
Persiapan untuk acara pernikahan Dafa dan Dafena hampir berjalan seratus persen. Berkat bantuan teman-temannya, semua persiapan berjalan dengan lancar, dari menyiapkan undangan, fiiting baju, dekorasi, hingga konsumsipun tak luput mereka kerjakan. Hingga akhirnya, hari yang membahagiakan itupun tiba.
Nuansa yang diangkat kali ini bertemakan warna peach, warna kesukaan Dafena. Karena itu, Dafena sengaja memilih baju pengantin yang berwarna peach. Tak hanya baju pengantin saja, tapi teman-temannya juga memakai baju yang senada dengan warna baju pengantin agar mereka terlihat kompak.
Zhafira tampak cantik dengan balutan gaun berwarna peach dengan rambut yang disanggul modern. Begitupun dengan ketiga temannya yang juga memakai baju yang serupa dengannya. Sedangkan, untuk pacar-pacar mereka terlihat menawan dengan balutan jas berwarna peach hingga membuat mereka terlihat seperti pasangan couple.
Iring-iringan pengantin pria yang baru saja datang membuat semua orang menatap penuh kagum pada sang pengantin yang terlihat tampan dengan jas berwarna peach dengan bordiran benang emas. Tak hanya itu, semua mata juga tak luput dari keempat cowok tampan yang berjalan di sisi pengantin pria yang membuat mereka terlihat seperti foto model yang sedang berjalan di atas catwalk.
Melihat kedatangan pengantin pria membuat Kheyla dan dua sahabatnya berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Mereka tampak tersenyum bahagia saat melihat Dafa yang terlihat gagah dan tampan yang perlahan masuk ke dalam rumah dan duduk di depan penghulu dan ayahnya Dafena.
Di depan penghulu, Dafa duduk berhadapan dengan ayahnya Dafena yang sudah bersiap mengucapkan ijab kabul.
Dafa yang sama sekali tidak terlihat gugup, dengan lancar mengucapkan ijab kabul yang membuat semua orang di tempat itu dengan kompak mengucapkan kata sakral.
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sahhhhhh." Itulah kata sakral yang membuat setiap pengantin pria bisa bernafas dengan lega.
Mendengar ijab kabul telah selesai membuat Dafena mengucap syukur dengan tangis bahagia disudut matanya.
Dafena tampak cantik dengan gaun pengantin modern berwarna peach dengan bordiran benang emas yang terlihat sangat indah di tubuh langsingnya.
Setelah pengucapan ijab kabul, Dafena yang terlihat cantik itu akhirnya keluar dari kamar pengantin dan menemui Dafa yang sudah menunggunya. Sementara Zhafira berjalan di belakangnya dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya.
Di depan Dafa, Dafena melepaskan senyum yang diiringi air mata bahagia. Baginya, pernikahan ini bagaikan mimpi. Dengan mesra, Dafena meraih tangan suaminya itu dan mengecupnya dengan diiringi sebait doa tulus dari dasar hatinya dan dibalas dengan sebuah kecupan tanda kasih sayang dari Dafa di keningnya hingga membuat Dafena kembali menitikkan air mata.
Melihat sahabat mereka yang sedang bersanding mesra, membuat Kevan segera meraih tangan Zhafira yang tengah duduk di sampingnya dan menggenggamnya dengan erat. Zhafira yang menyadari itu hanya tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Melihat mereka menikah, membuat aku ingin cepat-cepat menikahimu," bisik Kevan yang membuat Zhafira tersenyum padanya.
"Bersabarlah, aku tetap akan menjadi istrimu," jawab Zhafira yang membuat Kevan tersenyum.
Dafa dan Dafena tampak tersenyum saat duduk di atas pelaminan. Kecantikan Dafena dan ketampanan Dafa membuat mereka menjadi perbincangan tamu undangan. Tamu-tamu itu begitu antusias dengan keserasian mereka yang membuat tamu-tamu itu ingin berfoto bersama mereka.
Zhafira yang sementara duduk di salah satu bangku, tampak tersenyum saat melihat ke arah Dafa yang sedang berjabat tangan dengan para undangan. Dia tidak menyangka, kini sahabatnya itu telah mendapatkan tambatan hatinya.
"Kenapa? Apa kamu kecewa?" Tiba-tiba dia di kagetkan dengan kemunculan Maya yang sudah berdiri di sampingnya. "Tante?"
Wanita itu duduk di samping Zhafira dan menggenggam tangannya. "Tante tahu di hatimu pasti ada sedikit rasa kecewa. Iya, kan?"
"Maksud, Tante?"
"Tante tahu kamu mencintai Dafa dan Dafa juga begitu, tapi kalian berdua terlalu egois untuk bisa bersama dan mencoba menyembunyikan perasaan kalian di balik hati yang lain hingga perasaan kalian perlahan kalian lupakan. Apa yang Tante ucapkan tidak salah, kan?
