WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
21



Pulang sekolah, mobil Mama udah terparkir di depan gerbang. Aku langsung cepat-cepat berjalan menuju mobil Mama. Tiba-tiba William menarik tangan ku. Aku menoleh ke arah William.


"Kamu mau kemana? Tumben buru-buru"


"Aku udah di tunggu Mama. Mama mau ke mall bareng aku hari ini. Mama yang minta tadi pagi"


"Oh... kirain... ya udah pergi lah. Oh ya ntar malam telpon aku ya... "


"Oky..."


Aku melanjutkan langkahku dan masuk ke dalam mobil Mama.


"Yuk Ma berangkat."


"Kayak nya temen kamu nggak bisa deh kalau nggak ketemu kamu sekalipun cuma satu detik"


"Mama apaan sih, ya nggak lah. Lagian kita juga baru kenal"


"Ya deh" perlahan tapi pasti Mama melajukan mobilnya menuju jalan raya.


"Kita mau ke mana Ma?"


"Ke Basko aja ya... kayak nya banyak diskon di situ"


"Hmmm.."


Mobil Mama berlaju dengan kecepatan standar. Sesekali kami ngobrol tentang Sekolah. Lalu kami diam lagi. 2 hari ini Mama cukup aneh. Tiba-tiba aja dia mau nanya-nanya tentang ku dan peduli dengan ku. Padahal selama ini dia cuek denganku. Aku sudah lama menantikan hari ini. Aku berharap mama bersikap seperti ini nggak hanya hari ini dan kemarin. Tapi seterusnya. Semoga aja ini awal yang bagus buat kami untuk mengembalikan keharmonisan dalam keluarga ini.


Akhirnya kami pun sampai di Mall Basko. mama mencari parkiran. Setelah mobil terparkir dengan manis, kami berdua turun dan masuk ke dalam Mall. Pertama kita cari makanan dulu, berhubung perut kami sama-sama keroncongan. Lalu habis makan baru lah kami naik ke lantai 3 tempat busana. Mama milih-milih baju yang bagus dan trendi. Sesekali Mama mencocokkan baju yang menurut dia cocok dengan ku di badanku.


"Yang ini bagus nggak Ndien. Kamu suka nggak?"


"Nggak ah Ma.. norak, motif nya banyak banget. Cari yang polos aja deh"


"Tapi ini bagus... tuh lihat, warnanya ceria.. kamu cocok kok pakai baju ini"


"Kita cari yang lain aja ya Ma"


"Ya udah deh"


Lalu kita pindah ke stand lain. Kali ini Mama memilihkan ku gaun. Padahal aku paling nggak suka pakai gaun. Pakai rok aja aku udah risih.


"Nah.. ini gimana? Kayaknya gaun ini cocok deh Ndien"


"Aduh Ma.. cocok gimana. Itu terlalu seksi Nadien mana mau pakai gaun yang seksi-seksi gitu. Kita cari yang lain aja ya"


"Ndien.. please deh. Kali ini aja nurut sama mama. Gimana kalau kamu coba dulu, nanti kalau emang nggak cocok ya kita cari lagi"


"Tapi Ma.."


"Ndien.." duh ini nih senjata Mama. melotot sambil manurunkan dagu.


"Ya deh aku coba"


Mama langsung senang, sementara aku kesal bukan main. Aku paling nggak suka di paksa, tapi apa boleh buat. Lagian ini pertama kalinya Mama membelikan ku pakaian. Biasanya juga aku ke Mall bareng Oma. Hanya saja Oma tahu selera bajuku. Aku suka baju-baju yang kasual. Yang nggak feminim amat. Kayak baju kaos gitu.. terus celana Jeans. Mana pernah kami membeli rok dengan Oma. Mungkin itu salah satu alasan kenapa pria kurang tertarik dengan ku. Aku sama Mama itu jauh berbeda, Mama cantik sedangkan aku standar, Mama pandai berdandan sedangkan aku nggak pd kalau udah dandan. Kadang juga rambutku nggak ku sisir untung aja lurus dan nggak susah di atur. Aku mengalami kesusahan saat mengenakan gaun pilihan Mama. Secara ini kan pertama kalinya aku mengenakan gaun. jadi ke susahan deh.


