WIMU When I Meet You. (Nadien Part)

WIMU When I Meet You. (Nadien Part)
5



Ke esokan harinya seperti biasa aku bangun lalu bersihkan tempat tidur, mandi dan siap-siap untuk ke Sekolah. Namun kepala ku masih sedikit pusing karena semalaman aku menangis. Lalu aku turun ke bawah dan menuju dapur. Terlihat Bibi Ina sedang mempersiapkan sarapan untuk ku.


"Pagi Bi" sapa ku pada Bibi.


"Pagi Non Nadine, ini sarapan nya. Kamu sarapan dulu ya..."


"Rumah sepi ya Bi"


"Iya non, Tuan dan Nyonya sudah berangkat kerja dari subuh tadi"


"Subuh?"


"Iyaa.. Non"


"Kenapa pagi-pagi sekali Bi, biasanya sebulan sekali mereka ikut sarapan denganku"


"Tadi Nyonya bilang dia harus ke luar kota ada urusan. Terus Tuan juga bilang begitu"


"Sepertinya tidak Non. Karena Nyonya dan Tuan berangkat dengan mobil masing-masing"


"Ya deh Bi, aku juga udah biasa sarapan sendiri. Tapi Bibi mau kan sarapan bareng Nadien?"


"Tentu Non, Non juga harus cepat-cepat sarapan biar nggak telat"


"Iya Bi" Aku pun sarapan berdua dengan Bi Ina.


Bi Ina sebenarnya punya anak namanya Siska dia satu sekolah dengan ku, tapi dia lebih memilih tinggal di Kos di bandingkan di rumah bersama Ibunya. Di sekolah Siska bergaya seolah dia anak orang kaya. Kos nya saja Kos elegan tempat anak-anak Don Bosco ngekos yang berasal dari luar kota Padang. Dan dia suka sekali memaksakan ibunya untuk membeli barang-barang branded untuk di pamerkan di sekolah ataupun di depan teman-temannya. Aku kurang suka melihat Siska, karena dia suka merendahkan Ibunya dan datang hanya saat meminta uang. Suami Bi Ina sudah meninggal saat Siska berumur 10 tahun. Siska seumuran dengan ku, dulu sewaktu kecil Siska sangat akrab denganku. Kami sering bermain bersama, dan aku sering membagikan mainan ataupun pakaian yang aku punya padanya. Tapi sejak kami masuk SMP dia mulai berubah semenjak dekat dengan Karin, anak orang Cina yang kaya. Orang tua Karin punya restoran yang cukup terkenal di daerah tanah kongsi. Dari Karin lah Siska tau semuanya yang berhubungan dengan kemewahan. Padahal Karin bukanlah tipe orang yang setia kawan. Tapi tetap aja Siska masih menjadi pengikut setianya Karin hingga saat ini. Dan selalu berupura-pura selevel dengan Karin.


Setelah menghabiskan makanan aku pamit dengan Bi Ina. Lalu aku mengambil tas dan memakai sweeter. Kemudian aku pergi ke parkiran dan menyalakan stater motor, ku panaskan sebentar lalu setelah merasa sudah cukup panas, aku langsung menggas secara perlahan dan melaju ke jalan raya menuju sekolah. Sebenarnya Papa sama Mama sudah mengizinkan membawa mobil ke sekolah atau kemanapun aku mau pergi. Hanya saja aku yang enggan membawa mobil, karena bagiku itu terlalu mencolok dan terkesan sombong. Aku tidak ingi mengikuti gaya siswa DB lainnya yang suka pamer kekayaan orang tua. Mungkin karena aku bersikap sederhana makanya semua siswa mengira aku berasal dari kalangan menengah. Hal itu juga yang membuat mereka enggan bergaul denganku. Tapi aku tidak pernah merasa terganggu, justru aku merasa senang jika mereka tidak mau berteman denganku. Hanya Dava satu-satu nya orang lain selain siska yang tau kalau aku anak orang kaya. Selama ini aku selalu menyuruh Dava untuk tidak mengatakan pada orang lain jika aku berasal dari keluarga yang mampu. Dulu Dava sangat sayang padaku, dia selalu ada untukku baik di saat suka maupun duka. Mungkin bisa dikatakan Dava itu buku harian yang bisa di bawa kemana-mana. Dia sanggup mendengarkan semua keluh kesah ku walaupun selama satu harian penuh aku bercerita. Dia tidak pernah meninggalkan ku sendirian. Tapi hanya dalam waktu sekejap seseorang telah mengambilnya dariku. Seseorang yang lebih memikirkan hal duniawi, yang hanya mementingkan kesenangan sementara. Aku sendiri bingung entah apa yang membuat Dava mau meninggalkan ku hanya karena perempuan murahan itu.


Sepanjang jalan aku selalu merenungkan kejadian yang baru beberapa bulan menimpaku. Aku jadi ingat saat bersama Dava. Hampir setiap hari kami berdua berangkat sekolah bersama. Tapi hari ini semuanya hanya tinggal kenangan.