WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
27



Keesokan harinya aku bangun seperti biasa. Lalu aku meraih handphone genggam ku di atas meja dan ku lirik notifikasi. Namun nihil, masih belum ada pesan ataupun panggilan tak terjawab. Sejenak aku berpikir, tak biasanya William tidak mengabariku. Aku pun jadi merasa bersalah. Apa karena aku belum memberikan jawaban makanya dia menghilang seperti ini. Aku menarik nafas sambil memejamkan mata, lalu perlahan ku buka kembali. Kemudian setelah sedikit tenang aku bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap ke sekolah. Setelah selesai berpakaian aku sarapan bersama Mama. Dan kali ini Mama yang mengantar ku ke sekolah. Saat aku membuka kan gerbang agar mobil Mama bisa keluar, aku berharap melihat wajahnya, tapi yang kulihat hanyalah jalanan sepi. Aku sedikit kecewa. Tak tahu kenapa.


Saat sampai di sekolah aku pamitan sama Mama dan keluar dari mobil lalu menuju kelas. Hari ini Dava masih duduk sendirian, karena Jessika and the geng belum juga sembuh. Aku melihat dia sibuk dengan bukunya. Kalau di perhatikan mereka berdua memang jauh berbeda, Willi orang nya ramah, ceria, lucu, trus dia mau bergaul. Beda banget dengan Dava, orangnya kaku, judes, dingin, dan nggak mau bergaul. Bisa di bilang kayaknya Dava nggak punya temen. Tapi kalau di pikir-pikir banyak juga sih yang kembar sifatnya beda. Wajahnya juga nggak terlalu mirip. Huh terserah lah yah. Lebih baik aku duduk di bangkuku sebelum guru masuk.


Satu harian ini Dava nggak kayak kemarin yang selalu memperhatikan ku. Jadi aku nggak merasa risih lagi. Tapi soal Willi. Astaga, aku menutup wajahku dengan buku dan menaruh nya di atas meja. Apa yang harus kulakukan. Saking takutnya bakalan ketemu William aku jadi mengurung diri di kelas. Untung ada Rani, dia mau membelikan ku sesuatu di kantin untuk mengganjal perut. Kalau nggak bisa mati kelaparan aku. Mana lagi jam pulang masih dua jam lagi. Bisa-bisa berat badan ku makin berkurang.


"hei"


Aku menaikkan kepala dan Astaga....


"Will"


"Kamu ngapain tidur di kelas?"


"Hah? enggak kok, aku nggak tidur"


"Terus ngapain?Oh pasti mikirin aku ya"


Ya iyalah mikirin kamu habis gara-gara kamu kebelet ngungkapin perasaan aku jadi nggak bisa tidur semalaman.


"Ngapain juga aku mikirin kamu" dasar munafik. Aku mengggigit bibirku sedikit untuk menahan muka merah tanda malu. Nanti yang ada dia malah tambah Gr lagi.


"Ya deh. Lagian aku mau bilang kamu nggak perlu merasa terbebani dengan permintaan aku kemaren. Aku bakalan nunggu sampai kamu siap. Kapan pun itu"


"Kalo aku ngasih jawaban nya tahun depan gimana?"


"Ya nggak sampai tahun depan juga lagi"


"Hehe bercanda"


Aku melirik ke belakang dan ternyata Dava lagi duduk di bangku nya sambil membaca buku, padahal dia melirik kami berdua. Aduh hatiku makin hancur. Tarik nafas Nadien, semua bakalan baik-baik aja. Ok.


"Kamu kenapa? Kok jadi pucat?"


"Hah? Pucat ya? Nggak tahu nih, mungkin karena semalam nggak bisa tidur"


"Segitu nya banget Ndien mikirin aku. Sampai nggak bisa tidur"


Ampun Tuhan nih anak ya... makin hari makin jadi aja tingkah nya... Emang nya kamu pikir aku mau gitu mikirin kamu sampai kehilangan jam tidur ku. huf..... sabar... sabar... orang sabar di sayang Tuhan.


