
Lampu di dalam kamar tiba-tiba padam seiring dengan suara petir yang menggelegar di atas atap rumah sakit. Zhafira yang makin panik terlihat ketakutan saat ruangan di dalam kamar itu gelap gulita. Dia teringat kembali saat matanya mengalami kebutaan beberapa tahun lalu. Dalam ketakutan dan rasa panik, Zhafira berdiri dan berjalan meraba-raba menuju tempat tidur Kevan. "Kevan!! Kamu di mana?" panggil Zhafira yang berjalan meraba-raba hingga dirinya terjatuh saat menabrak sesuatu. Zhafira merintih kesakitan sambil mengelus kakinya yang terasa sakit.
"Kevan!!" panggil Zhafira kembali yang mencoba untuk bangkit. Hingga tiba-tiba, lampu di dalam kamar itu menyala danĀ terlihat beberapa orang perawat yang berlari dan masuk ke dalam kamar itu.
"Cepat, panggilkan dokter, sepertinya pasien sudah siuman," perintah seorang perawat sambil memeriksa kondisi Kevan.
Zhafira yang masih terduduk berusaha untuk berdiri dan melihat Kevan yang sudah membuka matanya. "Kevan," ucap Zhafira sambil berjalan menuju tempat tidur Kevan walau rasa sakit di kakinya sudah tak lagi dipedulikannya.
"Maaf, sebaiknya Anda menunggu di luar, biar dokter memeriksa kondisi pasien terlebih dulu," ucap seorang perawat yang kemudian membawa Zhafira keluar dari kamar itu. Zhafira tidak bisa menolak karena dua orang dokter yang menangani Kevan tiba-tiba berlari dan masuk ke ruangan itu.
Zhafira duduk sambil memeriksa kakinya yang ternyata sudah bengkak dan membiru karena terbentur dengan ujung meja. "Apa tadi aku tidak salah lihat? Bukankah, tadi Kevan sudah membuka matanya?" batinnya.
Zhafira memeriksa bajunya yang basah karena keringat. Sementara tangannya tak lagi gemetar. Dengan berjalan menahan sakit, Zhafira masuk ke dalam toilet dan membersihkan wajahnya.
Baru saja dia melangkah keluar toilet, ponselnya tiba-tiba berbunyi. "Hallo, Kak Ardi," sapanya sambil berjalan dengan kaki yang sedikit pincang.
"Zha, kamu tidak apa-apa, kan?"
"Kenapa? Aku tidak apa-apa, kok," ucapnya berbohong karena tidak ingin membuat kakaknya khawatir.
"Benar kamu tidak apa-apa?"
"Iya, Kak, benar. Memangnya kenapa, Kak?"
"Tidak apa-apa. Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Bagaimana keadaan Kevan?"
"Belum ada perubahan, tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan selalu ada di sisinya hingga dia sadar nanti. Kak Ardi tidak keberatan, kan?"
"Iya, asalkan kamu jaga kesehatanmu itu, karena kalau kamu sampai sakit, Kakak sendiri yang akan datang menjemputmu."
"Iya, iya. Aku tidak akan sakit, kok. Salam ya Kak, buat teman-teman di sana dan doakan Kevan biar Kevan cepat siuman."
"Iya, kita semua akan selalu doakan kalian. Sudah ya, jangan lupa istirahat."
"Iya, Kak."
Zhafira menutup teleponnya dan pandangannya tertuju pada orang tua Kevan yang baru saja datang.
"Om, Tante, kenapa duduk di sini? Ayo, masuk ke dalam," ucap Zhafira pada suami istri itu yang telah duduk di bangku di depan pintu kamar.
Suami istri itu lantas memeluk Zhafira dengan tangis yang membuat Zhafira menjadi bingung. "Kenapa Om dan Tante menangis? Kevan tidak ... " Zhafira lantas berjalan menuju pintu kamar karena berpikir kalau telah terjadi sesuatu pada Kevan, tapi suami istri itu segera menghentikannya.
"Kevan tidak apa-apa, Nak. Kevan baik-baik saja," ucap wanita itu dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Lalu, kenapa wajah Om dan Tante terlihat sedih begitu?"
Ibunda Kevan tertunduk dan menghapus air matanya yang jatuh.
"Ada apa, Tante? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tiba-tiba, dokter yang memeriksa Kevan keluar dan menemui mereka. "Saya cukup terkejut dengan kondisi pasien yang tiba-tiba stabil. Dalam kasus yang sama, jarang pasien koma dengan cedera kepala yang cukup parah bisa siuman secepat ini. Bagi saya, ini adalah suatu keajaiban. Walaupun begitu, Bapak dan Ibu harus tetap waspada dan selalu bersamanya, karena saya belum tahu pasti apakah amnesia yang di derita pasien bersifat permanen atau sementara," jelas dokter yang membuat Zhafira terkejut.
