
Zhafira masih menatap ke arah Kevan yang menundukkan wajahnya. Terlihat, bulir air mata membasahi pipinya. "Kamu menangis?" tanya Zhafira yang berjalan perlahan mendekati pemuda itu.
Kevan lantas menghapus air matanya. Dia menangis karena merasa bersalah pada Rani. Dia menangis karena dia telah jatuh cinta pada Zhafira yang membuat dia semakin merasa bersalah pada Rani. "Apa Rani akan memaafkanku karena aku telah jatuh cinta padamu?" tanya Kevan yang sontak saja membuat Zhafira menjadi luluh.
Zhafira memandangi wajah Kevan dan menghapus air mata yang masih tersisa di pipi pemuda itu. Melihat air mata di pipi Kevan membuat Zhafira ikut bersedih dan tiba-tiba air matanya pun jatuh tanpa dia sadari. "Aku kan sudah bilang padamu agar jangan bersedih di depanku, entah mengapa setiap melihat kamu bersedih aku juga akan ikut bersedih," ucap Zhafira spontan hingga membuat Kevan segera memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zhafira sambil berusaha melepas diri dari pelukan pemuda itu.
"Aku janji, aku akan membuatmu bahagia," ucap Kevan yang membuat Zhafira menjadi heran. "Bahagia? Memangnya, kamu tahu apa yang bisa membuatku bahagia?"
Kevan mengangguk. "Aku akan memberimu cinta hingga kamu tidak bisa lepas dariku lagi," ucap Kevan sambil berbisik di telinga gadis itu.
Zhafira terdiam, lalu tersenyum. "Memangnya, kamu pikir aku mau jadi pacarmu?"
"Aku akan memaksamu sampai kamu mau jadi pacarku. Aku akan memberikanmu bunga dan coklat untuk bisa meluluhkan hatimu. Atau, kamu mau aku langsung melamarmu?" ucap Kevan yang membuat Zhafira tersenyum dan pergi meninggalkannya.
"Coba saja kalau kamu bisa," ucap Zhafira sambil tersenyum dan berlari pelan meninggalkan Kevan yang segera berlari mengejarnya.
Di depan pintu kelasnya, Zhafira menghentikan langkahnya. Mengingat kejadian tadi, dia jadi malu sendiri hingga membuatnya enggan masuk ke dalam kelas.
"Ayo, masuk," ajak Kevan sambil meraih tangannya dan masuk ke dalam kelas.
Melihat kedatangan mereka, kelas yang awalnya gaduh perlahan terdiam. Mereka masih menatap Zhafira dan Kevan yang berjalan bergandengan tangan. Tiba-tiba, suara tepukan tangan bergema di dalam kelas. Semua teman-temannya bertepuk tangan dan bersiul menyambut kedatangan mereka.
Zhafira dan Kevan bahkan dibuat terkejut saat teman-temannya satu persatu datang dan mengucapkan selamat pada mereka berdua. "Aku salut sama kamu, bro. Kalian akan menjadi pasangan paling populer di sekolah ini," ucap seorang teman saat berjabat tangan dengan Kevan.
Dan benar saja, dalam waktu tak berapa lama, kisah cinta mereka berdua sudah menjadi trending topik di sekolah.
Semua gadis di sekolah itu mulai mengelu-elukan keberanian Kevan yang mencium Zhafira di depan semua orang. Keberanian Kevan dalam menyatakan perasaannya pada Zhafira ternyata telah menjadi buah bibir di sekolah itu.
Sementara Aurelle mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan di sekolah karena melihat setiap orang yang selalu memuja-muja pasangan baru itu. Karena itu, dia telah memilih untuk pindah ke sekolah lain.
"Akhirnya tuh cewek kabur juga. Aku harap kalian berdua tidak akan pernah lagi bertemu dengannya," ucap Ardi pada Kevan dan Zhafira yang siap-siap untuk pulang.
"Kalian berdua mau kemana?" tanya Ardi heran.
"Mau antar Zhafira pulang. Boleh, kan?"
"Mana boleh, Zhafira itu adikku jadi aku yang akan mengantarnya pulang," jawab Ardi sambil meraih tangan Zhafira.