"Btw kamu ngapain ke sini. Tumben banget. Atau kamu mau pamer ya ke saudara kembar mu kalo kita lagi deket"


"Yes thats right. Aku emang mau pamer"


Willi ngomong kayak gitu dengan suara yang disengaja kan keras sambil melirik Dava. Dava yang merasa sedang di panasin merasa terganggu dan beranjak dari tempat duduk nya lalu pergi keluar.


"Tuh kan orang nya pergi. Kamu jahat banget sih"


"Biarin. Biar dia tahu rasa, jadi cowok tuh jangan suka mainin perasaan perempuuan. Ntar nyesal sendiri"


"Emangnya Dava nyesal ninggalin aku"


"Yahh.. malah Gr. Ya nggak lah, kayaknya sih biasa-biasa aja"


"Oh"


"Kenapa? kecewa ya?"


"Idihhh.. siapa juga yang kecewa"


Tet....tet...tet..


"Iya-iya. Eh nanti pulang sekolah bareng aku ya"


"Iya"


"Bye"


Bye... Sebenarnya nggak ada salah nya juga sih nerima cintanya Willi. Dia jauh lebih menarik dibandingkan Dava. Dan dia juga jauh membuatku bahagia dibandingkan Dava. Rasanya kalau lagi di dekatnya aku bebas mau ngapain, seolah semua ekspresi di dalam diri bisa keluar apa adanya. Dan kebahagiaan mengalir begitu saja. Apa jangan-jangan aku jatuh cinta dengan Willi. Ya ampun... gimana ceritanya? kok bisa sih Ndien pertahanan kamu goyah.


Bel pulang pun berbunyi. Aku langsung membereskan tas dan beranjak dari bangku lalu keluar dari kelas. Saat aku hendak melangkah keluar pintu tiba-tiba Dava menghentikan ku dari depan. Aku hampir saja menabraknya.


"Kamu mau ngapain"


Dava hanya menatapku dingin seolah ingin memakan ku.


"Aku mau pulang"


"Bareng cowok baru ya"


"Kalau iya emang kenapa?"


"Heh.. aku nggak nyangka ternyata kamu nggak terkenal amat. Habis diputusin kakak, eh malah dekatin adik"


"Maksud kamu apa sih?"


"Udah deh Ndien, kamu nggak perlu pura-pura begok. Pasti Willi udah ngasih tahu kan kalau kuta berdua itu kembar"


"Terus masalahnya apa?"


"Ini yang namanya nggak dapat rotan akar pun jadi"


"Denger ya. Pertama Willi yang duluan dekatin aku. Ke dua aku nggak tahu asal usul kamu, lagian kamu mana pernah cerita soal keluarga kamu, apakah kamu punya saudara kembar punya kakak punya adik, kamu nggak pernah kan cerita. Lalu ke tiga, aku nggak pernah mikir buat pacaran sama saudara kamu yang lain saat kamu mutusin aku. Cam kan itu"


Aku meninggalkan Dava yang sedang menganga mendengar respon ku. Enak aja dis bilang aku perempuan yang seperti itu, memangnya keluarganya aja gitu yang punya anak laki-laki yang tampan. Buat orang jadi bad mood. Huuuuhh...


Aku berjalan dengan amat sangat kesal menuju parkiran. Hal ini membuat Willi jadi bingung.


"Hei, kamu kenapa lagi? Tadi pucat sekarang merah. Kayak habis kebakaran tahu nggak"


"Yah, habis dibakar"


"Sama siapa?"


"Siapa lagi bukan ipin nya kamu"


"Kenapa dengan Dava?"


"Masak dia bilang ke aku kalau aku tu punya prinsip nggak dapat rotan akar pun jadi. Emangnya aku pernah gitu kepoin kalian berdua"


"Hahahaha. Gitu aja udah marah. Eh gitu-gitu dia juga bakalan jadi abang ipar kamu lho"


"WILLIAM"


"HAHAHAH... ya deh bercanda. Udah yuk naik gih, ntar aku traktir deh makan ice cream di taman"


"Tapi nggak pakai testing lagi ya"


"Nggak ko"


Aku meraih helm dari tangan Willi lalu naik di atas jok motor nya. Dan kami pun keluar dari gerbang sekolah menuju taman tempat pertemuan.