
Di depan sebuah kafe yang mulai terlihat ramai, iring-iringan motor itu berhenti. Setelah memarkirkan motor, mereka mulai memasuki area kafe yang sudah dipenuhi dengan tamu-tamu yang kebanyakan dari kalangana anak muda.
Zhafira melihat ke sekeliling kafe dan mengagumi interior kafe yang terlihat minimalis. Tidak banyak ornamen yang dipajang di kafe itu, tapi ada sederet buku dan novel yang dipajang di salah satu rak dan siapa saja boleh membacanya selama dia masih ada di area kafe itu.
Tak hanya itu saja, karena area kafe tak sebatas di dalam ruangan. Halaman kosong di samping kafe juga dipakai walau hanya dipasangi tenda dan kursi meja ala kadarnya yang membuat orang ingin berlama-lama duduk di tempat itu.
Karena tempat duduk di dalam ruangan sudah penuh, maka mereka memutuskan untuk duduk di halaman samping kafe yang belum terlalu banyak orang. Suasana malam di kafe itu cukup membuat Zhafira merasa betah, karena dari tempat itu dia bisa melihat langit hitam yang bertabur cahaya bintang. Suara alunan musik dari penyanyi kafe turut menambah meriah suasana. Lantunan lagu romantis yang kini didengarnya tak luput dia nyayikan walau hanya di bibir saja, tanpa suara.
"Bagaimana menurut kalian dengan kafe kakakku ini? Apa kalian suka?" tanya Revan.
"Aku sangat suka kafe ini, apalagi saat duduk di sini karena aku bisa lihat bintang di atas sana," ucap Zhafira sambil menunjuk ke arah langit.
"Aku juga suka kafe ini, bagiku kafe ini adalah salah satu tempat romantis yang patut aku kunjungi," ucap Dafena menambahkan.
"Kalian berdua ternyata punya selera yang sama, suka tempat-tempat romantis," ucap Refa.
"Kalian berdua dengar kan apa kata pacar-pacar kalian? Jadi, mulai sekarang, bersikaplah romantis pada mereka agar hubungan kalian bisa bertahan lama," ucap Vino pada Dafa dan Kevan hingga membuat Zhafira dan Dafena menjadi salah tingkah.
"Kenapa hanya mereka berdua saja? Terus kamu, kenapa tidak pernah romantis padaku? Apa kamu tidak ingin hubungan kita bertahan lama?" ucap Kheyla manja dengan wajah sedikit cemberut. Vino terdiam. Dia tidak mampu lagi untuk berkata hingga membuat teman-temannya menertawainya.
Walau terlihat sering bertengkar, tapi mereka berdua saling menyayangi. Sifat Vino yang terkadang cuek tidak membuat Kheyla tersinggung, karena itu adalah sifat Vino dan dia paham itu. Begitupun dengan Vino yang mampu mengimbangi sikap Kheyla yang terkadang manja dengan sikap kocaknya yang membuat Kheyla merasa terhibur.
"Sudah, sudah. Kalian bisa tidak menghargai aku sebagai jomlo di sini. Tolong jaga perasaanku, dong," ucap Ardi yang pura-pura terlihat kesal.
Ardi yang selalu terlihat konyol selalu membuat mereka tertawa. Wajah tampan dan tubuhnya yang atletis tak menjamin baginya untuk mendapatkan seorang kekasih.
"Kalian mau pesan apa? Biar aku yang memesan ke dalam," ucap Ardi pada teman-temannya.
"Tidak perlu, aku sudah memesan untuk kalian. Karena aku yang mengajak kalian, maka aku yang akan membayar semua pesanan kalian, lagipula kakakku akan memberikan potongan harga untukku," jelas Revan sambil tersenyum.
Revan, pemuda kaya raya yang tidak pelit pada teman-temannya. Keluarganya cukup kaya hingga membuat dia selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya, tapi itu tidak membuatnya menjadi orang yang sombong. Bahkan, teman-temannya pun bukan dari kalangan kaya raya seperti dirinya, tapi dari kalangan menengah ke bawah. Revan tidak pernah memilih-milih teman yang membuatnya sangat disukai oleh teman-temannya.
Kebersamaan mereka yang selalu tertawa bersama telah menarik perhatian seseorang. Dari dalam ruangan kafe, orang itu tampak melihat ke arah mereka dengan wajah penuh amarah.
"Kamu kenal sama mereka?" tanya seorang gadis yang duduk di sebelahnya. Gadis itu mengangguk sambil meneguk minuman yang ada di tangannya.
"Kalau begitu, salah satu gadis di antara mereka pasti yang sudah membuatmu pindah dari sekolahmu yang lama. Iya, kan?"
"Tunjukkan pada kami yang mana gadis itu biar kami membantu membalaskan dendammu itu," pancing gadis lainnya.
Mendengar ucapan teman-temannya itu membuat gadis berambut pendek itu tampak tersenyum sinis. "Kalian lihat gadis yang memakai baju hitam itu?" tunjuknya pada Zhafira.
"Apa dia orangnya?" Gadis itu kembali mengangguk.