"Zhafira kan sekarang pacarku, jadi boleh dong kalau aku yang mengantarnya pulang?" ucap Kevan tak mau kalah dan meraih tangan Zhafira.
"Tidak bisa, aku yang akan mengantarnya pulang," ucap Ardi.
"Biar aku saja yang mengantar Zhafira pulang, boleh ya?" ucap Kevan yang terlihat memohon.
"Tidak boleh."
"Cukup!!" bentak Zhafira yang sontak saja membuat kedua pemuda itu melepaskan tangannya.
"Aku bisa pulang sendiri. Kalian berdua bertengkar saja sampai pagi. Pacar sama kakak ternyata sama saja," ucap Zhafira kesal dan pergi meninggalkan mereka. Kedua pemuda itu saling memandang dan segera mengejar Zhafira.
"Kenapa ikuti aku? Apa kalian sudah memutuskan siapa yang akan mengantarku pulang?" tanya Zhafira. Kedua pemuda itu terdiam.
"Kalau belum juga diputuskan, aku akan pulang sendiri," ancam Zhafira yang pura-pura berjalan meninggalkan mereka.
"Ya sudah, biar Kevan saja yang antar kamu pulang," ucap Ardi sambil melirik ke arah Kevan.
"Benar? Kak Ardi ikhlas, kan?" Ardi mengangguk walau sedikit ragu-ragu.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Zhafira sambil meraih tangan kedua pemuda itu.
"Kamu jangan macam-macam sama adikku, aku akan ikuti kalian dari belakang. Awas saja kalau kamu tidak langsung mengantar Zhafira pulang," ancam Ardi yang membuat Kevan tersenyum padanya.
"Tenang saja kakak ipar, aku akan menjaga Zhafira dengan baik," ucap Kevan yang menyebut Ardi kakak ipar.
"Kakak ipar? Boleh juga," ucap Ardi senyum-senyum sendiri karena dipanggil kakak ipar.
Di depan gerbang sekolah, Revan sudah bersiap pulang bersama Refa. Vino baru saja pulang bersama Kheyla. Sedangkan Dafa masih menunggu Dafena yang sementara belum keluar dari kelasnya.
"Kok, kamu belum pulang? Mana Dafena?" tanya Zhafira saat bertemu dengan Dafa.
"Dia sementara balik ke kelas, dia lupa ambil buku di laci mejanya," jelas Dafa.
"Oh, begitu. Ya sudah, kami pulang duluan, ya," ucap Zhafira yang diikuti Kevan dan Ardi di belakangnya.
Melihat Zhafira yang pulang bersama Kevan membuat Dafa paham kalau mereka berdua memang benar sudah berpacaran. Entah dia harus ikut bahagia atau dia harus kecewa.
*****
Zhafira masih berbaring di atas tempat tidurnya, tepatnya di kamar Rani. Sudah hampir seminggu dia menempati kamar itu. Dan hampir setiap hari pula dia harus meladeni Ardi yang selalu mengganggunya dengan segala macam tugas sekolah yang membuat otaknya harus bekerja ekstra. "Kak Ardi, jangan ganggu dong, aku mau tidur, aku masih mengantuk, nih," keluh Zhafira saat Ardi datang mengganggunya sambil membawa setumpuk buku saat dia sedang tidur siang.
"Cepat bangun!! Setelah itu mandi, teman-teman sudah menunggu di bawah," ucap Ardi, tapi Zhafira tidak menggubrisnya.
"Jangan bohong deh, Kak. Sana keluar, aku mau tidur," ucap Zhafira sambil mendorong tubuh kakaknya itu.
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Kalau begitu, aku suruh Kevan pulang saja karena kamu tidak mau bertemu dengannya," ucap Ardi sambil berdiri dan pura-pura keluar kamar.
"Ah, pasti juga Kak Ardi bohong," ucapnya pelan sambil meraih boneka beruang dan segera memeluknya.
Baru saja dia memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Zhafira mengambil ponselnya dan melihat nama Kevan terpampang di layar ponselnya itu. "Hallo," sapa Zhafira.
