
Zhafira dan Kevan berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah yang dipercepat. Raut wajah mereka terlihat begitu khawatir. Tangan Zhafira digenggam oleh Kevan sepanjang perjalanan, bahkan Kevan semakin mengeratkan genggaman tangannya seakan dia takut Zhafira akan terpisah darinya.
Dengan perasaan was-was, pasangan kekasih itu masuk ke dalam kamar tempat di mana Ibunda Kevan dirawat. "Pa, Mama kenapa?" tanya Kevan panik saat menemui ayahnya di dalam kamar itu. Apalagi, di saat itu dia tidak menemukan ibunya di tempat tidur.
"Kalian kenapa panik seperti itu?" tanya ayahnya heran.
"Mama mana, Pa?" tanya Kevan semakin panik.
"Mama di sini. Kalian berdua kenapa panik seperti itu?" tanya ibunya yang baru keluar dari kamar mandi.
Melihat ibunya yang terlihat sehat dan bugar membuat Kevan segera berlari ke arah wanita itu dan segera memeluknya.
"Kamu kenapa? Apa kamu pikir ibumu ini sudah mati?" tanya wanita itu sambil menatap tajam ke arah anaknya itu.
Kevan mengangguk dan menangis dalam pelukan ibunya. Melihat anaknya yang begitu mengkhawatirkannya membuat wanita itu tersenyum dan mengelus lembut punggung anaknya itu. "Mama minta maaf, tadi soalnya ponsel Mama langsung mati, makanya tiba-tiba terputus. Mama sebenarnya mau meminta kalian datang ke sini untuk menjemput Mama karena hari ini juga Mama sudah bisa keluar dari rumah sakit," jelas wanita itu hingga membuat Kevan mengangkat wajahnya.
"Tapi tadi Mama bilang kalau Mama sudah tidak kuat lagi dan segera ingin pulang. Makanya, Kevan sama Zhafira berpikir kalau Mama sudah ... "
"Maksud Mama kalau Mama sudah tidak kuat lagi ada di rumah sakit dan segera ingin pulang ke rumah. Apa kamu pikir, ibu kamu ini akan mati secepat itu? Ibumu ini masih ingin hidup lebih lama lagi karena aku ingin menimang cucu-cucuku. Iya kan, Pa?" tanya wanita itu hingga membuat Zhafira tertunduk malu.
"Papa setuju dengan ucapan ibumu itu," ucap ayahnya yang membenarkan ucapan istrinya itu.
"Papa dan Mama masih ingin berlama-lama dengan kalian. Kami ingin menjaga cucu-cucu kami nanti. Ah, sudah lama Mama tidak mencium aroma bayi. Kalian bisa kan mewujudkan impian Mama dan Papa?" tanya Tante Mira yang membuat wajah Zhafira memerah.
"Kalau Papa dan Mama memaksa, Kevan bisa apa? Zha, kamu dengarkan apa kata Papa dan Mama?" tanya Kevan yang membuat Zhafira menundukkan wajahnya karena wajahnya yang mulai memerah seperti buah cherry.
Melihat Zhafira tersipu malu membuat Kevan tersenyum. Wajah Zhafira tampak cantik dengan pipinya yang mulai merah merona.
Karena tidak ingin terus digoda oleh mereka, Zhafira mulai menghindar dengan berpura-pura memberesakn barang-barang hingga dia dikagetkan dengan suara bisikan di belakang telinganya. "Aku suka melihat wajahmu yang memerah, kamu terlihat semakin cantik." Zhafira menatap Kevan yang sudah berdiri di belakangnya dan mencubit pipi pemuda itu.
"Dan aku juga suka kalau kedua pipimu ini memerah," ucap Zhafira sambil mencubit pelan pipi kekasihnya itu hingga membuat orang tua Kevan tersenyum melihat tingkah mereka.
Tante Mira tersenyum saat melihat anaknya yang begitu bahagia bersama gadis yang dicintainya itu. Wanita paruh baya itu kemudian berjalan perlahan mendekati Zhafira dan segera memeluknya. "Mulai sekarang, kamu adalah anak kami. Tante bahagia karena kehadiranmu telah membawa kebahagiaan bagi keluarga kami. Terima kasih karena sudah membuat Kevan bahagia," ucap wanita itu yang perlahan terisak.
Zhafira memeluk wanita itu dan menangis dalam pelukannya. Berada dalam pelukan wanita itu membuat Zhafira merasa nyaman karena kerinduannya akan pelukan sang bunda yang tidak lagi dapat dia rasakan.
Melihat dua wanita yang sangat di sayanginya itu menangis, membuat Kevan segera memeluk keduanya. Dia begitu terharu hingga membuatnya ikut menangis. Sementara sang ayah, berusaha untuk tetap tegar walau tanpa dia sadari dia ikut menitikkan air mata.
"Aku senang karena ibu dan juga calon istriku ternyata saling menyayangi. Ma, apa sebaiknya besok kami menikah saja?" tanya Kevan hingga membuat Zhafira menatap ke arahnya.
