WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
43



Kami turun secara terburu-buru dari kamar menuju ruang tamu untuk menyaksikan pertengkaran antara calon menantu dengan calon mertua. Maksud aku Papa sama Willi, aku sendiri masih bingung kenapa mereka bisa berkelahi. Setibanya di ruang tamu aku menyaksikan wajah William yang hampir babak belur, wajah penuh luka dan ada bercak darah yang keluar dari ujung bibir Willi. Aku jadi khawatir sekaligus kasihan lihat keadaan Willi saat ini.


"Kamu ngapain mukul anak orang sampai seperti ini?" Mama bertanya sambil marah pada Papa. Kuharap kali ini bukan Mama lagi yang kena tamparan dari Papa.


"Pasti kamu nggak tahu kan apa yang udah anak ini lakukan semalam?"


"Perasaan Willi nggak datang semalam ke rumah"


"Memang dia datang ke rumah tidak untuk bertamu semalam, tapi untuk mencuri!"


Hah? are you sure dad? Nyuri buat apa coba?


"Mana mungkin wong semalam kita nggak kehilangan apa-apa"


"Ya iya lah nggak ketahuan, karena aku duluan melihat dia hendak melakukan aksinya dan hendak menangkap nya semalam tapi sayang dia malah berhasil kabur. Untung hari ini ketemu jadi aku langsung pukulin dia"


"Kenapa kamu pukul? Memang nya kamu punya bukti kalau dia benar-benar mau maling rumah ini"


"Sudah ku bilang aku punya bukti" nada suara Papa semakin keras. Aku jadi semakin takut lalu aku mendekati Bibi. Willi hanya menebar senyuman kecil di bibirnya yang benyok akibat pukulan Papa.


"Kita harus ngomong berdua, in private"


"Mau ngomong apa lagi?"


"Masalah ini, masalah kamu pukulin anak orang tanpa ada salah"


"Kamu benar-benar keras kepala, anak ini mau nyuri untung tadi aku lihat dia"


"Aku bahkan nggak ngeliat kamu masuk ke rumah ini. Kalau pun ada pencuri di rumah ini itu adalah kamu"


"Wah hebat sekali kau, malah aku yang ku tuduh mencuri"


Ampun Tuhan aku tidak ingin menyaksikan drama horor yang sedang diperagakan orang tua ku saat ini. Kuingin terbang melayang tanpa sayap.


"Ndien ajak Willi kedalam, terus kamu obati lukanya pakai kompres"


"Iya Ma" tanpa pikir panjang aku pun langsung membawa Willi ke dalam dan mengompresnya.


"Kamu ke rumah ya semalam?" aku bertanya kepada William tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga hal ini bisa terjadi padanya.


"Iya"


"Ngapain?"


"Mmm awalnya sih aku datang buat ngasih surprise supaya kamu mau maafin aku. Tapi pas aku mau melakukan aksi Papa kamu malah ngira kalau aku mau maling di rumah kamu"


"Memang nya Papa ngeliat kamu lagi ngapain?" aku bertanya sambil mengompres luka di wajah Willi.


"Manjat jendela"


"Buat apa Kingkong?" kali ini bukannya simpati aku malah gregetan dengarnya. Saking greget nya aku mengompres Willi dengan kasar dan hal itu membuat dia ke sakitan.


"Aduh Ndien ampun, ampun, sakit tahu"


"Makanya kamu jangan cari masalah di sini!"


"Iya maaf aku tahu aku salah, tapi aku cuman pengen ketemu sama kamu"


"Buat apa?"


"Buat baikan"


"Tapi kan bukan dengan cara nyelonong masuk lewat jendela"


"Ya habis kamu nggak jawab telpon aku SMS aku nggak di balas, bahkan wa aku nggak kamu read. Makanya aku nekad"


"Memang nya kamu mau ngapain?"


"Awalnya sih rencana nya aku mau nyanyi dari jendela kamu, tapi sayang pas aku mau manjat Papa kamu malah lihat aksiku terus aku jatuh termasuk gitar kesayangan ku. Untung aja aku bisa kabur dari Papa kamu. Terus tadi pagi aku coba lagi, tapi nggak manjat jendela karena awalnya aku pengen minta tolong kerja sama dengan Bi Ina buat ngerayu kamu, tapi bukan nya ketemu Bibi malah ketemu Papa kamu. Habis itu aku mau kabur dan lari tapi malah di kejar sama Papa kamu, ya gitu deh kita saling hajar"


"Iiiiya kenapa?"