"Kenapa belum juga turun? Apa kamu tidak ingin bertemu denganku?" tanya Kevan yang diiringi suara Ardi yang samar-samar terdengar.
"Memangnya kamu lagi di mana?"
"Aku ada di rumahmu, dan semua teman-teman juga ada di sini," ucap Kevan yang sontak saja membuat Zhafira langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"Turunlah, aku rindu ingin bertemu denganmu," bisik Kevan yang membuat Zhafira tersenyum.
"Baiklah, aku akan turun," jawab Zhafira yang langsung menutup teleponnya.
Dengan terburu-buru, Zhafira langsung menuju kamar mandi dan membersihkan ďiri. Dengan setelan kaos dan celana pendek selutut, Zhafira mendatangi teman-temannya yang rupanya sudah menunggunya sejak tadi. Tak lupa dengan polesan bedak tipis yang menghiasi wajahnya dan rambut diikat asal yang membuat Zhafira terlihat cantik alami. "Maaf, kalian menunggu lama, ya?" tanya Zhafira sambil mendekati Kevan.
"Santai saja, kalau tadi kamu telat sedikit saja, kami pasti di sini sudah pada karatan," sindir Vino yang membuat Kheyla menyikutnya.
"Nih, buat kamu," ucap Kevan sambil memberikan sekotak coklat dan seikat bunga mawar putih untuk Zhafira.
"Terima kasih." Zhafira menerima pemberian Kevan dengan senyum bahagia di wajahnya. Dia tidak menyangka kalau Kevan bisa seromantis itu padanya.
Melihat Kevan yang memberi bunga dan coklat pada Zhafira membuat Kheyla melirik ke arah Vino. Vino yang mulai menyadari kalau kekasihnya itu menginginkan hal yang sama seperti yang dilakukan Kevan pada Zhafira, hanya bisa tersenyum kecut. "Kenapa? Kamu mau aku beri bunga dan coklat seperti mereka?" Kheyla mengangguk manja.
"Baiklah, sebentar aku akan ajak kamu ke taman bunga setelah itu kamu boleh petik bunga mana saja yang kamu suka, oke?"
"Gila kamu, Vin? Masa kamu suruh Kheyla petik bunga di taman. Bukannya dia senang, malah bakal sengsara karena digelandang petugas ke kantor polisi gara-gara mencuri bunga di taman," ucap Revan yang membuat mereka semua tertawa.
"Ngomong-ngomong, dalam rangka apa kita semua berkumpul di sini? Apa ada yang ulang tahun?" tanya Zhafira penasaran.
"Maaf, kita semua kumpul di sini tanpa bilang-bilang dulu ke kamu. Sebenarnya, aku mau ajak kalian ke kafe milik kakak sepupuku yang malam ini akan buka perdana. Dia memintaku untuk membawa beberapa orang teman ke kafenya, makanya aku ingin mengajak kalian," jelas Revan.
"Jam berapa acaranya?"
"Jam 7 malam. Karena masih beberapa jam lagi, apa boleh kalau kita di sini dulu?" tanya Revan.
"Silakan, kalian boleh di sini. Aku senang karena hari ini rumahku jadi ramai karena kedatangan kalian," ucap Ardi sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kalian para cowok duduk di sini saja, kami para gadis mau naik ke kamarku dulu, ayo teman-teman," ajak Zhafira pada ketiga temannya itu. Melihat pacar-pacar mereka pergi membuat wajah mereka menjadi cemberut.
Kamar Zhafira cukup luas dan dilengkapi dengan televisi dan meja rias yang cukup besar. Tak hanya itu, di sudut kamarnya juga tersedia satu set kursi sofa dan lemari pendingin yang sudah terisi dengan aneka minuman dingin dan buah-buahan.
Semua fasilitas itu tak hanya ada di kamarnya saja, tapi juga tersedia di kamar Ardi. Bahkan, di kamar pemuda itu tersedia play station 4 lengkap dengan sound system dan segala macam kaset game yang sudah menumpuk di atas raknya dan sekarang keempat pemuda itu sedang berselancar dalam dunia game yang membuat mereka lupa sejenak dengan pacar-pacar mereka.
