
Mario saat ini berada di ruang inap ayahnya,ibu dan adiknya sedang pulang ke rumah karena mereka sudah terlalu lelah seharian berjaga,ia berdiam diri melihat kondisi pak Andreas yang saat ini tertidur di ranjang,selang infus dan oksigen yang terpasang di hidung, membuat Mario seakan iba melihat nya.
Tommy berjalan menghampiri Mario, dengan ragu-ragu Tommy mengutarakan sesuatu untuk dibicarakan.
"maaf...ada sesuatu yang harus saya sampaikan"
Mario menoleh kearah Tommy, "kita keluar.."
Mario sempat menoleh kearah ayahnya, kemudian ia berjalan menuju luar kamar diikuti oleh Tommy dibelakangnya.
"ada hal apa???"
"ada sesuatu yang harus anda ketahui..."
"katakanlah..."ucap Mario
"fantasi Mart... pemilik saham dari Singapura menjual sahamnya ke seseorang..."
Mario mengusap wajahnya kasar, dengan rumor yang cepat sekali merebak sampai kenegara seberang, membuat ayahnya kehilangan kepercayaan.mario takut jika terus berkelanjutan akan berdampak buruk dengan perusahaan.
"dan yang harus anda ketahui..jika yang membeli saham fantasi mart adalah pemilik agensi yang menaungi anda, Star Entertainment.."
Mario kaget, bagaimana bisa itu terjadi, "apa kau sudah memastikannya.."
Tommy memberikan secarik foto yang ia dapatkan ke Mario, "ini..."
Mario melihat itu,ia melihat jelas jika Darren terlihat tersenyum sumringah,dan dua orang asing duduk disebelanhs,dan disampingnya terdapat seorang wanita tapi tak jelas karena posisi wanita itu membelakangi kamera,jadi yang terlihat adalah punggung dan rambutnya saja.
"Darren??"ucap Mario kaget
"iya Tuan..."
"dia datang dengan seorang wanita... siapa itu??"
"saya belum mengetahui nya tuan... mungkin tuan Darren dengan sekretarisnya??"
"aku tahu sekretaris darren.. sekretaris nya seorang laki-laki...!!!"
"apa mungkin itu kekasihnya??" tanya Tommy lagi.
"Darren sudah memiliki istri... istrinya berada di luar negeri...aku tidak tahu jika Darren memiliki simpanan!!" ujar Mario yang sangat kesal karena Darren membeli saham nya.
"baik tuan.. hanya itu yang bisa saya sampaikan,saya permisi dulu..."
mario mengangguk, Tommy kemudian berbalik dan akan pergi, tapi ia berpapasan dengan Winona yang saat ini menatapnya.
Tommy menganggukkan kepalanya,dia kemudian pergi meninggalkan area rumah sakit
Mario melihat kedatangan winona,wajah cantik Winona masih terpancar meski saat ini Winona hanya mengenakan pakaian kasual seperti saat ini.
"hari ini ada rekaman... kita harus datang.."
"apa disaat seperti aku bisa bernyanyi?? melihat ayahku sampai saat ini belum siuman..??"
"kumohon profesional lah, kamu harus datang... mereka sedang menunggu mu ...aku akan menggantikan dirimu menunggu ayahmu, jangan khawatir..." ucap winona dengan mode wajah datarnya
"baiklah..."ucap Mario kemudian ia pergi meninggalkan Winona yang terdiam.
didalam ruangan,winona berjalan menghampiri pak Andreas yang saat ini terbaring tak berdaya. winona berjalan mendekat perlahan,ia kemudian duduk disebelahnya.matanya tertuju ke tangan pak Andreas,hati Winona merasakan sakit dihatinya, bagaimana bisa ia saat ini duduk disebelah orang yang telah mengakibatkan kematian ayah dan ibunya.
pak Andreas membuka matanya perlahan,winona melihat ada pergerakan ditangan pak Andreas,ia kemudian melihat kearah wajah pak Andreas yang saat ini tiba-tiba sadar.
