
Pagi harinya Mama kembali mencek keadaan ku. Dia tampak cemas luar biasa, karena melihatku gemetaran kedinginan dengan memeluk selimut tebal yang nggak pernah kusentuh selama ini. Badanku bertambah panas dingin, aku gemetar luar biasa, kepala ku tambah pusing. Suara yang ku dengar terdengar samar di telingaku. Yang pasti Mama panik saat memanggil Bi Ina ke kamar ku. Bi Ina masuk ke dalam kamar, saat melihat kondisi ku Bi Ina nggak kalah paniknya dari Mama.
“Bibi kok lama banget sih?”
“Maaf Nya, tadi saya nyempatin buat buka pintu soalnya ada yang datang Nya”
“Siapa yang datang?”
“William Nya”
“Baguslah kalau memang dia yang datang. Tolong Bibi panggilkan dia lalu bilang kalau Nadien harus dibawa ke Rumah Sakit sekarang juga”
“Baik Nya”
Bi Ina keluar dan melakukan apa yang di perintahkan padanya. Tak lama kemudian BI Ina dan William masuk ke kamar.
“Nadien kenapa tante?”
“Tante juga nggak tahu. Tadi pas Tante masuk dia udah kayak ini. Kamu bisa kan bantu Tante bawa Nadien ke Rumah Sakit?”
“Ya, Tante ke bawah dulu siapin mobil. Kamu hati-hati ya ngangkat Nadien nya”
“Baik Tante”
Aduh kebayang nggak sih gimana rasanya digendong sama laki-laki? Semoga aja wajahku nggak memerah. Lagi sakit masih juga baperan Ndien!!! ya ampun. Aku agak risih sebenarnya saat digendong sama William. Aku juga bisa merasakan hangat tubuhnya, dan juga suara nafas nya. Jarak wajah kami hanya beberapa cm, dan itu sudah membuatku dag dig dug.
Saat menuruni tangga terakhir, Willi mencepatkan langkah nya. Lalu Bibi membantu William untuk membuka pintu agar kami bisa keluar menuju mobil Mama. Mama sudah menunggu dengan perasaan yang masih dipenuhi rasa cemas di dalam mobil. Bi Ina juga membantu membukakan pintu saat kami mendekati mobil. Lalu Wiiliam menaruh ku di jok belakang dengan posisi yang sangat aman.
“Tante duduk di belakang aja sama Nadien, biar aku yang nyetir biar cepat sampai”
“Ya sudah nggak papa, tapi hati-hati ya Wil”
“Baik Tante” Mama turun dari mobil dan duduk bersamaku di jok belakang.
Sepanjang perjalanan Mama hanya bisa mengucapkan kalimat “agak cepetan dong Wil” lalu William menjawab “Iya Tante ini udah kecepatan maksimal”. Lalu saat Mama merasa mobil melaju sangat cepat Mama bilang “Jangan kenceng-kenceng Will, nanti kalau kamu nabrak orang gimana?” kalau yang ini William hanya bisa diam dan menuruni kecepatan laju mobil dengan perlahan. Pelukan Mama di tubuhku tak pernah lepas. Untuk pertama kalinya aku melihat Mama khawatir saat aku sakit. Dan untuk pertama kalinya Mama memelukku di saat seperti ini. Biasanya Oma paling susah menghubungi mereka, Papa sama Mama. Selalu aja ada alasan yang mereka keluarkan saat Oma meminta mereka untuk menjengukku di Rumah Sakit. Bahkan mereka juga tak pernah merasa khawatir sedikitpun. Tapi hari ini, semuanya berbeda. Dan untuk pertama kalinya aku meminta pada Tuhan agar membiarkan Mama selalu seperti ini. Ku harap dia memang telah berubah dan mulai sadar akan tugas dan tanggung jawabnya terhadap aku.
Akhirnya kami sampai di Rumah Sakit. Saat tiba di koridor, William dan Mama memanggil Suster dan siapa pun yang ada di sana. Lalu beberapa perawat datang menghampiri kami dengan sebuah brangkas yang mereka dorong. Perawat-perawat itu menyuruh William untuk meletakkan aku di atas brangkas, lalu mereka membawaku ke ruang tanggap darurat. Aku pun diperiksa oleh Dokter yang bertugas. Kemudian tangan ku dimasukkan infus dan di suntik. Rasa sakit nya sama dengan rasa sakit saat melihat Dava dan Jessika bermesraan. Pedih sekali rasanya. Kemudian Dokter memberi resep pada Perawat yang menanganiku. Lalu Dokter keluar bersama Mama dan William, sementara aku di pindahkan di ruang inap. Kemudian aku tak tahu lagi, karena tertidur pulas.