Zhafira menatap wanita itu dalam-dalam. Walau dia paham dengan semua ucapan wanita itu, tapi dia mencoba untuk mengingkarinya. "Tante, Dafa sangat mencintai Dafena dan Dafena pun begitu. Jadi, rasanya kurang bijak kalau masa lalu itu harus kembali terusik di saat kami sudah mendapatkan kebahagiaan."
Wanita itu lantas memeluk Zhafira dan mengelus lembut punggungnya. "Tante berharap, kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu, walau sebenarnya Tante tahu sumber kebahagiaan kamu telah kamu lepaskan dan Tante harap suatu saat nanti kamu tidak akan menyesalinya," ucap wanita itu yang kemudian pergi dengan wajah yang terlihat sedih.
Tanpa Zhafira sadari, Dafa melihat kejadian itu dan menatap raut wajah Zhafira yang mulai berubah dan terlihat menghapus air matanya.
Sejurus, mereka saling memandang. Zhafira hanya bisa tersenyum dan menatap sahabatnya itu yang kini sedang bahagia.
"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Tiba-tiba Kevan datang dan duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Dafa yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Zhafira sambil tersenyum pada kekasihnya itu.
"Lebih baik kita ke sana. Teman-teman sudah berkumpul untuk mengucapkan selamat pada Dafa dan Dafena, ayo," ajak Kevan sambil berjalan menggandeng tangannya.
Di depan Dafa, Zhafira berusaha untuk tetap tersenyum. Entah apa yang kini dia rasakan, seakan ada sesuatu yang hilang yang membuatnya merasakan rasa sakit luar biasa. Sahabat yang pernah mengisi hampir setengah kisah hidupnya, kini akan menjalani kehidupan baru bersama orang lain. Sahabat yang pernah membuatnya bahagia, kini akan membahagiakan orang lain. Entah, apakah dia harus ikut bahagia atau menangis karena terluka.
"Aku turut bahagia. Tolong jaga Dafa dan berikan semua rasa cinta dan sayangmu untuknya. Aku akan selalu mendoakan kalian agar selalu bahagia selamanya," bisik Zhafira sambil memeluk Dafena. Tanpa di sadarinya air matanya jatuh.
"Terima kasih, aku janji akan memberikan kebahagiaan untuknya dan aku juga berharap kamu juga akan bahagia bersama Kevan," jawab Dafena yang juga ikut menangis.
"Sudah, jangan menangis lagi. Ayo, kita berfoto bersama," ajak Ardi yang langsung menggandeng tangan Riana.
Sementara Kevan, segera meraih tangan Zhafira dan merangkulnya. "Jangan menangis lagi, melihatmu menangis aku jadi ikut sedih," ucap Kevan sambil menghapus sisa air mata di pipi kekasihnya itu.
Zhafira mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. Sambil menggandeng tangan Kevan, Zhafira berjalan dan berdiri di depan Dafa. "Aku akan mendoakanmu dan Dafena agar keluarga kecil kalian akan selalu bahagia. Aku mohon, jaga sahabatku itu dan jangan pernah menyakitinya. Aku pasti akan marah padamu kalau Dafena sampai terluka. Ingat itu," ucap Zhafira yang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh di depan pemuda itu.
"Aku janji akan menjaga dan mencintainya dan aku juga berharap kamu juga akan bahagia."
"Kamu tenang saja, aku janji akan menjaga dan mencintai Zhafira," ucap Kevan sambil melingkarkan tangannya di leher Zhafira yang membuat Dafa tersenyum.
"Apa boleh aku memelukmu?" tanya Dafa yang membuat Zhafira langsung memeluknya.
Kedua sahabat itu saling memeluk dan menitipkan sebait doa dari relung hati mereka, agar mereka bisa tetap bahagia walau mereka tak harus bersama.
"Aku akan bahagia, aku janji. Aku akan bahagia agar aku bisa mengangkat kepalaku dengan bangga di depanmu agar aku bisa membuktikan kalau keputusanku tidaklah salah," bisik Zhafira yang membuat Dafa meneteskan air mata.
Zhafira melepaskan pelukannya dan tersenyum pada kedua sahabatnya yang kini sedang berbahagia. Zhafira menatap mereka berdua dan meraih tangan mereka dan menyatukannya. "Doa kami akan selalu kami panjatkan untuk kebahagiaan kalian. Dan semoga persahabatan kita akan selalu terjaga hingga kita tua nanti," ucapnya yang diaminkan oleh semua sahabat-sahabatnya yang juga ikut menyatukan tangan mereka.