"Lebih cepat lebih baik, biar Mama dan Papa juga bisa lebih cepat menimang cucu. Rasanya, Mama tidak sabar untuk melihat kalian menikah, biar Zhafira bisa tinggal bersama kita dan Mama punya teman di rumah kalau kalian pergi kerja," ucap wanita itu penuh antusias.
Kevan tersenyum mendengar semua ucapan ibunya itu. Bukan hanya dirinya yang ingin segera memperistri Zhafira, tapi ternyata orang tuanya pun ingin segera menjadikan Zhafira sebagai menantu mereka.
Kevan menatap Zhafira yang kini sedang bercanda dan tersenyum bersama kedua orang tuanya. Betapa dia sangat bangga dengan kekasihnya itu yang begitu dengan mudahnya membuat orang-orang disekelilingnya menyukainya dan betapa dia sangat beruntung karena telah mendapatkan cinta dan kasih sayang dari gadis itu.
"Kevan, lagi melamun apa? Ayo, bantu beres-beres biar kita bisa cepat pulang ke rumah," ucap ibunya yang membuyarkan lamuanannya. Wajah pemuda itu tampak tersenyum dan segera mengangkat beberapa tas dan membawanya ke dalam mobilnya.
Kehadiran Zhafira ternyata membawa kebahagiaan untuk keluarga Kevan. Setelah melalui berbagai macam pertentangan, kini Zhafira disambut dengan hangat oleh keluarga Kevan, bahkan mereka ingin anak mereka segera menikah dengan gadis itu.
"Kenapa? Apa kamu masih ingin aku menciummu lagi?" tanya Kevan saat mereka sedang duduk di taman belakang rumahnya. Kevan lantas mendekatkan wajahnya untuk mencium gadis itu, tapi Zhafira malah melayangkan kecupan di pipi Kevan hingga membuat pemuda itu tersenyum.
"Kamu ternyata bisa romantis juga? Ah, kalau tahu seperti ini, aku akan membiarkanmu menciumku terlebih dulu," ucap Kevan sambil merangkul tubuh Zhafira.
Gadis itu tersenyum. Dia begitu bahagia karena kehadiran Kevan di dalam hidupnya. Karena Kevan, dia ingin bahagia dan membahagiakan pemuda itu. Karena Kevan, dia bisa melupakan rasa cintanya yang lalu untuk seseorang yang sulit untuk dia lupakan dan karena Kevan jugalah, dia mampu bertahan dan menghadapi ujian cinta yang amat melelahkan.
"Aku sangat bahagia karena mendapatkan cinta dan sayang darimu. Aku bersyukur karena kita telah dipertemukan hingga aku tidak lagi ingin melepaskanmu," ucap Zhafira sambil menyandarkan tubuhnya di lengan kekasihnya itu.
Kevan tersenyum dan menggenggam tangan Zhafira. "Aku yang paling bahagia karena bisa mendapatkan dirimu. Selama bersamamu, aku sangat bahagia, dan aku yakin kalau dulu aku juga pasti sangat bahagia," ucap Kevan sambil mengecup tangan kekasihnya itu.
"Jangan lagi kamu terlalu memaksa untuk mengingat masa lalu kita, karena semua masa itu penuh kebahagiaan dan jangan menyesali karena tidak mengingatnya. Aku hanya ingin, kita menatap masa depan kita, karena tujuanku hanya ingin membuatmu bahagia dan juga orang tuamu. Aku sudah menganggap mereka seperti ayah dan ibuku sendiri dan aku bersyukur karena mereka juga menyayangiku seperti anak mereka sendiri." Zhafira tampak menitikkan air mata karena mengingat perhatian dan kebaikkan orang tua Kevan padanya.
"Mereka memang orang tuamu karena sebentar lagi aku akan segera menikahimu. Aku tidak akan melarangmu menangis, karena aku tahu tangisanmu itu adalah tangisan bahagia yang membuatku semakin mencintaimu. Menangislah kalau itu bisa membuat hatimu tenang, karena aku akan selalu ada di sisimu dan menemanimu. Aku akan selalu ada di saat tawa dan tangismu karena aku ingin selamanya bersamamu." Kevan mengeratkan genggaman tangannya seakan dia tidak ingin melepaskan tangan Zhafira lagi. Betapa dia sangat menyayangi gadis itu hingga membuatnya tidak ingin berlama-lama jauh dari gadis itu.
Cuaca di sore itu, terlihat mulai mendung dan perlahan titik air hujan mulai turun dan memaksa mereka untuk masuk ke dalam rumah.
Dari balik jendela, Zhafira menatap rintik air hujan yang perlahan turun membasahi bumi. Suara hujan yang mulai deras, bagaikan suara nyanyian merdu di telinganya. Hujan di sore itu, tidak membuatnya merasa takut karena masih ada sinar mentari yang menyinari bumi. Rasa trauma di saat hujan akan mengganggunya jika hujan turun di malam hari, karena di saat itulah dia merasa tertekan karena takut akan kegelapan. Rasa trauma yang rasanya sulit untuk bisa dia lupakan.
