
Gila yaaa... belum ngapa-ngapain aja udah di cium. Padahal aku belum bilang iya aku mau jadi pacar kamu tapi udah di cium. Sumpah kalau gini terus bukannya tambah pintar tapi malah makin hancur. Mudah-mudahan aja Mama nggak lihat.
"Hai Ndien"
Seperti nya aku baru saja mendengar ibuku menyapaku di saat yang tidak tepat.
"Haa...haii... Ma"
"Kamu kenapa?"
"Nggak ada kok Ma"
"Masak sih, suara kamu aja kayak gugup"
"Nggak Ma, sumpah. Mungkin karena dingin makanya suara aku agak-agak serak gitu. Oh ya Ma Nadien mau ke kamar dulu ya Ma, soalnya Nadien capek banget. Good night Mom"
"Kok good night sih, ey jangan lupa makan malam"
"Yes Mom"
Aku menaiki tangga seperti di kejar Tante Kunti. Lalu cepat-cepat ku buka pintu dan kemudian aku berbaring di kasur.
"Gilaaa... gilaaa.. parah... parah... Arrrrrrgggg"
Aku mengambil bantal dan kutaruh di wajah sambil berteriak. Sumpah mimpi apa coba. Aku kan masih polos, duh mampus.
"Gila ya.... kok bisa jadi gini sih... Ini nggak benar, aku harus jauhin William. Kalau nggak masa depan ku bakalan terancam. Belum jadi pacar aja udah di kecup apalagi kalau udah jadi pacar... Oh My God it's soo disgusting. Aaaaaaaa"
Aku teriak sendiri di kamar sambil memukuli bantal. Tanpa kusadari ternyata Mama ngikutin aku dan ngintip dari balik pintu, lalu tiba-tiba Mama muncul dan sengaja diam di depan pintu sambil menyaksikan anak nya yang lagi kesurupan. Waktu aku duduk saat hendak mengambil nafas barulah aku sadar dan kulihat Mama di sana.
"Ma?"
"Hai"
"Mama dari tadi di situ?"
"Udah lama juga sih"
Oh... Nooo...
Mama menebar senyuman kecil lalu duduk di samping ku.
"Kamu stress kenapa?"
"Nggak kenapa-napa kok Ma"
"Beneran?"
"Iya Ma"
"Masak sih, kamu bohong ya sama Mama"
"I sware"
"Tapi tadi kayak nya Mama denger kamu teriak-teriak sambil nyebut nama Willi. Memang nya kamu habis di apakan sama dia?"
Aku menarik nafas dan mencoba menenangkan diri, sambil mengumpulkan nyali untuk curhat sama Mama.
"Mama harus janji nggak boleh marah"
"Iya tapi kamu harus jujur sama Mama"
Sebenarnya aku malu mau cerita, tapi ku beranikan saja diriku bercerita sama Mama.
"Ya deh Ma, Nadien juga sebenarnya terkejut tadi. Habis Nadien kaget aja waktu Willi tiba-tiba nyium Nadien. Selama ini Nadien belum pernah ciuman"
Aku cerita sambil nutup wajah ke bantal, habis aku malu kali buat ceritain ini ke Mama.
"Masak sih kamu belum pernah ciuman?"
"Beneran Ma!"
"Memang nya umur kamu berapa?"
"17"
"Serius kamu belum ciuman"
"Mommm..."
"Hehehe Mama bercanda. Terus berapa lama rupanya William cium kamu?"
"Sebentar kok"
"Kecup?"
"Iya"
"Itu tandanya dia suka sama kamu"
"Iya Willi memang suka sama Nadien. Dia udah nembak Nadien 2 kali tapi belum Nadien terima sampai sekarang"
"Kenapa?"
"Belum siap aja, lagian Nadien masih pengen fokus belajar"
"Alasan kamu bagus, cuman saran Mama jangan suka gantungin perasaan orang dan jangan sampai orang itu sakit hati. Takutnya kamu kena guna-guna ntar"
"Ih Mama apaan sih, masak iya Willi mau guna-guna in Nadien"
"Kali aja dia frustasi"
"Amit-amit"
"Hahahaha"
Kami tertawa terbahak-bahak bersama. Senang rasanya bisa punya Mama yang mau dengerin curhatan anaknya. Aku ingin selalu begini bersama Mama.
