Zhafira

Zhafira
Part 48



Hujan masih mengguyur bumi saat sebuah mobil sedan berwarna hitam mulai memasuki halaman sebuah rumah. Warna langit tampak mendung dan mulai gelap karena tertutup awan hitam. Suara hujan yang semakin deras membuat Zhafira mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke dalam rumah. "Kevan, sebaiknya kamu jangan pulang dulu. Hujan sepertinya semakin deras," ucap Zhafira sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Sekarang, masuklah dan ganti bajumu itu, nanti kamu bisa masuk angin."


"Kevan, berhati-hatilah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu," ucap Zhafira seakan tidak menginginkan Kevan untuk pulang.


Suasana hujan dan petir seperti saat ini membuatnya teringat dengan kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya dan trauma di masa kecilnya. Perasaannya tiba-tiba menjadi takut, tapi dia tidak ingin memperlihatkan rasa takutnya itu di depan Kevan.


"Masuklah dan jangan khawatirkan aku. Setibanya di rumah nanti, aku langsung menghubungimu."


"Kevan, hati-hatilah di jalan," ucap Zhafira sambil melepaskan genggaman tangan Kevan dan menatap kepergian pemuda itu di depan pintu rumahnya.


Melihat langit yang sudah gelap dan hujan yang semakin deras, membuat Zhafira segera berlari menemui Ardi di dalam rumah, tapi Ardi tidak ada di dalam kamarnya hingga membuat Zhafira menjadi panik. "Bi, Kak Ardi mana?" tanya Zhafira pada salah seoarang asisten rumah tangga yang akan segera pulang.


"Belum pulang, Non. Tadi katanya mau mengantar Non Riana pulang."


Zhafira semakin panik. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mencoba menghubungi Ardi, tapi tidak bisa terhubung. "Kak Ardi, cepat pulang Kak," ucap Zhafira sambil mengambil selimut dan menutup setengah tubuhnya dan duduk di atas tempat tidur.


Hujan yang makin deras dan suara petir yang menggelegar membuat tubuh Zhafira gemetar di dalam selimut. Bajunya yang tadi basah, masih dipakainya hingga membuat tubuhnya semakin menggigil. "Kak Ardi, aku mohon, cepat pulang Kak," rintih Zhafira yang mulai menangis.


Sementara Ardi yang mulai khawatir dengan kondisi Zhafira, terlihat mulai cemas. Sudah sedari tadi dia mencoba menghubungi Zhafira, tapi selalu di luar jangkauan. Hujan dan petir di malam itu rupanya telah membuat hubungan telepon menjadi terganggu. Sementara dia sendiri saat ini tidak bisa pulang karena terjebak banjir yang mulai meluap di sisi jalan.


"Coba kamu hubungi Kevan, mungkin Zhafira masih bersamanya," ucap Riana.


Ardi kemudian menghubungi Kevan yang sementara masih dalam perjalanan pulang. "Kevan, Zhafira masih sama kamu, kan?"


"Aku baru saja mengantarnya pulang, memangnya ada apa?"


"Cepat kamu kembali ke rumah, saat ini dia pasti sedang ketakutan. Aku tidak bisa pulang dan pons ..." Tiba-tiba saja sambungan telepon mereka terputus.


"Hallo, hallo, Ardi!!??" seru Kevan sambil berusaha menghubunginya kembali, tapi selalu di luar jangkauan.


Kevan lantas menghentikan mobilnya dan berbalik arah. Sambil menyetir, Kevan mencoba menghubungi Zhafira, tapi lagi-lagi tidak bisa dihubungi.


Hujan yang semakin deras tidak menyurutkan Kevan untuk segera tiba di rumah Zhafira. Zhafira yang tidak bisa dihubungi membuat Kevan semakin cemas. "Ayolah, cepat tersambung," pinta Kevan saat mencoba menghubungi Zhafira.


"Kevan!!" ucap Zhafira yang membuat Kevan panik.


"Zha, kamu tidak apa-apa, kan?"


"Tolong aku, aku takut."


"Aku minta maaf, karena tadi tidak menemanimu. Jangan takut, aku sekarang sedang menuju ke rumahmu." Kevan berusaha menenangkan Zhafira karena suaranya terdengar gemetar. Perasaan cemas begitu menghantui pikirannya hingga membuatnya hampir menabrak seseorang yang melintas.


Kevan menghentikan mobilnya dan menepi di sisi jalan. Kevan menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dan menenangkan hatinya.


"Zhafira, kamu dengar aku, kan?"


"Kevan, kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa. Kamu tunggu aku, sebentar lagi aku sudah sampai di rumahmu," ucap Kevan sambil menjalankan kembali mobilnya.


"Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir."


"Tidak perlu minta maaf, aku tidak mungkin membiarkanmu ketakutan seperti ini. Kalau aku tahu kamu sendirian di rumah, aku pasti tidak akan pulang dan menemanimu. Tunggu aku, aku akan segera sampai."


Kevan melajukan mobilnya kembali walau hujan masih mengguyur dengan deras. Hingga tiba di salah satu jalan, mobil yang dikendarai Kevan tiba-tiba dihantam mobil lain dari belakang. Suara benturan itu terdengar cukup keras hingga membuat Zhafira berteriak memanggil namanya. "Kevan!!??" teriak Zhafira panik. Dengan suara tangis, Zhafira terus memanggil nama kekasihnya itu.


"Kevan!! Hallo...Kevan, kamu kenapa? Hallo!!??" teriak Zhafira semakain panik hingga membuatnya bangkit dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamarnya. Rasa takut dan trauma yang sedari tadi membuatnya bersembunyi di dalam kamar tidak bisa menghentikan langkahnya.


Sambil memegang ponsel di tangannya, Zhafira terus memanggil kekasihnya. Layar ponsel yang masih menyala menandakan kalau telepon mereka masih tersambung, tapi Kevan tidak menjawab.


Zhafira terduduk di lantai teras rumahnya dan memanggil Kevan yang belum juga menjawab. "Kevan, aku mohon jawab aku," ucap Zhafira yang sudah mulai menangis.


Benturan yang menghantam belakang mobilnya cukup membuat Kevan terhempas ke depan hingga membuat kepalanya terbentur di kemudi mobil. Untuk sesaat, Kevan merasakan sesuatu yang basah di sela-sela rambutnya dengan pandangan yang perlahan mulai kabur. Kevan berusaha untuk menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi hingga beberapa orang datang dan mengetuk kaca mobilnya. "Apa Anda baik-baik saja?" tanya seorang lelaki sambil mengetuk kaca mobilnya. Kevan perlahan membuka matanya dan membuka kaca mobil.


"Maaf, sebaiknya Anda ke rumah sakit. Sepertinya, kepala Anda berdarah," ucap lelaki itu yang membuat Kevan meraba sela-sela rambutnya yang sudah basah dengan darah.


Sontak, dia teringat dengan Zhafira dan mencari ponselnya yang terlpeas dari tangannya. Ponsel yang tadi terjatuh di jok mobil segera diambilnya dan diletakkan di telinganya dan mendengar Zhafira berteriak memanggil namanya dengan suara tangisan yang membuat Kevan segera memegang kepalanya, karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerang.


Ponsel di tangannya terlepas. Kedua tangannya kini memegang kepalanya yang sakit seperti mau pecah. Tiba-tiba, suara teriakan Zhafira yang memanggil namanya mulai terngiang di telinganya. Suara panggilan yang rasanya tidak asing baginya.


Kevan meletakkan kepalanya di atas kemudi dan menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya, hingga tiba-tiba semua penggalan-penggalan kisah di masa lalu seakan berputar kembali di depannya. Semua kisah yang pernah dia lewati bersama Zhafira bagaikan sebuah film yang diputar di depan matanya. Semua begitu nyata, hingga membuat Kevan menitikkan air mata.


Sambil menahan rasa sakit, Kevan mengambil ponselnya dan mendengar suara Zhafira yang masih memanggil namanya.


"Kevan, tolong jawab aku. Kamu di mana!!??" panggil Zhafira dengan suara yang mulai terdengar pelan. Kevan menitikkan air mata saat mendengar Zhafira memanggil namanya. Panggilan yang sama yang pernah dia dengar saat dia mengalami koma hingga membuat dia tersadar dari masa komanya itu, walau akhirnya dia tidak bisa mengingat suara itu yang ternyata adalah suara Zhafira.


"Kevan!! Jawab aku!!??" suara Zhafira kembali terdengar hingga membuat Kevan menjawab panggilannya.


"Aku masih di sini. Tunggu aku, aku akan datang untukmu," jawab Kevan hingga membuat Zhafira menangis.


"Jangan lakukan ini lagi padaku. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkan aku," tangis Zhafira kian menjadi. Mendengar suara Kevan telah membuat dia menangis karena dia berpikir Kevan tidak akan pernah lagi menjawab panggilannya.


"Aku mencintaimu. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu lagi. Sudah cukup aku membuatmu menunggu dan aku tidak ingin kamu terus menunggu karena aku akan datang menemuimu," ucap Kevan yang kemudian keluar dari mobilnya dan berlari di tengah guyuran air hujan.