"Baiklah, kamu lihat saja nanti apa yang akan kami lakukan padanya," ucap gadis itu yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja yang ditempati Zhafira dan teman-temannya.
Gadis itu lantas berjalan dengan memegang sebuah gelas yang berisi minuman di tangannya. Dengan santainya, dia berjalan di depan meja Zhafira. Tiba-tiba saja, gadis itu pura-pura terjatuh dan menumpahkan minumannya itu ke baju Zhafira hingga membuat bajunya menjadi basah.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucapnya sambil meminta maaf kepada Zhafira.
Melihat baju Zhafira yang basah karena gadis itu membuat Ardi menjadi marah. "Kalau jalan itu lihat-lihat, memangnya kamu sengaja, ya?" tanya Ardi yang membuat gadis itu segera meminta maaf.
"Sudahlah, Kak, dia pasti tidak sengaja karena dia saja sampai terjatuh seperti itu," ucap Zhafira yang mencoba menenangkan kakaknya itu.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa, kok," ucap Zhafira pada gadis itu.
"Aku minta maaf," ucap gadis itu dan kemudian pergi dengan senyum sinis yang menandakan kalau rencana awal mereka telah berhasil.
"Bagaimana? Apa kamu berhasil?" tanya temannya pada gadis itu.
"Kita tunggu saja, sebentar lagi dia pasti akan datang ke sini," ucap gadis itu yakin.
Keempat gadis itu lantas menunggu Zhafira di dalam toilet dan benar saja, Zhafira terlihat memasuki toilet sambil menyeka bajunya yang sudah basah.
Toilet yang sekaligus ruang ganti itu ternyata cukup luas. Keempat gadis itu tampak bersembunyi agar tidak terlihat oleh Zhafira. Zhafira yang tidak menyadari, masih berdiri di depan cermin besar sambil membersihkan bajunya.
Ketika gadis-gadis itu ingin melakukan aksinya, tiba-tiba seorang gadis masuk dan berdiri di samping Zhafira.
"Kamu gadis yang waktu itu, kan?" tanya gadis itu pada Zhafira.
"Apa kamu mengenaliku?" tanya Zhafira bingung.
"Aku tadi melihatmu bersama Ardi. Apa kalian sekarang sudah berpacaran?" tanya gadis itu kembali hingga membuat Zhafira tersenyum.
"Apa kamu suka sama Ardi?" tanya Zhafira yang membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
"Maaf, bukan maksudku untuk ... "
"Tenanglah, aku tidak akan marah karena Ardi ... " Belum sempat Zhafira menjelaskan, tiba-tiba saja ketiga gadis itu keluar dari persembunyian mereka dan memaksa gadis yang berdiri di samping Zhafira untuk keluar dari toilet dan segera mengunci pintu.
"Kalian mau apa? Siapa kalian?" tanya Zhafira.
"Apa maksud kalian? Lelaki mana? Teman kalian yang mana, aku tidak mengerti maksud kalian?"
"Sudahlah, Aurelle, cepat keluar dan habisi dia!!" ucap seorang gadis yang sudah memegang sebuah gunting di tangannya.
Zhafira terkejut saat melihat Aurelle muncul dari balik ruang ganti. "Jadi, mereka ini teman-temanmu? Apa belum puas kamu menggangguku?" tanya Zhafira yang mulai terlihat marah.
Sementara di balik pintu, gadis itu mencoba mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dia tidak mendengar apapun kecuali suara benturan yang membuat dia menjadi panik. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
Suara benturan itu berasal dari tong sampah yang sengaja dilemparkan ke arah Zhafira. Tong sampah yang tak seberapa besar itu hampir saja mengenai tubuhnya andai saja Zhafira tidak segera mengelak.
"Apa kalian sudah gila? Kalian tahu perbuatan kalian ini sudah melanggar hukum," ucap Zhafira, tapi sama sekali tidak mereka pedulikan.
"Aurelle, jangan lakukan itu!!" teriak Zhafira.
Zhafira tidak bisa berbuat apa-apa, walau dia ingin melawan, tapi dia tidak bisa karena gadis-gadis itu sudah memegang gunting di tangan mereka.
Sementara di luar, gadis itu mulai panik dan segera berlari menuju meja di mana Ardi duduk dengan teman-temannya. "Ardi, cepat!! Sepertinya, pacarmu itu dalam bahaya!!" ucap gadis itu sambil menarik tangan Ardi.
"Riana? Maksud kamu apa?" tanya Ardi bingung pada gadis yang ternyata dikenalnya itu.
"Gadis itu dalam bahaya, gadis yang waktu itu bersamamu sedang dikurung di toilet oleh beberapa orang gadis," jelas gadis itu dan sontak saja membuat Dafa segera berlari ke arah toilet dan diikuti teman-temannya.
Sesampainya di depan toilet, dengan panik Dafa berusaha membuka pintu toilet yang di kunci dari dalam. "Zhafira!! Cepat kalian buka pintunya!!" teriak Dafa sambil mencoba mendobrak pintu itu.
Mendengar pintu yang didobrak tidak membuat gadis-gadis itu mengurungkan niat mereka. Bahkan, mereka tertawa sambil memegang kedua tangan Zhafira hingga membuat Zhafira tidak bisa bergerak.