"Makan yuk"
"Ok, tapi nanti jangan lupa ganti baju ya"
"Yes Mom"
"Bye"
"Bye"
"Hummm hah..."
Aku menarik nafas dalam-dalam sambil memandang langit-langit kamar. Kemudian kuperhatikan seluruh ruangan ini rasanya begitu kelam, seperti nasibku.
"Hah"
Aku menarik nafas lagi, kemudian kupejamkan mata, lalu tiba-tiba bayangan saat Willi menciumku muncul dalam ingatan. Aku pun jadi gelisah, dan bangkit dari tidurku. Sumpah baru pertama kali seumur hidup pikiranku sekacau ini. Ini semua gara-gara William.
Saat aku mondar-mandir tak tentu arah, tiba-tiba ponsel ku berdering. Dengan malas ku pencet tombol terima panggilan dari manusia pertama yang membuatku gagal jantung dalam hitungan 3 detik.
"Apa?" aku menjawab telponnya dengan ketus. Biar kutebak, pasti keningnya lagi berkerut.
"Wow"
"Apanya yang wow?" nadaku semakin tinggi.
"Kamu lagi kesambet ya?"
"Iya kesambet genderuwo! puas?"
"Astaga aku baru tahu lho Ndien, ternyata kamu bisa marah juga ya"
OMG
"Kamu mau ngapain sih nelpon aku?"
"Kangen" what? dengan santainya dia bilang kangen. Seolah lagi ngegombalin pacar yang lagi ngambek.
"Udah deh Will nggak usah sok romantis"
"No i don't"
"Aku lagi malas ngomong jadi aku tutup telpon nya ya"
"Eitttss tunggu dulu aku belum selesai"
"Kenapa lagi?"
"Kamu marah ya?"
"Menurut lho?"
"Marah"
"Lah terus kenapa nanya?"
"Kenapa kamu marah, memangnya aku salah apa?"
Udah salah pakek nanya lagi. Ampun Tuhan kenapa sih Engkau menciptakan seorang manusia yang sok imut ini. Buat orang jantungan tahu nggak.
"Ndien are you there? Hello?"
"No i don't"
"Kamu tuh imut tahu nggak!"
"WILLIAM.. enough, ok kalau kayak gini terus lama-lama aku bisa jadi stress"
"Kok malah stress? Baru kali ini lho aku muji orang malah buat orang itu stress"
"Mau kamu apa sih?"
"Aku cuman pengen hibur kamu"
"Oh i see, but i'm so sorry that's was not funny ok"
"Sorry than"
Hening.
"Aku minta maaf, tapi aku boleh kan nanya kenapa kamu marah sama aku?"
"Kamu masih nanya lagi, pikirin aja sendiri"
"Serius aku nggak tahu lho Ndien"
"Kamu pura-pura lupa ya"
"Bentar... maksud kamu, kamu marah karena aku kecup ya?"
"Menurut lho?"
"Astaga.... hahahaha... Ndien kamu itu kayak anak kecil tahu nggak, lagian kan itu cuma kecup doang bukan yang lain-lain"
"Oh jadi karena kamu anggap cuman kecup doang maksud kamu itu nggak berarti bisa merusak aku, masa depan aku iya gitu?"
"Ya nggak lah Ndien, dan lagian gini ya, kita udah 17 tahun. Ingat 17 tahun, ciuman itu biasa buat anak remaja. Bahkan hampir semua remaja ngelakuin itu malahan ada yang lebih dari sekedar ciuman"
"Oh jadi maksud kamu hampir semua berarti aku juga harus masuk salah satu nya, iya gitu?"
"Ya nggak lah, duh susah ya ngomong sama cewek yang oon nya kuadrat"
"Kamu makin lama makin nyeselin tahu nggak. I wish we never meet again"
"Nggak gitu juga maksudnya Ndien"
Shit.... Tanpa pikir panjang aku langsung menutup telpon dan kembali tidur. Sekalipun aku tak dapat memejamkan mata.