
Setelah sekian lama berbincang-bincang kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Oh, ya rumah kamu dimana?" Tanya William padaku saat kami berada di parkiran.
"Di neraka!" Jawab ku kesal.
"Terus kalo aku antarin kamu pulang, aku harus jadi orang jahat dulu dong, abis jadi orang jahat aku bunuh diri."
"Hah?"
"Kan supaya bisa masuk neraka!"
"Astaga...." Aku menepuk jidat ku.
"Nggak perlu seribet itu juga kali. Maksudku bukan neraka akhirat, tapi suasana rumahku ya emang kayak neraka" Lanjut ku menjelaskan mengapa aku menjawab bahwa rumah ku di neraka.
"Iya aku ngerti kok, cuman pengen buat lelucon aja"
"Ha... ha.. lelucon nya lucu" Garing ya sebenarnya.
Setelah sampai di depan rumah, aku langsung turun dari motornya Willi dan kubuka helm milik Willi lalu kuberikan helm itu padanya.
"Nih, helm mu. By the way thanks ya buat hari ini"
"Sama-sama. Oh ya, besok kamu ke sekolah naik apa?"
"Naik motor sendiri"
"Oh.... nggak capek tu bawak motor sendiri? Rumah kamu kan lumayan jauh juga dari sekolah"
"Nggak papa kok. Aku udah biasa melakukan segala hal sendirian"
"Iya makasih udah nganterin aku pulang"
"Sama-sama"
Aku hanya bisa memandang punggung Willi saat ia kembali ke rumahnya. Lalu setelah Willi sudah tidak terlihat aku pun melangkahkan kakiku dengan enggannya menuju rumah. Dan benar saja, saat aku masih di balik pintu utama aku sudah mendengar suara gaduh dari dalam dan beberapa kali aku mendengar suara tamparan.
Plak.... Plakk.. Entah sudah berapa tamparan yang dilayangkan Papa pada pipi Mama. Tapi aku tidak mendengar suara perlawanan dari Mama. Setiap Mama sama Papa ketemu, pasti Mama kena pukulan. Bahkan Mama pernah di siram dengan air dingin di kamar mandi.
Karena tak tahan mendengar Papa menampar Mama aku langsung membuka pintu. Sontak mereka berdua kaget dengan kehadiranku, lalu pertengkaran itupun berhenti.
"Ndien? Kamu sudah pulang?" Sapa Mama seolah aku tidak tau apa yang barusan terjadi.
"Iya Ma"
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru jam segini kamu pulang?" Papa selalu saja seperti ini, tidak pernah ada kelembutan sedikitpun di dalam dirinya.
"Habis jalan-jalan Pa, di Taman"
"Lihat... Lihat anak kamu. Itu yang kamu bilang anak yang terdidik. Yang selama ini kamu bilang kalau kamu yang mendidik dan menjaga dia. Itu kah hasilnya? Jalan-jalan tanpa mengingat waktu. Kerja nya hanya keluyuran. Mau jadi apa anak seperti itu?" Papa balik lagi membentak-bentak Mama sambil nunjuk-nunjuk aku. Aku hanya bisa mengehela nafas dalam-dalam. Seumur hidup pria yang paling ku benci adalah Papa ku sendiri. Dan seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkan nya.
"Kamu kenapa sih selalu saja menyalahkan aku! Nggak ada satu pun yang terjadi di rumah ini yang benar di mata kamu" Mama membalas perkataan Papa karena tidak terima dengan sikap Papa yang selalu menyalahkan Mama.
"Memang kenyataan nya seperti itu. Kamu tidak pernah membenahi diri. Gaya aja kamu ngaku-ngaku didik anak sendirian, padahal selama ini kamu nggak pernah mengurusi Nadine, selama ini yang ngurus Nadine itu Alm. Mama aku. Kamu cuma sibuk dengan diri kamu sendiri. Sampai-sampai kamu nggak sadar kalau kamu yang buat aku nggak betah tinggal di rumah ini. Karena kamu egois, hanya mementingkan karir dibandingkan keluarga. Ibu macam apa kamu"
"Jaga omongan mu ya. Saya memang sibuk bekerja tapi saya juga selalu memperhatikan kebutuhan Nadien. Tidak seperti kamu yang datang kerumah hanya sekali setahun, dan setiap datang hanya membuat keributan. Kamu bilang karena aku kamu nggak betah di rumah! Kamu nggak nyadar kalau sebenarnya kamu lebih betah dengan janda itu di bandingkan tinggal di rumah ini. Jadi kamu nggak perlu menuduh aku yang membuat kekacauan ini"
"Bukankah kita sudah sepakat. Kalau satu selingkuh yang lain juga bisa selingkuh. Kan kamu juga melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan. Kamu juga jarang di rumah. Lebih nyaman dengan Berbondong-bondong mahasiswa simpanan mu. Benarkan?"
Oh God, apa mereka menyadari kehadiranku? daripada telingaku sakit mendengar omongan mereka lebih baik aku naik ke atas dan tidur di kamar. Mereka masih ribut bahkan tidak ada satupun yang menyadari bahwa aku sudah tidak lagi berdiri di sana. Lagian ngapain sih di waktu yang seperti ini. Mereka malah mepeributkan kesalahan mereka masing-masing. Padahal Oma baru aja sebulan yang lalu meninggal. Bukan nya berkabung tapi mereka malah saling menyalahkan. Jadi nggak salahkan kalau aku bilang rumah ku seperti neraka.