"Kamu berani sama Papa aku?"


"Ya nggak lah, nggak mungkin. Lagian kalau aku ngelawan pukulannya aku nggak bakalan benyok kayak gini"


"Ya ampun Will.. kamu segitu nya pengen minta maaf, tuh lihat gitar mu, rusak"


"Mau gimana lagi!"


"Harganya berapa?"


"Murah kok"


"Berapa?"


"Cuman 800 ribu"


"800 ribu kamu bilang murah?"


"Kok kaget?"


"Kaget lah dengar nya"


"Biasanya aku koleksi gitar yang harganya mulai dari 1 juta ke atas"


"Gila..."


"Hmmm... Kamu masih marah sama aku?"


"Justru aku yang harusnya merasa bersalah karena aku kamu jadi kayak gini"


"Cowok udah biasa kayak gini, yang nggak biasa itu Mama kamu, bukannya apa-apa sih Ndien dari tadi aku dengar suara tamparan"


"Iya aku tahu, tapi Mama udah biasa di gitukan"


Tanpa terasa air mata ku pun menetes secara perlahan. Semakin lama semakin deras, Willi meraih badanku dan di taruh nya di dada untuk memberikan ku ketenangan. Entah harus sampai kapan Mama dipukuli sama Papa. Ketika keadaan rumah mulai menyepi, Mama datang menghampiri kami dengan pipi yang merah dan basah berlinang air mata. Dia pun mendapatiku dan memeluk dengan sangat erat. Kami menangis berdua tanpa malu di depan Willi. Kurasa dia mengerti apa yang kurasa. Setelah merasa cukup tenang, kami pun berhenti menangis dan saling membisu. Lalu Bibi tiba-tiba menawarkan kami makan untuk mencairkan suasana.


"Nya, makan siang udah siap, sebaiknya Nyonya, Non Nadien dan William makan dulu biar ada tenaga"


"Iya Bi"


"Yuk Will makan, nggak perlu takut Papa aku udah pergi, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi kena pukul"


"Ok..."


"Yasudah yuk ke ruang makan, nanti keburu dingin makanannya"


Kami pun menuju ruang makan untuk mengisi perut. Lagian dari semalaman aku nggak makan jadi baru terasa lapar hari ini. Suasana di meja makan terlihat sunyi dan sepi. Tak ada yang memulai pembicaraan semuanya fokus dengan makanan yang ada di piring kami masing-masing. Kemudian ku perhatikan Mama, wajah nya pucat pasi penuh luka batin membuatku serasa di sayat oleh pisau tajam. Aku tak kuasa melihatnya seperti ini. Akhirnya aku baru sadar kenapa dulu Mama nggak mau pulang kalau tahu Papa ada di rumah, itu semua karena dia takut kena pukul sama Papa. Kasihan Mama dia harus menerima beban ini sendirian tanpa ada satupun yang bisa menjadikan tempat baginya untuk mencurahkan penat di hatinya. Aku semakin tak kuasa melihatnya memandang nasi yang ada di atas piringnya. Seperti sedang menahan air mata. Andai aku punya keberanian untuk melindungi Mama dari pukulan Papa, mungkin aku sudah memukuli Papa sebanyak Papa memukuli Mama. Aku rasa kami bisa lepas dari cengkeraman nya.


Akhirnya makan siang pun berakhir dengan kesunyian. William pamit pulang, dan mengantarnya sampai di parkiran.


"Will sekali lagi sorry ya. Oh ya soal gitar aku bakalan ganti pakai uang jajan, tapi cicil ya. Biasanya Mama ngasih aku jajan 25 ribu satu hari, aku bisa lah nyicil 15 ribu setiap hari, nggak papa kan"


"Kamu nggak perlu nyicil, nggak usah diganti. Lagian di rumah aku banyak koleksi gitar jadi nggak papa"


"Yakin beneran nggak papa"


"Iya yakin, ya udah aku pulang dulu ya"


"Iya, hati-hati di jalan, bye Will"


"Bye Ndien."


Aku menyaksikan William yang mulai menghilang, entah kenapa aku jadi merasa bersalah karena telah mendiaminya kemaren. Kalau aja aku dewasa menanggapi ciuman yang di berikan Willi semua ini takkan terjadi. Tapi buat apa menyesal toh semuaya sudah berlalu, setidaknya aku bisa memetik pelajaran dari kisah ini.