WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
46



William mengantar ku ke rumah. Setelah membuka helm, aku mencoba mengumpulkan semua keberanian untuk mengungkapkan perasaan ini. Semoga William nggak terlampau kegirangan. Aku menarik nafas dalam dalam lalu ku hembuskan ke udara secara perlahan sambil memejamkan mata. Tanpa sadar ternyata Willi memperhatikan gerak gerik ku sedari tadi.


"Kamu kenapa?" aku tersentak, aku bingung mau jawab apa. Seketika aku nggak bisa ngomong kayak speechless.


"Hah? mm.. kenapa ya? Nggak kenapa Napa kok!"


"Kamu bohong ya...!"


"Nggak nggak papa, eh Will aku masuk dulu ya"


Dasar Nadien, gitu aja udah gugup. Bukannya berhasil mengungkap kan perasaan eh aku malah lari ke dalam rumah. Habis takut banget ngadepin William saat ini. Aku belum pernah merasakan hal serupa seperti ini. I'm so doubt.... seriously... ini kayak lagi jumpa Ama vampir...


Aku tergesa-gesa menuju kamar. Bahkan aku nggak peduli Mama manggil.


"Ndien... hei kamu nggak makan dulu"


"Nanti aja Ma, lagi nggak laper"


Sumpah gini amat ya jatuh cinta... nggak nyangka bakalan ngalemin perasaan kayak ini. It's like stupid thought.


"Huf" Aku membaringkan badan ke atas kasur. Lelah banget tapi bukan karena lelah nya yang membuat aku capek, melainkan karena perasaan yang susah gundah gulana yang saat ini ku rasakan.


Demi Tuhan aku belum pernah kayak gini sebelumnya. Demi apa coba? Oh My God... sadar Ndieenn.. Aku nggak boleh terlalu cepat ngungkapin rasa. Walaupun aku tahu Wiliam udah lama banget nunggu jawaban dari aku. Tapi...?? Aaahhh.. Gila ya. Atau aku terlalu berlebihan ya?? Aduh gimana nih? Kok aku malah jadi nggak jelas kek gini ya?


Ok.. Tenang Nadien tenang, just calm down, tarik nafas buang nafas, tarik lagi buang lagi. Aku udah kayak oprang gila, sumpah. Nggak nyangka jatuh cinta gini amat, masak iya hanya gara-gara cowok aku harus mondar mandir nggak jelas kek begini. Aku baru tahu kalau cinta kadang nggak masuk akal dan bisa buat orang jai hilang akal. Maksudku bukan hilang akal ngelakuin hal-hal yang nggak bener ya.. Kalian tau kan apa yang ku maksudkan.


Bisa bisa tipis nih wajah karena keseringan di usap. Setreeesss akuuuuu... Haaaaa... Ok aku bisa handle bisa pasti bisa. Kali ini pandangan ku tertuju pada gitar yang sedang berpose indah seolah dia sedang menertawai ku. Ku dekati gitar itu, lalu mulai memainkan jemari untuk memetik senar-senar favorit ku. Nggak jelas apa yang mau ku mainkan, intinya aku cuman metik-metik aja. Ketika lagi asik metik gitar tiba-tiba handphone ku berbunyi.


"Halo?"


"Hai Ndien?"


"Hmm, apa?"


"Kok kamu kayak nggak mood gitu?"


"Nggak biasa aja kok" nggak mood? Aku lagi dag dig dug gini di bilang nggak mood? Jelas jelas aku lagi susah ngatur nafas, ngatur hati. Tuhan...


"Oh ya deh"


"Kamu lagi ngapain?"


"Nggak ada sih, aku lagi nelpon aja sama kamu"


"Iya kalau itu aku tau juga Kingkong"


"Iya.. Aku nggak lagi ngapa ngapain cuman nelpon kamu aja, Ndien"


"Oh ya deh"


"Kamu sendiri lagi ngapain?"


Hampir aja ku bilang lagi mikirin kamu.


"Lagi mandang langit aja sih"


"Ngapain?"


"Nggak papa sih lagi pengen aja. Emang nggak boleh?"


"Bukan gitu juga maksudnya"


"Iya terus"


"Nggak ada sih"


"Kok kita kayak nggak jelas gitu ya"


"Nggak tau juga sih"


"Hmm" hening sejenak. Aku sudah tidak tau lagi mau bahas apa. Jadi aku terpaksa diam aja, lagian mau bahas apa lagi coba?.


"Kamu diam tu aku diam juga"


"Astaagaa.. Yalah aku lupa kalau aku lagi ngobrol bareng kutu buku yang lugu"


"Oh"


"Oh?"


"Terus aku harus bilang wow gitu?"


"Iya nggak gitu juga kali. Setidaknya apa kek yang bisa kamu bilang, masak cuma oh"


"Kamu mau ngomong apa sih sebenernya Kingkong. Kok muter muter nggak jelas gitu?"


"Hah?"


"Oh ya deh"


"Nadien Nadien"


"Kenapa Kingkong?"


"Nggak ada, kangen aja"


Boleh nggak baper


"Kok diem Ndien?"


"Hah?"


"Yah malah melamun"


"Nggak kok"


"Ya deh"


"Iya"


"Ndien aku boleh ngomong serius nggak sama kamu?"


"Apa?"


"Ini serius lho Ndien, jadi gini. Aku kan udah kelamaan nunggu jawaban dari kamu, jadi aku mau nanya sekali lagi buat minta kepastian, kalau misalkan kamu masih nggak mau jadi pacar aku ya nggak papa. Tapi aku nggak bakalan minta lagi. Ya paling kita jadi temen doang"


"Oh gitu, terus?"


"Ya apa jawabannya, aku juga nggak mau nunggu terlalu lama, capek aja nunggu"


"Aku mau kok"


"Hah? Serius?"


"Iya serius, aku mau"


"Jadi kita jadian?"


"Iya"


"Beneran nih?"


"Iya Kingkong.. Udah ah aku mau tidur, see u. Ingat don't be late jemput aku ke sekolah. And one more thing, cuman kita berdua aja yang tau kalau kita jadian ok"


"Ok princess"


"Bye Will"


"Bye Ndien"


Seriously... Apa yang baru saja terjadi?? Kami jadian.. Kami jadian..?? aaaahhh... Yess... Yes.. Yes.. Yes.. Tapi kok aku jadi nervous gini ya? Oh My God.. Ouuuu Soo sweet.. Haha..