ucap Dafa yang masih memeluk Dafena.
Dafena menangis dan menitikkan air mata bahagia saat mendengar ucapan Dafa kepadanya. Dia merasa sangat dicintai hingga membuatnya tidak ingin melepaskan pelukannya. "Aku juga sangat mencintaimu hingga aku harus seegois ini. Walau aku tahu kamu masih perhatian pada Zhafira, tapi aku takkan peduli karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin ada di sampingmu walau mungkin saja masih ada Zhafira di hatimu. Aku akan bertahan hingga di hatimu hanya ada aku. Aku akan bertahan hingga nanti kamu akan menyesal jika suatu saat akan kehilangan diriku," batin Dafena yang berusaha menahan tangisnya.
Sungguh, cinta memang egois. Untuk bisa bersama orang yang dicintai, terkadang kita harus menahan sakitnya luka di hati. Walau tersakiti, kita berusaha untuk selalu mengerti. Hingga kita berharap, suatu saat dia akan menangis dan meratap saat melihat kita pergi dan tak lagi menatap.