WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
2



Setelah sekian lama menatapku dari kejauhan Ia pun memantapkan langkahnya ke arah ku. Aku jadi deg-degan. Jantungku bergetar tak karuan. Ia pun duduk tepat di samping ku. Sejenak suasana menjadi tambah sunyi dan dingin. Selang beberapa waktu ia pun mulai bicara.


"Hai"


Suara nya agak berat, kurasa Ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan keberanian memulai pembicaraan.


"Hai juga" jawabku singkat.


"Aku nggak sengaja memperhatikan kamu dari tadi. Kayaknya kamu lagi sedih banget". "Begitulah kira-kira" jawabku seadanya. Lalu diam sejenak, ku rasa dia sedang berusaha mencari topik pembicaraan.


"Oh ya aku Willy. Mmm, sebenarnya William tapi di panggil Willi" Ia menjulurkan tangannya ke arah ku. Aku pun menyambut tangannya dengan santai "Aku Nadien" jawabku singkat. Lalu diam lagi.


"Kalau boleh tau kamu kenapa nangis sebegitu nya sih. Sampai kamu harus berlutut di tanah dan menangis terisak-isak kayak gitu. Maaf bukannya aku kepo atau ikut campur urusan kamu, cuman aku simpati aja liat kamu"


Aku pun menghela napas panjang.


"Lagi sedih aja"


"Sedih kenapa? Maaf terlalu lancang. Tapi kan setiap kesedihan pasti ada alasannya"


Entah kenapa air mataku menetes. Dan aku menangis lagi. Aku jadi semakin terpuruk, saat aku merasa tak seorang pun peduli dan mau bertanya apa yang ku rasakan, tiba-tiba ada orang yang dengan tulus mau mendengar keluh kesahku. Padahal aku tak tau siapa dia.


"Aku baru kehilangan orang yang paling berarti, yaitu Oma. Selama ini cuma dia satu-satunya yang mengerti keadaanku. Tapi saat aku belum siap untuk ditinggal sendirian Tuhan memanggilnya."


"Aku paham apa yang kamu rasakan. Setiap manusia akan kembali pada yang Maha Kuasa. Dan kita yang di tinggalkan harus tetap kuat dan tabah serta harus bisa mengikhlaskan kepergian mereka"


Aku hanya bisa mengangguk untuk menunjukan bahwa aku setuju akan perkataannya. Memang setiap kita yang ditinggalkan di bumi ini harus mengikhlaskan kepergian mereka yang kita cintai. Tapi tidak semudah itu untuk bisa ikhlas atas kepergian mereka. Sementara hidup kita tergantung pada mereka yang dipanggil Oleh-Nya.


Kemudian kami diam sejenak. Perlahan-lahan aku mulai bisa tenang dan kembali santai. Lalu tiba-tiba saja dia merogohkan saku nya dan mengambil sapu tangan miliknya lalu Ia berikan padaku. Aku pun langsung menerima sapu tangan itu seraya mengucapkan terima kasih. Ia hanya membalas dengan senyuman.


"By the way kamu masih sekolah?" Tanya nya untuk mencairkan suasana.


"Kelas berapa?"


"Kelas 2 SMA, di Don Bosco"


"Kok aku nggak pernah lihat kamu? kamu ambil jurusan IPA atau IPS atau Bahasa?"


"Ipa"


"Mmm, pantes aku IPS. Tapi kita satu sekolah lho. Siapa tau setelah ini kita bakalan ketemu di kantin, atau di audit, kita udah nggak sungkan lagi buat ngobrol"


"Iya, mudah-mudahan kita ketemu"


"Oh ya, kamu udah punya pacar?"


"Baru putus"


"Kenapa?"


"Dia nya punya selingkuhan"


"Kok sama!. Aku juga di putusin gara-gara cowok lain"


"Kurang ganteng kalik kamu. Atau kurang tajir, sekarang ini kan kebanyakan orang tu pacaran hanya untuk pamer kelebihan pasangan. Punya pacar tampan tapi kalau lihat ada lagi yang lebih tampan dari pacarnya, dia pasti berusaha buat dapetin cowok itu. Nggak peduli apakah si cowok udah punya pacar atau nggak"


"Analisa kamu ada benarnya juga sih. Aku aja nggak pernah kepikiran begitu sebelumnya"


Analisa ku benar? Pikirku dalam hati. Mudah saja mengambil analisa untuk kasus seperti ini. Karena hampir setiap manusia tidak ada lagi yang bisa melihat ketulusan hati seseorang. Yang ada hanyalah harta duniawi. Dan yang paling penting adalah seseorang bisa dengan bangga memamerkan keunggulan apa yang dimiliki oleh pasangannya. Aku nggak pernah mengerti apa itu cinta, bagiku cinta hanyalah ilusi semata, hanya deskripsi semata. Orang bilang cinta itu indah, cinta mengubah segalanya, cinta membuat ku berbunga-bunga, cinta membuat ku bersemangat, dan bla... bla... bla... Ada banyak lagi deskripsi cinta yang di buat orang-orang. Tapi pada kenyataannya cinta hanya membawa tangis dan duka. Contoh nya aja Papa sama Mama mana pernah mereka menunjukkan cinta yang indah itu. Yang ku lihat hanyalah kehancuran dan kekacauan, bahkan penghianatan.