"Sudah cukup acara menangisnya, sekarang waktunya untuk kita tersenyum bahagia," ucap Vino sambil menunjukan sebuah kamera yang ada di tangannya.
Dengan tersenyum, mereka berfoto bersama, tertawa bahkan bercanda hingga membuat mereka melupakan kesedihan yang sempat memporakporandakan hati mereka.
Hari itu adalah hari yang membahagiakan bagi mereka. Hari di mana akan menjadi kenangan yang takkan pernah mereka lupakan.
Sehari setelah pernikahan, Dafa dan Dafena bersiap-siap untuk bulan madu mereka. Singapura, adalah negara tujuan mereka dan itu adalah hadiah dari sahabat-sahabat mereka. Selama dua minggu mereka akan bersenang-senang di negara itu.
"Ingat, jangan lupa untuk minum obat ini. Obat ini manjur untuk malam pertama kalian, jangan membuat Dafena kecewa," ucap Revan yang berusaha memberikan sebotol kecil obat yang katanya adalah obat kuat.
"Tidak perlu, simpan saja untukmu, aku tidak butuh," elak Dafa yang membuat Vino tertawa.
"Kamu itu seperti tukang obat saja," ejek Vino kepada Revan.
"Dafa, jangan coba-coba minum obat itu, nanti kamu bisa tertidur. Ingat, setiap obat mempunyai efek samping dan salah satunya adalah mengantuk. Apa kamu mau kamu tertidur di malam pertamamu? Saranku, sebaiknya kamu berolahraga saja, atur pernafasan agar kamu tidak mudah lelah," ucap Vino sambil melirik ke arah Revan.
Ardi yang tidak mau kalah juga memberikan sarannya. "Jangan dengarkan mereka berdua. Ikuti saranku saja, lebih baik kamu menonton film ... "
"Sudah, sudah. Kalian bertiga berisik. Simpan saja obat mu itu. Dan kamu, olah raga saja sendiri. Kamu juga, mau menyuruhku nonton film apa? Kalian bertiga ini ternyata mempunyai pikiran yang kotor. Apa kalian pikir aku akan mengikuti saran kalian yang tidak jelas itu?"
Walaupun Dafa sudah mengelak dari mereka, tapi Revan dan Vino tidak menyerah begitu saja. "Jangan ikuti sarannya Vino, minum obat ini saja, aku yakin kamu akan kuat semalaman," ucap Revan yang terus membujuk Dafa.
"Tidak perlu, cukup olah raga saja aku yakin kamu akan bertenaga semalaman," ucap Vino yang tidak mau kalah.
Sementara Ardi tidak lagi bersuara dan memilih duduk di samping Kevan yang sedang menertawainya. "Padahal kan aku cuma mau bilang kalau sebaiknya mereka nonton film romantis saja. Memangnya dia pikir aku menyuruhnya nonton film apa?" ucap Ardi yang kembali membuat Kevan tertawa.
Melihat kedua sahabatnya yang terus mengganggunya membuat Dafa akhirnya berdiri dan berjalan menuju ke tempat di mana Dafena dan teman-temannya sedang berkumpul.
Melihat Dafa yang pergi menuju gadis-gadis itu membuat Revan segera menyimpan kembali obat yang katanya bisa bikin kuat itu di dalam saku celananya dan Vino yang langsung pura-pura duduk sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa kamu bawa kami berdua ke sini?" tanya Kheyla yang bingung karena Dafa memaksa membawanya dan Refa ke hadapan pacar-pacar mereka.
"Tuh, tanya saja pada pacar-pacar kalian. Masa aku disuruh minum ob ... " Belum selesai Dafa membeberkan saran konyol mereka, Revan dengan spontan langsung menutup mulut sahabatnya itu.
"Tidak ada apa-apa, kok. Sudah, sana balik lagi ke tempat kalian. Kasihan Dafena sudah menunggu," ucap Revan yang membuat Refa menjadi curiga.
"Awas kalian kalau memberi nasehat yang tidak-tidak pada Dafa. Kalau sampai kami mendengar kalian melakukan itu, awas kalian!!" ancam Refa yang membuat mereka semua terdiam seperti kucing basah.
Malam itu adalah malam terakhir kebersamaan mereka, karena besok pagi Dafa dan Dafena sudah harus berangkat ke Singapura. Karena itu, mereka berkumpul bersama dan menawarkan saran yang membuat Dafa ingin muntah setelah mendengar saran konyol mereka itu.
Sungguh, sahabat sejati akan selalu ada saat kita butuh. Tak hanya dalam suka, tapi dalam dukapun mereka akan selalu ada. Dan persahabatan akan selalu terkenang walau jarak telah memisahkan, karena sahabat akan selalu mempunyai ruang tersendiri di dalam hati kita dan tersimpan baik dalam ingatan dan tak mudah untuk bisa dilupakan.