"Zha, kamu sangat beruntung karena mendapatkan ayah dan seorang kakak yang sangat menyayangimu," ucap Refa.
"Aku sangat bersyukur dengan hal itu, walau aku telah kehilangan kasih sayang dari ayah kandungku, tapi aku mendapatkan kasih sayang dari Papa Wira dan juga kasih sayang dari Kak Ardi."
"Apa boleh kami melihat foto Rani?" tanya Kheyla.
Zhafira mengangguk. Zhafira lantas mengambil sebuah album foto dari atas meja dan menyerahkannya pada mereka.
"Melihat wajahnya sepertinya tidak asing bagiku. Walau aku tidak mengenalnya secara langsung, tapi aku yakin kalau dia gadis yang sangat baik," ucap Kheyla.
"Aku kenal dia. Dia itu cantik dan pendiam, sebab itu Kevan suka padanya, tapi diam-diam dia sering ditindas oleh Aurelle karena Aurelle tidak suka Kevan dekat dengannya," jelas Refa.
"Jadi maksudmu, dulu Rani juga sering ditindas oleh Aurelle?" tanya Zhafira.
"Walau tidak secara fisik, tapi Aurelle suka menghinanya dengan ucapan yang menyakitkan dan Kevan tidak pernah tahu itu," lanjut Refa.
Zhafira terdiam. Hatinya marah saat mendengar penjelasan Refa. Rasanya dia ingin menampar wajah Aurelle karena telah menyakiti perasaan Rani. "Aku tidak akan pernah membiarkan gadis itu menyakitiku seperti dia menyakiti Rani. Aku bersyukur karena aku tidak akan bertemu dengannya lagi."
Zhafira menatap foto Rani yang sedang tersenyum. Wajah cantik dan terlihat polos itu sudah membuat Zhafira kembali menitikkan air mata.
"Sudahlah, dia pasti sudah bahagia di sana. Jangan menangis lagi karena dia pasti akan bersedih kalau melihatmu menangis," bujuk Kheyla sambil mengelus punggung Zhafira.
"Lebih baik kita bersiap-siap, jangan buat mereka menunggu. Sebentar lagi pasti ada utusan yang datang memanggil kita," ucap Refa dengan begitu yakin. Dan benar saja, setengah jam kemudian, Ardi sudah mengetuk pintu.
"Kita semua sudah siap, kok. Ayo kita pergi," ajak Refa sambil melirik ke arah Ardi yang terpaku melihat keempat gadis itu.
Zhafira tampak cantik dengan atasan empire line berwarna hitam yang dipadukan dengan celana jeans ketat berwarna biru tua. Penampilannya terlihat semakin cantik dengan rambut diikat kuncir yang memperlihatkan keindahan leher jenjangnya.
"Kamu sangat cantik," ucap Kevan saat Zhafira berjalan mendekatinya. Zhafira hanya tersenyum mendengar pujian kekasihnya itu.
"Aku merasa terasing." Tiba-tiba saja Ardi melontarkan kata yang membuat mereka menatapnya.
"Kamu kenapa?" tanya Revan.
"Kalau bukan karena Zhafira, aku tidak akan ikut dengan kalian. Mana bisa aku pergi sendirian sedangkan kalian pergi dengan pasangan kalian. Ah, aku merasa terdzolimi," keluh Ardi dengan wajah memelas.
"Kasihan, ganteng-ganteng tapi jomlo," ejek Vino yang membuat Ardi melotot padanya.
"Sudah, ayo kita pergi. Kak Ardi tenang saja, aku yakin calon kakak iparku masih ada di luar sana, tinggal bagaimana Kak Ardi menemukan dia saja," ucap Zhafira yang entah menghibur atau mengejeknya.
Walau merasa minder, Ardi tetap ikut bersama mereka. Dia tidak bisa membiarkan Zhafira keluar tanpa pengawasannya walau sudah ada Kevan dan sahabat-sahabatnya yang akan menjaga Zhafira, tapi itu tidaklah cukup baginya, karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga dan melindungi Zhafira.