Kevan meninggalkan mobilnya dan berlari menemui kekasih yang kini tengah menunggunya. Di bawah guyuran air hujan, Kevan terus berlari walau darah masih mengalir dan membasahi wajahnya karena bercampur air hujan, tapi dia tidak peduli. Dia tidak peduli dengan rasa sakit itu karena dia tahu rasa sakit yang di alami Zhafira karena kehilangan dirinya ternyata lebih sakit.


Zhafira yang masih terlihat cemas kemudian keluar dari teras dan berdiri di depan rumahnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan guyuran air hujan dan suara petir yang sesekali terdengar. Dia tidak peduli, karena kehilangan seseorang yang dicintainya lebih dia takutkan daripada suara hujan dan petir yang sudah menghantuinya sejak masih kecil.


Di ujung jalan, Zhafira melihat seseorang yang berlari ke arahnya. Tanpa rasa takut, Zhafira mencoba mendekat dan berlari pelan ke arah orang itu. Hingga pandangannya yang terlihat samar-samar menatap ke arah orang itu yang ternyata adalah Kevan yang akhirnya membuatnya semakin yakin saat Kevan memeluk tubuhnya. "Maafkan aku, maafkan aku," ucap Kevan sambil memeluk erat tubuh kekasihnya itu.


Di bawah guyuran air hujan, dua insan itu saling berpelukan sekadar menghilangkan rasa was-was yang sedari tadi mengganggu hati mereka. Rasa was-was dan takut kehilangan yang membuat pelukan mereka semakin erat dan tak ingin dilepaskan.


"Maafkan aku dan biarkan aku memelukmu. Maafkan aku karena aku tidak bisa mengingatmu dan membuatmu menunggu," ucap Kevan sambil mengeratkan pelukannya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Zhafira cemas.


"Selama bersamamu, aku akan baik-baik saja. Zha, aku mencintaimu dan selamanya akan mencintaimu," ucap Kevan sambil melepaskan pelukannya.


Zhafira terhentak saat melihat darah yang membasahi di baju kekasihnya itu. Tetes air hujan ternyata tidak membuat darah itu berhenti mengalir hingga membuat Zhafira menjadi panik. "Kamu kenapa berdarah? Kevan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zhafira sambil mengelus wajah Kevan yang basah dengan darah dan air hujan.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Kevan yang terlihat mulai pusing.


"Kevan, jangan buat aku takut. Ayo kita ke rumah sakit," ajak Zhafira, tapi Kevan hanya terdiam, hingga tiba-tiba tubuhnya terjatuh di tengah jalan. Untung saja, Zhafira masih sempat menahan tubuh Kevan walau dia tidak mampu hingga membuat tubuhnya ditindih oleh tubuh kekasihnya itu.


Melihat Kevan yang tidak sadarkan diri membuat Zhafira menangis. Wajah Kevan tampak pucat dengan darah yang masih mengalir di sela-sela rambutnya. Zhafira memangku kepala Kevan dan melihat tangannya yang penuh dengan darah hingga membuatnya menangis sesenggukkan.


"Kevan, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini." Tangis Zhafira kian menjadi. Dia tidak ingin membayangkan kalau Kevan akan meninggalkan dirinya lagi, tapi melihat kondisi Kevan seperti itu membuat dia menjadi panik dan cemas.


Jalanan yang terlihat lengang, membuat Zhafira tidak bisa meninggalkan Kevan sendirian, tapi dia tidak bisa hanya menangis tanpa melakukan apapun. "Kamu tunggu aku di sini, aku akan cari bantuan," ucap Zhafira sambil berbisik di telinga Kevan, tapi saat dia hendak berdiri, Kevan memegang tangannya. "Jangan pergi," ucap Kevan yang kemudian tidak sadarkan diri.


"Tunggu aku. Aku akan mencari bantuan untukmu," ucap Zhafira sambil meletakkan kepala Kevan di atas aspal.


Dengan air mata, Zhafira berlari mencari pertolongan hingga tiba-tiba sebuah mobil melintas di depannya. "Tolong, tolong saya," teriak Zhafira sambil berdiri di depan mobil itu.


Mobil itu kemudian berhenti di depannya. "Tolong saya, tolong selamatkan kekasihku. Saya mohon," ucap Zhafira yang tampak lemah.


Orang yang di dalam mobil itu kemudian keluar dan menghampiri Zhafira. "Zhafira? Kamu kenapa basah seperti itu? Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya orang itu yang kemudian merangkulnya.


Zhafira lantas menarik tangan orang itu dan membawanya ke tempat di mana Kevan tengah terbaring. "Dafa, tolong selamatkan Kevan. Jangan biarkan dia meninggalkanku lagi, aku mohon," ucap Zhafira yang kemudian jatuh tersungkur di jalan itu.