
“Kamu yakin sudah bisa masuk Sekolah sekarang?”
“Iya Ma, aku sudah mendingan kok. Lagian aku kan sudah 3 hari nggak ngikutin pelajaran di Sekolah. Masuk tiap hari aja masih lelet nangkep pelajarannya, apalagi kalau nyampe berhari-hari nggak masuk sekolah. Bisa-bisa jadi SA Nadien Ma, Siswa Abadi”
“Ya deh kalau memang menurut kamu, kamu sudah baikan dan bisa ke Sekolah Mama bisa apa? Yang jelas kamu harus bisa tunjukin ke Papa kalau kamu bisa jadi apa yang dia inginkan bahkan lebih dari yang dia inginkan”
Kenapa harus jadi seperti yang Papa ingini sih?
“Hmm, ya udah Nadien berangkat dulu ya Ma. Wiliam udah nunggu dari tadi di gerbang, ntar telat lagi nanti”
“Iya, hati-hati sayang”
“Yes Mommy”
Aku mendapat kecupan di pipi dari Mama sebelum berangkat ke Sekolah dan beranjak menuju gerbang rumah untuk menemui Pangeran yang masih tergantung.
“Pagi Kingkong” aku menebar senyuman kecil saat menyapa Willi di gerbang rumah sembari memakai helm kesukaan ku.
“Kamu tuh kapan sih nggak buat orang menunggu lama-lama?”
“Eiiitsss masih pagi, jangan cerewet dulu pagi-pagi. Justru kita harus menghirup udara yang segar di pagi hari sembari bersyukur karena kita masih bisa bangun. Lalu.... “
“Lalu apa?”
“Aku lupa, heheheh”
“Huf... untung kamu cantik, kalau nggak aku nggak bakalan suka sama cewek yang oon nya kuadrat”
“Kamu barusan bilang aku idiot?”
“Tahu ah, cepetan gih naik ntar telat lagi”
“Iya-iya bawel. Kayaknya kita harus tukar posisi deh, kamu yang jadi cewek dan aku yang jadi cowok. Masalahnya kamu itu baweeeeell banget, bawel kubik.... kalau kamu bilang aku idiot kuadrat kamu tuh cerewet kubik, 3 kali lipat cerewet nya dari pada perempuan, terus... kamu itu...”
Aku masih mau melanjutkan siraman rohani di pagi hari, tapi Willi malah menutup mulutku dengan tangannya.
“SSSttt.... kapan ke Sekolah nya neng?”
“Iya-iya”
Huh dasar Kingkong sompret...
Kita berangkat ke Sekolah dengan damai. Lalu berpisah saat berada di parkiran karena kami harus menuju kelas masing-masing dengan damai pula. Aku merasa seperti siswa baru, padahal aku sakit baru 3 hari tapi serasa sudah 3 tahun. Mungkin karena efek nggak sadarkan diri kali yaaa... hmmm hehehe. Saat kaki ku satu langkah lagi memasuki ruang kelas Dava lagi-lagi seperti jaylangkung yang tiba-tiba saja muncul tepat di depan wajahku.
“Mau apa?”
“Aku cuma mau kasih tahu kalau kita belajar di Sekolah aja. Masalahnya aku nggak punya waktu buat ngajarin kamu di luar Sekolah” dia cuma menyampaikan pesan yang singkat, padat dan cukup menyayat hati. Lalu pergi begitu saja meninggalkanku dengan segudang perasaan dongkol. Inilah bedanya mereka dengan serial Upin Ipin. Kalau Upin dan Ipin mereka dua-duanya membuat hati bahagia, nah sedangkan mereka berdua beda. Willi doang yang buat bahagia, Dava mah buat struk.
Harus kah aku belajar berdua dengan nya. Memangnya Jessika rela kalau ngeliat kami berduaan di Perpus entah sampai berapa lama. Kalau begini terus, bisa-bisa aku yang bakalan dibuli habis-habisan sama mereka. Awas aja ntar kalau aku dibuli, Dava yang bakalan nyesal seumur hidup. Huh nasib-nasib, andai aku terlahir jadi orang pintar aku nggak akan merasa sebodoh ini.
“Huf...” aku menarik nafas sambil meletakkan tas di atas meja. Ku pandangi seluruh ruangan kelas ini, terlihat sangat menyedihkan sama seperti nasibku.
“Sekarang kamu buka buku matematika lalu lihat bagian mana yang belum kamu pahami”
“Va kita kan baru masuk perpus, duduk aja belum masak sih langsung buka buku”
“Kamu kan yang belum duduk”
“Huf” aku hanya bisa menarik nafas.
“Apa lagi?”
“Langsung belajar nih ceritanya?”
“Terus mau kamu gimana?”
“Mmmmm, nggak ada doa sebelum belajar gitu atau yang lain kek pengantar belajar”
“Kamu pikir kamu mau ikut Olimpiade harus doa dulu terus dengar kata sambutan lalu nyanyi lagu Indonesia Raya, iya gitu?”
“Nggak juga sih, ya udah deh yok langsung belajar”
“Ya udah buka buku nya”
“Iya iya Pak Guru”
“Cepetan, buka buku aja lambat”
Sumpah ya nih anak nggak ada sabar-sabar nya. Bisanya cuma buat orang kenak struk. Nggak kebayang deh nasib ku bakalan kayak apa selama belajar berdua dengan nya menjelang ujian semester. Mungkin aja aku bisa lolos ujian, tapi setelah itu aku masuk rumah sakit karena kena struk. Hahahaha.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri”
“Hmm? Enggak enggak kenapa-napa kok. Udah nih buku Mat nya udah ku buka, lalu apa lagi Pak?”
“Baca lalu kamu lihat bagian mana yang belum kamu pahami”
“Kurasa aku nggak paham semuanya, jadi nggak perlu di baca juga aku memang belum paham”
“Satu pun nggak ada yang kamu pahami?”
“Kalau boleh jujur memang aku nggak paham apapun yang ada di buku ini”
Well kelihatan nya Dava lagi stress. Kayak nya kita gantian ya.... hahaha. Ok, aku harus fokus.
“Jadi berhubung kamu nggak paham semuanya kita bakalan bahas dari awal sampai akhir”
“Ok”
“Ya sudah sekarang kita mulai dari Aljabar”
Dava membuka buku dan mulai menerangkan tentang Aljabar kepadaku. Sesungguhnya hanya dia satu-satunya Guru yang bisa membuatku jadi pintar. Semoga aja aku nggak baperan, amin. Kira-kira hampir setengah jam lebih kami belajar di Perpus, sampai pegawai Perpus menghampiri kami agar kami bisa pulang dengan segera karena Perpus mau di tutup. Jadi kami pun keluar dari Perpus dengan damai.