Dulu, di saat Zhafira berumur enam tahun, dia pernah diculik oleh seseorang. Seorang pria paruh baya yang tiba-tiba membawanya saat dia sedang bermain di depan rumahnya. Pria itu lantas membawanya ke salah satu rumah kosong yang ada di sekitar kompleks itu.
Pria yang terlihat kumal itu kemudian mengurung Zhafira di dalam rumah kosong itu. Walaupun dia sudah menangis meminta untuk pulang, tetapi lelaki itu tidak peduli, bahkan tangan dan kaki Zhafira diikat. Walaupun begitu, lelaki itu tidak memperlakukan Zhafira dengan buruk. Bahkan, dia memberikan Zhafira makanan dan membujuknya agar tidak menangis seakan Zhafira adalah anaknya.
Zhafira kecil yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menangis di dalam rumah itu. Sementara di luar hujan mulai turun dengan suara petir yang menggelegar. Di dalam rumah yang gelap dengan suara hujan dan petir yang bersahutan, membuat Zhafira yang sementara terikat mulai menangis. Pria paruh baya yang mengurungnya pun sudah pergi sedari sore hingga malam tiba, pria itu tidak muncul lagi di dalam rumah itu.
Di dalam rumah yang gelap gulita, Zhafira kecil menangis dan berteriak meminta tolong, tapi suara hujan menutupi suara mungilnya hingga pagi datang, Zhafira masih menangis dengan tubuh yang menggigil. Di saat tubuhnya mulai lelah, tampak pintu rumah itu terbuka. Di balik samar-samar matanya yang mulai tertutup, dia melihat sesosok anak kecil yang berlari ke arahnya dan memanggil namanya.
Anak kecil itu menangis saat tubuh Zhafira diangkat. Samar-samar Zhafira bisa mendengar nama anak itu disebut. "Dafa, terima kasih, Nak," ucap seorang wanita yang menangis sesenggukan.
Pagi itu, tidak sengaja Dafa bertemu dengan pria kumal itu. Pria yang ditinggal mati keluarganya itu sedang duduk sambil memainkan sebuah ikatan rambut di tangannya. Dafa yang mengenali ikatan rambut itu mulai mencoba mendekatinya. "Paman, ikat rambut yang Paman pegang itu sangat cantik. Memangnya, Paman menemukannya di mana?"
Pria itu menatap wajah kecil Dafa dan perlahan menyunggingkan senyuman hingga gigi-gigi hitamnya terlihat.
Wajah pria itu menoleh dan tangannya menunjuk ke rumah kosong di mana Zhafira dikurung. Sejak semalam, orang tua Zhafira tampak cemas dan khawatir karena anak mereka hilang. Wajah Riska yang terlihat cemas dan selalu menangis, membuat Dafa kecil paham kalau saat ini telah terjadi sesuatu pada sahabatnya. Malam itu, Riska terpaksa menginap di rumah Dafa karena terus-terusan menangis hingga membuat Maya menjadi iba.
Dafa kecil yang mulai curiga, kemudian memanggil ibunya untuk memeriksa rumah itu dan ternyata benar, Zhafira terkurung dan terikat dengan wajah pucat dan bibir yang sudah membiru. Di saat itulah, Dafa melihat wajah Zhafira dengan air mata dan tatapan sedih yang menatap ke arahnya.
Sejak kejadian itu, Dafa selalu bersama dengan Zhafira. Dia selalu menemani Zhafira bermain dan menjaganya dari anak-anak yang mencoba mengganggunya. Dafa bagaikan seorang kakak bagi Zhafira. Bahkan, Dafa selalu meminta pada ibunya agar bersekolah di sekolah yang sama dengan Zhafira, hingga persahabatan mereka terjalin hingga mereka dewasa.
"Apa yang kamu pikirkan, kamu sedang melamun apa?" tanya Kevan membuyarkan ingatannya di masa lalu. Kevan sudah duduk di sampingnya, sambil memandangi hujan yang belum juga reda dari balik jendela.
"Apa ada sesuatu dengan hujan hingga panggilanku dari tadi tidak kamu dengar?" tanya Kevan kembali hingga membuat Zhafira menatap kekasihnya itu.
"Maaf, aku tidak mendengarmu tadi, maafkan aku," ucap Zhafira dengan wajah yang menunduk.
"Sudahlah, aku hanya bercanda. Sepertinya, hujan tidak akan berhenti, jadi sebaiknya aku mengantarmu pulang karena sebentar lagi akan malam. Aku tidak ingin kakakmu tidak mempercayaiku lagi," ucap Kevan sambil menggenggam tangan Zhafira yang terasa mulai dingin.
Zhafira mengangguk. Tangannya yang dingin, masih tergenggam dengan tangan Kevan yang enggan untuk melepaskan genggamannya itu, hingga tiba-tiba Zhafira menggenggam erat tangan pemuda itu saat suara petir menggelegar. Ekspresi spontan Zhafira terhadap petir dan hujan, perlahan mulai mengusik keingintahuannya, tapi dia enggan untuk bertanya. Hanya genggaman tangannya yang perlahan dia eratkan, sekadar untuk mengisyaratkan kalau dia akan selalu ada untuk gadis itu. Kini, nanti, dan selamanya.