
Tak terasa hari sudah senja, ku raih jam tangan di atas meja di samping ranjang, dan ku lihat ternyata waktu menunjukkan pukul 18:00 wib, jam enam sore. Aku mengusap mataku yang masih belum sepenuhnya sadar. Lalu aku menguap karena tertidur pulas. Aku pun bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu. Saat pintu telah terbuka aku mencium beragam aroma masakan dari dapur. Seketika itu juga perutku pun jadi ingin makan. Tanpa cuci muka ataupun membersihkan diri, aku langsung turun menuju ruang makan. Aku kaget ternyata Willi masih di sini.
"William, kamu belum pulang?"
"Iya... hehe nggak papa kan"
"Nak Willi ini nolongin Bibi seharian, cuci piring, bersih-bersih dapur, terus ngajak Bibi masak bareng. Willi juga nanya makanan kesukaan kamu"
Bi Ina menjelaskan kalau Willi yang membantu nya seharian ini, seolah ia sedang mendapatkan hadiah besar.
"Iya tapi kan ini udah sore... lagian ngapain juga kamu nolongin Bibi kerja, biasanya juga Bibi kerja sendirian"
"Justru itu makanya aku mau bantu, kan kasihan kalo Bibi kerja sendiri"
"Iya Non... nggak papa, itung-itung Nak Willi dapat pahala"
Eh... si Bibi malah ngambil kesempatan pakek bilang dapat pahala lagi, pahala dari mana, dari Hongkong.
"Tu dengar"
Yah.. dia malah nyolot.
"Terserah, oh ya Papa Mama kamu nggak kawatir, kamu pulangnya lama"
"Sayang nya sih, aku bukan anak mami. Jadi mereka nggak akan mencemaskanku"
"Sekali pun kamu bukan anak mami, yang namanya orang tua pasti cemas kalau anak nya pulang lama"
"Aku jamin nggak akan cemas. Ya kan Bi"
"Iya"
Hmmmm... terserah deh. Kenapa aku tiba-tiba mencemaskan Willi di cari orang tuanya karena pulang kemalaman. Padahal aku aja nggak pernah di gubris sama Papa Mama. Malahan nggak pernah di cemasin. Jangankan cemas, nanya kabar aja nggak pernah bahkan mungkin ngerasa nggak punya anak. Huf...
"Ya udah Ndien daripada ngelamun di situ mending kamu mandi, terus makan malam bareng. Biar Bibi sama Willi yang siapin makan malam"
"Iya Bi"
Aku langsung ke kamar dan mengambil handuk lalu beranjak ke kamar mandi. Selang 15 menit aku sudah siap berpakaian lalu turun ke ruang makan dan bergabung dengan Willi dan Bi Ina. Lalu kami menyantap makan malam yang telah di sediakan. Enak juga. Gumam ku dalam hati. Ternyata Willi jago masak, semua masakan yang dimasaknya enak. Nafsu makan ku jadi meningkat, tanpa sadar aku makan dengan lahap. Hal itu membuat lagi-lagi Willi mengejekku.
"Lihat tuh Bi, Nadien lahap kan makannya nggak kayak tadi siang makan bagaikan princes di kerajaan. Ini semua pasti karena masakanku enak"
Dengan bangganya dia mengeluarkan kata-kata seperti itu. Andai perutku sedang tidak lapar dan makanan ini rasanya biasa saja mungkin aku akan menghentikan makan ku dan naik ke atas lalu meninggalkan mereka berdua. Melihat sikap ku yang berubah menjadi kesal Bibi menyenggol siku nya Willi ngasih kode buat berhenti ganggu aku, karena Bibi tau persis aku susah di becandain. Willi pun refleks jadi tutup mulut dan kembali melahap makanannya.
Kurang lebih 15 menit waktu yang terlewati dengan suasana hening di sekitar meja makan, akhirnya kami pun menyudahi acara makan malam. Lalu tiba-tiba saja aku mengeluarkan suara yang memalukan.
"Geeeekkkk"
Upppss... aduh kelepasan. Ini efek kenyang, mukaku langsung memerah. Tapi Bibi dan Willi malah ketawa, mereka merasa senang sekali melihatku malu seperti ini.
"Sini Bi biar saya saja yang cuci"
"Udah nak, biar Bibi aja, nggak papa kok, lebih baik nak Willi pulang sekarang sudah malam"
"Yaudah deh Bi"
"Akhirnya pulang juga"
"Kan besok masih bisa ke sini lagi"
"Ngapain?"
"Main, ya kan Bi. Oh ya besok kan hari Minggu, Bibi biasanya Misa di mana?"
"Di Katedral"
"Gimana kalau kita Misa bareng. Tapi misa pagi ya Bi, soalnya kalau Misa jam 10 biasanya padet lebih nyaman ikut misa pagi, lebih segar juga suasananya"
"Bibi sih maunya gitu tapi"
Bibi melirik aku, aku tau arti lirikan itu.
"Bilang aja Bi, Nadien susah di bangunin, Bibi jadi terpaksa harus ikut misa ke-2 jam 10"
Gerutu ku kesal menerangkan arti lirikannya.
"Yaaa.. gitu kamu udah dengar sendiri kan"
"Ya deh Bi... sampai jumpa besok di Gereja. Well, aku balik dulu ya... Ndien, jangan kangen"
"Hah?"
"Bercanda, baiklah Bi, sampai jumpa di lain hari senang bisa membantu Bibi di dapur"
"Bibi juga senang kamu bantu"
"Tau jalan pulang kan?"
"Kalau ngga, kamu mau nganterin aku pulang?"
"Nggak"
"Ya udah, ada Bi aku pamit, bye Ndien.... don't forget to dreamed me"
"Amit-amit"
Willi melangkahkan kakinya menuju parkiran dan pulang dengan damai. Akhirnya aku bisa santai malam ini, dan melanjutkan tidurku yang indah.