
Bel pergantian pelajaran berbunyi. Kami pun keluar untuk mengisi perut masing-masing. Aku keluar dari kelas dan berjalan menuju kantin. Seperti biasa aku memesan makanan kesukaanku yaitu miso, hanya saja hari ini aku memesan teh botol sosro yang dingin. Berniat untuk mendinginkan badan dan pikiran juga sekaligus untuk menenangkan adrenalin ku yang tegang karena di suruh nyanyi di depan kelas untuk pertama kalinya. Sungguh tak ku sangka aku berhasil melakukannya dan membuat orang-orang di kelas tercengang melihat ku. Seolah mereka baru mengenalku. Hah... Rasanya aneh sekali hari ini. Aku membawa nampan berisi pesanan ku ke salah satu meja yang kosong. Lalu aku menyantapnya dengan sangat tidak semangat. Karena mengingat kejadian tadi.
Kenapa harus ku turuti perintah Pak Hakim tadi. Kalau nggak kan, aku nggak jadi malu kayak gini. Dan teman-teman juga nggak akan tahu bagaimana suaraku. Sekalipun orang bilang suaraku bagus. Tapi aku tetap saja nggak pd kalau nyanyi di depan kelas. Nggak pas aja gitu moment nya. Kalau aja mood ku lagi bagus dan aku sudah mulai terbiasa nyanyi di depan banyak orang, mungkin aku nggak akan sedilema kayak ini.
Aku masih saja berbicara dalam hati agar aku bisa tenang kembali. Makanan yanga da di depan ku hanya ku aduk-aduk dan ku biarkan hingga dingin. Tak sengaja mataku kualihkan ke tempat lain dan aku menengadahkan kepalaku ke depan, tiba-tiba saja aku melihat Dava yang sedang memperhatikan ku dari tadi. Aku tertegun melihatnya begitu juga dengan nya. Namun anehnya dia tidak memalingkan wajahnya, malah menatapku penuh arti yang tersirat. Aku jadi tambah nggak karuan, rasanya ingin sekali kabur dari tempat ini. Aku jadi risih, tatapan Dava nggak berpaling dari tadi. Mungkin ada sekitar 5 menit, lalu tiba-tiba saja William menepuk bahuku, aku pun jadi terkejut dan hampir saja menumpahkan miso di wajahnya.
"Kamu ngelamun ya Ndien?" tanya Willi yang hampir marah karena aku hampir aja menumpahkan miso di wajahnya. Jika aku berhasil melukukan aksiku tadi, mungkin Willi bakalan marah besar padaku.
"Will, aku udah ngingati kamu berapa kali sih? Jangan pernah kejutin aku dengan cara apapun. Aku paling nggak suka di kejutin" aku mengingatkan dia kalau sebenarnya salahnya juga, aku kan sudah sering ngingatin dia untuk tidak mengejutkanku di lain waktu. Tapi dia nya yang ngeyel dikasih tahu.
"Kamu tuh, yang sering ngelamun jadi mau di tepuk sedikit aja pasti kaget. Lagian kamu kenapa sih? Dari tadi aku perhatiin gelisah banget, tuh liat makanan kamu aja nggak berkurang! Ada apa?"
"Nggak ada. Oh ya, katanya mau latihan nyanyi! Yuk... latihan"
"Makanan kamu kan belum habis"
"Udah nggak papa. Lagian aku nggak lapar-lapar banget. Yuk... ke ruang musik"
"Okey... ayok" Kami pun pergi dan meninggalkan kantin dan beranjak menuju ruang musik. Untung ada Willi jadi aku bisa kabur dari tatapan Dava yang menyeramkan. Setelah sampai di ruang musik, ternyata semua teman band nya Willi udah menunggu kami. Jadi nggak perlu berlama-lama untuk menyiapkan alat buat latihan. Kita pun sepakat untuk memilih lagu Iwan Fals feat Geisha yang judulnya Tak Seimbang...
*Diam, 'ku hanya sanggup terdiam
Di saat kau menghilang
Menyimpan seribu kenangan
Terisak-isak suara tangisku
Melawan kenyataan habis upayaku
Senyuman terakhir itu
Pecahkan saraf sadarku
Aku harus bagaimana
Apa dayaku
Beri aku kesempatan
Untuk memelukmu lagi
Pelukmu lagi
Sulit, teramat sulit jalanku
Melawan takdir ini
Sendiri tanpamu (sendiri tanpamu)
Senyuman terakhir itu
Pecahkan saraf sadarku
Aku harus bagaimana
Apa dayaku
Beri aku kesempatan
Untuk memelukmu lagi
Pelukmu lagi
Aku harus bagaimana
Apa dayaku
Beri aku kesempatan
Untuk memelukmu lagi
O-oh
Aku harus bagaimana
Apa dayaku
Kini aku tak seimbang
Tak sanggup menggantikanmu
Dengan yang lain
Menggantikanmu
Dengan yang lain*
Aku menarik nafas panjang saat kami selesai bernyanyi. Entah kenapa aku jadi mengingat kenangan yang pernah aku lalui bersama Dava. Mungkin karena Dava adalah lelaki pertama yang mengejar kan ku tentang cinta dan dia juga yang pertama kali menjadi pacarku, sulit bagiku untuk melupakannya. Ditambah lagi sikapnya hari ini yang selalu menatapku lama dan selalu memperhatikan ku. Aku tidak sadar kalau Dava sedang melihat kami latihan dari tadi. Aku sadar saat mataku menatap ke pintu ruang musik, aku melihat Dava yang diam-diam menyaksikan kami sedang latihan di balik pintu. Aku jadi tambah gelisah. William yang menyadari bahwa dari tadi aku hanya diam dan sibuk melamun, langsung menepuk pundak ku dan menatapku. Kali ini aku tidak terkejut lagi, karena sekalipun aku sedang melamun aku juga melirik gerakan Willi. Sebenarnya buat jaga-jaga aja saat dia tiba-tiba menepuk pundak ku. Daripada aku beneran meninjunya jadi lebih baik begini. Aku menoleh ke arahnya, lalu dia bertanya padaku.