"Anda sudah baikan...anda haus..aku akan mengambilkan minum untuk anda..."
pak Andreas mengangguk,winona kemudian mengambil air disebelah ranjang tidur pasien,winona membantu pak Andreas duduk, dengan mensetting bed pak Andreas, setelah posisi sudah nyaman winona memberikan minumannya,pak Andreas meminum sedikit.
pak Andreas tersenyum dengan ucapan Winona yang perhatian kepadanya, padahal Winona adalah orang baru,tapi dia merasakan jika Winona mirip sekali dengan seseorang.
"aku baik-baik saja... dimana keluarga ku .."ucap pak Andreas mengedarkan pandangannya
"aku kesini tadi cuman ada Mario, seperti nya mereka bergantian menjaga anda.istri dan anak perempuan anda mungkin sekarang sudah dirumah.."
"oo..lalu.. Mario.. dimana anak itu"
"Mario ada jadwal rekaman..aku menyuruhnya untuk datang sebagai profesionalisme dalam bekerja..maaf ...,"
pao Andreas tersenyum mendengar penuturan Winona,ia begitu bahagia Winona dapat mengendalikan mario dengan baik.
"Mario tidak salah memilih mu.. menjadi kekasihnya...kamu memang sangat perhatian..."
Winona tersenyum, "apa anda setuju dengan hubungan ku dengan Mario??"
"iya ..aku sangat setuju..."
"tapi istri anda tidak menyukai ku ..."
"jangan mengkhawatirkan itu ... lambat laun ia akan menyukai mu .. kalian berdua perlu mengakrabkan diri ... jadi sabar saja .."
"terimakasih Tuan .."
"jangan panggil aku seperti itu . sekarang panggilah aku ayah .. seperti mario dan Irene memanggil ku .."
"apa anda tidak keberatan..?"
"tentu saja tidak..."
"sekali lagi terimakasih tuan .."
"oia ... kedua orang tuamu.. dimana mereka??apa mereka tahu saat ini kamu memiliki hubungan dengan putra ku .."
dengan pandangan kosong Winona berbicara "seharusnya... mereka tahu .."
"apa ada masalah dengan mereka??"
"aah.. tidak...aku hanya berselisih paham dengan mereka...nanti aku akan memberi tahukan kepada mereka tentang hubungan ku dengan Mario..."
pak Andreas tersenyum "jangan khawatir... setelah aku keluar dari rumah sakit ini ...aku akan bertemu dengan mereka ..dan meminta mu menjadi menantu ku ."
Winona tersenyum, "anda seperti memutuskan sendiri... Mario belum ingin menikah ayah .."
"Mario??? jangan khawatir...biar itu menjadi urusan ayah ..." senyum terbit di wajah pak Andreas.
Winona dan pak Andreas telah mengobrol panjang lebar, Winona dengan telaten merawat pak Andreas dengan baik, sampai tengah malam tiba pak Andreas tidak ingin lepas dari winona, entah mengapa hati nuraninya sangat menyayangi Winona bak seperti anaknya sendiri.
Mario datang dan menuju ayahnya dan winona yang saat ini bercanda gurau, Mario mengerutkan dahinya, melihat ayahnya yang sudah sangat baik.
"ayah...ayah sudah sadar...??"
"ayah sudah baikan... Winona sangat membantu kesembuhan ayah .."ucap pak Andreas tersenyum
Mario menoleh kearah Winona yang kini menunjukkan senyumannya,hal dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa Winona sangat berbeda jika berhadapan dengan ayahnya.
"syukurlah...aku sangat mencemaskan mu..."
"seharusnya aku yang berbicara seperti itu.... sekarang ayah bertanya kepada mu...kapan kamu akan menikahi Winona??"
Mario kaget dengan ucapan ayahnya,ia menoleh kearah Winona yang saat ini memandang nya dengan menaikkan alisnya.
Instagram eunhyeayu90