"Dasar perempuan murahan!!" ucap Aurelle sambil melayangkan tangannya ke wajah Zhafira. Darah segar terlihat di sudut bibirnya.
"Kalian semua pengecutt!! Kalau berani, lepaskan aku dan kita duel satu satu!!" ejek Zhafira yang membuat Aurelle melayangkan kembali tamparan ke wajahnya.
"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah merebut Kevan dariku," ucap Aurelle sambil meraih helaian rambut Zhafira dan mulai mengguntingnya.
Zhafira berusaha berontak dan berteriak, tapi ketiga gadis itu terus memegang tangannya hingga membuat Zhafira tidak bisa bergerak.
"Ini kunci duplikatnya, cepat buka pintunya," ucap kakak sepupu Revan yang datang sambil membawa kunci duplikat.
Dafa kemudian membuka pintu toilet dan merangsek masuk ke dalam. Di depan matanya, dia melihat Zhafira yang sudah terduduk di lantai toilet dengan sudut bibir yang berdarah dan rambut yang sudah digunting tak beraturan.
"Zhafira, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dafa pada sahabatnya itu.
"Dafa," ucap Zhafira pelan dan kemudian pingsan di pelukan pemuda itu.
Dengan panik, Dafa lantas mengangkat tubuh Zhafira dan membawanya keluar dari toilet.
Sementara keempat gadis itu tampak tersenyum puas dan membuat Refa naik darah. "Dasar perempuan iblis!!" teriak Refa penuh amarah sambil menampar wajah Aurelle. Andai saja petugas keamanan tidak menahannya, mungkin saja dia sudah kembali melayangkan pukulannya pada gadis itu.
Ardi yang juga ada di tempat itu sudah tidak peduli lagi dengan keempat gadis itu dan memilih mengikuti Dafa yang sudah membawa Zhafira.
Orang-orang tampak ramai saat melihat kejadian itu. Apalagi saat mereka melihat Dafa membawa Zhafira yang sudah tidak sadarkan diri.
Teman-temannya lantas mengikuti Dafa yang sudah membawa Zhafira ke rumah sakit dengan menggunakan taxi, sementara Ardi mengikutinya dengan motornya dari belakang.
Di dalam mobil, Dafa terlihat cemas sambil memandangi Zhafira yang sudah tak berdaya. Dia begitu marah hingga membuat wajahnya memerah dengan air mata yang coba dia tahan.
Di depan rumah sakit, Dafa membawa tubuh Zhafira yang masih tidak sadarkan diri dan meletakkannya di meja brankar yang dibawakan seorang perawat untuknya. "Kamu tunggu saja di sini, biar kami memeriksanya dulu," ucap perawat itu yang kemudian pergi membawa Zhafira ke ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan Zhafira?" tanya Ardi yang baru saja datang.
"Dia sedang diperiksa oleh dokter," jawab Dafa yang mencoba mengatur nafas karena kepanikkannya tadi.
"Bagaimana dengan keempat gadis itu? Apa kalian sudah mengamankan mereka?" tanya Dafa yang masih terlihat emosi.
"Jangan khawatir, mereka sudah dibawa petugas keamanan dan aku akan pastikan kalau mereka tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum," jawab Ardi dengan wajah yang memerah.
Tak lama kemudian, semua teman-temannya sudah datang. "Bagaimana keadaan Zhafira? Apa dia baik-baik saja?" tanya Kheyla.
"Kita tunggu saja, dokter sedang memeriksanya," jawab Ardi.
Mereka tampak cemas dengan keadaan Zhafira. Kevan terlihat sangat khawatir dengan keadaan kekasihnya itu. Dia tidak menyangka semua itu akan terjadi hanya karena Aurelle yang tidak suka dirinya dekat dengan Zhafira. "Semua ini karena salahku. Aku seharusnya bisa menjaganya. Aku seharusnya mengantarnya ke toilet," ucap Kevan yang membuatnya menitikkan air mata.
"Sudahlah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Kalau kamu merasa bersalah, maka kami juga akan ikut merasa bersalah karena kami juga tidak menemaninya," ucap Refa.
"Sudahlah, kita doakan saja semoga Zhafira baik-baik saja," ucap Dafena sambil duduk di samping Dafa dan menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
Dafa menatap Dafena dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. "Tenanglah, Zhafira akan baik-baik saja," ucap Dafena mencoba menenangkan kekasihnya itu, walau di hatinya terbesit rasa cemburu ketika melihat Dafa yang begitu panik saat melihat Zhafira sudah tidak sadarkan diri.
"Apa aku pantas cemburu pada persahabatan kalian? Apa kamu akan sepanik itu jika aku yang ada di posisi Zhafira?" batin Dafena yang mencoba membohongi hatinya sendiri. Karena rasa sayangnya pada Dafa telah membuatnya tidak ingin kehilangan pemuda itu, walau dia harus menanggung rasa cemburu karena kedekatan mereka, dia akan tetap bertahan hingga dia bisa seutuhnya ada di hati pemuda itu.