Karena merasa kesusahan aku terpaksa manggil Mama buat bantu aku makai gaun ini. Mama pun langsung masuk dan membantuku.


"Kamu gimana sih, masang gaun doang nggak bisa. Percuma dong kamu lahir sebagai perempuan"


"Ihh.. Mama kan nggak semua cewek feminim. Oma aja nggak pernah tuh pakai gaun"


"Itu kan waktu Oma udah tua. Kamu nya aja yang nggak pernah liat Oma pas masih muda. Oma itu pandai banget berdandan"


"Masak sih, tapi selama ini Oma nggak pernah tuh dandan. Ke Mall aja dia pakai sandal jepit"


"Iya itu setelah Opa kamu meninggal waktu kamu masih umur 5 tahun. Oma jadi malas berdandan dan memilih untuk tampil apa adanya"


"Kamu tahu nggak siapa yang ajarin Mama makeup"


"Nggak"


"Almarhumah Oma yang ngajarin. Bahkan dulu Mama juga kayak kamu nggak pandai dandan. Apalagi waktu nikah sama Papa, Mama di make over, dan itu pertama kalinya Mama di makeup layaknya artis mau manggung. Waktu Mama wisuda aja Mama cuman pakai foundation, bedak, sama lipstik. Emang sih sampai kampus temen Mama make over Mama lagi karena katanya muka mama kelihatan pucat. Tapi make up nya nggak setebel waktu nikah"


"Aku pikir Mama memang suka make up"


"Nggak lah. Mama terbiasa make up sejak nikah sama Papa. Itupun karena Mama dekat sama almarhumah Oma"


"Oh..."


"Dah siap.. nah tuh lihat cantik kan"


Aku memandang diriku di depan cermin. Aku benar-benar nggak percaya kalau yang di cermin itu adalah aku.


"Kenapa? Kaget yaaa.. kalau ternyata kamu itu anggun... bodoh banget si Dava, anak gadis secantik ini kok di putusin"


"Mama kok jadi bahas Dava sih Ma. Apa hubungannya"


"Yaaa.. nggak ada sih, cuman sayang aja, cewek secantik kamu di sia-sia in. Eh tapi temen cowok kamu yang baru itu beruntung lho, bisa dapet cewek yang cantik, manis, sopan anggun. Siapa lagi kalau bukan anak Mama"


"Ih.. Mama udah deh.. Mama tu terlalu berlebihan. Oh ya gaun nya aku buka ya Ma. gerah"


"Yaudah.. kamu ganti dengan yang ini ya, mau kan.. sesuai dengan selera baju kamu. daripada kamu pakai seragam terus seharian di Mall"


"Memang kita masih lama Ma?"


"Kayaknya sih... soalnya Mama mau singgah ke salon... mau make over kamu"


"Jangan Ma.. aku kan masih remaja"


"Banyak kok remaja di luar sana yang pakai make up"


"Iya tapi aku nggak suka di make up in"


"Nggak papa dikit aja"


Apa lagi nih... aduh.. kalo tahu gini mending aku nolak di ajak ke mall sama Mama. Tapi ya sudahlah mungkin dengan ngikutin maunya Mama, Mama jadi tambah peduli dengan ku. Mama membantu ku membuka gaun ini. Lalu aku mengganti pakaian yang baru di beli Mama. Setelah selesai kami berdua berjalan menuju salon yang ada di Mall. Setelah itu Mama memberikan instruksi untuk mempermak rambut, wajah, dan juga kuku-kuku ku. Begitupula dengan Mama. Tukang salon nya mempersilahkan aku untuk duduk di bangku yang sudah di sediakan. Lalu aku duduk dan membiarkan kakak tukang salon nya menyalon rambutku... rasa nya nikmat.. pertama-tama rambut ku di kreambat, lalu diurut-urut.. wah enak sekali pikirku. Saking enaknya aku malah ketiduran. Selagi kepalaku di kreambat, kuku kaki dan kuku jari tanganku di bersihkan serta di beri kutek.