"Amnesia, dok?" tanya Zhafira yang tidak percaya dengan ucapan dokter itu.
"Iya, pasien memang sudah sadar, tapi dia mengalami amnesia karena saat Bapak dan Ibu masuk ke kamarnya tadi, pasien sama sekali tidak mengenali mereka," jelas dokter yang membuat ibunda Kevan menangis.
Zhafira tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Zhafira kemudian masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati Kevan yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memakan buah apel di tangannya.
Zhafira terkejut, tapi juga bahagia. Melihat Kevan yang menatap ke arahnya membuat Zhafira segera berlari dan memeluk kekasihnya itu.
"Kamu siapa? Kenapa kamu memelukku?" ucap Kevan yang berusaha melepaskan pelukan Zhafira. Zhafira tidak mempedulikannya, bahkan dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Dasar wanita gila!! Lepaskan pelukanmu itu, aku tidak mengenalmu!!" bentak Kevan yang langsung melepaskan pelukan Zhafira.
"Kevan, ini aku, Zhafira," ucap Zhafira yang mencoba meyakinkan kekasihnya itu.
"Zhafira siapa? Aku tidak kenal denganmu. Keluarlah, aku tidak ingin diganggu oleh wanita usil sepertimu," ucap Kevan yang sontak membuat Zhafira menitikkan air mata.
Zhafira menurut apa kata wanita itu. Walau berat untuk menerima, tapi melihat Kevan yang telah melupakan dirinya membuat hatinya hancur dan terluka.
Malam itu, Zhafira tidak bisa tertidur. Dia masih mengingat kejadian itu, di mana Kevan sama sekali tidak mengenalinya. Bukan hanya dirinya, bahkan orang tuanya pun tak diingatnya.
"Tante, apa Kevan akan melupakan kita?" tanya Zhafira sambil memeluk wanita itu.
"Kita berdoa saja, semoga Kevan bisa mengingat kita lagi. Tidurlah, besok kita akan menemuinya, siapa tahu besok dia sudah mengenali kita," ucap wanita itu lembut. Wanita paruh baya yang bernama Mira itu perlahan mulai menyayangi Zhafira. Perhatian dan rasa sayang Zhafira untuk Kevan telah membuatnya menyayangi gadis itu.
Di kamar hotel, Zhafira tidur bersama ibunda Kevan, sedangkan ayahnya sedang menemani Kevan di rumah sakit.
*****
Sudah jam dua malam, tapi Kevan belum tertidur. Dia masih duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang ponsel di tangannya.
"Apa kamu tidak mengantuk?" tanya ayahnya yang baru saja terbangun dan mendapati Kevan yang sedang melihat ke layar ponsel.
Pertanyaan ayahnya sama sekali tidak dia tanggapi. Dia masih serius melihat foto-foto yang ada di ponsel itu. "Apa hubunganku dengan gadis itu? Kenapa ada begitu banyak foto-fotoku bersamanya?" tanya Kevan sambil menunjukkan ponsel itu pada ayahnya. Ponsel itu adalah ponsel milik Zhafira yang tidak sengaja tertinggal di ruangan itu.
Ayahnya kemudian bangkit dan duduk di samping anaknya itu. "Dia adalah kekasihmu, bahkan katanya kamu sudah melamarnya dan akan menikahinya setelah pulang dari kota ini," jelas ayahnya yang membuat wajah Kevan mulai berubah.
"Kekasih? Melamar? Bagaimana bisa aku akan menikahinya kalau aku saja tidak mengenalinya. Walaupun dulu dia adalah kekasihku, tapi sekarang aku akan mengakhiri hubungan ini karena aku sama sekali tidak menginginkannya," ucap Kevan yang membuat ayahnya sedih.
"Kevan, jangan lakukan itu, Nak. Zhafira sangat mencintaimu dan kamu pun mencintainya. Kalau kamu melakukannya, bukan hanya dia yang akan terluka, tapi suatu saat jika ingatanmu kembali, maka kamu yang akan menderita."
"Bukankah kamu adalah ayahku? Kalau memang kamu adalah ayahku, maka ayah harus mendukungku."
