
Malam ini aku benar-benar kehilangan kendali. Jantungku berdegub kencang, dan hatiku risau tak karuan. Kenangan tadi sore membuat ku tidak tenang dan mataku enggan tertutup. Sekalipun aku dan Dava pacaran selama satu tahun lebih, tapi kami belum pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar pegangan tangan. Itupun aku udah deg-degan kalau Dava memegang tangan ku. Apalagi tadi saat Willi hampir mencium bibirku, astaga rasanya aku ingin pingsan. Huf.... aku menarik napas dalam-dalam lalu ku keluarkan perlahan lewat hidung, begitu seterusnya agar pikiranku bisa tenang. Tapi nihil, perasaan ku masih kacau dan sangat-sangat kacau. Kalau kayak gini caranya aku bisa gagal taruhan dengan Willi. Bisa-bisa aku jatuh cinta dengan nya.
Jangan jangan jangan... aku nggak boleh jatuh cinta, tapi... aarrrggg sialan.
Semalaman aku tidak bisa tidur. Alhasil aku bangun telat dan terburu-buru ke Sekolah. Tidak biasanya aku bangun setelat ini. Saat aku turun ke ruang makan, untuk mengambil sarapan, ternyata Willi sudah ada di sana, sedang membantu Bibi membuat sarapan.
"Hai Princes selamat pagi"
Sapa Willi dengan senyum merekah.
"Kapan kamu ke sini?"
"Kurang lebih 30 menit yang lalu saat kamu masih terlelap. Bener nggak Bi"
"Iya. Mari Non sarapan dulu. Belum telat kok, masih bisa ngejar ke Sekolah tepat waktu, asal ngebut"
"Iya Bi"
Setelah selesai sarapan aku dan Willi pamitan sama Bibi. Sebenar nya aku nolak ajakan Willi buat berangkat bareng. Tapi karena dari semalam hatiku nggak karuan dan waktu ngeliat Willi udah di dapur entah kenapa aku jadi pengen bersama dia terus, dan nggak tau kenapa saat aku berada satu motor dengan Willi rasanya nyaman banget. Seperti baru nemu semangat baru. Tapi tunggu dulu, harusnya aku nggak boleh kebawa perasaan. Pokoknya aku nggak boleh jatuh cinta dengan Willi, nggak dengan siapapun di dunia ini. Karena bagiku semua laki-laki itu sama bangsatnya. Awal-awal nya aja sok-sok perjuangin cinta sampai berhasil membuat hati cewek luluh, nah setelah tahu ceweknya udah kepincut dengan cinta monyet nya, langsung deh di tinggalin. Bisa di bilang mereka datang pada saat cewek jutek lalu pergi saat lagi sayang-sayang nya. Bangsat kan.
"Eh Ndien kok bengong aja sih dari tadi"
"Emang aku harus ngapain?"
"Cerita-cerita gitu, daripada diem aja"
"Cerita apa?"
"Apa aja yang penting menghibur"
"Emangnya aku penghibur"
"Ya elah.. ya udah deh nggak usah. Nggak papa kita diam-diam aja"
"Hmm"
Willi menaikkan kecepatan motornya. Apa dia marah ya. Pikir ku dalam hati. Who's care?.
Setiba nya di parkiran Sekolah Willi mencari-cari tempat parkir yang aman. Setelah berhasil memarkirkan motor dia mematikan mesin motor. Aku pun turun dari atas motornya, lalu tak lama kemudian dia juga turun. Aku membuka helm dan memberikan helm itu padanya. Helm ini berhasil membuat rambutku jadi berantakan. Tiba-tiba saja tangan Willi menyentuh kepalaku dan merapikan rambutku. Aku melihatnya dengan mulut yang menganga. Dia malah tersenyum padaku. Senyum nya.... manis sekali... aku jadi salting, wajah ku merah merona seperti habis di bakar. Mampus Ndien... bisa kena 1-0 nih. Pikir ku... aduh kalau gini terus bisa-bisa kalah taruhan. Yang jelas jangan sampai jatuh cinta. Aku harus mempertahankan pertahanan ku.