
Hah... hari ini sangat menyenangkan dan juga melelahkan. Baru kali ini aku semangat sampai di rumah. Berkat Willi dan teman-teman nya aku jadi tambah semangat memulai hari. Aku harus berterimakasih pada Tuhan sebab Ia telah mempertemukan ku dengan nya.
"Hai sayang"
Aku menoleh ke arah suara itu. Mama. Hah... Baru aja seneng eh malah lihat wajah yang nggak pengen aku lihat. Ngapain sih mama ke rumah.
"Hai... Ndien.. Mama kangen banget sama kamu"
Mama mendekati ku dan membelai rambutku. Namun aku menghindar.
"Mama ngapain ke sini? Bukan nya Mama sibuk ngajar di kampus ya"
"Lho? Memangnya Mama nggak boleh ya datang ke rumah lihat kamu?"
"Nggak juga sih.. cuman kan Mama lebih pentingin kampus dibandingkan aku"
"Kebetulan jadwal ngajar Mama lagi kosong hari ini. Jadi Mama pulang deh. Oh ya, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu. Semur ayam, pasti kamu suka. Kita makan bareng yuk"
Tumben banget Mama selembut ini. Biasanya juga Mama cuek sama aku. Aku pun ikut aja di bawa Mama ke dapur. Lalu kita makan bareng dengan Bi Ina. Mama memang pintar masak. Hanya saja Mama terobsesi dengan karir yang cemerlang, jadi Mama lupa dengan ku, dan sibuk dengan karirnya.
"Oh ya gimana dengan pelajaran di sekolah? Aman kan?"
"Aman Ma..."
"Hmmm... kamu mau nggak kalau Mama masukin bimbel? kamu kan bentar lagi naik kelas 3 jadi nggak ada salahnya kan kalau kamu ambil kelas tambahan di tempat bimbel?"
"Terserah Mama aja, aku sih ngikut"
"Kamu kan tahu kalau Papa mu pengen banget kamu jadi Dokter"
"Iya aku tahu kok, biar bisa di pamerin ke Teman-teman nya. Kalau anak semata wayang nya jadi Dokter lulusan UGM"
"Hmm.. Ndien kadang orang tua punya alasan sendiri kenapa keras dengan keputusan yang dia buat"
"Aku udah biasa kok Ma melakukan apapun keinginan Papa tanpa peduli keinginan ku apa. Jadi yaa buat ku, nggak jadi masalah kalau kalian memang masih memaksaku untuk mewujudkan mimpi besar kalian"
"Mama minta maaf kamu jadi terpaksa melakukan apa pun kemauan Papa"
"It's ok"
Minta maaf? Buat apa? Kalau cuman minta maaf sih mudah tapi untuk menyadari perbuatan dan kesalahan sulitnya bukan main. Kalian aja nggak akan pernah menyadari kesalahan kalian dan nggak akan bisa mengembalikan waktu 17 tahun tanpa pernah menyentuh ku ataupun menghapus air mataku saat aku menangisi keegoisan kalian.
Selesai makan aku langsung naik ke kamar dan tidur tanpa mengganti pakaian seragam yang kukenakan. Aku memilih untuk tidur daripada harus memikirkan tawaran Mama. Semoga saja aku mimpi indah. Sekalipun tidur di siang bolong.
Saking lelab nya, aku bangun pukul 6 sore... aku langsung bergegas ke kamar mandi, lalu mandi dan berpakaian. Kemudian aku turun ke bawah dan ikut makan malam dengan Mama.
"Mama belum pergi?"
"Tumben"
"Sekali-sekali nggak papa kan?"
*Aneh banget nggak biasanya Mama bersikap hangat seperti ini. Apa yang terjadi dengan Mama*.
Suasana makan malam terasa hangat dan damai. Aku lupa kapan terakhir kali makan malam bareng Mama. Tapi yang pasti hari ini adalah hari keberuntungan ku. Aku membantu bi Ina membereskan meja makan. Lalu setelah selesai kami nonton tv sebentar di ruang keluarga, sambil mencicipi kue buatan Mama.
"Oh ya tadi siang Mama lihat kamu pulang bareng cowok lain. Memang nya kamu putus ya sama Dava"
"Iya Ma"
"Ooo.. terus yang tadi siang itu pacar kamu yang baru"
"Bukan Ma.. kami cuman temenan"
"Temen apa temen?"
"Temen doang kok Ma"
"Ya deh..."
Ku lurik jam dinding sudah jam 10 malam. Aku harus segera tidur biar besok nggak telat bangun.
"Ma aku ke atas dulu ya, mau istirahat"
"Ya udah.. good night sayang"
Mama mencium pipiku. Lalu aku beranjak dari sofa. Mungkin ini ciuman pertama setelah sekian lama Mama nggak memperdulikan ku. Aku hanya bisa kaku dan tak tau harus berkata apa. Kemudian aku naik ke atas. Sebelum merebahkan badan di atas kasur, aku mengambil Handphone di atas meja lalu mencek notifikasi. Ada 10 panggilan tak terjawab dari Willi. langsung saja ku telpon balik nomor nya.
"Hai Ndien.. kok telpon ku nggak di jawab sih?"
Ya ampun baru juga ditelpon langsung ngomong kayak gini. Ni anak nggak ada sabar-sabarnya ya.
"Sorry tadi aku nonton bareng Mama Handphone aku ada di kamar, nih baru naik ke kamar"
"Oh gitu ya.. trus sekarang kamu mau ngapain"
"Tidur, soalnya aku kecapean Will. Nggak papa kan?"
"Ya deh nggak papa. Ya udah deh, good night.. have a nice dream"
"Iya kamu juga"
Kami memutuskan telpon lalu ku letakkan Handphone itu di atas meja lalu aku pun tertidur.