Pria itu terdiam. Dengan hati yang terluka, dia keluar dari ruangan itu dan duduk di bangku di depan koridor. Air matanya perlahan jatuh. "Apa ini hukuman bagiku sampai anakku sendiri tidak mengenaliku? Apa yang akan aku katakan pada Zhafira kalau ternyata Kevan sudah tidak lagi menginginkannya?" ucap pria itu sambil menghapus air matanya.
Sedangkan di dalam kamar, Kevan berusaha untuk mengingat semua kejadian yang ada di dalam foto itu, tapi dia tidak bisa, bahkan kepalanya sakit seperti mau meledak.
Melihat foto-foto mereka tidak membuat ingatan Kevan membaik, bahkan lebih buruk karena semakin dia memaksa, maka sakit yang dia rasakan semakin menjadi.
Kevan melempar ponsel itu ke atas kursi sofa yang ada di dalam ruangan itu. Dia tidak ingin melihat foto-foto itu lagi dan memilih untuk tidur agar sakit di kepalanya bisa hilang.
Keesokkan paginya, Zhafira dan Tante Mira sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Sementara Zhafira yang baru menyadari kalau ponselnya telah hilang, mulai terlihat panik. "Tante lihat tidak ponsel aku. Sepertinya, ponselku tidak ada di dalam tasku," ucap Zhafira sambil membongkar isi di dalam tasnya.
"Kamu taruh di mana sampai bisa hilang begitu?"
"Entahlah, Tante. Bagaimana ini, foto-foto itu ... " Zhafira menangis saat kehilangan ponselnya. Dia menangis karena semua kenangannya bersama Kevan ada di ponsel itu.
"Jangan menangis, nanti kita coba cek di rumah sakit, siapa tahu ketinggalan di kamar Kevan. Ayo, kita pergi."
Zhafira berusaha meyakinkan dirinya kalau ponselnya benar-benar tertinggal di kamar Kevan. Setibanya di sana, Zhafira langsung masuk ke dalam ruangan itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat Kevan sudah berdiri di depannya.
"Kevan? Kamu sudah benar-benar sehat?" tanya Zhafira sambil mendekati pemuda itu. Kevan tidak mempedulikan pertanyaannya dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Zhafira yang teringat dengan ponselnya kemudian mencari ponselnya di dalam ruangan itu dan mendapatinya di atas kursi sofa. "Syukurlah, aku pikir ponselku ini sudah hilang," ucapnya sambil menghidupkan ponselnya itu.
"Kenapa foto-foto itu sudah tidak ada?" tanya Zhafira yang mulai panik. Dilihatnya lagi di file-file foto dan galeri, tapi tidak dia temukan. Zhafira terduduk lesu dengan air mata yang perlahan jatuh.
"Apa kamu yang sudah menghapus foto-foto itu?" tanya Zhafira kepada Kevan.
"Kenapa? Kalau iya, kamu mau apa?"
Zhafira menatap Kevan yang sudah sangat berubah. Walaupun begitu, dia tidak ingin menyalahkannya karena itu bukanlah keinginannya. "Kenapa kamu menghapusnya? Apa kamu tidak mengingat semua foto-foto itu hingga kamu menghapusnya?"
"Kepalaku sakit saat melihat foto-foto itu. Rasanya kepalaku ini mau pecah saat melihat foto-foto itu, makanya aku menghapusnya," ucap Kevan yang terlihat biasa saja tanpa ada rasa penyesalan.
Zhafira menitikkan air mata saat mendengar Kevan mengatakan semua itu padanya. "Kalau semua foto itu membuatmu sakit kepala, maka lebih baik foto-foto itu terhapus daripada aku harus melihatmu kesakitan," ucap Zhafira yang membuat Kevan menatap padanya.
Zhafira menundukkan wajahnya agar Kevan tidak melihatnya sedang menangis, walau sebenarnya hatinya hancur karena Kevan yang sudah menghapus foto-foto itu dengan tangannya sendiri.
Mira yang melihat kejadian itu merasa iba pada Zhafira. Dia tidak menyangka, gadis itu akan mengalami kemalangan yang bertubi-tubi di dalam hidupnya. "Kasihan kamu, Nak. Apapun yang terjadi, Tante akan membuat kalian berdua tetap bersama. Sudah cukup kalian harus menderita, dan Tante tidak akan membiarkan kalian berpisah lagi."
Zhafira keluar dari kamar itu dan duduk seorang diri di bangku depan koridor. Sambil melihat ponselnya, Zhafira menangis. Semua foto-foto kenangannya bersama Kevan telah terhapus. Foto yang selalu dilihatnya saat dia merindukan Kevan, kini tak ada lagi. Semuanya telah terhapus seiring kenangan tentang dirinya yang kini telah terhapus dari ingatan Kevan.