"Kamu lagi ada masalah ya Ndien?"
"Nggak ada Will. Aku cuman lagi kurang enak badan aja kayak nya badanku pegel-pegel semua. Mungkin karena nggak biasa pakai gaun kalik. Tapi nggak papa kok, bentar lagi juga pegel-pegel nya hilang"
Aku sengaja berbohong. Kalau aku kasih tahu alasan yang sebenarnya, yanga ada nanti Willi mengira kalau aku masih ada rasa sama Dava. Jadi lebih baik berbohong kan.
Tidak lama kemudian bel istirahat berakhir pun berbunyi. Kami semua bubar dan masuk ke kelas masing-masing, begitupula denganku. Sebelum masuk kelas Willi memintaku untuk menunggunya sebentar saat pulang sekolah nanti, karena dia ada urusan dengan guru Geografi nya. Aku meng-iya kan permintaannya. Lalu melanjutkan kembali langkah kaki ku menuju kelas. Sebenarnya aku masih belum sanggup kembali ke kelas, tapi mau tidak mau aku harus kembali.
Sampai di kelas Rani menghampiri ku.
"Eh Ndien, aku nggak nyangka lho ternyata kamu jago nyanyi. Padahal selama ini aku mengira kamu nggak bisa nyanyi, secara kamu nggak pernah mau tampil sendiri di depan kelas. Tapi pas tadi kamu nyanyi, aku jadi terpesona. Dan oh ya, lagu kamu kayak menyinggung hubungan kamu sama Dava deh. Nyentuh aja lagunya. Persis banget dengan hubungan kalian"
Lalu Rani berlalu dan duduk di bangku nya, karena tahu guru Sejarah kami telah datang. Begitupula dengan ku, aku juga langsung duduk di kursi ku. Namun, apa yang barusan Rani katakan membuat pikiranku tambah kacau. Belum kelar satu masalah, malah nambah satu masalah lagi. Tapi ada benarnya juga sih apa yang dikatakan Rani, aku jadi berfikir dan baru sadar kenapa aku menyanyikan lagu itu ya.. Padahal kan masih banyak lagu lain yang bisa dinyanyikan, tapi malah lagu itu yang ku nyanyikan. Atau mungkin karena aku menyanyikan lagu My Heart, makanya Dava memperhatikan aku dari tadi. Mungkin dia kira dengan aku menyanyikan lagu itu, dia berpikir aku masih suka sama nya. Padahal kan bukan karena itu, sekalipun aku belum bisa melupakan kenangan bersamanya, tapi bukan berarti aku masih suka sama nya. Ya ampun... bisa pusing 7 keliling nih, sampai malam.
3 jam pelajaran terkhir berlalu begitu saja. Tanpa sadar bel pulang pun berbunyi. Selama proses belajar mengajar, aku hanya menyibukkan diri dengan melamun dan mata melotot ke depan. Padahal tak ada satu katapun yang dapat ku cerna. Yang ada hanya rasa gelisah, karena Dava masih memperhatikan ku dari kursinya. Aku selalu berharap bel cepat berbunyi, dan akhirnya harapanku terwujud. Dengan langkah cepat aku menuju keluar kelas agar aku bisa terhindar dari tatapan Dava yang tak ku inginkan. Namun saat sejengkal lagi kaki ku menuju koridor sekolah, Dava malah menghentikan ku dengan merik lenganku. Aku menoleh ke belakang dan seketika wajahku menjadi pucat saat menatap wajahnya.
"Buru-buru banget. Takut pacar baru kamu itu kelamaan nunggu ya?"
"Bukan urusanmu"
"Emang sih bukan urusan aku. Aku cuman heran aja, baru 3 bulan putus kamu udah banyak berubah ya, lebih centil, lebih sok. Terus kayaknya kamu udah mulai berani mengeluarkan bakat terpendam mu. Yaa.. sekalipun masih standar sih, masih ada yang lebih bagus dari kamu. Tapi lumayan lah, daripada nggak bisa sama sekali"
"Aku tahu Va, kamu mau bandingin aku sama pacar kamu Jessika kan"
"Ya jelas lah. Jessika jauh lebih unggul di bandingkan kamu. Dia juga cukup pintar, sekalipun kamu sering menghinanya"
"Menghina kamu bilang? Aku nggak pernah menghina dia, emang aib nya aja yang udah tersebar di seluruh sekolah, khususnya siswa laki-laki"
"Terserah. Nggak ada gunanya ngomong sama kamu"
Dava pergi begitu saja. Meninggalkanku dengan penuh rasa heran, dan kesal. Dia yang nahan aku, ngejek aku, trus dia yang tersinggung. Aneh kan, harusnya aku yang bilang kalau dia itu udah berubah. Berubah menjadi cowok yang paling pengecut. Daripada aku kelamaan di dalam kelas sementara kelas telah sepi, aku melanjutkan langkahku menuju parkiran. Dan untungnya Willi sudah di parkiran. Aku langsung menerima helm dari tangannya dan naik di atas jok motor Willi. Lalu Willi melajukan motornya ke jalan raya.